Wahyu Bhekti Prasojo
Dakwah mempunyai kedudukan yang sangat tinggi berdasarkan kesaksian Al-Quran. Ucapannya adalah sebaik-baik ucapan, amal para pelakunya direkomendasikan sebagai amal saleh, dan pernyataan berafiliasi kepada kandungannya menunjukkan akan kebanggaan dan kebesaran. Padanya ada banyak urgensi dan keutamaan. Allah SWT, berfirman,
ومن أحسن قولا ممن دعا إلى الله وعمل صالحا وقال
إنني من المسلمين
“Siapakah
yang lebih baik perkataannya daripada orang yang berdakwah (menyeru) kepada
Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk
orang-orang yang menyerah diri?”
(Fushilat (41): 33).
Amal
yang Terbaik
Dakwah
adalah amal yang terbaik, karena dakwah memelihara amal Islami di dalam pribadi
dan masyarakat. Membangun potensi dan memelihara amal shalih adalah amal
dakwah, sehingga dakwah merupakan aktivitas dan amal yang mempunyai peranan
penting di dalam menegakkan Islam. Tanpa dakwah ini maka amal shalih tidak akan
berlangsung.
Abu Ja’far
Ath-Thabari mengatakan dalam tafsirnya: Allah swt menyeru manusia: “Wahai
manusia, siapakah yang lebih baik perkataannya selain orang yang mengatakan
Rabb kami adalah Allah, kemudian istiqamah dengan keimanan itu, berhenti pada
perintah dan larangan-Nya, dan berdakwah (mengajak) hamba-hamba Allah untuk
mengatakan apa yang ia katakan dan mengerjakan apa yang ia lakukan.”[1]
Sayyid
Quthb dalam Fi Zhilal Al-Quran menjelaskan:
“Sesungguhnya kalimat dakwah adalah kalimat
terbaik yang diucapkan di bumi ini, ia naik ke langit di depan kalimat-kalimat
baik lainnya. Akan tetapi ia harus disertai dengan amal shalih yang
membenarkannya, dan disertai penyerahan diri kepada Allah sehingga tidak ada
penonjolan diri di dalamnya. Dengan demikian jadilah dakwah ini murni untuk
Allah, tidak ada kepentingan bagi seorang da’i kecuali menyampaikan.
Setelah itu tidak pantas kalimat seorang da’i kita sikapi dengan berpaling,
adab yang buruk, atau pengingkaran. Karena seorang da’i datang dan maju membawa
kebaikan, sehingga ia berada dalam kedudukan yang amat tinggi…”[2]
Tugas Utama Para Nabi
Bagaimana
tidak akan menjadi ucapan dan pekerjaan yang terbaik? Sementara dakwah adalah
pekerjaan makhluk terbaik yakni para nabi dan rasul alaihimussalam. Ath Thabari menyebutkan sebuah komentar dari
As Sadiy, bahwa yang dimaksud dengan (وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ) adalah Nabi Muhammad saw ketika beliau menyeru manusia kepada Islam.[3]
Para
rasul alaihimussalam adalah orang yang diutus oleh Allah swt untuk melakukan
tugas utama mereka yakni berdakwah kepada Allah. Keutamaan dakwah
terletak pada disandarkannya kerja dakwah ini kepada manusia yang paling
utama dan mulia yakni Rasulullah saw dan saudara-saudara beliau para nabi &
rasul alaihimussalam.
إِنَّا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ كَمَا أَوْحَيْنَا إِلَى نُوحٍ وَالنَّبِيِّينَ مِنْ بَعْدِهِ وَأَوْحَيْنَا إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالْأَسْبَاطِ وَعِيسَى وَأَيُّوبَ وَيُونُسَ وَهَارُونَ وَسُلَيْمَانَ وَآتَيْنَا دَاوُودَ زَبُور.
Sesungguhnya
Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan wahyu
kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya, dan Kami telah memberikan wahyu
(pula) kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub dan anak cucunya, Isa, Ayub, Yunus,
Harun dan Sulaiman. Dan Kami berikan Zabur kepada Daud. (An Nisaa 163)
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا
أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ فَمِنْهُمْ مَنْ هَدَى اللَّهُ
وَمِنْهُمْ مَنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلَالَةُ فَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ
فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ
Dan
sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan):
"Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu", maka di antara
umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di
antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu
di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan
(rasul-rasul).(An Nahl 36)
قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى
بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ
الْمُشْرِكِينَ
Katakanlah
(Hai Muhammad): “Inilah jalanku: aku dan orang-orang yang mengikutiku berdakwah
(mengajak kamu) kepada Allah dengan hujah yang nyata, Maha Suci Allah,
dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik”. (QS. Yusuf : 108).
Mendapatkan Cinta Allah
Sebagaimana telah diketahui bahwa tugas para Nabi adalah berdakwah.
Sementara itu, kaum muslimin adalah sekutu Rasulullah dalam tugas dakwah itu.
Maka Allah memberi kabar gembira dengan cintaNya kepada orang-orang yang
berdakwah. Allah swt berfirman,
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ
تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ
ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar)
mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni
dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(Ali
Imran 31)
Ibnul Mundzir meriwayatkan dari Hasan Al
Bashri, ia berkata, “Beberapa kaum pada masa Nabi kita berkata, ‘Wahai
Muhammad, demi Allah kami sungguh mencintai Allah.’ Maka Allah menurunkan ayat ini.”[4]
Salah satu riwayat tentang sebab turunnya ayat ini seperti dituliskan oleh
Ath Thabary, bahwa ayat ini turun kepada suatu kelompok orang yang mengatakan
kepada Nabi Muhammad saw, “Sesungguhnya kami mencintai Tuhan kami.” Maka Allah
memerintahkan Nabi saw untuk mengatakan kepada mereka, “Jika kalian benar
tentang apa yang kalian katakan itu, maka ikutilah aku, itulah tanda kebenaran
kata-kata kalian.”[5]Mencintai
Allah adalah mengikuti jalan hidup Rasulullah, yang mana ia adalah syarat
mendapatkan cinta Allah.
Dalam menjelaskan Surat Fushshilat ayat 33, Ath Thabari menuliskan sebuah
riwayat, Telah berkata kepada kami Muhammad bin Abdul A’laa, ia berkata,
berkata Muhammad bin Tsaur dari Mu’ammar maksud ayat ini adalah: Ini adalah
kekasih Allah, Wali Allah, Pilihan Allah, Makhluq yang paling dicintai di sisi
Allah, Allah pasti mengabulkan dakwahnya, dan ia menyeru manusia kepada apa
yang diijabah Allah dari dakwahnya itu. Dan ia beramal dalam pengabulan itu.[6]
Daftar Pustaka
Muhammad bin Jarir, Abu Ja’far, Ath Thabari,, Tafsir
Ath Thabari, Jami’ul Bayan Fi Ta’wil Al Qur’an, Mu’asasah Risalah, 2000.
Sayyid Quthb, Fi Dzhilal Al Qur’an, Darus
Syuruq Beyrut/Kairo, 1412.
Jalaluddin As Suyuthy, Al Lubab An Nuqul fii Asbab
an Nuzul, terjemahan, Gema Insani Press, Jakarta/Depok, 2011.
[1] Muhammad bin Jarir, Abu Ja’far, Ath Thabari,, Tafsir
Ath Thabari, Jami’ul Bayan Fi Ta’wil Al Qur’an, Mu’asasah Risalah, 2000, Juz 21, hlm.468.
[2]
Sayyid Quthb, Fi Dzhilal Al Qur’an, Darus Syuruq Beyrut/Kairo, 1412, Juz 5, hlm.3121.
[3] Ath
Thabari, op.cit, Juz 21, hlm.469.
[4] Jalaluddin As Suyuthy, Al Lubab An Nuqul
fii Asbab an Nuzul, terjemahan, Gema Insani Press, Jakarta/Depok, 2011,
hlm.119.
[5] Ath Thabari, op.cit, Juz 6, hlm.321
[6] Ath Thabari, ibid, Juz 21, hlm.468
