Tantangan penanaman nilai Kejujuran saat pandemi - Saungpikir

Sunday, December 27, 2020

Tantangan penanaman nilai Kejujuran saat pandemi

Perubahan dan siklus zaman dapat berubah secara cepat, dampak yang ditimbulkannya mengandung unsur positif atau negatif. Perubahan zaman dapat mempengaruhi perilaku manusia maupun karakter yang dipilih dalam menjalani realitas kehidupan.

Salah satu karakter yang perlu dibentuk untuk menghadapi berbagai tantangan zaman adalah kejujuran. Karakter inilah terdapat pada Rasulullah SAW yang dikenal sebagai orang yang sangat jujur sehingga mendapatkan gelar Al Amin yang artinya dapat dipercaya. 

Sejalan dengan tujuan dari Sisdiknas, pendidikan karakter sebagai wahana untuk menanamkan nilai-nilai moral dan karakter bagi peserta didik. Pada Undang-undang tersebut jelas mengamanatkan bahwa tujuan pendidikan tidak hanya menjadikan peserta didik cerdas secara intelektual, tetapi juga harus mampu mencetak generasi yang bermoral dan berkarakter sesuai dengan nilai, norma dan ajaran agama. 

Salah satu kunci pendidikan karakter adalah adanya role model individu berkarakter. Role model atau contoh teladan diperlukan karena pada prinsipnya seorang anak adalah peniru. Secara umum role model dapat ditemui peserta didik pada diri orang tua, guru, tokoh, atau bahkan pemimpin negara. Oleh karena itu role model inilah harus dapat menjadi contoh teladan nilai kejujuran bagi peserta didik.

Interaksi di lingkungan sekolah, yang menjadi salah satu role model bagi peserta didik dalam menumbuhkan nilai-nilai kejujuran adalah sosok seorang guru. Guru yang berkarakter akan mampu menunjukkan sikap dan perilaku yang sesuai dengan norma dan nilai-nilai ajaran agama dalam kesehariannya sehingga dapat ditiru oleh peserta didik. 

Namun demikian, di masa pandemi dimana peran sekolah terasa berkurang mengingat minimnya aktivitas peserta didik di sekolah. Akibat pembatasan aktivitas belajar tatap muka ini, maka peserta didik lebih banyak berinteraksi melalui pembelajaran online atau daring.

Peserta didik selanjutnya lebih banyak beraktivitas di rumah sehingga orang dewasa diantaranya orangtua terpaksa dominan memikul peran ini. Gadget atau gawai dapat menjadi faktor penunjang atau penghambat atas pembiasaan nilai kejujuran, sehingga perlunya kontrol dan pengawasan atas aktivitas penggunaannya.

Comments


EmoticonEmoticon