MEKKAH - Saungpikir

Thursday, September 2, 2021

MEKKAH

Wahyu Bhekti Prasojo 

"How beautiful you (Makkah) are as a country. And you are the land that I love the most. If my people had not driven me away from you, I would not have lived in a land other than you."

Muhammad saw

Nama

Kota Makkah terletak sekitar 600 km sebelah selatan kota Madinah, kurang lebih 200 km sebelah timur laut kota Jeddah. Terletak di ketinggian 300 meter dari permukaan air laut. Kota ini merupakan lembah sempit yang dikelilingi gunung-gunung dengan bangunan Ka'bah sebagai pusatnya.

Al Quran mengisyaratkan Kota Makkah dan sekitarnya melalui banyak nama. Di antaranya, Al Balad (QS Al Balad: 1-2),

لا أُقْسِمُ بِهَذَا الْبَلَدِ  وَأَنْتَ حِلٌّ بِهَذَا الْبَلَدِ

Aku benar-benar bersumpah dengan kota ini (Mekah), dan kamu (Muhammad) bertempat di kota Mekah ini,

Bakkah (Ali Imran: 96),

إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِلْعَالَمِينَ

Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadah) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.

Ummul Qura (Al An'am: 92),

وَهَذَا كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ مُصَدِّقُ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَلِتُنْذِرَ أُمَّ الْقُرَى وَمَنْ حَوْلَهَا وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ يُؤْمِنُونَ بِهِ وَهُمْ عَلَى صَلَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ

Dan ini (Al Qur'an) adalah kitab yang telah Kami turunkan yang diberkahi; membenarkan kitab-kitab yang (diturunkan) sebelumnya dan agar kamu memberi peringatan kepada (penduduk) Umulqura (Mekah) dan orang-orang yang di luar lingkungannya. Orang-orang yang beriman kepada adanya kehidupan akhirat tentu beriman kepadanya (Al Qur'an), dan mereka selalu memelihara shalatnya.

Al Balad al Amin (At Tin: 1-3)

وَالتِّينِ وَالزَّيْتُونِ  وَطُورِ سِينِينَ  وَهَذَا الْبَلَدِ الأمِينِ

Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun, dan demi bukit Sinai, dan demi kota (Mekkah) yang aman ini,

Al Qaryah (QS. Al Baqarah 58).

وَإِذْ قُلْنَا ادْخُلُوا هَذِهِ الْقَرْيَةَ فَكُلُوا مِنْهَا حَيْثُ شِئْتُمْ رَغَدًا وَادْخُلُوا الْبَابَ سُجَّدًا وَقُولُوا حِطَّةٌ نَغْفِرْ لَكُمْ خَطَايَاكُمْ وَسَنَزِيدُ الْمُحْسِنِينَ

Dan (ingatlah), ketika Kami berfirman: "Masuklah kamu ke negeri ini (Baitulmakdis), dan makanlah dari hasil buminya, yang banyak lagi enak di mana yang kamu sukai, dan masukilah pintu gerbangnya sambil bersujud, dan katakanlah: "Bebaskanlah kami dari dosa", niscaya Kami ampuni kesalahan-kesalahanmu. Dan kelak Kami akan menambah (pemberian Kami) kepada orang-orang yang berbuat baik".

Masy'aril Haram (Tanah Haram), Haraman Amin (tanah Suci yang aman) (QS. Al Baqarah 198),

لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَبْتَغُوا فَضْلًا مِنْ رَبِّكُمْ فَإِذَا أَفَضْتُمْ مِنْ عَرَفَاتٍ فَاذْكُرُوا اللَّهَ عِنْدَ الْمَشْعَرِ الْحَرَامِ وَاذْكُرُوهُ كَمَا هَدَاكُمْ وَإِنْ كُنْتُمْ مِنْ قَبْلِهِ لَمِنَ الضَّالِّينَ

Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezeki hasil perniagaan) dari Tuhanmu. Maka apabila kamu telah bertolak dari Arafah, berzikirlah kepada Allah di Masy`arilharam. Dan berzikirlah (dengan menyebut) Allah sebagaimana yang ditunjukkan-Nya kepadamu; dan sesungguhnya kamu sebelum itu benar-benar termasuk orang-orang yang sesat.

Julukan lainnya adalah al-Bassah (dibinasakannya orang-orang yang ingkar), al-Bassaq (tempat tinggi karena dimuliakan dan ditempatkan pada posisi yang tinggi), dan An-Nasaasah (karena di daerah ini sangat sedikit airnya, kering).[1]

Sejarah

Mulanya kota ini sekadar tempat singgah bagi para pejalan yang melintasi Jazirah Arab. Makkah, tidak berpenghuni. Tak adanya sumber air yang layak, membuat orang-orang enggan berada lebih lama di lembah tandus itu.

Setelah sekian lama cuma jadi tempat mampir, baru kemudian, Hajar -istri Nabi Ibrahim As- menjadi penghuni pertama Kota Mekkah. Usai keberhasilannya menemukan zamzam, barulah Makkah memiliki daya tarik. Air, dalam budaya masyarakat gurun waktu itu dianggap jauh lebih menggiurkan dibanding berlian yang tergeletak di atas pasir.

Makkah dikelilingi gunung-gunung. Oleh karenanya, pada masa lalu kota ini rawan banjir di musim hujan. Ada tiga pintu masuk utama ke Kota Makkah, yakni Ma’la, Misfalah, dan Syubaikah. Dataran rendahnya berada di sekitar Batha’, sebelah timur Masjidil haram disebut perkampungan Ma’la, sedangkan di barat daya masjid adalah Misfalah. Rasulullah pada zamannya merupakan warga Ma’la karena lahir dan menetap di kampung itu hingga tiba saatnya hijrah ke Madinah. 

Quraisy

Suku bangsa Quraisy diduga berasal dari keturunan Ismail (Bani Ismail) melalui anaknya Adnan. Ada juga yang menyebut Arab Adnan dan Quraisy termasuk cabang dari ini.

Nabi Muhammad dilahirkan dari sebuah klan yang biasa disebut Bani Hasyim. Nama ini dinisbatkan kepada primus inter pares klan, yaitu seseorang bernama Hasyim. Secara silsilah Hasyim merupakan kakek buyut Nabi Muhammad.

Hasyim adalah putra Abdul Manaf, seseorang yang sangat dihormati di Makkah. Sementara ayahanda Abdul Manaf, Qusai, seturut beberapa sumber tradisional, berasal dari sebuah lembah di Makkah yang paling dekat dengan tempat peribadatan (kemungkinan besar Kakbah).

Bani Hasyim merupakan bagian dari suku Quraisy. Suku ini diperkirakan menetap di Makkah sejak pertengahan abad ke-5. Asal-usul suku Quraisy bisa dilacak dari seseorang bernama Fihr bin Malik yang diperkirakan hidup pada abad ke-3. Suku ini pada saat itu terkenal sifatnya akan kekacauan, sukar dikendalikan, terpecah belah antar suku, kasar, saling bermusuhan, sangat penuh perasaan, fasih berbicara dan puitis.

Kabilah ini kemudian dipersatukan lagi oleh Qusai bin Kilab setelah menyatukan beberapa suku secara politik dan perkawinan.[2] Qusai adalah keturunan ke-6 dari Fihr. Sejarawan F.E. Peters menuliskan.

“Sementara itu para keturunan Ismail tersebut, yang dinamakan Quraisy, pada umumnya hidup tersebar dalam ‘pemukiman yang terserak’ … semua sumber menyebut bahwa Qusai adalah ‘orang pertama dari bani Kinanah yang meraih kepemimpinan, dan yang menyatukan sukunya, Quraisy,”[3]

Qusai kemudian menjadi sangat disegani dan mendapat tempat terhormat di kalangan suku Quraisy. Apalagi ia punya pengalaman berkelana yang cukup panjang. Quraisy kemudian berhasil mengambil alih Kakbah dari tangan suku Khuza’ah yang bertahun-tahun menjadi penjaga “rumah suci” itu dan dianggap gagal menjalankan amanat leluhur. Konon orang-orang Quraisy berhasil mengusir para Khuza’ah lewat “kampanye yang menggabungkan tipuan dan kekuatan.”[4]

Ekonomi

Secara geografis letak semenanjung Arab strategis.[5] Ia berada diantara benua Asia dan Afrika, seolah-olah berada di pusat dunia. Munawar Kholil menyebutnya seperti Hati Bumi (dunia).[6] Ia diapit oleh wilayah-wilayah berpenduduk ramai di utara, barat dan timur. Sedangkan di selatan adalah laut. Situasi ini sekaligus menempatkan Jazirah Arab pada jalur perdagangan antar bangsa. Mereka yang datang dari barat (Afrika terutama bagian utara), barat laut dan utara (Eropa) lewat darat (jalur sutra atau silk road) bertemu dengan yang dari timur (India dan Tiongkok) dan dari selatan (asia tenggara) melalui jalur pelayaran (sea road) [7]  di Jazirah Arab yaitu di pelabuhan-pelabuhan Yaman. Jalur perdagangan laut ini telah dilalui pedagang internasional selama berabad-abad, dalam berbagai periode.[8] Mekkah, yang dilewati jalur ini juga tumbuh menjadi kota perdagangan internasional. Para pedagang dan pemodalnya telah menjadi kaya raya melebihi harapan mereka sendiri.[9] Jalur ini melewati pasar-pasar antara lain;

Fumatul Jandal di ujung utara Hijaz dekat perbatasan Syiria, Mushshaqar di Bahrain, Suhar di Oman, Dabba salah satu pelabuhan Oman, Maharah di antara Aden dan Oman, Aden, San’a, Rabyah di Hadramaut, Ukaz di ujung Nejd dekat Thaif, Dzul Majaz dekat Thaif, Mina, Nazat dekat Khaybar, Hijr di Yamamah dan Bashrah di Syiria.[10]

Pada awalnya, orang-orang Arab hanya memanfaatkan jalur ini untuk kepentingan ekonomi semata. Baru kemudian setelah Muhammad memulai misi kenabiannya, berita tumbuh dan berkembangnya Islam yang terjadi di sana dapat dengan cepat tersebar dan diketahui orang banyak.[11]

Sejak Quraisy menguasai Mekkah, mereka semakin kuat. Pada saat bersamaan arus perdagangan di Makkah juga kian meningkat. Kota ini memang tidak ideal bagi produksi pertanian, tapi sangat strategis sebagai kawasan niaga. Daya tarik Kabah sebagai pusat ziarah spiritual turut andil memajukan perekonomian kota.[12]

Sementara itu, tanah yang tandus membuat kebanyakan klan bertahan hidup dengan terpaksa berpindah-pindah mengikuti letak oase-oase. Klan-klan miskin bertaruh nyawa dengan menghadang kafilah-kafilah dagang milik Kabilah yang kaya. Ketiadaan aturan yang menjamin keamanan, memaksa para kafilah membentuk pasukan pengawalnya sendiri-sendiri yang biasanya juga melibatkan pasukan secara kesukuan, bukan perorangan. Hal ini mempertajam perselisihan antar suku.

Politik

Selama berabad-abad Barat dan Timur saling menghormati keyakinan agama masing-masing. Peradaban Asyiria dan Mesir Kuno yang membentang sepanjang Funisia telah menghalangi perbenturan di antara peradaban-peradaban yang tumbuh di kedua sisinya. Sampai ketika Mesir dikuasai Romawi, terbukalah penghalang itu karena sifat Romawi yang ekspansif. Dengan dikuasainya Mesir, mereka langsung berbatasan dengan Persia di Timur.[13]

Dalam pertarungan yang panjang, Persia nampak unggul pada awalnya. Motifnya politik dan ekonomi. Orang-orang Persia tidak berminat mengajarkan agamanya kepada orang-orang Romawi. Mereka tetap pada keyakinan mereka masing-masing, begitu pula ketika pada akhirnya Romawi memenangi persaingan itu. Namun demikian persaingan yang panjang itu telah membawa kedua negara kepada keruntuhan masing-masing. Romawi kemudian kalah bersaing dengan Bizantium yang sama-sama Kristen. Sedangkan Persia mengalami kemunduran karena sebab-sebab internal sampai kemudian -nantinya- ditaklukkan Islam.

Secara geopolitis kondisi ini menempatkan Jazirah Arab di tengah kekuatan-kekuatan politik besar dunia yang merupakan pesaing bagi hegemoni Islam di masa datang. Pada awal abad ke enam itu, kedua kekuatan itu telah mulai berbenturan, melalui konflik-konflik di antara beberapa negara kecil di wilayah Jazirah Arab yang menjadi vasal kedua negara besar itu.[14]

Suku Quraisy berhasil menjaga kota Makkah tetap stabil. Para elite Quraisy menjalin kerja sama dan membangun persekutuan dengan beberapa suku badui penggembala di sekitar Makkah. Dengan aliansi itu, para saudagar dan peziarah terjamin keamanannya. Paling tidak, mereka bisa terbebas dari penyerbuan atau penjarahan yang kerap dilakukan suku-suku badui di semenanjung Arab.

Reputasi Quraisy, karena itu, semakin melejit di antara suku-suku besar lain di jazirah Arab. Hampir tidak ada suku yang berani mengganggu Makkah dan mereka biasanya segan untuk berperang melawan Quraisy. Dengan faktor-faktor tersebut, Makkah di bawah kendali para keturunan Qusai menjadi entitas politik non-kerajaan terkuat di semenanjung Arab.

Tapi sekuat apapun mereka, Makkah tetaplah hanya sebuah kota dan bukan kerajaan (negara). Bahkan secara politik mereka pun sangat terfragmentasi. Terjadi rivalitas antarklan, dan makin meruncing. Tidak ada klan yang amat dominan dan masing-masing klan saling berebut pengaruh serta berlomba-lomba mengejar kekayaan. Sementara di sekelilingnya, ada tiga imperium yang bisa menerkam kapan saja.

Hal itu membuat suku Quraisy sangat berhati-hati dalam melakukan langkah-langkah politik. Apalagi setelah Abrahah dan pasukannya hampir menyerbu Makkah. Maka, dalam kondisi macam itu, di masa kelahiran Nabi Muhammad, hasrat politik suku Quraisy cuma satu: mempertahankan independensi Makkah sembari terus menumpuk pundi-pundi kekayaan.

Agama

Kebanyakan penduduk Mekkah menjaga tradisi agama Ibrahim dan Ismail. Hingga muncullah Amru bin Luhai, seorang pemimpin Bani Khuza'ah. Membawa Hubal (berhala) dari perjalanannya ke Syam dan meletakkannya di dalam Ka'bah. Amru bin Luhai dikenal baik dan peduli terhadap urusan-urusan agama, sehingga semua orang mencintainya dan menganggapnya sebagai ulama besar dan wali yang disegani. Ketika dia mengadakan perjalanan ke Syam, di sana dia melihat penduduk Syam menyembah berhala dan menganggap hal itu sebagai sesuatu yang baik. Apalagi Syam adalah tempat para rasul dan turunnya kitab. Setelah itu dia mengajak penduduk Mekkah untuk menyembahnya selain Allah.[15]

Berhala Hubal terbuat dari batu akik merah yang berbentuk manusia. Orang-orang Quraisy mendapati tangan kanan Hubal peninggalan Suku Khuza’ah telah hancur. Lalu mereka mereparasinya dengan tangan dari emas. Inilah berhala pertama orang-orang musyrik, yang paling besar, dan paling suci menurut mereka.[16]

Setelah itu, orang-orang Quraisy juga menjadikan Latta Uzza dan Manat sebagai tuhan mereka. Dalam An-Najm (53) ayat 19-22 disebutkan;

أَفَرَأَيْتُمُ اللاتَ وَالْعُزَّى . وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ الأخْرَى . أَلَكُمُ الذَّكَرُ وَلَهُ الأنْثَى . تِلْكَ إِذًا قِسْمَةٌ ضِيزَى .

Maka apakah patut kamu (orang-orang musyrik) menganggap (berhala) Al-Lata dan Al-‘Uzza, dan Manah, yang ketiga (yang) kemudian (sebagai anak perempuan Allah). Apakah mereka itu lelaki atau perempuan? Sungguh itu bukanlah pembagian yang adil.

Menurut beberapa legenda, yang membawa berhala Lata, Uzza, serta Manat ke Makkah adalah Qusai sekembalinya ia dari perjalanan ke Suriah. Dalam ayat ini orang-orang Quraisy menyifati berhala-berhala itu berjenis kelamin perempuan. Mereka merubah bentuk kata laki-laki dari nama-nama Allah dengan bentuk perempuan. At Thabari menjelaskan huruf ت /ة untuk mensifatkan mereka sebagai berjenis perempuan. Laata adalah bentuk kata perempuan dari Allah, ‘Uzza dari ‘Aziz. Orang-orang Quraisy kemudian memandang berhala-berhala itu sebagai anak perempuan Allah [17] Sedangkan perempuan pada masa itu dipandang lebih rendah dibandingkan laki-laki.

Menurut Philip K. Hitti, Al Lata atau Al-Lat berasal dari kata Ilahah, artinya tuhan perempuan. Dalam bukunya, History of the Arabs, Herodotus, sejarawan Yunani menyebutnya sebagai Alilat yang juga berarti tuhan perempuan. Alilat merupakan salah satu tuhan bangsa Nabatea. Herodotus juga menyebut adanya kuil Allat yang disebut sebagai Aphrodite Urania.[18]

Terdapat informasi Al Uzza juga berasal dari Petra. Al Uzza diwujudkan dalam bentuk obeliks atau tiang batu berdampingan dengan obeliks untuk dewa utama Petra, yakni Dushara atau Dzu al-Syara. Kuil utama untuk Al Uzza terdapat di Temple of the Winged Lions. Sementara itu, Al Uzza menurut Hitti artinya yang paling agung, Venus, atau bintang pagi. Al Uzza merupakan permaisuri Uzzay-an, tuhan bangsa Arab Selatan. Manah menurut Hitti berasal dari kata Maniyah yang artinya pembagian nasib. Nama dewa Manah diasosiasikan dengan Dzu al-Syara dalam beberapa tulisan Nabasia di al-Hijr.[19]

Departeman Agama RI menyebutkan saat Nabi Muhammad belum menerima wahyu, ada tempat pemujaan Al-Lat di dekat Taif. Lata adalah sebuah batu putih besar berukir gambar sebuah rumah dan bertabir. Al Uzza dipuja di Nakhlah di sebelah timur Mekah. Bentuknya berupa tiga batang pohon yang di atasnya ada bangunan bertirai. Adapun Manah itu sebuah batu besar terletak di Musyallal dengan Qudaid antara Mekah dan Medinah. Kabilah Khuza‘ah, Aus dan Khazraj mengagungkan Manah ini dan dalam melakukan ibadah haji mereka mulai dari Manah sampai ke Ka‘bah.[20]

Budaya

Abu Hasan Ali An Nadawi menyebutkan adanya faktor kelebihan karakteristik bangsa Arab yang membuat mereka pantas menyandang tugas memperbarui peradaban manusia. Yaitu; hati mereka bersih, kebanyakan mereka memiliki kemauan yang kuat, suka berterus terang dan to the point, mereka menghormati kejujuran, kuat menjaga amanah dan berani serta mereka itu pada umumnya berjiwa bebas dan egaliter.[21] Mereka juga pada umumnya dermawan, menjaga harga diri, santun dan bersahaja.[22] Karakter semacam ini, menurut  Mubarakfury disebabkan karena belum adanya agama atau peradaban besar yang mempengaruhi  pola fikir bangsa Arab ketika itu.[23] Ramadhan Al Buthi menjelaskan hal ini membuat pola fikir bangsa Arab pada umumnya ummy, maksudnya bersih dari ideology-ideologi.[24] Kondisi masyarakat yang seperti ini lebih cocok untuk menyemaikan suatu ajaran baru karena hati dan jiwa yang masih bersih (kosong) cenderung lebih mudah menerima suatu pengetahuan ketimbang hati dan jiwa yang sudah terisi pengetahuan sebelumnya.

Juga karena kondisi jazirah yang kering dan berbukit-bukit seolah menjadi benteng alam yang melindungi penduduknya dari kemungkinan ekspansi bangsa-bangsa lain. Kondisi alam yang kering dan keras melahirkan jiwa-jiwa bebas dan pemberani.[25] Karakter ini bersama karakter-karakter yang disebutkan Syaikh An Nadawi sebelumnya terbukti sangat dibutuhkan bagi perjuangan menyebarkan Islam di kemudian hari.

Karakter dan budaya ini mempengaruhi pembentukan bahasa yang digunakan masyarakat. Bahasa Arab adalah bahasa yang tumbuh dan berkembang mengikuti sifat dan karakter bangsa Arab yang terbuka. Ia tidak banyak mengandung kiasan-kiasan. Idiom-idiomnya menjelaskan maksud dan arti kata sebagaimana adanya, tidak ada sayap-sayap. Bahasa Arab juga adalah bahasa yang sangat detail membedakan suatu hakikat dengan hakikat yang lainnya. Karakter bahasa seperti ini juga sangat baik untuk menjelaskan maksud dari pernyataan-pernyataan. Karakter bahasa semacam inilah yang sesuai untuk menjelaskan hakikat, maksud dan tujuan-tujuan Islam dengan benar dan jelas.

 

Daftar Pustaka

Akbar, Ali, Arkeologi Al Quran, Lembaga Kajian dan Peminatan Sejarah, Depok, 2020

Armstrong, Karen, Muhammad Sang Nabi: Sebuah Biografi Kritis, 2011.

__________, Muhammad, Prophet of Our Time, terjemahan, Bandung, Mizan, 2013.

Al Buthy, Ramadhan, Sirah Nabawiyah, Robbani Press, Jakarta, 1997.

Departemen Agama RI, Al Quran dan Tafisrnya, Widya Cahaya, Jakarta, 2011.

Fauzia, Ika Yunia dan Abdul Kadir Riyadi, Prinsip Dasar Ekonomi Islam, Perspektif Maqashid Syariah, Jakarta, Kencana Prenada Media, 2014.

Haikal, Muhammad Husin, Sejarah Hidup Muhammad, Pustaka Akhlaq, 2015.

Katsir, Abul Fida’ Ismail bin Umar Ibnu, Al Bidayah wa An Nihayah, Darul Fikr, 1407/1986.

Kholil, Munawar, Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad saw, Jakarta, Gema Insani Press,2001.

Leur, J.C. Van, Perdagangan dan Masyarakat Indonesia, terjemahan, Yogyakarta, Penerbit Ombak, 2015.

Al Mubarakfury, Shafiyurrahman, Ar Rahiq Al Maktum, terjemahan, Jakarta, Robbani Press, 2002.

An Nadawy, Abu Hasan Ali, Sirah Nabawiyah, Jeddah, Darusy Syuruq, 1979.

Peters, Francis Edward, Muhammad and the Origins of Islam, SUNY Press, 1994.

Sou’yb,  Yousuf, Orientalisme dalam Islam, Jakarta, Bulan Bintang, 1985.

At Thabari, Muhammad bin Jarir, Jami’ul Bayan fii Ta’wil Al Quran, Mu’asasah Risalah, 1420/2000.

 

Sumber Internet

https://republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-digest/16/10/06/oemku0313-ini-berbagai-julukan-kota-makkah  akses 28 Juli 2020, 9:06.



[2] Karen Armstrong, Muhammad Prophet of Our Time, Mizan, Bandung, 2013, hlm.50.

[3] Francis Edward Peters, Muhammad and the Origins of Islam, SUNY Press, 1994, hlm.16.

[4] Karen Armstrong, Muhammad Sang Nabi: Sebuah Biografi Kritis, 2011, hlm. 71

[5] Shafiyurrahman Al Mubarakfury, Ar Rahiq Al Maktum, terjemahan, Jakarta, Robbani Press, 2002, hlm.1.

[6] Munawar Kholil, Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad saw, Jakarta, Gema Insani Press,2001,  Jilid 1, hlm.13.

[7] Yousuf Sou’yb, Orientalisme dalam Islam, Jakarta, Bulan Bintang, 1985, hlm.56.

[8] J.C. Van Leur, Perdagangan dan Masyarakat Indonesia, terjemahan, Yogyakarta, Penerbit Ombak, 2015, hlm.5.

[9] Karen Amstrong, Muhammad, Prophet of Our Time, terjemahan, Bandung, Mizan, 2013, hlm. 42.

[10] Ika Yunia Fauzia dan Abdul Kadir Riyadi, Prinsip Dasar Ekonomi Islam, Perspektif Maqashid Syariah, Jakarta, Kencana Prenada Media, 2014, hlm.198-199.

[11] Muhammad Husin Haikal, Sejarah Hidup Muhammad, Pustaka Akhlaq, 2015, hlm.66

[12] Karen Armstrong, Ibid, hlm.72.

[13] Haekal, op.cit,hlm.58.

[14] Haikal, ibid, hlm.62

[15] Al Mubarakfury, op.cit, hlm.23.

[16] Abul Fida’ Ismail bin Ibnu Katsir, Al Bidayah wa An Nihayah, Darul Fikr, 1407/1986, Juz 2, hlm.188.

[17] Muhammad bin Jarir At Thabari, Jami’ul Bayan fii Ta’wil Al Quran, Mu’asasah Risalah, 1420/2000, Jilid 22, hlm.522.

[18] Ali Akbar, Arkeologi Al Quran, Lembaga Kajian dan Peminatan Sejarah, Depok, 2020, hlm.127.

[19] Ali Akbar, ibid, hlm. 128.

[20] Departemen Agama RI, Al Quran dan Tafisrnya, Widya Cahaya, Jakarta, 2011, Jilid 9,  hlm.535-536.

[21] Abu Hasan Ali An Nadawy, Sirah Nabawiyah, Jeddah, Darusy Syuruq, 1979, hlm.36

[22] Al Mubarakfury, op.cit, hlm. 45.

[23] Al Mubarakfury, ibid, hlm. 45.

[24] Ramadhan Al Buthy, Sirah Nabawiyah, Robbani Press, Jakarta, 1997, hlm.6.

[25] Al Mubarakfury, loc.cit, hlm.1.

Comments


EmoticonEmoticon