Wahyu B. Prasojo
Nasab dan Kelahiran
Nasab Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam terbagi ke
dalam tiga klasifikasi: Pertama, yang disepakati oleh ahlus Siyar wal Ansaab
(Para Sejarawan dan Ahli Nasab); yaitu urutan nasab beliau hingga kepada Adnan.
Yaitu Muhammad bin 'Abdullah
bin 'Abdul Muththalib (nama aslinya; Syaibah) bin Hasyim (nama aslinya: 'Amru)
bin 'Abdu Manaf (nama aslinya: al-Mughirah) bin Qushai (nama aslinya: Zaid) bin
Kilab bin Murrah bin Ka'ab bin Luai bin Ghalib bin Fihr (julukannya: Quraisy
yang kemudian suku ini dinisbatkan kepadanya) bin Malik bin an-Nadhar (nama
aslinya: Qais) bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah (nama aslinya: 'Amir) bin
Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma'add bin Adnan..[1]
Klasifikasi Kedua, yang masih diperselisihkan antara
yang mengambil sikap diam dan tidak berkomentar dengan yang mengatakan sesuatu
tentangnya, yaitu urutan nasab beliau dari atas
Adnan hingga Ibrahim 'alaihissalam.: (dari urutan nasab diatas hingga ke atas
Adnan) yaitu, Adnan bin Adad bin Humaisa' bin Salaaman bin 'Iwadh bin Buuz bin
Qimwaal bin Abi 'Awwam bin Naasyid bin Hiza bin Buldaas bin Yadlaaf bin
Thaabikh bin Jaahim bin Naahisy bin Maakhi b in 'Iidh bin 'Abqar bin 'Ubaid bin
ad-Di'aa bin Hamdaan bin Sunbur bin Yatsribi bin Yahzan bin Yalhan bin Ar'awi
bin 'Iidh bin Diisyaan bin 'Aishar bin Afnaad bin Ayhaam bin Miqshar bin
Naahits bin Zaarih bin Sumay bin Mizzi bin 'Uudhah bin 'Uraam bin Qaidaar bin
Isma'il bin Ibrahim 'alaihimassalam.[2]
Ketiga, yang tidak diragukan lagi bahwa didalamnya
terdapat riwayat yang tidak shahih, yaitu urutan nasab beliau mulai dari atas
Ibrahim hingga Nabi Adam 'alaihissalam: yaitu, Ibrahim 'alaihissalam bin Taarih
(namanya: Aazar) bin Naahuur bin Saaruu' atau Saaruugh bin Raa'uw bin Faalikh
bin 'Aabir bin Syaalikh bin Arfakhsyad bin Saam bin Nuh 'alaihissalam bin
Laamik bin Mutwisylakh bin Akhnukh (ada yang mengatakan bahwa dia adalah Nabi Idris
'alaihissalam) bin Yarid bin Mahlaaiil bin Qainaan bin Aanuusyah bin Syits bin
Adam 'alaihissalam. Keluarga besar Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam.[3]
Ibnu Hisyam menyebutkan sebuah rangkaian silsilah
atau nasab Nabi Muhammad saw yang bersambung sampai kepada Nabi Adam ‘alayhissalam.
Tetapi ia lebih cenderung untuk memastikan bahwa rangkaian nasab tersebut
yang benar hanya sampai kepada Nabi Ismail bin Ibrahim ‘alayhimassalam.[4] Jadi nasabnya adalah Muhammad bin Abdullah
bin Abdul Muthallib bin Hasyim bin Abdi Manaf bin Quraisy bin Kilab Bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin
Nadhr bin Kinanah bin Khuzaymah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin
Ma’ad bin Adnan bin Udad bin Muqawwim bin Nahur bin Tayrah bin Ya’rub bin
Yasyjub bin Nabit bin Ismai’l bin Ibrahim.[5]
Ramadhan Al Buthy menegaskan sudah tidak
diperselisihkan lagi bahwa Adnan termasuk keturunan Ismail bin Ibrahim, dan beliau lahir dalam
kabilah yang paling bersih keturunannya, tidak tersusupi karat-karat jahiliyah.[6]
Abdullah, ayahanda Rasulullah adalah anak terkecil dari Abdul
Muthalib. Ia bersaudara satu ibu dengan Abu Thalib, Az Zubayr,Abdul Ka’bah,
‘Atiqah, Barrah, dan Umaymah. Ibu mereka adalah Fathmah binti Amru bin ‘Aidz
bin Imron bin Makhzum.[7]
Ibunya bernama Aminah binti Wahab bin Abdu
Manaf bin Zuhroh.[8]
Seorang perempuan Arab dari sebuah keluarga terhormat.[9]
Nabi Muhammad dilahirkan dalam keadaan yatim, karena ketika nabi Muhammad masih
dalam kandungan, Abdullah telah meninggal dunia.[10]
Rasulullah lahir pada hari Senin[11], 12
Rabiul Awal atau 20 April 571 M[12]
di kota Mekkah pada awal tahun Fiil (gajah).[13]
Haekal menyebutkan angka tahun 570 M[14].
Aminah mengirimkan bayinya kepada Abdul Muthallib.
Yang kemudian menamainya Muhammad, artinya orang yang terpuji. Sebuah nama yang
tidak lazim pada masa itu di kalangan Quraisy di Mekkah.[15]
Orang-orang juga mempertanyakan, mengapa ia tidak diberi nama seperti nama
nenek moyangnnya? Abdul Muthalib mengatakan, ‘Aku ingin ia menjadi orang yang
terpuji, baik bagi Tuhan di langit, maupun bagi makhluk Tuhan di bumi’[16].
Lantas Abdul Muthallib membawa bayi yang baru lahir itu berthawaf mengelilingi
Ka’bah.
Kehidupan
Masa Kecil yang Menempa Jiwa
Nabi Muhammad disusui oleh Tsuaibah[17],
budak perempuan Abu Lahab, pamannya[18]
selama 3 hari. Bersamanya Tsuaibah juga menyusui Hamzah, jadi selain paman Hamzah juga saudara sesusuan Rasulullah.[19]
Oleh kakeknya beliau disusukan juga kepada Halimah As-Sa’diyah[20]
dan berada dalam asuhannya kurang lebih 6 tahun. Berbeda dengan anak-anak pada
umumnya, pertumbuhannya jauh lebih cepat.[21]
Pada usia 6 tahun ibunya wafat. Sehingga beliau
menjadi seorang yatim piatu. Lalu di usianya yang ke 8 tahun, beliau ditinggal
oleh kakeknya Abdul Muthalib. Sepeninggal Kakeknya, beliau diasuh pamanya, Abu
Thalib, dan dalam perlindungannya[22]
sampai ketika beliau memulai gerakan dakwahnya. Al Qur’an menyebutkan,
أَلَمۡ يَجِدۡكَ يَتِيمٗا
فََٔاوَىٰ ٦
Bukankah
Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu
Kehidupan masa kecil yang penuh kesulitan karena
keyatimannya mempengaruhi perkembangan jiwanya menjadi sangat mudah berempati
kepada orang-orang kecil, miskin dan tertindas.
Tumbuh sebagai yatim juga membentuk kepribadian yang
mandiri, kokoh, kuat dan tangguh. Jika anak-anak lain akan mengadu kepada orang
tua mereka, Nabi Muhammad harus menyelesaikan sendiri masalah yang dihadapinya. Meski dalam pengasuhan Abu Thalib, ia juga
membantu perekonomian keluarga itu yang juga miskin tapi dengan jumlah anggota
keluarga yang relative banyak untuk diberi makan. Untuk itu ia menggembalakan kambing
orang-orang Mekkah.[23]
Kegiatan
menggembala kambing itu memberinya waktu dan kesempatan untuk merenung
memuaskan sikap kritisnya atas situasi masyarakatnya.[24] Sendiri di tengah-tengah megahnya alam
yang silih berganti antara siang dan malam, menjernihkan jiwa dan fikirnya.
Mendapati bahwa sesuatu mengendalikan alam ini, sesuatu yang mendorongnya untuk
berbuat bagi masyarakatnya.
Pemikiran dan perenungan itu membuatnya selalu
menjauhi segala hasrat dan nafsu dunia sehingga ia terhindar dari kehidupan
orang bodoh yang sia-sia.[25] Ia sendiri
mengisahkan bahwa ia hanya dua kali pernah menginginkan sesuatu yang biasa
dilakukan orang-orang Quraisy pada masa jahiliyah tetapi Allah menahannya dari
perbuatan itu. Suatu malam ia mengatakan kepada kawannya untuk menjaga hewan
ternaknya sejenak supaya ia bisa turun ke kota dan menyaksikan keramaian.
Begitu menjumpai pertunjukan yang merupakan pesta pernikahan itu ia pun
tertidur sampai terbangun oleh panasnya sinar matahari. Kejadian ini terulang
sampai dua kali. Sejak saat itu ia tidak pernah lagi menginginkan sesuatu yang
buruk sampai tiba saatnya Allah memuliakannya dengan risalah Islam.[26]
Persiapan
Diri Menjadi Pemimpin
Ketika Muhammad mencapai usia remaja dan berkembang
menjadi seorang yang dewasa, ia mulai mempelajari ilmu bela diri dan memanah. Ia terlibat dalam beberapa peperangan kaum
Quraisy[27]
di antaranya adalah perang Fijjar. Pada perang ini ia tergabung ke dalam pasukan pemanah.[28]
Pada perang yang berlangsung selama 4 tahun
ini perannya banyak dan berganti-ganti. Mulai dari bagian logistic tempur
mempersiapkan amunisi anak panah serta distribusinya kepada pasukan, sampai
kemudian ia pun masuk dalam barisan pemanah.[29]
Begitu pula dengan ilmu untuk menambah
keterampilannya dalam berdagang. Abu Thalib (paman) juga mengajak
berdagang sejak usianya 12 tahun ke negri Syam.[30]
Perdagangan menjadi hal yang umum dilakukan dan dianggap sebagai salah satu
pendapatan yang stabil. Perjalanan dagang juga memberi bekal yang signifikan
terhadap persiapannya menjadi pemimpin. Dari situ ia mendapat wawasan tentang
bangsa-bangsa lain. Dapatlah ia megetahui sejarah, peradaban dan
keadaan-keadaannya.
Terlibat dalam peperangan dan perjalanan dagang
membuat pengetahuannya akan rute-rute jalan dan keadaan medannya sudah sangat
maju. Ini karena jiwa Muhammad adalah jiwa yang selalu ingin melihat, mendengar
dan mengetahui. Semangatnya untuk belajar jauh melampaui masanya.
Dari usaha perdagangannya itu, kabar tentang
kejujuran dan sifatnya yang dapat dipercaya menyebar luas dengan cepat,
membuatnya banyak dipercaya sebagai agen penjual perantara barang dagangan
penduduk Mekkah. Salah seseorang yang mendengar tentang kabar adanya anak muda
yang bersifat jujur dan dapat dipercaya dalam berdagang dengan adalah seorang saudagar perempuan bernama Khadijah. Ia
adalah seseorang yang memiliki status tinggi di kalangan suku Arab. Sebagai
seorang pedagang, ia juga sering mengirim barang dagangan ke berbagai pelosok
daerah di tanah Arab. Reputasi Muhammad membuat Khadijah memercayakannya untuk
mengatur barang dagangan Khadijah, Muhammad dijanjikan olehnya akan dibayar dua
kali lipat dan Khadijah sangat terkesan ketika sekembalinya Muhammad membawakan
hasil berdagang yang lebih dari biasanya.
Nabi Muhammad juga terlibat dalam sebuah persekutuan
untuk membela hak orang-orang yang terdzhalimi di kota Mekkah. Persekutuan ini
melibatkan beberapa suku Quraisy. Semangat persekutuan ini sesungguhnya
bertentangan dengan fanatisme kesukuan yang masih kuat dianut kebanyakan
penduduk Mekkah. Tetapi tentu ini lebih baik dan merupakan sesuatu yang sangat
diinginkan oleh Nabi dalam dakwahnya nanti. Nabi sendiri mengisahkan,
لَقَدْ
شَهِدْتُ فِي دَارِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ جُدْعَانَ حِلْفًا مَا أُحِبُّ أَنَّ لِي بِهِ حُمْرَ
النَّعَمِ وَلَوْ أُدْعَى بِهِ فِي
الْإِسْلَامِ لَأَجَبْتُ.[31]
“Sungguh aku telah menyaksikan
suatu persekutuan di rumah Abdullah bin Jad’an. Betapa senang hatiku menyaksikan
hal itu. Seandainya setelah Islam datang, aku diajak untuk mengadakan
persekuktuan semacam itu, pasti aku sambut.”
Seiring waktu Muhammad pun jatuh cinta kepada
Khadijah, mereka menikah pada saat Muhammad berusia 25 tahun. Saat itu Khadijah
telah berusia mendekati umur 40 tahun. Perbedaan usia yang demikian bukanlah
halangan, karena bagi Muhammad, keluhuran budi pekerti Khadijah jauh lebih
mengesankan.
Ketika Muhammad berumur 35 tahun, ia ikut bersama
kaum Quraisy dalam perbaikan Ka’bah. Pada saat pemimpin-pemimpin suku Quraisy
berdebat tentang siapa yang berhak meletakkan Hajar Aswad, Muhammad dapat
menyelesaikan masalah tersebut dan memberikan penyelesaian adil.
Misi
Dakwah dan Kerasulan
Muhammad
menerima wahyu untuk menyampaikan dan menyiarkan ajaran agama Islam
dan mengajak umat manusia untuk menyembah Allah SWT. Ia menyampaikan dakwahnya secara
sembunyi-sembunyi. Adapun orang-orang yang pertama masuk Agama Islam atau
disebut dengan Assabiqunal Awwwalun yaitu keluarga dan para
sahabatnya, yaitu: istrinya Khadijah, sahabatnya Ali bin Abi Thalib, Abu
Bakar As-Shiddiq, anak angkatnya Zaid bin Haritsah, Utsman bin Affan, Zubair
dan masih banyak lagi keluarga dan para sahabat Nabi yang lainnya.
Selama 3
tahun lamanya Rasulullah SAW berdakwah secara sembunyi sembunyi dari satu rumah
ke rumah lainnya. Kemudian turunlah surat Al Hijr: 94.
فَٱصۡدَعۡ
بِمَا تُؤۡمَرُ وَأَعۡرِضۡ عَنِ ٱلۡمُشۡرِكِينَ ٩٤
Maka
sampaikanlah secara terang-terangan segala apa yang telah diperintahkan
kepadamu dan berpalinglah dari orang-orang musyrik
Dengan turunnya ayat ini maka Rasulullah SAW
menyiarkan dakwahnya secara terang-terangan. Tanggapan orang-orang Quraisy pada
saat itu sangat marah dan melarang penyiaran islam yang dibawa oleh nabi bahkan
nyawa nabi Muhammad sangat terancam. Namun Nabi dan para sahabatnya semakin
kuat dan tangguh menghadapi tantangan dan hambatan yang dihadapi dengan
ketabahan serta sabar walau ejekan, caci maki, olok-olokan dan menentang
seluruh ajaran Nabi.
Pada tahun ke 10 masa kerasulannya pamannya Abu
Thalib dan istrinya Siti Khadijah wafat. Ditengah-tengah kesedihannya, beliau
dijemput Malaikat Jibril untuk Isra’ Mi’raj yaitu melakukan
perjalanan dari masjidil Aqsha ke Masjidil Haram sampai ke Sidratul Muntaha
untuk menghadap Allah SWT dan untuk menerima perintah shalat lima waktu.
Pada tahun 10 H nabi melakukan haji wada’ atau haji
terakhir. Dalam wukufnya di Arafah, beliau menyampaikan khutbahnya yang
berisi larangan melakukan penumpahan darah kecuali dengan cara yang benar,
larangan mengambil harta orang lain dengan cara yang tidak benar, larangan
memakan harta riba, hamba sahaya harus diperlakukan dengan cara yang baik, dan
agar umatnya selalu berpegang teguh kepada Al Qur’an dan Sunah Nabi SAW.
Setelah berdakwah selama 23 tahun, beliau wafat pada usia 63 tahun, pada
tanggal 8 Juni 632 M di Madinah.
Daftar Pustaka
Abduh,
Muhamad, Risalah
Tauhid, Bulan Bintang, Jakarta, 1995.
Al
Buthy, Ramadhan, Sirah Nabawiyah, terjemahan, Robbani Press, Jakarta, 1993.
Haekal,
Muhammad Husain, Sejarah
Hidup Muhammad, alih Bahasa Miftah A. Faridh, Pustaka Akhlaq, 2015.
Ibnu Hisyam, Abdul Malik bin Ayub Al Hamiry Al
Ma’afiry, Sirah Nabawiyah li Ibni Hisyam, Syirkah Maktabah wal
Mathbaah Musthafa Al Baaby Al Halaby wa Awladuhu bi Misr, 1955.
Al
Mubarakfury, Shafiyur Rahman, Ar Rahiqul Makhtum,
alih Bahasa Rahmat, Robbani Press, Jakarta, 2002.
Ath
Thabary, Abu Ja’far, Tarikh Ar Rusul wal
Muluk, Dar at Turats, Beyrut, 1387.
[1] Shafiyur Rahman Al Mubarakfury, Ar
Rahiqul Makhtum, alih Bahasa Rahmat, Robbani Press, Jakarta, 2002,
hal.46.
[2] Shafiyur Rahman Al Mubarakfury,
ibid, hal,46.
[3] Shafiyur Rahman Al Mubarakfury, ibid,
hal.47.
[4] Abdul Malik bin Hisyam bin Ayub
Al Hamiry Al Ma’afiry, Sirah Nabawiyah li Ibni Hisyam, Syirkah
Maktabah wal Mathbaah Musthafa Al Baaby Al Halaby wa Awladuhu bi Misr, 1955, Juz 1, hal.4.
[5] Abdul Malik bin Hisyam, ibid,
Juz 1, hal.2.
[6] Ramadhan Al Buthy, Sirah Nabawiyah, terjemahan, Robbani Press,
Jakarta, 1993, hal.43.
[7] Abu Ja’far Ath Thabary, Tarikh
Ar Rusul wal Muluk, Dar at Turats, Beyrut, 1387 H, Juz 2, hal.239.
[8] Abdul Malik bin Hisyam, op.cit,
Juz 1, hal. 110.
[9] Muhammad Husain Haekal, Sejarah
Hidup Muhammad, alih Bahasa Miftah A. Faridh, Pustaka Akhlaq, 2015,
hal. 119.
[10] Abdul Malik bin Hisyam, op.cit,
Juz 1, hal.159
[11] Abu Ja’far Ath Thabary, op.cit,
Juz 2, hal.293.
[12] Muhamad Abduh, Risalah
Tauhid, Bulan Bintang, Jakarta, 1995, hal.112.
[13] Tahun Gajah merupakan nama yang
diberikan kepada tahun terjadinya penyerbuan kota Makkah oleh Pasukan Abrahah,
yaitu Gubernur Habsyi di Yaman. Pasukan atau tentara Raja Abrahah itu
mengendarai gajah sebagai kendaraan perangnya. Peristiwa inilah yang menandai
tahun kelahiran Muhammad dan pada akhirnya disebut Tahun Gajah. Peristiwa
ini diabadikan dalam Al-Qur’an surat Al Fiil ayat 1-5.
[14] Muhammad Husain Haekal, op.cit,
hal.122.
[15] Shafiyur Rahman Al Mubarakfury, op.cit,
hal.56.
[16] Muhammad Husain Haekal, op.cit,
hal.123.
[17] Shafiyur Rahman Al Mubarakfury, ibid,
hal.56.
[18] Muhammad Husain Haekal, op.cit,
hal.123.
[19] Muhammad Husain Haekal, ibid,
hal.123
[20] Abdul Malik bin Hisyam, op.cit,
Juz 1, hal.162.
[21] Shafiyur Rahman Al Mubarakfury, op.cit,
hal.59.
[22] Abdul Malik bin Hisyam, op.cit,
Juz 1, hal.179.
[23] Abdul Malik bin Hisyam, ibid, Juz 1, hal. 167
[24] Muhammad Husain Haekal, op.cit,
hal.140.
[25] Muhammad Husain Haekal, op.cit,
hal.141.
[26] Abu Ja’far Ath Thabary, op.cit,
Juz 2, hal.279.
[27] Muhammad Husain Haekal, op.cit,
hal.136.
[28] Abdul Malik bin Hisyam, op.cit,
Juz 1, hal.186
[29] Muhammad Husain Haekal, op.cit,
hal.138.
[30] Abdul Malik bin Hisyam, op.cit,
Juz 1, hal.179.
[31] Abdul Malik bin Hisyam, op.cit,
Juz 1, hal.134.