ZULAYKHA - Saungpikir

Thursday, October 27, 2022

ZULAYKHA

 wahyu b prasojo



Hasrat

Lelaki muda berparas tampan, dengan rambut terurai indah, mata yang elok, berkulit bersih, berdada bidang, perut yang rata, dan bertubuh tegap itu adalah Yusuf. Jika ia tersenyum, seolah ada cahaya memancar dari wajahnya, yang tidak dapat dilukiskan.

Lelaki itu yang telah merobek-robek hatinya dengan cinta bertahun-tahun lalu. Rasa yang telah tumbuh semakin dalam dan menancap dasar lubuk hatinya yang paling dalam, menguasainya, menguncinya dan membuatnya gila. Seakan ia tak bisa hidup tanpanya. Menyiksa hidupnya hari demi hari sehingga tidak tertahankan lagi. Sampai suatu ketika, ia lupa siapa dirinya, siapa Yusuf, ia meratap merayu, “Duhai Yusuf, angkat wajahmu, lihat aku, mendekatlah padaku, tatap mataku.”

Sebagai perempuan, ia tahu  bahwa dalam kelelakiannya Yusuf juga sempat menginginkannya. Tapi ia tak habis fikir, mengapa Yusuf menolaknya. Masih selalu teringat kata-kata Yusuf yang mengiris-iris hatinya. “Mohon ampun Tuan Putri. Apa yang Tuan Putri kagumi pada diri hamba adalah sesuatu yang pertama kali akan diuji dari hamba di dalam kubur hamba nanti. Mata hamba yang Tuan sukai, sungguh dengan keduanya hamba ingin melihat Tuhan hamba. Sungguh hamba takut menjadi buta di akhirat nanti.”

“Tenanglah Yusuf kekasihku, lupakan Tuhanmu. Sudah kututup tujuh pintu dan jendela. Biar kututupi pula tuhan berhalaku ini, dengan kerudung merahku, supaya ia juga tak bisa melihat kita. Duh Yusuf, aku mendekat kepadamu mengapa kau menjauh dariku?”

“Ia malah berlari keluar kamar. Katanya ia melihat bayangan ayahnya menatapnya dalam keadaan marah sekali. Bodoh. Ayahnya buta bukan?”


Marah

“Budak Ibrani ini telah mempermalukanku. Dia bilang aku menggodanya. Sementara aku perempuan, dan karena kedudukanku, adalah yang tersudut. Jika kamu tak mengizinkanku memberi penjelasan, masukkan ia ke penjara atau lepaskan ikatanmu padaku.”

Di kota, skandal itu ramai jadi perbincangan, Zulaykha istri Sang Perkasa Perdana Menteri menginginkan bujangnya.

“Mengapa orang-orang hanya perduli pada kemeja Yusuf yang robek? Tidakkah ada yang peduli pada hatiku yang tercabik-cabik?”

“Akan kutunjukkan pada mereka siapa yang mereka sebut budak belian itu. Kalau mereka melihat sendiri betapa indahnya Yusuf itu, masihkah mereka lebih terhormat dari pada aku?”


Rindu

Zulaykha yang kini terusir dari istana suaminya, semakin tenggelam dalam duka cinta tak berbalas. Ia tinggal di jalanan kota, yang juga semakin tua. Bertahan hidup dari harapannya bertemu Yusuf.

Dengan jubah dan kerudung merahnya yang telah berubah warna, ia menutupi tubuhnya yang semakin ringkih dimakan derita cinta. Setiap hari ia menunggu untuk dapat melihat Yusuf. Entah apakah ia memang berharap Yusuf juga melihatnya di antara orang-orang yang berjajar di jalan? Setiap kali kereta kuda Yusuf melintas, ia bergegas menghambur di belakangnya. Untuk menghirup aroma tubuh Yusuf di antara debu yang tersibak roda-roda kereta. Dengan dua tangannya diraupkannya sekali debu-debu yang berterbangan ke wajahnya.

“Duhai Yusuf, berapa ribu tangis supaya engkau kembali padaku? Padahal mataku kini juga buta seperti mata Ayahmu yang dulu dibutakan oleh air mata.”

Sesungguhnya cinta telah menyemai benih kesedihan dalam hatinya. Dan membiarkannya tumbuh disirami hujan rasa sakit. Lalu ketika ia mulai berbuah penderitaan, angin memetiknya kemudian menghamburkannya di udara begitu saja.


Penyatuan

Hari ke hari disiksa selaksa derita, Zulaykha tak tahu arah dan hilang di jalan yang ditetapkan Tuhan untuknya. “Atau apakah sesungguhnya aku bukanlah Zulaykha, yang pantas disemai benih rindu Yusuf yang Suci, kekasih Tuhan? Oo waktu, betapa sia-sianya”

Ia pun berpaling. Ia mengumpulkan hati dan jiwanya yang remuk redam karena perpisahan, berharap suatu saat dapat bercerita tentang kerinduannya akan pertemuan.

“Sesungguhnya hasratku pada Yusuf adalah tabir yang menghalangi aku dari cinta sejatiku.”

Di ujung jalan, Zulaykha akhirnya menemukan penyatuan. Sementara di kejauhan Yusuf berlalu dengan kereta kencananya. Tak peduli pada masa lalu. Semua jalan telah membawa Yusuf pergi. Meninggalkannya, tetap dalam keadaan terbakar Cinta.



di antara para kekasih yang saling mencinta

ada rahasia yang tidak diungkapkan

dengan kata-kata

atau ditulis dengan pena untuk diceritakan[1]



[1]Abdul Karim bin Hawazin bin Abdul Malik Al Qusyairy, Lathaif al Isyarat (Tafsir Al Qusyairy), Al Hay’ah al Mishriyah al ‘Amah li al Kitab, Mesir,  Juz 2, hlm.165.


Comments


EmoticonEmoticon