Hasrat
Lelaki muda berparas tampan, dengan rambut terurai indah,
mata yang elok, berkulit bersih, berdada bidang, perut yang rata, dan bertubuh
tegap itu adalah Yusuf. Jika ia tersenyum, seolah ada cahaya memancar dari wajahnya,
yang tidak dapat dilukiskan.
Lelaki itu yang telah merobek-robek hatinya dengan cinta bertahun-tahun
lalu. Rasa yang telah tumbuh semakin dalam dan menancap dasar lubuk hatinya
yang paling dalam, menguasainya, menguncinya dan membuatnya gila. Seakan ia tak
bisa hidup tanpanya. Menyiksa hidupnya hari demi hari sehingga tidak
tertahankan lagi. Sampai suatu ketika, ia lupa siapa dirinya, siapa Yusuf, ia
meratap merayu, “Duhai Yusuf, angkat wajahmu, lihat aku, mendekatlah padaku, tatap
mataku.”
Sebagai perempuan, ia tahu bahwa dalam kelelakiannya Yusuf juga sempat menginginkannya.
Tapi ia tak habis fikir, mengapa Yusuf menolaknya. Masih selalu teringat
kata-kata Yusuf yang mengiris-iris hatinya. “Mohon ampun Tuan Putri. Apa yang
Tuan Putri kagumi pada diri hamba adalah sesuatu yang pertama kali akan diuji dari
hamba di dalam kubur hamba nanti. Mata hamba yang Tuan sukai, sungguh dengan
keduanya hamba ingin melihat Tuhan hamba. Sungguh hamba takut menjadi buta di
akhirat nanti.”
“Tenanglah Yusuf kekasihku, lupakan Tuhanmu. Sudah
kututup tujuh pintu dan jendela. Biar kututupi pula tuhan berhalaku ini, dengan
kerudung merahku, supaya ia juga tak bisa melihat kita. Duh Yusuf, aku mendekat
kepadamu mengapa kau menjauh dariku?”
“Ia malah berlari keluar kamar. Katanya ia melihat
bayangan ayahnya menatapnya dalam keadaan marah sekali. Bodoh. Ayahnya buta
bukan?”
Marah
“Budak Ibrani ini telah mempermalukanku. Dia bilang aku menggodanya.
Sementara aku perempuan, dan karena kedudukanku, adalah yang tersudut. Jika
kamu tak mengizinkanku memberi penjelasan, masukkan ia ke penjara atau lepaskan
ikatanmu padaku.”
Di kota, skandal itu ramai jadi perbincangan, Zulaykha
istri Sang Perkasa Perdana Menteri menginginkan bujangnya.
“Mengapa orang-orang hanya perduli pada kemeja Yusuf yang
robek? Tidakkah ada yang peduli pada hatiku yang tercabik-cabik?”
“Akan kutunjukkan pada mereka siapa yang mereka sebut
budak belian itu. Kalau mereka melihat sendiri betapa indahnya Yusuf itu,
masihkah mereka lebih terhormat dari pada aku?”
Rindu
Dengan jubah dan kerudung merahnya yang telah berubah
warna, ia menutupi tubuhnya yang semakin ringkih dimakan derita cinta. Setiap
hari ia menunggu untuk dapat melihat Yusuf. Entah apakah ia memang berharap
Yusuf juga melihatnya di antara orang-orang yang berjajar di jalan? Setiap kali
kereta kuda Yusuf melintas, ia bergegas menghambur di belakangnya. Untuk
menghirup aroma tubuh Yusuf di antara debu yang tersibak roda-roda kereta.
Dengan dua tangannya diraupkannya sekali debu-debu yang berterbangan ke
wajahnya.
“Duhai Yusuf, berapa ribu tangis supaya engkau kembali
padaku? Padahal mataku kini juga buta seperti mata Ayahmu yang dulu dibutakan oleh
air mata.”
Sesungguhnya cinta telah menyemai benih kesedihan dalam
hatinya. Dan membiarkannya tumbuh disirami hujan rasa sakit. Lalu ketika ia
mulai berbuah penderitaan, angin memetiknya kemudian menghamburkannya di udara
begitu saja.
Penyatuan
Hari ke hari disiksa selaksa derita, Zulaykha tak tahu
arah dan hilang di jalan yang ditetapkan Tuhan untuknya. “Atau apakah
sesungguhnya aku bukanlah Zulaykha, yang pantas disemai benih rindu Yusuf yang Suci,
kekasih Tuhan? Oo waktu, betapa sia-sianya”
Ia pun berpaling. Ia mengumpulkan hati dan jiwanya yang
remuk redam karena perpisahan, berharap suatu saat dapat bercerita tentang kerinduannya
akan pertemuan.
“Sesungguhnya hasratku pada Yusuf adalah tabir yang
menghalangi aku dari cinta sejatiku.”
Di ujung jalan, Zulaykha akhirnya menemukan penyatuan.
Sementara di kejauhan Yusuf berlalu dengan kereta kencananya. Tak peduli pada
masa lalu. Semua jalan telah membawa Yusuf pergi. Meninggalkannya, tetap dalam
keadaan terbakar Cinta.
di antara para kekasih yang saling mencinta
ada rahasia yang tidak diungkapkan
dengan kata-kata
atau ditulis dengan pena untuk diceritakan[1]
[1]Abdul Karim bin Hawazin
bin Abdul Malik Al Qusyairy, Lathaif al Isyarat (Tafsir Al Qusyairy),
Al Hay’ah al Mishriyah al ‘Amah li al Kitab, Mesir, Juz 2, hlm.165.
