Oleh Wahyu Bhekti Prasojo
Sampai dengan abad ke 15, pertemuan
budaya-budaya terjadi melalui peperangan, perdagangan dan ilmu pengetahuan.
Sejak abad ke 3 Masehi sampai dengan abad ke 7 Masehi, telah terjadi persaingan
yang keras antara Byzantium dan kekaisaran Sasanids di Persia. Kemunculan Islam Pada abad ke-7, di jazirah Arab, mengakhiri periode paganisme bangsa Arab sebelumnya yang dikenal
sebagai zaman Jahiliyah.
Sejak awal pertumbuhannya di Timur
Tengah pada abad ke 7 Masehi, Islam telah secara terus menerus terlibat dalam
siklus pengaruh-mempengaruhi antara budaya-budaya bangsa di dunia. Kaum
muslimin dengan semangat dakwahnya menyebarkan pengaruh Islam ke
wilayah-wilayah sekitarnya sampai ke yang jauh di seberang lautan. Sembari mereka juga menerima pengaruh dari budaya-budaya
masyarakat yang dikunjunginya.
Lapangan Ekonomi
Dengan tradisi ziarah
tahunan haji ke kota Mekkah, jalur
perdagangan tidak
hanya menjadi pusat pertukaran komoditas, melainkan juga pertukaran ide.
Pengaruh pedagang Muslim atas rute perdagangan Afrika-Arab dan Arab-Asia
sungguh besar. Akibatnya, peradaban Islam berkembang dan meluas dengan basis
perekonomian pedagangnya, berbeda dengan Kristen, India, dan Tiongkok yang
masyarakatnya berbasis pada pertanian.
Jalur
perdagangan dunia melalui jalan darat di kenal dengan Silk Road (Jalur
Sutera), menghubungkan Tiongkok (produsen utama kain sutera) dengan pelabuhan
Bashrah dan Baghdad, lalu menyebar ke kota-kota pelabuhan sepanjang garis
pantai lautan tengah. Sementara
jalur perdagangan laut atau Sea Route, menghubungkan Asia Tenggara, pada
masa Kejayaan Sriwijaya, Majapahit dan Ternate (produsen rempah-rempah), dengan
anak benua India, yang juga memperdagangkan gading gajah serta kulit
hewan-hewan buas pedalaman Afrika dari pelabuhan Hadramaut di Yaman.
Bangsa-bangsa Eropa sangat bergantung pada
jalur perdagangan ini untuk memenuhi kebutuhannya. Sementara kedua jalur itu
sepenuhnya dikuasai kaum muslimin. Maka mereka berkepentingan untuk menjalin
hubungan diplomatic yang baik dengan pihak penguasa-penguasa Islam. Sehingga
pada masa-masa damai, kaisar-kaisar Byzantium mengirimkan utusan-utusan
diplomatiknya ke Baghdad, Ibukota Daulat Abbasiyah. Begitupun raja-raja Eropa
menjalin hubungan diplomatic dengan Daulat Umayah di Andalusia.[1]
Lapangan Politik
Kemudian wilayah
Persia dikuasai oleh Kaum Muslimin di bawah pemerintahan Khalifah Umar bin
Khattab (634-644 M). Begitu pula sebagian wilayah Byzantium seperti Suriah,
Palestina, Mesir dan Lybia. Juga terjadi peperangan yang berlarut-larut antara
kekuasaan Politik Islam dengan Penguasa-penguasa Feudal Eropa, terkadang juga
melibatkan Byzantium, yang dikenal dengan Perang Salib.[2] Dalam sejarah peperangan yang panjang itu, telah ditemukan bukti-bukti
kegiatan orientalisme dengan tujuan memenagkan perang atas ummat Islam.
Sebuah contoh yang cukup baik, dikisahkan oleh Najib al
Aqiqi, bahwa sebuah pasukan yang terdiri dari para peziarah kristen telah
menguasai Toledo dan mendirikan sebuah biara dengan tujuan utama sebagai pusat penyebaran
kebudayaan dan peradaban Islam ke Eropa. Pemimpin mereka Peter di Hunerable adalah
seorang Pendeta yang menguasai bahasa Arab. Ia menerjemahkan Al Quran dan buku-buku
berbahasa Arab dengan tujuan mengomentari menurut persepsi kristennya juga
menyanggahnya.[3]
Lapangan Ilmu Pengetahuan
Pertemuan antar budaya dan kamuitas-komunitas
dunia juga terjadi dalam lapangan ilmu pengetahuan. Pengetahuan dan
keterampilan dari Timur Tengah, Yunani, dan Persia Kuno dipelajari oleh kaum muslim
pada Abad Pertengahan.[4]
Sejak akhir abad ke 7, telah dimulai gerakan penerjemahan karya ilmiah Yunani
ke dalam bahasa Arab. Gerakan ini kemudian tumbuh
pesat dalam lindungan Daulat Abbasiyah sejak abad ke 8.[5]
Dalam proyek-proyek penerjemahan karya
ilmiah Eropa itu, ilmuwan-ilmuwan muslim menerjemahkan sekaligus dengan gigih
menguji metode penelitian, pengumpulan dan seleksi data-data yang berguna,
pengamatan yang teliti dengan metode-metode ilmiah baru yaitu eksperimen yang
didukung perkembangan ilmu hitung, yang sebelumnya tidak dikenal oleh
kebudayaan Yunani.[6]
Sampai
abad ke 12, kaum muslimin menyerap, menerjemahkan, memahami, mendalami,
melakukan dialektika dan sintesis ilmu pengetahuan dan kebudayaan Yunani,
India, China, Persia dan lain sebagainya dengan logika dan universalitas
doktrin Islam.[7]
Yaitu dengan cara menguji metode penelitian, pengumpulan dan seleksi data-data
yang berguna, pengamatan yang teliti dengan metode-metode ilmiah baru yaitu
eksperimen yang didukung perkembangan ilmu hitung, yang sebelumnya tidak
dikenal oleh kebudayaan Yunani.[8]
Tahap
selanjutnya dari perkembangan ini adalah upaya para ilmuwan Eropa menerjemahkan
karya ilmiah berbahasa Arab ke dalam bahasa Latin.[9] Karya-karya
ilmuwan muslim dalam berbagai bidang diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa Eropa
seperti bahasa Latin, Inggris dan Prancis.[10]
Melalui penerjemahan ini bangsa Eropa mengenal ilmu-ilmu kedokteran, matematika
dan lain sebagainya. Perkembangan ilmu pengetahuan juga membuat Eropa lebih
terbuka dan demokratis.[11]
Akibatnya Eropa mengalami transformasi ilmiah dalam masyarakatnya. Di mana
Universitas-universitas Cordova, Granada dan Sevilla menjadi gerbang transformasi
kemajuan ilmu pengetahuan di Eropa.[12]
Kaum muslim juga memberi inovasi bagi penemuan
bangsa lain, misalnya pengolahan kertas dari Tiongkok[13] dan posisi desimal pada sistem bilangan dari India.[14]
Sebagian besar pembelajaran dan perkembangan tersebut berhubungan dengan
geografi. Para pedagang muslim membawa barang dagangan serta agama mereka ke Asia Selatan, Asia Tenggara, Asia Tengah, Tiongkok, dan
kerajaan-kerajaan di Afrika Barat, lalu kembali dengan penemuan-penemuan baru.
Ilmu pengetahuan yang didapat itu lalu
dikembangkan di perguruan-perguruan tinggi yang dimiliki kaum muslimin. Sejarah
dunia mengakui bahwa di dunia Islamlah lahirnya empat perguruan tinggi tertua,
yaitu Nizhamiyah di Baghdad, Al Azhar di Kairo, Cordova di Andalusia dan
Kairawan di Fez Marokko. Perguruan-perguruan Tinggi tersebut, terutama Cordova
dan Kairuwan, menarik banyak mahasiswa dari Eropa. Profesor Landau dari College
of Pacific, California, menulis tentang Perguruan Tinggi Kairuwan sebagai
berikut:
“Mereka
itu pelindung ilmu pegetahuan dan pembangun monument-monumen arsitektiural yang
sangat indah di kota Fez itu. Pada masa itu Perguruan tinggi Kairuwan itu bukan
hanya menarik mahasiswa dari Afrika dan dunia Islam di seberang, tetapi juga
dari Eropa.”[15]
Pada masa ini, orang-orang yang ingin belajar
tidak merasa keberatan untuk belajar kepada guru yang berlainan agama, sebab
pengetahuan adalah sesuatu yang dibolehkan dan dimiliki bersama. Guru-guru
muslim pun tidak keberatan dengan murid-murid yang berbeda agama, karena Islam
mewajibkan orang yang berpengetahuan menyebarkan pengetahuannya dan memudahkan
bagi para penuntut ilmu.[16]
Bahkan ada fenomena ganjil pada periode ini adalah aktivitas penyebaran
buku-buku sastra berbahasa Arab terjadi dengan sangat pesat. Sehingga sebuah
buku yang dikarang di Kairo atau Marokko dapat diketahui dengan cepat di Paris
atau Cologna.[17]
Fenomena ini memperlihatkan bahasa Arab
digunakan secara merata di seluruh wilayah kekhalifahan, terutama di kota-kota
besar berpenduduk padat. [18]Situasi
ini menyebabkan bahasa Arab menjadi lingua franca, (bahasa utama) dalam
perhubungan-perhubungan diplomatic, perdagangan, surat-menyurat resmi, dunia
kesusasteraan dan kebudayaan, juga dunia ilmiah dan filsafat. Untuk beberapa
lama bahasa Arab merupakan bahasa tunggal dalam pemerintahan, perdagangan dan
kebudayaan di dunia Islam, menggantikan bahasa-bahasa kebudayaan silam seperti
bahasa Latin, Yunani, Koptik, Syiria dan Persia.[19]
Roger Bacon (1214-1294), seorang pemikir besar,
kebangsaan Inggris menganjurkan agar para ilmuwan barat mempelajari bahasa Arab
sebagai cara terbaik memperoleh pengetahuan yang benar, dari pada membaca
terjemahan yang sering tidak tepat.[20]
Akibatnya kebanyakan ilmuwan Eropa Kristen mahir berbahasa Arab dengan baik dan
mulai melupakan bahasa Latin. Para ilmuwan dari berbagai budaya yang berbeda
itu labih suka menggunakan bahasa Arab dalam kegiatan-kegiatan ilmiyah mereka.[21]
Dengan cara ini kebebasan berfikir menyusup ke Eropa.[22]
Para ilmuwan mempelajari metode baru dari kaum muslimin, yaitu meletakkan akal
di atas hukum. Mereka menolak setiap preposisi yang tidak boleh didiskusikan
dan mendahulukan independensi atas hukum-hukum berdasarkan keraguan untuk
menerima atau menolak suatu premis. Tahap selanjutnya dari perkembangan ini
adalah upaya para ilmuwan Eropa menerjemahkan karya ilmiah berbahasa Arab ke
dalam bahasa Latin.[23]
Akibatnya
Eropa mengalami transformasi ilmiah dalam masyarakatnya. Di mana
Universitas-universitas Cordova, Granada dan Sevilla menjadi gerbang
transformasi kemajuan ilmu pengetahuan di Eropa.[24]
Transformasi dilakukan oleh para mahasiswa Eropa Kristen, setelah mereka
kembali ke negeri masing-masing. Mereka membangun lembaga-lembaga pendidikan
dengan menjadikan universitas Islam tempat mereka belajar sebelumnya sebagai Kiblat.[25]
Maka Eropa memasuki masa Renaissance.
Daftar Pustaka
Arnold,
T.W., The Preaching of Islam, alih bahasa Nawawi
Rambe, Jakarta, Wijaya, 1976.
Assamurai,
Qasim, Bukti-bukti
Kebohongan Orientalis, alih bahasa Syuhudi Ismail (Ketua Tim), Jakarta,
Gema Insani
Press, , 1996.
Lewis, Bernard,
Muslim
Menemukan Eropa, alih bahasa Ahmad Niamullah Muiz, Pustaka Firdaus, Jakarta, 1988.
Nasution,
Harun, Islam
ditinjau dari Berbagai Aspeknyai, UI Press, Jakarta, 1974.
Nata,
Abuddin, Sosiologi
Pendidikan Islam, Depok, Rajagrafindo Persada, 2014.
Quthb,
Muhammad, Tafsir
Islam atas Realitas, alih bahasa Abu Ridho, Jakarta, Yayasan SIDIQ,
1996.
Sou’yb, Joeseof, Orientalisme dan Islam, Jakarta,
Bulan Bintang,1985.
Yunus,
Mahmud, Sejarah
Pendidikan Islam, Hidakarya, Jakarta, 1992.
Sumber Internet
http://sejarahnasionaldandunia.blogspot.com/2014/09/perkembangan-sistem-informasi-dan.html,
waktu akses 29/10/2014, 8:05.
[1] Joeseof Sou’yb, Orientalisme dan Islam, Jakarta, Bulan Bintang,1985, hal. 23.
[2] Qasim Assamurai, Bukti-bukti Kebohongan Orientalis, alih bahasa Syuhudi Ismail (Ketua Tim), Gema Insani Press, Jakarta, 1996, hal.42.
[3]
Qasim Assamurai, ibid,
hal.30.
[4] Muhammad Quthb, Tafsir Islam atas Realitas, alih bahasa Abu Ridho, Jakarta, Yayasan SIDIQ, 1996, hal.35.
[5] Bernard Lewis, Muslim Menemukan Eropa, alih bahasa Ahmad Niamullah Muiz, Pustaka Firdaus, Jakarta, 1988, hal.59.
[6] Muhammad, Quthb, op.cit, hal. 35.
[7] Abuddin Nata, Sosiologi Pendidikan Islam, (Depok, Rajagrafindo Persada, 2014), hal.280.
[8] Muhammad Quthb,loc.cit , hal. 35.
[9] Qasim Assamurai, op.cit, hal.94.
[10] Abuddin Nata, op.cit, hal.282.
[11] Abuddin Nata, ibid, hal.282.
[12] Harun Nasution, Islam ditinjau dari Berbagai Aspeknya, UI Press, Jakarta, 1974, hal.74.
[13] http://sejarahnasionaldandunia.blogspot.com/2014/09/perkembangan-sistem-informasi-dan.html, 29/10/2014, 8:05.
[14]
Yaitu pengembangan angka “0” dari sisitem bilangan India oleh matematikawan
Muslim dari Persia, Al-Khawarizmi, memperkenalkan sistem angka India ke
dunia Islam melalui bukunya "al-Kitab al-Mukhtasar fi Hisab al-Jabr wal
Muqabala" (Ringkasan Perhitungan Al-Jabar dan Penyeimbangan) ditahun 825,
dan oleh Al-Kindi dalam bukunya "Kitāb fī Isti'māl al-'Adād al-Hindī"
di tahun 830.(pen)
[15]Joeseof Sou’yb, op.cit, hal. 44.
[16] Qasim Assamurai, op.cit, hal. 58.
[17] Qasim Assamurai, ibid, hal.58.
[18] T.W. Arnold, The Preaching of Islam, alih bahasa Nawawi Rambe, Jakarta, Wijaya, 1976, hal.67.
[19] Bernard Lewis, op.cit, hal.56.
[20] Joesoef Sou’yb, op.cit, hal.43.
[21] Muhammad Quthb, op.cit, hal.34.
[22] Qasim Assamurai, op.cit, hal.93.
[23] Qasim Assamurai, ibid, hal.94. Salah seorang ilmuwan yang banyak menerjemahkan karya ilmiah muslim ke dalam bahasa latin adalah Gerard of Cremona (1187M), seorang Italy. Dia tidak merasa puas dengan proses belajar yang ditemuinya di Eropa dan memutuskan pergi ke Toledo. Di sana dia melihat betapa banyak buku-buku ilmiah dibanding dengan yang pernah dilihatnya di tempatnya belajar. Maka ia memutuskan untuk belajar bahasa arab dan menerjemahkan perbendaharaan ilmu tersebut ke dalam bahasa Latin sampai akhir hidupnya.
[24] Harun Nasution, op.cit, hal.74.
[25] Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam, Hidakarya, Jakarta, 1992, hal.160.