Islam dan Studi Agama - Saungpikir

Monday, September 20, 2021

Islam dan Studi Agama



Wahyu Bhekti Prasojo

Pengertian Agama

Agama berasal dari bahasa sansekerta yang terbentuk dari gabungan a (tidak) dan gama (pergi). Jadi agama berarti tidak pergi, tetap di tempat dan diwarisi secara turun temurun. Pengertian ini menunjukkan salah satu sifat agama yang biasanya diwariskan dari generasi ke generasi.[1]

Dalam bahasa Inggris, agama sepadan dengan religion. Dalam kamus Collins Cobuild Essential English Dictionary, religion diartikan sebagai; the belief in a god or gods and the activities that are connected with this belief, such as prayer or worship in a church or temple. Juga diartikan sebagai a particular syistem of belief in god or gods and the activities that are connected with this system.[2]

Sementara itu, banyak pakar telah memberikan pengertian atau definisi agama. Dari sekian banyak pengertian yang telah dijabarkan para hali itu, dapat disimpulkan beberapa ciri pokok yang terkandung dalam sebuah agama. Yaitu:

1.      Adanya kepercayaan kepada suatu kekuatan ghaib yang mempengaruhi kehidupan manusia.

2.      Adanya kepercayaan bahwa baik buruknya kehidupan manusia bergantung kepada seberapa baik hubungan manusia dengan kekuatan ghaib itu.

3.      Respon-respon emosional terhadap ajaran-ajaran, perintah, aturan yang timbul dari hubungan dengan kekuatan ghaib itu.

4.      Adanya hal-hal yang suci (sacred) dalam keseluruhan sistem kepercayaan itu. Misalnya Kitab Suci, tempat suci, orang-orang suci dan sebagainya.[3]

Maka sebuah definisi yang agak memuaskan mungkin yang dijelaskan oleh Endang Syaifuddin Anshari sebagai berikut;

Agama, religi atau dien pada umumnya adalah suatu sistem credo (tata keyakinan) atas adanya Yang Mutlak di luar manusia atau suatu sistem ritus (tata peribadatan) manusia kepada yang dianggapnya Yang Mutlak itu, serta suatu sistem norma (tata kaidah) yang mengatur hubungan manusia dengan sesama manusia dan dengan alam lainnya, sesuai dan sejalan dengan tata keyakinan dan tata peribadatan yang dimaksud.[4]

Pengertian Islam.

Secara etimologis, orang Arab menggunakan kata ad din dalam beberapa makna, yang pertama, makna kekuasaan, otoritas, hukum dan perintah. Kedua, makna keta’atan, peribadatan, pengabdian dan ketundukan kepada kekuasaan atau dominasi tertentu. Ketiga, bermakna hokum, undang-undang, jalan, madzhab, agama, tradisi dan taklid. Keempat, balasan, imbalan, pemenuhan dan perhitungan.[5]

Al Qur’an kemudian menetapkan kejelasan makna yang tetap berdasar pada keempat makna di atas, yaitu: yang menguasai dan memiliki otoritas tertinggi yaitu Allah; pengakuan dan keta’atan dari para pengikut ad din tersebut kepada kekuasaan dan otoritas; sistem berfikir ilmiyah yang dilahirkan dari sistem otoritas dan kekuasaan; serta imbalan dan balasan yang diberikan kepada pengikut ad din dari pemegang otoritas dan kekuasaan.[6]

Dalam Al Quran, Islam juga diartikan sebagai berserah diri kepada Allah.

أفغير دين الله يبغون وله أسلم من في السماوات والأرض طوعا وكرها وإليه يرجعون

Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah berserah diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan.(QS Ali Imran 83).

Dalam Al Qur’an kata Islam digunakan pada ad din, sehingga menjadi ad din al islam. Allah memerintahkan manusia untuk mengikutinya.

إن الدين عند الله الإسلام وما اختلف الذين أوتوا الكتاب إلا من بعد ما جاءهم العلم بغيا بينهم ومن يكفر بآيات الله فإن الله سريع الحساب

Sesungguhnya agama (yang diridai) di sisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barang siapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.(QS Ali Imron 19)

قل إني أمرت أن أعبد الله مخلصا له الدين وأمرت لأن أكون أول المسلمين

Katakanlah: "Sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama.Dan aku diperintahkan supaya menjadi orang yang pertama-tama berserah diri".(QS Az Zumar 11-12).

Allah menjadikan Islam sebagai din yang sempurna dan mencakup seluruh sistem kehidupan dan yang membuat interaksi setiap komponennya menjadi padu dan teratur.

Dengan demikian Islam adalah agama yang mestinya diyakini pemeluknya sebagai jalan hidup. Ia menuntut agar difahami secara utuh. Berbeda dengan konsep agama dalam masyarakat barat yang biasanya diartikan hanya sebagai faith (keyakinan); yaitu keyakinan pribadi yang dapat saja dimanifentasikan dalam berbagai ekspresi, yang juga individual. Maka jika kita menerima Islam hanya sebagai keyakinan individu maka kita membatasi makna Islam itu sendiri. Seolah-olah Islam hanyalah kewajiban-kewajiban ritual, upacara-upacara dan ungkapan-ungkapan kesalehan peribadi, yang tiada kaitannya dengan orang lain dan lingkungan sekitar serta masalah-masalah lain dalam hidup manusia.

Universalisme Islam.

1. Islam adalah petunjuk yang sesuai untuk totalitas kesempurnaan manusia

Islam adalah  risalah bagi manusia dalam kapasitasnya sebagai makhluq yang sempurna. Islam sebagai risalah untuk manusia, mengatur dan mengarahkan akal, ruh, fisik, kemauan dan naluri maupun instink. Karenanya tidak ada pemisahan dalam mengatur dan mengarahkan  potensi yang dimiliki manusia, karena manusia merupakan makhluq Allah  yang sempurna dan satu eksistensinya, dimana ruhnya tidak berpisah dari materi dan materinya tidak berpisah dari akalnya.[7]

ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا رَجُلًا فِيهِ شُرَكَاءُ مُتَشَاكِسُونَ وَرَجُلًا سَلَمًا لِرَجُلٍ هَلْ يَسْتَوِيَانِ مَثَلًا الْحَمْدُ لِلَّهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

Allah membuat perumpamaan (yaitu) seorang laki-laki (budak) yang dimiliki oleh beberapa orang yang berserikat yang dalam perselisihan dan seorang budak yang menjadi milik penuh dari seorang laki-laki (saja); Adakah kedua budak itu sama halnya? Segala puji bagi Allah, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.)Az Zumar 29)

2. Islam adalah petunjuk bagi manusia dalam semua fase kehidupannya.

Risalah Islam adalah hidayah Allah yang senantiasa menyertai manusia kemanapun menghadap dan berjalan dalam perkembangan-perkembangan hidupnya. Islam menyertai manusia semenjak masih bayi, kanak-kanak, remaja, dewasa dan sampai masa tua. Dalam semua periode ini, Islam telah menetapkan bagi manusia manhaj terbaik yang dicintai dan di ridhai oleh Allah. Sehingga dalam Islam kita mendapatkan hukum-hukum yang berkaitan  dengan manusia ketika kecil, muda, dewasa dan masa tua.[8] Tidak ada jenjang kehidupan manusia yang berlalu begitu saja, kecuali Islam mempunyai taujih (arahan) dan syari’at (tata cara/ketentuan) didalamnya.

والوالدات يرضعن أولادهن حولين كاملين لمن أراد أن يتم الرضاعة...

Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. (Al Baqarah 233).

Bahkan lebih dari itu, syari’at Islam menaruh kepedulian kepada manusia semenjak belum lahir sampai setelah meninggal dunia.

3. Islam adalah petunjuk bagi manusia dalam segala sektor kehidupannya.

Diantara dimensi (makna) syumul dalam Islam adalah bahwa Islam merupakan risalah bagi manusia pada semua sektor kehidupan dan segala aktifitas kemanusiaannya.[9] Maka Islam tidak pernah meninggalkan satu aspekpun dari aspek-aspek kehidupan manusia kecuali dia mempunyai sikap didalamnya. Aqidah Islam telah menjawab seluruh pertanyaan manusia tentang alam semesta, manusia, kehidupan, dan menetapkan bahwa semuanya itu adalah makhluk. Pada intinya adalah Islam tidak akan membiarkan manusia berjalan sendiri tanpa hidayah dari Allah. Kemanapun dia melangkah  dan dalam aktifitas apapun  dia lakukan, apakah itu yang bersifat materiil ataupun spiritual, individu atau sosial, gagasan atau operasional, keagamaan atau politis.

وَيَوْمَ نَبْعَثُ فِي كُلِّ أُمَّةٍ شَهِيدًا عَلَيْهِمْ مِنْ أَنْفُسِهِمْ وَجِئْنَا بِكَ شَهِيدًا عَلَى هَؤُلَاءِ وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ

(Dan ingatlah) akan hari (ketika) Kami, bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri, dan Kami datangkan kamu (Muhammad) menjadi saksi atas seluruh umat manusia. Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Qur'an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri. (An Nahl 89).

Dimensi Kedatangan Islam.

Islam datang membawa dimensi baru dalam pendetakatan ilmu pengetahuan. Islam adalah jalan tengah antara faham materialisme (kebendaan) dan spiritualisme (mistik). Materialisme memandang, ilmu pengetahuan lebih tinggi dari pada iman. Iman tidak dapat dicapai kecuali setelah dibuktikan oleh ilmu pengetahuan (contoh: Filsafat Yunani). Sedangkan Spritualisme memandang, yang pokok adalah iman, ilmu bisa belakangan. Bahkan tidak perlu kepada ilmu jika bertentangan dengan Iman (contoh: Doktrin Gereja Kristen).

Bagi Islam, sains tidak terpisah dari iman.Bahkan iman dapat dibuktikan dengan ilmu pengetahuan, sedangkan ilmu pengetahuan mesti dicoba secara empiris. Karena,tugas sains adalah mempelajari alam raya yang merupakan pengejawantahan ayat-ayat Tuhan atau tanda-tanda Ketuhanan.[10] Jika sesuatu pernyataan dalam ilmu pengetahuan seolah bertentangan dengan suatu pernyataan dalam iman, atau sebaliknya, tidak pasti salah satu dari keduanya salah, atau keduanya salah. Itu terjadi karena belum mampunya akal manusia mencerna fenomena yang terjadi. Di masa yang akan datang, pasti akan ada yang dapat menjelaskannya.

Beberapa Contoh Pencapaian Ilmuwan Muslim.

1.      Abas ibnu Firnas adalah manusia pertama di dunia yang memikirkan kemungkinan manusia bisa terbang. Ia berhasil terbang selama 10 menit, jauh lebih lama dari Wright bersaudara yang hanya berhasil terbang selama 2 menit.

2.      Ibnu Khaldun adalah Bapak Sosiologi Dunia. Teori-teorinya dalam bidang sosial, sejarah, ekonomi, hukum dan politik masih kekal sampai hari ini. Dipelajari di seluruh dunia.

3.      Semua perkembangan ilmu pengetahuan mestinya berterima kasih kepada Al Haytsamy, yang manyusun metode eksperimen ilmiah. Ia membantah Euklid dan Ptolomeus yang mengatakan bahwa benda dapat terlihat karena mata mengirimkan cahaya ke arah benda. Menurutnya, benda terlihat oleh mata karena ada cahaya yang memantul dari benda.[11]

Islam dan Penyatuan Bangsa-bangsa.

Penyatuan Bangsa-bangsa dapat dicapai dengan cara:

1.      Sesuai dengan tujuan-tujuan yang terkandung dalam makna Islam itu, penyatuan bangsa-bangsa seluruh dunia bukanlah sebuah utopia, jika islam dipraktekkan dengan baik.

2.      Jika kaum muslimin berhasil mengembangkan teknologi, maka mereka akan menggunakanya secara bertanggungjawab sebagai khalifah Allah di muka bumi.

3.      Tidak perlu semua bangsa merubah agamanya menjadi Islam. Karena Islam, diturunkan bukan hanya untuk orang beriman. Tidak mungkin menyatukan manusia dalam satu pandangan, tetapi toleransilah yang akan menyatukan.[12]

Problema Kontemporer Ummat Islam.

Eksternal

1.      Ummat Islam belum lagi bangkit dari beban-beban psikologis bangsa yang terjajah. Mental mereka belum sembuh benar. Karena sangat lama terjajah, ummat merasa segala peraturan pemerintah adalah penjajahan yang membatasi gerak mereka. Jadinya harus diabaikan dan dilawan atau diterabas.

2.      Penjajah telah merusak sistem ilmu pengetahuan kaum muslimin dengan memisahkan ilmu dunia dan ilmu agama. Yang mana masih terus diwariskan dalam lapangan pendidikan mereka.

Internal

1.      Kaum muslimin masih banyak yang terbelenggu budaya taklid. Mengikut saja kepada tokoh tanpa memikirkan latar belakang pemikirannya.

2.      Hanya kagum kepada pencapaian Islam di masa lalu, dan memuji-mujinya sebagai “puncak pencapaian yang tidak akan ada puncak lagi setelah itu”.

3.      Tapi malas melakukan usaha seperti yang dulu pernah dilakukan para pendahulu mereka yang telah pernah mencapai puncak-puncak ilmu pengetahuan itu.

Daftar Pustaka

Anshari, Endang Syaifuddin, Kuliah Al Islam, (Jakarta, Rajawali Press, 1986).

Anwar, Rosihon & Badruzzaman M. Yunus, Pengantar Studi Islam, (Bandung, Pustaka Setia, 2009).

Fox, Gwyneth,  (Editor), Collins Cobuild Essential English Dictionary, (London, HarperCollins Publishers, 1994).

Garaudy, Roger, Janji-janji Islam, terjemahan, (Jakarta, Bulan Bintang, 1982).

Hakim, Atang Abd., dan Jaih Mubarok, Metodologi Studi Islam, (Bandung, Remaja Rosda Karya, 2012).

An Nahlawy, Abdurrahman, Pendidikan Islam di Rumah, Sekolah dan Masyarakat, edisi terjemahan, (Jakarta, Gema Insani Press, tt).

Nasution,  Harun, Islam ditinjau dari berbagai Aspeknya, (Jakarta, UI Press, 1979).

Nata, Abuddin, Metodologi Studi Islam, (Jakarta, Rajawali Press, 2008).

Al Qorodhowy, Yusuf, Al Khashaish Al ‘Aammah lil Islam, (Beyrut, Muasasah Risalah, 1983).

 



[1] Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam, (Jakarta, Rajawali Press, 2008), hlm.9.

[2] Gwyneth  Fox (Editor), Collins Cobuild Essential English Dictionary, (London, HarperCollins Publishers, 1994)p.669.

[3] Harun Nasution, Islam ditinjau dari berbagai Aspeknya, (Jakarta, UI Press, 1979), hlm.10-11.

[4] Endang Syaifuddin Anshari, Kuliah Al Islam, (Jakarta, Rajawali Press, 1986), hlm.33.

[5] Abdurrahman an Nahlawy, Pendidikan Islam di Rumah, Sekolah dan Masyarakat, terjemahan, (Jakarta, Gema Insani Press, tt)  h.22-23.

[6] Ibid, h.23.

[7] Yusuf Al Qorodhowy, Al Khashaish Al ‘Aammah lil Islam, (Beyrut, Muasasah Risalah, 1983), hlm.108.

[8] Ibid, hlm.109.

[9] Ibid, hlm.111.

[10] Roger Garaudy, Janji-janji Islam, terjemahan, (Jakarta, Bulan Bintang, 1982), hlm.110.

[11] Atang Abd Hakim dan Jaih Mubarok, Metodologi Studi Islam, (Bandung, Remaja Rosdakarya, 2012), hlm.24.

[12] Rosihon Anwar & Badruzzaman M. Yunus, Pengantar Studi Islam, (Bandung, Pustaka Setia, 2009), hlm.22. 

Comments


EmoticonEmoticon