SEJARAH ORIENTALISME - Saungpikir

Sunday, December 5, 2021

SEJARAH ORIENTALISME

 


Oleh Wahyu Bhekti Prasojo

Sampai dengan abad ke 15, pertemuan budaya-budaya terjadi melalui peperangan, perdagangan dan ilmu pengetahuan. Sejak abad ke 3 Masehi sampai dengan abad ke 7 Masehi, telah terjadi persaingan yang keras antara Byzantium dan kekaisaran Sasanids di Persia. Kemunculan Islam Pada abad ke-7, di jazirah Arab, mengakhiri periode paganisme bangsa Arab sebelumnya yang dikenal sebagai zaman Jahiliyah.

Sejak awal pertumbuhannya di Timur Tengah pada abad ke 7 Masehi, Islam telah secara terus menerus terlibat dalam siklus pengaruh-mempengaruhi antara budaya-budaya bangsa di dunia. Kaum muslimin dengan semangat dakwahnya menyebarkan pengaruh Islam ke wilayah-wilayah sekitarnya sampai ke yang jauh di seberang lautan. Sembari mereka juga menerima pengaruh dari budaya-budaya masyarakat yang dikunjunginya.

 

Lapangan Ekonomi

Dengan tradisi ziarah tahunan haji ke kota Mekkah, jalur perdagangan tidak hanya menjadi pusat pertukaran komoditas, melainkan juga pertukaran ide. Pengaruh pedagang Muslim atas rute perdagangan Afrika-Arab dan Arab-Asia sungguh besar. Akibatnya, peradaban Islam berkembang dan meluas dengan basis perekonomian pedagangnya, berbeda dengan Kristen, India, dan Tiongkok yang masyarakatnya berbasis pada pertanian.

Jalur perdagangan dunia melalui jalan darat di kenal dengan Silk Road (Jalur Sutera), menghubungkan Tiongkok (produsen utama kain sutera) dengan pelabuhan Bashrah dan Baghdad, lalu menyebar ke kota-kota pelabuhan sepanjang garis pantai lautan tengah. Sementara jalur perdagangan laut atau Sea Route, menghubungkan Asia Tenggara, pada masa Kejayaan Sriwijaya, Majapahit dan Ternate (produsen rempah-rempah), dengan anak benua India, yang juga memperdagangkan gading gajah serta kulit hewan-hewan buas pedalaman Afrika dari pelabuhan Hadramaut di Yaman.

Bangsa-bangsa Eropa sangat bergantung pada jalur perdagangan ini untuk memenuhi kebutuhannya. Sementara kedua jalur itu sepenuhnya dikuasai kaum muslimin. Maka mereka berkepentingan untuk menjalin hubungan diplomatic yang baik dengan pihak penguasa-penguasa Islam. Sehingga pada masa-masa damai, kaisar-kaisar Byzantium mengirimkan utusan-utusan diplomatiknya ke Baghdad, Ibukota Daulat Abbasiyah. Begitupun raja-raja Eropa menjalin hubungan diplomatic dengan Daulat Umayah di Andalusia.[1]

 

Lapangan Politik

Kemudian wilayah Persia dikuasai oleh Kaum Muslimin di bawah pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab (634-644 M). Begitu pula sebagian wilayah Byzantium seperti Suriah, Palestina, Mesir dan Lybia. Juga terjadi peperangan yang berlarut-larut antara kekuasaan Politik Islam dengan Penguasa-penguasa Feudal Eropa, terkadang juga melibatkan Byzantium, yang dikenal dengan Perang Salib.[2] Dalam sejarah peperangan yang panjang itu, telah ditemukan bukti-bukti kegiatan orientalisme dengan tujuan memenagkan perang atas ummat Islam.

Sebuah contoh yang cukup baik, dikisahkan oleh Najib al Aqiqi, bahwa sebuah pasukan yang terdiri dari para peziarah kristen telah menguasai Toledo dan mendirikan sebuah biara dengan tujuan utama sebagai pusat penyebaran kebudayaan dan peradaban Islam ke Eropa. Pemimpin mereka Peter di Hunerable adalah seorang Pendeta yang menguasai bahasa Arab. Ia menerjemahkan Al Quran dan buku-buku berbahasa Arab dengan tujuan mengomentari menurut persepsi kristennya juga menyanggahnya.[3]

Lapangan Ilmu Pengetahuan

Pertemuan antar budaya dan kamuitas-komunitas dunia juga terjadi dalam lapangan ilmu pengetahuan. Pengetahuan dan keterampilan dari Timur Tengah, Yunani, dan Persia Kuno dipelajari oleh kaum muslim pada Abad Pertengahan.[4] Sejak akhir abad ke 7, telah dimulai gerakan penerjemahan karya ilmiah Yunani ke dalam bahasa Arab. Gerakan ini kemudian tumbuh pesat dalam lindungan Daulat Abbasiyah sejak abad ke 8.[5] Dalam proyek-proyek penerjemahan karya ilmiah Eropa itu, ilmuwan-ilmuwan muslim menerjemahkan sekaligus dengan gigih menguji metode penelitian, pengumpulan dan seleksi data-data yang berguna, pengamatan yang teliti dengan metode-metode ilmiah baru yaitu eksperimen yang didukung perkembangan ilmu hitung, yang sebelumnya tidak dikenal oleh kebudayaan Yunani.[6]

Sampai abad ke 12, kaum muslimin menyerap, menerjemahkan, memahami, mendalami, melakukan dialektika dan sintesis ilmu pengetahuan dan kebudayaan Yunani, India, China, Persia dan lain sebagainya dengan logika dan universalitas doktrin Islam.[7] Yaitu dengan cara menguji metode penelitian, pengumpulan dan seleksi data-data yang berguna, pengamatan yang teliti dengan metode-metode ilmiah baru yaitu eksperimen yang didukung perkembangan ilmu hitung, yang sebelumnya tidak dikenal oleh kebudayaan Yunani.[8]

Tahap selanjutnya dari perkembangan ini adalah upaya para ilmuwan Eropa menerjemahkan karya ilmiah berbahasa Arab ke dalam bahasa Latin.[9] Karya-karya ilmuwan muslim dalam berbagai bidang diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa Eropa seperti bahasa Latin, Inggris dan Prancis.[10] Melalui penerjemahan ini bangsa Eropa mengenal ilmu-ilmu kedokteran, matematika dan lain sebagainya. Perkembangan ilmu pengetahuan juga membuat Eropa lebih terbuka dan demokratis.[11] Akibatnya Eropa mengalami transformasi ilmiah dalam masyarakatnya. Di mana Universitas-universitas Cordova, Granada dan Sevilla menjadi gerbang transformasi kemajuan ilmu pengetahuan di Eropa.[12]

Kaum muslim juga memberi inovasi bagi penemuan bangsa lain, misalnya pengolahan kertas dari Tiongkok[13] dan posisi desimal pada sistem bilangan dari India.[14] Sebagian besar pembelajaran dan perkembangan tersebut berhubungan dengan geografi. Para pedagang muslim membawa barang dagangan serta agama mereka ke Asia Selatan, Asia Tenggara, Asia Tengah, Tiongkok, dan kerajaan-kerajaan di Afrika Barat, lalu kembali dengan penemuan-penemuan baru.

Ilmu pengetahuan yang didapat itu lalu dikembangkan di perguruan-perguruan tinggi yang dimiliki kaum muslimin. Sejarah dunia mengakui bahwa di dunia Islamlah lahirnya empat perguruan tinggi tertua, yaitu Nizhamiyah di Baghdad, Al Azhar di Kairo, Cordova di Andalusia dan Kairawan di Fez Marokko. Perguruan-perguruan Tinggi tersebut, terutama Cordova dan Kairuwan, menarik banyak mahasiswa dari Eropa. Profesor Landau dari College of Pacific, California, menulis tentang Perguruan Tinggi Kairuwan sebagai berikut:

“Mereka itu pelindung ilmu pegetahuan dan pembangun monument-monumen arsitektiural yang sangat indah di kota Fez itu. Pada masa itu Perguruan tinggi Kairuwan itu bukan hanya menarik mahasiswa dari Afrika dan dunia Islam di seberang, tetapi juga dari Eropa.”[15]

Pada masa ini, orang-orang yang ingin belajar tidak merasa keberatan untuk belajar kepada guru yang berlainan agama, sebab pengetahuan adalah sesuatu yang dibolehkan dan dimiliki bersama. Guru-guru muslim pun tidak keberatan dengan murid-murid yang berbeda agama, karena Islam mewajibkan orang yang berpengetahuan menyebarkan pengetahuannya dan memudahkan bagi para penuntut ilmu.[16] Bahkan ada fenomena ganjil pada periode ini adalah aktivitas penyebaran buku-buku sastra berbahasa Arab terjadi dengan sangat pesat. Sehingga sebuah buku yang dikarang di Kairo atau Marokko dapat diketahui dengan cepat di Paris atau Cologna.[17]

Fenomena ini memperlihatkan bahasa Arab digunakan secara merata di seluruh wilayah kekhalifahan, terutama di kota-kota besar berpenduduk padat. [18]Situasi ini menyebabkan bahasa Arab menjadi lingua franca, (bahasa utama) dalam perhubungan-perhubungan diplomatic, perdagangan, surat-menyurat resmi, dunia kesusasteraan dan kebudayaan, juga dunia ilmiah dan filsafat. Untuk beberapa lama bahasa Arab merupakan bahasa tunggal dalam pemerintahan, perdagangan dan kebudayaan di dunia Islam, menggantikan bahasa-bahasa kebudayaan silam seperti bahasa Latin, Yunani, Koptik, Syiria dan Persia.[19]

Roger Bacon (1214-1294), seorang pemikir besar, kebangsaan Inggris menganjurkan agar para ilmuwan barat mempelajari bahasa Arab sebagai cara terbaik memperoleh pengetahuan yang benar, dari pada membaca terjemahan yang sering tidak tepat.[20] Akibatnya kebanyakan ilmuwan Eropa Kristen mahir berbahasa Arab dengan baik dan mulai melupakan bahasa Latin. Para ilmuwan dari berbagai budaya yang berbeda itu labih suka menggunakan bahasa Arab dalam kegiatan-kegiatan ilmiyah mereka.[21]

Dengan cara ini kebebasan berfikir menyusup ke Eropa.[22] Para ilmuwan mempelajari metode baru dari kaum muslimin, yaitu meletakkan akal di atas hukum. Mereka menolak setiap preposisi yang tidak boleh didiskusikan dan mendahulukan independensi atas hukum-hukum berdasarkan keraguan untuk menerima atau menolak suatu premis. Tahap selanjutnya dari perkembangan ini adalah upaya para ilmuwan Eropa menerjemahkan karya ilmiah berbahasa Arab ke dalam bahasa Latin.[23]

Akibatnya Eropa mengalami transformasi ilmiah dalam masyarakatnya. Di mana Universitas-universitas Cordova, Granada dan Sevilla menjadi gerbang transformasi kemajuan ilmu pengetahuan di Eropa.[24] Transformasi dilakukan oleh para mahasiswa Eropa Kristen, setelah mereka kembali ke negeri masing-masing. Mereka membangun lembaga-lembaga pendidikan dengan menjadikan universitas Islam tempat mereka belajar sebelumnya sebagai Kiblat.[25] Maka Eropa memasuki masa Renaissance.

 

Daftar Pustaka

Arnold, T.W., The Preaching of Islam, alih bahasa Nawawi Rambe, Jakarta, Wijaya, 1976.

Assamurai, Qasim, Bukti-bukti Kebohongan Orientalis, alih bahasa Syuhudi Ismail (Ketua Tim), Jakarta, Gema Insani Press, , 1996.

Lewis, Bernard, Muslim Menemukan Eropa, alih bahasa Ahmad Niamullah Muiz, Pustaka Firdaus, Jakarta, 1988.

Nasution, Harun, Islam ditinjau dari Berbagai Aspeknyai, UI Press, Jakarta, 1974.

Nata, Abuddin, Sosiologi Pendidikan Islam, Depok, Rajagrafindo Persada, 2014.

Quthb, Muhammad, Tafsir Islam atas Realitas, alih bahasa Abu Ridho, Jakarta, Yayasan SIDIQ, 1996.

Sou’yb,  Joeseof, Orientalisme dan Islam, Jakarta, Bulan Bintang,1985.

Yunus, Mahmud, Sejarah Pendidikan Islam, Hidakarya, Jakarta, 1992.

 

Sumber Internet

http://sejarahnasionaldandunia.blogspot.com/2014/09/perkembangan-sistem-informasi-dan.html, waktu akses 29/10/2014, 8:05.



[1] Joeseof Sou’yb, Orientalisme dan Islam, Jakarta, Bulan Bintang,1985, hal. 23.

[2] Qasim Assamurai, Bukti-bukti Kebohongan Orientalis, alih bahasa Syuhudi Ismail (Ketua Tim), Gema Insani Press, Jakarta, 1996, hal.42.

[3] Qasim Assamurai, ibid, hal.30.

[4] Muhammad Quthb, Tafsir Islam atas Realitas, alih bahasa Abu Ridho, Jakarta, Yayasan SIDIQ, 1996, hal.35.

[5] Bernard Lewis, Muslim Menemukan Eropa, alih bahasa Ahmad Niamullah Muiz, Pustaka Firdaus, Jakarta, 1988, hal.59.

[6] Muhammad, Quthb, op.cit, hal. 35.

[7] Abuddin Nata, Sosiologi Pendidikan Islam, (Depok, Rajagrafindo Persada, 2014), hal.280.

[8] Muhammad Quthb,loc.cit , hal. 35.

[9] Qasim Assamurai, op.cit, hal.94.

[10] Abuddin Nata, op.cit, hal.282.

[11] Abuddin Nata, ibid, hal.282.

[12] Harun Nasution, Islam ditinjau dari Berbagai Aspeknya, UI Press, Jakarta, 1974, hal.74.

[14] Yaitu pengembangan angka “0” dari sisitem bilangan India oleh matematikawan Muslim dari Persia, Al-Khawarizmi, memperkenalkan sistem angka India ke dunia Islam melalui bukunya "al-Kitab al-Mukhtasar fi Hisab al-Jabr wal Muqabala" (Ringkasan Perhitungan Al-Jabar dan Penyeimbangan) ditahun 825, dan oleh Al-Kindi dalam bukunya "Kitāb fī Isti'māl al-'Adād al-Hindī" di tahun 830.(pen)

[15]Joeseof Sou’yb, op.cit, hal. 44.

[16] Qasim Assamurai, op.cit, hal. 58.

[17] Qasim Assamurai, ibid, hal.58.

[18] T.W. Arnold, The Preaching of Islam, alih bahasa Nawawi Rambe, Jakarta, Wijaya, 1976, hal.67.

[19] Bernard Lewis, op.cit, hal.56.

[20] Joesoef Sou’yb, op.cit, hal.43.

[21] Muhammad Quthb, op.cit, hal.34.

[22] Qasim Assamurai, op.cit, hal.93.

[23] Qasim Assamurai, ibid, hal.94. Salah seorang ilmuwan yang banyak menerjemahkan karya ilmiah muslim ke dalam bahasa latin adalah Gerard of Cremona (1187M), seorang Italy. Dia tidak merasa puas dengan proses belajar yang ditemuinya di Eropa dan memutuskan pergi ke Toledo. Di sana dia melihat betapa banyak buku-buku ilmiah dibanding dengan yang pernah dilihatnya di tempatnya belajar. Maka ia memutuskan untuk belajar bahasa arab dan menerjemahkan perbendaharaan ilmu tersebut ke dalam bahasa Latin sampai akhir hidupnya.

[24] Harun Nasution, op.cit, hal.74.

[25] Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam, Hidakarya, Jakarta, 1992, hal.160.

Comments


EmoticonEmoticon