Ali dan Fathimah - Saungpikir

Wednesday, July 6, 2022

Ali dan Fathimah

 



wahyu bhekti prasojo

Di Madinah, Ali bin Abu Thalib adalah seorang pemuda miskin. Sehari-hari, ia bekerja mengangkut air dengan ember kulit untuk ditukar dengan kurma. Ia bersyukur dan cukup puas dengan gajinya yang kecil bahkan senang membaginya dengan Nabi saw untuk makan malam beliau. Ali juga membeli benang sabut dari pasar yang ditenunnya di malam hari sebagai keset untuk dijual dengan untung yang sedikit.

Mungkin karena miskin, Ali tidak merasa cukup percaya diri untuk memenuhi salah satu hasratnya, cintanya pada Fathimah, putri bungsu Nabi. Ia pernah menyampaikan kegundahannya kepada Umar ; “Siapalah aku ini, seseorang yang tak punya apa-apa, bahkan sepertinya terpaksa akan kugadaikan baju perangku.” Meski tidak menganjurkan solusi apa-apa, Umar, yang jujur tak suka tedeng aling-aling, meyakinkan Ali , bahwa ia harus berani menghadap Nabi.

Ali kemudian meminta Ibunya, Fathimah binti Asad, menjadi utusan kepada Nabi untuk misi yang sangat rumit ini, mengingat Nabi sendiri sebelumnya telah menolak lamaran Abu Bakar dan Umar.

Nabi menyerahkan masalah lamaran Ali ini kepada Fathimah untuk memutuskan. Sepertinya beliau sudah yakin tahu jawaban Fathimah, sebelum putrinya itu membuat keputusan. Karena Fathimah, tidak sama dengan kakak-kakak perempuannya. Sejak kecil ia telah terlibat penuh dengan ajaran spiritual ayahnya. Satu-satunya orang islam lain seusianya yang memahami totalitasnya dalam Islam adalah Ali, sepupu lelaki yang dibesarkan dalam lingkungan keluarganya. Fatimah menjawab lamaran itu dengan hanya diam dan menundukkan kepalanya.

Ali masih belum punya apa-apa untuk dijadikan mahar. Belum punya hadiah-hadiah perhiasan yang lazim bagi mempelai perempuan bahkan belum punya biaya pernikahan. Tetapi Usman bin Affan, menantu Nabi yang lain, orang kaya yang lembut hati dan berperasaan halus, dengan tepat membaca situasi sulit yang dihadapi Ali. Ia datang kepada Ali dan bersikeras membeli baju zirahnya seharga 500 dirham. Uang itu kemudian digunakan Ali untuk biaya pernikahan dan mahar bagi Fathimah.

Nabi saw memberi khutbah singkat setelah berdoa bersama dalam acara walimah pernikahan Ali dan Fathimah.

“Kini untuk memenuhi kehendak Allah aku laksanakan pernikahan Fathimah dan Ali. Aku minta kalian menjadi saksi bahwa aku telah menikahkan Fathimah dengan Ali dengan mas kawin 400 dirham. Semoga Allah menumbuhkan cinta di antara mereka, memberkahi mereka....”

Usman kemudian memberikan baju perang itu lagi untuk Ali sebagai kado pernikahan. Ali tentu saja merasa malu dengan kemurahan hati Usman yang begitu besar. Ia menolak hadiah itu dan mengembalikannya kepada Usman. Kedua lelaki yang kini bersaudara ipar itu berdebat, sampai akhirnya Ali menyerah ketika Usman berkata : “Baju berperisai besi seperti ini akan tergeletak, terbengkalai dan berkarat di rumah peadagang seperti saya, sementara jika ia menjadi milik Ali, ia akan ikut dalam perjuangan heroik di jalan Allah yang sama-sama kita dukung.”

Ali dan Fathimah adalah model asmara Islam. Cinta mereka adalah cita-cita perkawinan sempurna. Mereka berdua adalah sahabat sejati, teman masa kanak-kanak, sepupu dan saudara dalam perjalanan spiritual. Meski sebagai manusia mereka juga diuji dan kadang terlibat perselisihan sebagaimana pasangan lain.[1] Tetapi Ali selalu berpegang kepada janjinya kepada ayah mertuanya: “Fathimah adalah milikmu, Ali, dengan syarat, engkau hidup bersamanya dengan baik”

Pada tahun-tahun pertama rumah tangga mereka, Ali masih tetap bekerja sebagai buruh lepas. Sementara Fathimah menggiling gandum untuk dijual kepada rumah tangga lain. Tidak ada cukup waktu untuk mencuci pakaian mereka secara rutin atau mencari kayu bakar agar tungku perapian mereka tetap menyala.

Selimut mereka tidak cukup untuk menutupi seluruh tubuh. Mereka harus memilih antara membiarkan kaki atau pundak yang terbuka tanpa selimut. Fathimah, yang masa kecilnya di Mekkah hidup dengan kenyamanan keluarga pedagang kaya, kini tidur dengan pundak memar bekas mengangkut air dari sumur dan tangan bengkak akibat menggiling gandum dengan gilingan batu.

Tetapi ketika mereka diberi pilihan oleh Ayah mereka; lima ekor kambing atau lima do’a, mereka memilih dzikir dan do’a, untuk kemudahan bagi kaum miskin; “Ya Allah yang Awal di antara yang awal, yang Akhir di antara yang akhir, Pemilik kekuasaan, Mahakuat, Mahapengasih kepada kaum miskin, sangat Pengasih kepada mereka yang pengasih.”



[1] Muhammad bin Ismail Abu Abdullah al Bukhari al Ja’fiy, Shahih Bukhari, Daar Thuqo an Najah,1422H, Juz 1, hlm.96, hadits nomor 441.

Comments


EmoticonEmoticon