Wahyu Bhekti Prasojo
"How beautiful you (Makkah) are as a country. And you are the land that I love the most. If my people had not driven me away from you, I would not have lived in a land other than you."
Muhammad saw
Nama
Kota Makkah terletak sekitar 600 km
sebelah selatan kota Madinah, kurang lebih 200 km sebelah timur laut
kota Jeddah. Terletak di
ketinggian 300 meter dari permukaan air laut.
Kota ini merupakan lembah sempit yang dikelilingi gunung-gunung dengan bangunan
Ka'bah sebagai pusatnya.
Al Quran mengisyaratkan Kota Makkah dan sekitarnya melalui banyak nama.
Di antaranya, Al
Balad (QS Al Balad: 1-2),
لا أُقْسِمُ بِهَذَا الْبَلَدِ وَأَنْتَ حِلٌّ بِهَذَا الْبَلَدِ
Aku benar-benar bersumpah dengan kota ini
(Mekah), dan kamu
(Muhammad) bertempat di kota Mekah ini,
Bakkah (Ali Imran: 96),
إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ
لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِلْعَالَمِينَ
Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadah)
manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi
petunjuk bagi semua manusia.
Ummul Qura (Al An'am: 92),
وَهَذَا كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ مُصَدِّقُ
الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَلِتُنْذِرَ أُمَّ الْقُرَى وَمَنْ حَوْلَهَا
وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ يُؤْمِنُونَ بِهِ وَهُمْ عَلَى صَلَاتِهِمْ
يُحَافِظُونَ
Dan ini (Al Qur'an) adalah kitab yang telah Kami
turunkan yang diberkahi; membenarkan kitab-kitab yang (diturunkan) sebelumnya
dan agar kamu memberi peringatan kepada (penduduk) Umulqura (Mekah) dan
orang-orang yang di luar lingkungannya. Orang-orang yang beriman kepada adanya
kehidupan akhirat tentu beriman kepadanya (Al Qur'an), dan mereka selalu
memelihara shalatnya.
Al Balad al Amin (At Tin: 1-3)
وَالتِّينِ
وَالزَّيْتُونِ وَطُورِ سِينِينَ وَهَذَا الْبَلَدِ الأمِينِ
Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun, dan demi bukit Sinai, dan
demi kota (Mekkah) yang aman ini,
Al Qaryah (QS. Al Baqarah 58).
وَإِذْ قُلْنَا
ادْخُلُوا هَذِهِ الْقَرْيَةَ فَكُلُوا مِنْهَا حَيْثُ شِئْتُمْ رَغَدًا
وَادْخُلُوا الْبَابَ سُجَّدًا وَقُولُوا حِطَّةٌ نَغْفِرْ لَكُمْ خَطَايَاكُمْ
وَسَنَزِيدُ الْمُحْسِنِينَ
Dan
(ingatlah), ketika Kami berfirman: "Masuklah kamu ke negeri ini
(Baitulmakdis), dan makanlah dari hasil buminya, yang banyak lagi enak di mana
yang kamu sukai, dan masukilah pintu gerbangnya sambil bersujud, dan
katakanlah: "Bebaskanlah kami dari dosa", niscaya Kami ampuni
kesalahan-kesalahanmu. Dan kelak Kami akan menambah (pemberian Kami) kepada
orang-orang yang berbuat baik".
Masy'aril Haram (Tanah Haram), Haraman Amin
(tanah Suci yang aman) (QS. Al Baqarah 198),
لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَبْتَغُوا فَضْلًا مِنْ
رَبِّكُمْ فَإِذَا أَفَضْتُمْ مِنْ عَرَفَاتٍ فَاذْكُرُوا اللَّهَ عِنْدَ
الْمَشْعَرِ الْحَرَامِ وَاذْكُرُوهُ كَمَا هَدَاكُمْ وَإِنْ كُنْتُمْ مِنْ
قَبْلِهِ لَمِنَ الضَّالِّينَ
Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia
(rezeki hasil perniagaan) dari Tuhanmu. Maka apabila kamu telah bertolak dari
Arafah, berzikirlah kepada Allah di Masy`arilharam. Dan berzikirlah (dengan
menyebut) Allah sebagaimana yang ditunjukkan-Nya kepadamu; dan sesungguhnya
kamu sebelum itu benar-benar termasuk orang-orang yang sesat.
Julukan lainnya adalah al-Bassah
(dibinasakannya orang-orang yang ingkar), al-Bassaq (tempat tinggi karena
dimuliakan dan ditempatkan pada posisi yang tinggi), dan An-Nasaasah (karena di
daerah ini sangat sedikit airnya, kering).[1]
Sejarah
Mulanya kota ini sekadar
tempat singgah bagi para pejalan yang melintasi Jazirah Arab. Makkah, tidak
berpenghuni. Tak adanya sumber air yang layak, membuat orang-orang enggan
berada lebih lama di lembah tandus itu.
Setelah sekian lama cuma jadi tempat mampir, baru kemudian, Hajar -istri
Nabi Ibrahim As- menjadi penghuni pertama Kota Mekkah. Usai keberhasilannya
menemukan zamzam, barulah Makkah memiliki daya tarik. Air, dalam budaya
masyarakat gurun waktu itu dianggap jauh lebih menggiurkan dibanding berlian
yang tergeletak di atas pasir.
Makkah dikelilingi gunung-gunung. Oleh karenanya, pada masa lalu kota ini
rawan banjir di musim hujan. Ada tiga pintu
masuk utama ke Kota Makkah, yakni Ma’la, Misfalah, dan Syubaikah. Dataran
rendahnya berada di sekitar Batha’, sebelah timur Masjidil haram
disebut perkampungan Ma’la, sedangkan di barat daya masjid adalah Misfalah. Rasulullah pada zamannya
merupakan warga Ma’la karena lahir dan menetap di kampung itu hingga tiba
saatnya hijrah ke Madinah.
Quraisy
Suku bangsa Quraisy diduga berasal dari
keturunan Ismail (Bani Ismail) melalui
anaknya Adnan. Ada juga yang menyebut Arab Adnan dan Quraisy termasuk cabang
dari ini.
Nabi Muhammad dilahirkan dari sebuah
klan yang biasa disebut Bani Hasyim. Nama ini dinisbatkan kepada primus
inter pares klan, yaitu seseorang bernama Hasyim. Secara silsilah Hasyim
merupakan kakek buyut Nabi Muhammad.
Hasyim adalah putra Abdul Manaf,
seseorang yang sangat dihormati di Makkah. Sementara ayahanda Abdul Manaf,
Qusai, seturut beberapa sumber tradisional, berasal dari sebuah lembah di
Makkah yang paling dekat dengan tempat peribadatan (kemungkinan besar Kakbah).
Bani Hasyim merupakan bagian dari
suku Quraisy. Suku ini diperkirakan menetap di Makkah sejak pertengahan abad
ke-5. Asal-usul suku Quraisy bisa dilacak dari seseorang bernama Fihr bin
Malik yang diperkirakan hidup pada abad ke-3. Suku ini pada saat itu terkenal sifatnya
akan kekacauan, sukar dikendalikan, terpecah belah antar suku, kasar, saling
bermusuhan, sangat penuh perasaan, fasih berbicara dan puitis.
Kabilah ini kemudian dipersatukan lagi oleh Qusai bin Kilab setelah
menyatukan beberapa suku secara politik dan perkawinan.[2]
Qusai adalah keturunan ke-6 dari Fihr. Sejarawan
F.E. Peters menuliskan.
“Sementara itu para keturunan Ismail tersebut,
yang dinamakan Quraisy, pada umumnya hidup tersebar dalam ‘pemukiman yang
terserak’ … semua sumber menyebut bahwa Qusai adalah ‘orang pertama dari bani
Kinanah yang meraih kepemimpinan, dan yang menyatukan sukunya, Quraisy,”[3]
Qusai kemudian menjadi sangat
disegani dan mendapat tempat terhormat di kalangan suku Quraisy. Apalagi ia
punya pengalaman berkelana yang cukup panjang. Quraisy kemudian berhasil mengambil alih
Kakbah dari tangan suku Khuza’ah yang bertahun-tahun menjadi penjaga “rumah
suci” itu dan dianggap gagal menjalankan amanat leluhur. Konon orang-orang Quraisy berhasil mengusir para Khuza’ah lewat “kampanye
yang menggabungkan tipuan dan kekuatan.”[4]
Ekonomi
Secara geografis
letak semenanjung Arab strategis.[5]
Ia berada diantara benua Asia dan Afrika, seolah-olah
berada di pusat dunia. Munawar Kholil
menyebutnya seperti Hati Bumi (dunia).[6]
Ia diapit oleh wilayah-wilayah berpenduduk ramai di utara, barat dan timur.
Sedangkan di selatan adalah laut. Situasi ini sekaligus menempatkan Jazirah
Arab pada jalur perdagangan antar bangsa. Mereka yang datang dari barat (Afrika
terutama bagian utara), barat laut dan utara (Eropa) lewat darat (jalur sutra
atau silk road) bertemu dengan yang
dari timur (India dan Tiongkok) dan dari selatan (asia tenggara) melalui jalur
pelayaran (sea road) [7] di
Jazirah Arab yaitu di pelabuhan-pelabuhan Yaman. Jalur perdagangan laut ini
telah dilalui pedagang internasional selama berabad-abad, dalam berbagai
periode.[8] Mekkah, yang dilewati jalur ini juga tumbuh
menjadi kota perdagangan internasional. Para pedagang dan pemodalnya telah
menjadi kaya raya melebihi harapan mereka sendiri.[9]
Jalur ini melewati pasar-pasar antara lain;
Fumatul Jandal di ujung utara Hijaz dekat perbatasan Syiria, Mushshaqar
di Bahrain, Suhar di Oman, Dabba salah satu pelabuhan Oman, Maharah
di antara Aden dan Oman, Aden, San’a, Rabyah di Hadramaut, Ukaz di
ujung Nejd dekat Thaif, Dzul Majaz dekat Thaif, Mina, Nazat
dekat Khaybar, Hijr di Yamamah dan Bashrah di Syiria.[10]
Pada awalnya, orang-orang Arab hanya
memanfaatkan jalur ini untuk kepentingan ekonomi semata. Baru kemudian setelah
Muhammad memulai misi kenabiannya, berita tumbuh dan berkembangnya Islam yang
terjadi di sana dapat dengan cepat tersebar dan diketahui orang banyak.[11]
Sejak Quraisy menguasai Mekkah, mereka semakin kuat. Pada saat bersamaan arus perdagangan di
Makkah juga kian meningkat. Kota ini memang tidak ideal bagi produksi
pertanian, tapi sangat strategis sebagai kawasan niaga. Daya tarik Ka’bah
sebagai pusat ziarah spiritual turut andil memajukan perekonomian kota.[12]
Sementara itu, tanah yang tandus
membuat kebanyakan klan bertahan hidup dengan terpaksa berpindah-pindah
mengikuti letak oase-oase. Klan-klan miskin bertaruh nyawa dengan menghadang
kafilah-kafilah dagang milik Kabilah yang kaya. Ketiadaan aturan yang menjamin
keamanan, memaksa para kafilah membentuk pasukan pengawalnya sendiri-sendiri
yang biasanya juga melibatkan pasukan secara kesukuan, bukan perorangan. Hal
ini mempertajam perselisihan antar suku.
Politik
Selama berabad-abad Barat dan Timur saling
menghormati keyakinan agama masing-masing. Peradaban Asyiria dan Mesir Kuno
yang membentang sepanjang Funisia telah menghalangi perbenturan di antara
peradaban-peradaban yang tumbuh di kedua sisinya. Sampai ketika Mesir dikuasai
Romawi, terbukalah penghalang itu karena sifat Romawi yang ekspansif. Dengan
dikuasainya Mesir, mereka langsung berbatasan dengan Persia di Timur.[13]
Dalam pertarungan yang panjang, Persia nampak
unggul pada awalnya. Motifnya politik dan ekonomi. Orang-orang Persia tidak
berminat mengajarkan agamanya kepada orang-orang Romawi. Mereka tetap pada
keyakinan mereka masing-masing, begitu pula ketika pada akhirnya Romawi
memenangi persaingan itu. Namun demikian persaingan yang panjang itu telah
membawa kedua negara kepada keruntuhan masing-masing. Romawi kemudian kalah
bersaing dengan Bizantium yang sama-sama Kristen. Sedangkan Persia mengalami
kemunduran karena sebab-sebab internal sampai kemudian -nantinya- ditaklukkan
Islam.
Secara geopolitis kondisi ini menempatkan
Jazirah Arab di tengah kekuatan-kekuatan politik besar dunia yang merupakan
pesaing bagi hegemoni Islam di masa datang. Pada awal abad ke enam itu, kedua kekuatan itu
telah mulai berbenturan, melalui konflik-konflik di antara beberapa negara
kecil di wilayah Jazirah Arab yang menjadi vasal kedua negara besar itu.[14]
Suku Quraisy berhasil menjaga kota
Makkah tetap stabil. Para elite Quraisy menjalin kerja sama dan membangun
persekutuan dengan beberapa suku badui penggembala di sekitar Makkah. Dengan
aliansi itu, para saudagar dan peziarah terjamin keamanannya. Paling tidak,
mereka bisa terbebas dari penyerbuan atau penjarahan yang kerap dilakukan
suku-suku badui di semenanjung Arab.
Reputasi Quraisy, karena itu,
semakin melejit di antara suku-suku besar lain di jazirah Arab. Hampir tidak
ada suku yang berani mengganggu Makkah dan mereka biasanya segan untuk
berperang melawan Quraisy. Dengan faktor-faktor tersebut, Makkah di bawah
kendali para keturunan Qusai menjadi entitas politik non-kerajaan terkuat di
semenanjung Arab.
Tapi
sekuat apapun mereka, Makkah tetaplah hanya sebuah kota dan bukan kerajaan
(negara). Bahkan secara politik mereka pun sangat terfragmentasi. Terjadi
rivalitas antarklan, dan makin meruncing. Tidak ada klan yang amat dominan dan
masing-masing klan saling berebut pengaruh serta berlomba-lomba mengejar
kekayaan. Sementara di sekelilingnya, ada tiga imperium yang bisa menerkam kapan
saja.
Hal
itu membuat suku Quraisy sangat berhati-hati dalam melakukan langkah-langkah
politik. Apalagi setelah Abrahah dan pasukannya hampir menyerbu Makkah.
Maka, dalam kondisi macam itu, di masa kelahiran Nabi Muhammad, hasrat politik
suku Quraisy cuma satu: mempertahankan independensi Makkah sembari terus
menumpuk pundi-pundi kekayaan.
Agama
Kebanyakan penduduk Mekkah menjaga tradisi agama Ibrahim dan Ismail. Hingga
muncullah Amru bin Luhai, seorang pemimpin Bani Khuza'ah. Membawa Hubal
(berhala) dari perjalanannya ke Syam dan meletakkannya di dalam Ka'bah. Amru
bin Luhai dikenal baik dan peduli terhadap
urusan-urusan agama, sehingga semua orang mencintainya dan menganggapnya
sebagai ulama besar dan wali yang disegani. Ketika dia mengadakan perjalanan ke
Syam, di sana dia melihat penduduk Syam menyembah berhala dan menganggap hal
itu sebagai sesuatu yang baik. Apalagi Syam adalah tempat para rasul dan
turunnya kitab. Setelah itu dia mengajak penduduk Mekkah untuk menyembahnya
selain Allah.[15]
Berhala Hubal terbuat dari batu akik merah yang berbentuk manusia.
Orang-orang Quraisy mendapati tangan kanan Hubal peninggalan Suku Khuza’ah telah hancur. Lalu mereka mereparasinya
dengan tangan dari emas. Inilah berhala pertama orang-orang musyrik, yang
paling besar, dan paling suci menurut mereka.[16]
Setelah itu, orang-orang Quraisy juga menjadikan Latta Uzza dan Manat
sebagai tuhan mereka. Dalam An-Najm
(53) ayat 19-22 disebutkan;
أَفَرَأَيْتُمُ اللاتَ
وَالْعُزَّى . وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ الأخْرَى . أَلَكُمُ الذَّكَرُ وَلَهُ
الأنْثَى . تِلْكَ إِذًا قِسْمَةٌ ضِيزَى .
Maka apakah patut kamu (orang-orang musyrik) menganggap
(berhala) Al-Lata dan Al-‘Uzza, dan Manah, yang
ketiga (yang) kemudian (sebagai anak perempuan
Allah). Apakah mereka itu lelaki atau perempuan? Sungguh itu bukanlah pembagian
yang adil.
Menurut beberapa legenda, yang membawa berhala Lata, Uzza, serta Manat ke
Makkah adalah Qusai sekembalinya ia dari perjalanan ke Suriah. Dalam ayat ini
orang-orang Quraisy menyifati berhala-berhala itu berjenis kelamin perempuan. Mereka
merubah bentuk kata laki-laki dari nama-nama Allah dengan bentuk perempuan. At
Thabari menjelaskan huruf ت /ة
untuk mensifatkan mereka sebagai berjenis perempuan. Laata adalah bentuk kata
perempuan dari Allah, ‘Uzza dari ‘Aziz. Orang-orang Quraisy kemudian memandang
berhala-berhala itu sebagai anak perempuan Allah [17]
Sedangkan perempuan pada masa itu dipandang lebih rendah dibandingkan laki-laki.
Menurut Philip K. Hitti, Al Lata atau Al-Lat berasal dari kata Ilahah,
artinya tuhan perempuan. Dalam bukunya, History
of the Arabs, Herodotus, sejarawan Yunani
menyebutnya sebagai Alilat yang juga berarti tuhan
perempuan. Alilat merupakan salah satu tuhan bangsa Nabatea.
Herodotus juga menyebut adanya kuil Allat yang disebut sebagai Aphrodite
Urania.[18]
Terdapat informasi Al Uzza juga
berasal dari Petra. Al Uzza diwujudkan dalam bentuk obeliks
atau tiang batu berdampingan dengan obeliks untuk
dewa utama Petra, yakni Dushara atau Dzu al-Syara. Kuil
utama untuk Al Uzza terdapat di Temple of the Winged
Lions. Sementara itu, Al Uzza menurut Hitti artinya yang
paling agung, Venus, atau bintang pagi. Al Uzza merupakan
permaisuri Uzzay-an, tuhan bangsa Arab Selatan. Manah menurut Hitti berasal dari kata Maniyah yang artinya
pembagian nasib. Nama dewa Manah diasosiasikan
dengan Dzu al-Syara dalam beberapa tulisan Nabasia di
al-Hijr.[19]
Departeman Agama RI menyebutkan saat
Nabi Muhammad
belum menerima wahyu, ada tempat pemujaan Al-Lat
di dekat Taif. Lata adalah sebuah batu putih besar berukir gambar sebuah rumah dan
bertabir. Al Uzza dipuja di Nakhlah di
sebelah timur Mekah. Bentuknya berupa tiga batang pohon yang di atasnya ada bangunan bertirai. Adapun Manah itu sebuah batu besar terletak
di Musyallal dengan Qudaid antara Mekah dan Medinah. Kabilah Khuza‘ah, Aus dan
Khazraj mengagungkan Manah ini dan dalam melakukan ibadah haji mereka mulai
dari Manah sampai ke Ka‘bah.[20]
Budaya
Abu Hasan Ali An Nadawi menyebutkan adanya
faktor kelebihan karakteristik bangsa Arab yang membuat mereka pantas
menyandang tugas memperbarui peradaban manusia. Yaitu; hati mereka bersih,
kebanyakan mereka memiliki kemauan yang kuat, suka berterus terang dan to the point, mereka menghormati
kejujuran, kuat menjaga amanah dan berani serta mereka itu pada umumnya berjiwa
bebas dan egaliter.[21] Mereka juga pada umumnya dermawan, menjaga
harga diri, santun dan bersahaja.[22]
Karakter semacam ini, menurut Mubarakfury disebabkan karena belum adanya agama atau peradaban besar yang
mempengaruhi pola fikir bangsa Arab
ketika itu.[23] Ramadhan Al Buthi menjelaskan hal ini membuat pola fikir bangsa
Arab pada umumnya ummy, maksudnya bersih dari
ideology-ideologi.[24]
Kondisi masyarakat yang seperti ini
lebih cocok untuk menyemaikan suatu ajaran baru karena hati dan jiwa yang masih
bersih (kosong) cenderung lebih mudah
menerima suatu pengetahuan ketimbang hati dan jiwa yang sudah terisi
pengetahuan sebelumnya.
Juga
karena kondisi jazirah yang kering dan berbukit-bukit seolah menjadi benteng alam yang melindungi penduduknya
dari kemungkinan ekspansi bangsa-bangsa lain. Kondisi alam yang kering dan
keras melahirkan jiwa-jiwa bebas dan pemberani.[25] Karakter ini bersama karakter-karakter yang
disebutkan Syaikh An Nadawi sebelumnya terbukti sangat dibutuhkan bagi
perjuangan menyebarkan Islam di kemudian hari.
Karakter dan budaya ini mempengaruhi
pembentukan bahasa yang digunakan masyarakat. Bahasa Arab adalah bahasa yang
tumbuh dan berkembang mengikuti sifat dan karakter bangsa Arab yang terbuka. Ia
tidak banyak mengandung kiasan-kiasan. Idiom-idiomnya
menjelaskan maksud dan arti kata sebagaimana adanya, tidak ada sayap-sayap. Bahasa Arab juga adalah
bahasa yang sangat detail membedakan suatu hakikat dengan hakikat yang lainnya.
Karakter bahasa seperti ini juga sangat baik untuk menjelaskan maksud dari
pernyataan-pernyataan. Karakter bahasa semacam inilah yang sesuai untuk
menjelaskan hakikat, maksud dan tujuan-tujuan Islam dengan benar dan jelas.
Daftar Pustaka
Akbar, Ali, Arkeologi Al Quran, Lembaga Kajian dan Peminatan
Sejarah, Depok, 2020
Armstrong, Karen, Muhammad Sang Nabi:
Sebuah Biografi Kritis, 2011.
__________, Muhammad, Prophet of Our Time, terjemahan,
Bandung, Mizan, 2013.
Al Buthy,
Ramadhan, Sirah Nabawiyah, Robbani Press, Jakarta, 1997.
Departemen Agama RI, Al Quran dan Tafisrnya, Widya Cahaya,
Jakarta, 2011.
Fauzia, Ika Yunia dan Abdul Kadir Riyadi, Prinsip Dasar Ekonomi
Islam, Perspektif Maqashid Syariah, Jakarta, Kencana Prenada Media, 2014.
Haikal, Muhammad Husin, Sejarah Hidup Muhammad, Pustaka
Akhlaq, 2015.
Katsir, Abul Fida’ Ismail bin Umar Ibnu, Al Bidayah wa An Nihayah,
Darul Fikr, 1407/1986.
Kholil, Munawar, Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad saw,
Jakarta, Gema Insani Press,2001.
Leur,
J.C. Van, Perdagangan dan Masyarakat Indonesia, terjemahan,
Yogyakarta, Penerbit Ombak, 2015.
Al
Mubarakfury, Shafiyurrahman, Ar Rahiq Al Maktum, terjemahan,
Jakarta, Robbani Press, 2002.
An
Nadawy, Abu Hasan Ali, Sirah Nabawiyah, Jeddah, Darusy
Syuruq, 1979.
Peters, Francis Edward, Muhammad and the Origins of
Islam, SUNY
Press, 1994.
Sou’yb, Yousuf, Orientalisme dalam Islam,
Jakarta, Bulan Bintang, 1985.
At Thabari, Muhammad bin Jarir, Jami’ul Bayan fii Ta’wil Al Quran,
Mu’asasah Risalah, 1420/2000.
Sumber Internet
[1] https://republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-digest/16/10/06/oemku0313-ini berba-gai-julukan-kota-makkah akses 28 Juli 2020, 9:06.
[2] Karen Armstrong, Muhammad Prophet of Our Time,
Mizan, Bandung, 2013, hlm.50.
[3] Francis Edward Peters, Muhammad and the Origins of Islam, SUNY Press, 1994, hlm.16.
[4] Karen Armstrong, Muhammad Sang Nabi: Sebuah Biografi Kritis, 2011, hlm. 71
[5] Shafiyurrahman
Al Mubarakfury, Ar Rahiq Al Maktum, terjemahan, Jakarta, Robbani
Press, 2002, hlm.1.
[6] Munawar Kholil, Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad
saw, Jakarta, Gema Insani Press,2001,
Jilid 1, hlm.13.
[7] Yousuf
Sou’yb, Orientalisme dalam Islam, Jakarta, Bulan Bintang, 1985,
hlm.56.
[8] J.C. Van
Leur, Perdagangan dan Masyarakat Indonesia, terjemahan,
Yogyakarta, Penerbit Ombak, 2015, hlm.5.
[9] Karen Amstrong, Muhammad, Prophet of Our Time,
terjemahan, Bandung, Mizan, 2013, hlm. 42.
[10] Ika Yunia Fauzia dan
Abdul Kadir Riyadi, Prinsip Dasar Ekonomi Islam, Perspektif Maqashid
Syariah, Jakarta, Kencana Prenada Media, 2014, hlm.198-199.
[11] Muhammad Husin Haikal, Sejarah Hidup Muhammad,
Pustaka Akhlaq, 2015, hlm.66
[12] Karen Armstrong, Ibid, hlm.72.
[13] Haekal, op.cit,hlm.58.
[14] Haikal, ibid, hlm.62
[15] Al Mubarakfury, op.cit, hlm.23.
[16] Abul Fida’ Ismail bin Ibnu Katsir, Al Bidayah wa An
Nihayah, Darul Fikr, 1407/1986, Juz 2, hlm.188.
[17] Muhammad bin Jarir At Thabari, Jami’ul Bayan fii
Ta’wil Al Quran, Mu’asasah Risalah, 1420/2000, Jilid 22, hlm.522.
[18] Ali Akbar, Arkeologi Al Quran, Lembaga
Kajian dan Peminatan Sejarah, Depok, 2020, hlm.127.
[19] Ali Akbar, ibid, hlm. 128.
[20] Departemen Agama RI, Al Quran dan Tafisrnya,
Widya Cahaya, Jakarta, 2011, Jilid 9, hlm.535-536.
[21] Abu
Hasan Ali An Nadawy, Sirah Nabawiyah, Jeddah, Darusy Syuruq,
1979, hlm.36
[22] Al Mubarakfury, op.cit, hlm. 45.
[23] Al Mubarakfury, ibid,
hlm. 45.
[24] Ramadhan
Al Buthy, Sirah Nabawiyah, Robbani Press, Jakarta, 1997, hlm.6.
[25] Al
Mubarakfury, loc.cit, hlm.1.