Dakwah, Mengajak Bukan Menghakimi - Saungpikir

Friday, April 16, 2021

Dakwah, Mengajak Bukan Menghakimi

 oleh wahyu bhekti prasojo

Dakwah secara bebas, adalah suatu proses penyampaian informasi Ilahiyah kepada para manusia yang merupakan bagian integral dari hidup dan kehidupan setiap individu muslim.[1] Pengertian kata “mengajak” itu sendiri sudah termasuk dalam kalimat dakwah. Seperti terkandung dalam firman Allah,

والله يدعو إلى دار السلام ويهدي من يشاء إلى صراط مستقيم

Allah menyeru (manusia) ke Darussalam (surga), dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus (Islam). (QS Yunus [10]: 25)

أولئك يدعون إلى النار والله يدعو إلى الجنة والمغفرة بإذنه ويبين آياته للناس لعلهم يتذكرون

Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran. (QS Al Baqarah [2]: 221).

Adapun makna menghakimi biasanya berkonotasi “pengadilan” atau “menjatuhkan vonis” dan istilah-istilah lain yang berkaitan dengan syari’at, hukum dan perundang-undangan. Adapun makna menghakimi dalam kaitannya dengan dakwah adalah memberi vonis kepada mad’u yang terlanjur melakukan maksiat atau kesalahan. Bentuknya bisa menyalahkan, mencela, menghinakan, membid’ahkan bahkan sampai kepada mengkafirkan.[2]

Mengajak manusia untuk melakukan kebaikan atau menyeru orang lain untuk melaksanakan perintah Allah SWT adalah suatu pekerjaan yang amat mulia, bahkan di dalam Al-Qur’an, Allah Subhanahu SWT meyebutkan bahwa orang yang melakukan aktifitas tersebut adalah orang yang perkataannya paling baik (Ahsanu Qaulan).Allah  SWT berfirman,

 ومن أحسن قولا ممن دعا إلى الله وعمل صالحا وقال إنني من المسلمين

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya Aku termasuk orang-orang yang menyerah diri “.  (Q.S. Fushshilat [41] : 33).

Maka seorang da’i mestinya dapat memperlakukan objek dakwahnya secara baik, santun, lemah lembut, penuh kasih sayang, arif dan bijaksana. Seorang da’i hendaknya senantiasa mengharapkan kebaikan bagi mad’unya. Bukan justeru sebaliknya -- meminjam istilah Jum’ah Amin Abdul Aziz --, “mendorong pelaku maksiat masuk neraka.”[3] Yaitu dengan mengesankan bahwa seolah-olah pintu taubat telah tertutup bagi pelaku maksiat itu, sehingga membuatnya putus asa dari rahmat dan ampunan Allah.

Bukankah Allah SWT telah menggambarkan bagaimana Rasulullah SAW mendakwahi kaumnya. Allah SWT berfirman :

فبما رحمة من الله لنت لهم ولو كنت فظا غليظ القلب لانفضوا من حولك فاعف عنهم واستغفر لهم وشاورهم في الأمر فإذا عزمت فتوكل على الله إن الله يحب المتوكلين

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah Lembut terhadap mereka. sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu Telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya “  ( Q.S. Ali Imran[3] : 159)

 

Daftar Pustaka

Aziz,  Jum’ah Amin Abdul, Fiqih Dakwah, Prinsip dan Kaidah Asasi Dakwah Islam, alih bahasa Abdus Salam Masykur, Intermedia Solo, 1997.

Munir ,M, , Metode Dakwah, Kencana Prenada Media Group, Jakarta, 2003.



[1] M. Munir, Metode Dakwah, Kencana Prenada Media Group, Jakarta, 2003, hal.62.

[2] M. Munir, ibid, hal.61.

[3] Jum’ah Amin Abdul Aziz, Fiqih Dakwah, Prinsip dan Kaidah Asasi Dakwah Islam, alih bahasa Abdus Salam Masykur, Intermedia Solo, 1997, hal.421.


Comments


EmoticonEmoticon