Muhammad SAW - Saungpikir

Tuesday, September 7, 2021

Muhammad SAW

 Wahyu B. Prasojo




Nasab dan Kelahiran

Nasab Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam terbagi ke dalam tiga klasifikasi: Pertama, yang disepakati oleh ahlus Siyar wal Ansaab (Para Sejarawan dan Ahli Nasab); yaitu urutan nasab beliau hingga kepada Adnan. Yaitu Muhammad bin 'Abdullah bin 'Abdul Muththalib (nama aslinya; Syaibah) bin Hasyim (nama aslinya: 'Amru) bin 'Abdu Manaf (nama aslinya: al-Mughirah) bin Qushai (nama aslinya: Zaid) bin Kilab bin Murrah bin Ka'ab bin Luai bin Ghalib bin Fihr (julukannya: Quraisy yang kemudian suku ini dinisbatkan kepadanya) bin Malik bin an-Nadhar (nama aslinya: Qais) bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah (nama aslinya: 'Amir) bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma'add bin Adnan..[1]

Klasifikasi Kedua, yang masih diperselisihkan antara yang mengambil sikap diam dan tidak berkomentar dengan yang mengatakan sesuatu tentangnya, yaitu urutan nasab beliau dari atas Adnan hingga Ibrahim 'alaihissalam.: (dari urutan nasab diatas hingga ke atas Adnan) yaitu, Adnan bin Adad bin Humaisa' bin Salaaman bin 'Iwadh bin Buuz bin Qimwaal bin Abi 'Awwam bin Naasyid bin Hiza bin Buldaas bin Yadlaaf bin Thaabikh bin Jaahim bin Naahisy bin Maakhi b in 'Iidh bin 'Abqar bin 'Ubaid bin ad-Di'aa bin Hamdaan bin Sunbur bin Yatsribi bin Yahzan bin Yalhan bin Ar'awi bin 'Iidh bin Diisyaan bin 'Aishar bin Afnaad bin Ayhaam bin Miqshar bin Naahits bin Zaarih bin Sumay bin Mizzi bin 'Uudhah bin 'Uraam bin Qaidaar bin Isma'il bin Ibrahim 'alaihimassalam.[2]

Ketiga, yang tidak diragukan lagi bahwa didalamnya terdapat riwayat yang tidak shahih, yaitu urutan nasab beliau mulai dari atas Ibrahim hingga Nabi Adam 'alaihissalam: yaitu, Ibrahim 'alaihissalam bin Taarih (namanya: Aazar) bin Naahuur bin Saaruu' atau Saaruugh bin Raa'uw bin Faalikh bin 'Aabir bin Syaalikh bin Arfakhsyad bin Saam bin Nuh 'alaihissalam bin Laamik bin Mutwisylakh bin Akhnukh (ada yang mengatakan bahwa dia adalah Nabi Idris 'alaihissalam) bin Yarid bin Mahlaaiil bin Qainaan bin Aanuusyah bin Syits bin Adam 'alaihissalam. Keluarga besar Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam.[3]

Ibnu Hisyam menyebutkan sebuah rangkaian silsilah atau nasab Nabi Muhammad saw yang bersambung sampai kepada Nabi Adam ‘alayhissalam. Tetapi ia lebih cenderung untuk memastikan bahwa rangkaian nasab tersebut yang benar hanya sampai kepada Nabi Ismail bin Ibrahim ‘alayhimassalam.[4]  Jadi nasabnya adalah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthallib bin Hasyim bin Abdi Manaf bin Quraisy bin Kilab Bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin Nadhr bin Kinanah bin Khuzaymah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma’ad bin Adnan bin Udad bin Muqawwim bin Nahur bin Tayrah bin Ya’rub bin Yasyjub bin Nabit bin Ismai’l bin Ibrahim.[5]

Ramadhan Al Buthy menegaskan sudah tidak diperselisihkan lagi bahwa Adnan termasuk keturunan  Ismail bin Ibrahim, dan beliau lahir dalam kabilah yang paling bersih keturunannya, tidak tersusupi karat-karat jahiliyah.[6]

Abdullah, ayahanda Rasulullah adalah anak terkecil dari Abdul Muthalib. Ia bersaudara satu ibu dengan Abu Thalib, Az Zubayr,Abdul Ka’bah, ‘Atiqah, Barrah, dan Umaymah. Ibu mereka adalah Fathmah binti Amru bin ‘Aidz bin Imron bin Makhzum.[7]

Ibunya bernama  Aminah binti Wahab bin Abdu Manaf bin Zuhroh.[8] Seorang perempuan Arab dari sebuah keluarga terhormat.[9] Nabi Muhammad dilahirkan dalam keadaan yatim, karena ketika nabi Muhammad masih dalam kandungan, Abdullah telah meninggal dunia.[10]

Rasulullah lahir pada hari Senin[11], 12 Rabiul Awal atau 20 April 571 M[12] di kota Mekkah pada awal tahun Fiil (gajah).[13] Haekal menyebutkan angka tahun 570 M[14].

Aminah mengirimkan bayinya kepada Abdul Muthallib. Yang kemudian menamainya Muhammad, artinya orang yang terpuji. Sebuah nama yang tidak lazim pada masa itu di kalangan Quraisy di Mekkah.[15] Orang-orang juga mempertanyakan, mengapa ia tidak diberi nama seperti nama nenek moyangnnya? Abdul Muthalib mengatakan, ‘Aku ingin ia menjadi orang yang terpuji, baik bagi Tuhan di langit, maupun bagi makhluk Tuhan di bumi’[16]. Lantas Abdul Muthallib membawa bayi yang baru lahir itu berthawaf mengelilingi Ka’bah.

Kehidupan Masa Kecil yang Menempa Jiwa

Nabi Muhammad disusui oleh Tsuaibah[17], budak perempuan Abu Lahab, pamannya[18] selama 3 hari. Bersamanya Tsuaibah juga menyusui Hamzah, jadi selain paman Hamzah juga saudara sesusuan Rasulullah.[19] Oleh kakeknya beliau disusukan juga kepada Halimah As-Sa’diyah[20] dan berada dalam asuhannya kurang lebih 6 tahun. Berbeda dengan anak-anak pada umumnya, pertumbuhannya jauh lebih cepat.[21]

Pada usia 6 tahun ibunya wafat. Sehingga beliau menjadi seorang yatim piatu. Lalu di usianya yang ke 8 tahun, beliau ditinggal oleh kakeknya Abdul Muthalib. Sepeninggal Kakeknya, beliau diasuh pamanya, Abu Thalib, dan dalam perlindungannya[22] sampai ketika beliau memulai gerakan dakwahnya. Al Qur’an menyebutkan,

أَلَمۡ يَجِدۡكَ يَتِيمٗا فَ‍َٔاوَىٰ ٦

Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu

Kehidupan masa kecil yang penuh kesulitan karena keyatimannya mempengaruhi perkembangan jiwanya menjadi sangat mudah berempati kepada orang-orang kecil, miskin dan tertindas.

Tumbuh sebagai yatim juga membentuk kepribadian yang mandiri, kokoh, kuat dan tangguh. Jika anak-anak lain akan mengadu kepada orang tua mereka, Nabi Muhammad harus menyelesaikan sendiri masalah yang dihadapinya. Meski dalam pengasuhan Abu Thalib, ia juga membantu perekonomian keluarga itu yang juga miskin tapi dengan jumlah anggota keluarga yang relative banyak untuk diberi makan.  Untuk itu ia menggembalakan kambing orang-orang Mekkah.[23] 

Kegiatan menggembala kambing itu memberinya waktu dan kesempatan untuk merenung memuaskan sikap kritisnya atas situasi masyarakatnya.[24] Sendiri di tengah-tengah megahnya alam yang silih berganti antara siang dan malam, menjernihkan jiwa dan fikirnya. Mendapati bahwa sesuatu mengendalikan alam ini, sesuatu yang mendorongnya untuk berbuat bagi masyarakatnya.

Pemikiran dan perenungan itu membuatnya selalu menjauhi segala hasrat dan nafsu dunia sehingga ia terhindar dari kehidupan orang bodoh yang sia-sia.[25] Ia sendiri mengisahkan bahwa ia hanya dua kali pernah menginginkan sesuatu yang biasa dilakukan orang-orang Quraisy pada masa jahiliyah tetapi Allah menahannya dari perbuatan itu. Suatu malam ia mengatakan kepada kawannya untuk menjaga hewan ternaknya sejenak supaya ia bisa turun ke kota dan menyaksikan keramaian. Begitu menjumpai pertunjukan yang merupakan pesta pernikahan itu ia pun tertidur sampai terbangun oleh panasnya sinar matahari. Kejadian ini terulang sampai dua kali. Sejak saat itu ia tidak pernah lagi menginginkan sesuatu yang buruk sampai tiba saatnya Allah memuliakannya dengan risalah Islam.[26]

Persiapan Diri Menjadi Pemimpin

Ketika Muhammad mencapai usia remaja dan berkembang menjadi seorang yang dewasa, ia mulai mempelajari ilmu bela diri dan memanah. Ia terlibat dalam beberapa peperangan kaum Quraisy[27] di antaranya adalah perang Fijjar. Pada perang ini ia tergabung ke dalam pasukan pemanah.[28] Pada perang  yang berlangsung selama 4 tahun ini perannya banyak dan berganti-ganti. Mulai dari bagian logistic tempur mempersiapkan amunisi anak panah serta distribusinya kepada pasukan, sampai kemudian ia pun masuk dalam barisan pemanah.[29]

Begitu pula dengan ilmu untuk menambah keterampilannya dalam berdagang. Abu Thalib (paman) juga mengajak berdagang sejak usianya 12 tahun ke negri Syam.[30] Perdagangan menjadi hal yang umum dilakukan dan dianggap sebagai salah satu pendapatan yang stabil. Perjalanan dagang juga memberi bekal yang signifikan terhadap persiapannya menjadi pemimpin. Dari situ ia mendapat wawasan tentang bangsa-bangsa lain. Dapatlah ia megetahui sejarah, peradaban dan keadaan-keadaannya.

Terlibat dalam peperangan dan perjalanan dagang membuat pengetahuannya akan rute-rute jalan dan keadaan medannya sudah sangat maju. Ini karena jiwa Muhammad adalah jiwa yang selalu ingin melihat, mendengar dan mengetahui. Semangatnya untuk belajar jauh melampaui masanya.

Dari usaha perdagangannya itu, kabar tentang kejujuran dan sifatnya yang dapat dipercaya menyebar luas dengan cepat, membuatnya banyak dipercaya sebagai agen penjual perantara barang dagangan penduduk Mekkah. Salah seseorang yang mendengar tentang kabar adanya anak muda yang bersifat jujur dan dapat dipercaya dalam berdagang dengan adalah seorang saudagar perempuan bernama Khadijah. Ia adalah seseorang yang memiliki status tinggi di kalangan suku Arab. Sebagai seorang pedagang, ia juga sering mengirim barang dagangan ke berbagai pelosok daerah di tanah Arab. Reputasi Muhammad membuat Khadijah memercayakannya untuk mengatur barang dagangan Khadijah, Muhammad dijanjikan olehnya akan dibayar dua kali lipat dan Khadijah sangat terkesan ketika sekembalinya Muhammad membawakan hasil berdagang yang lebih dari biasanya.

Nabi Muhammad juga terlibat dalam sebuah persekutuan untuk membela hak orang-orang yang terdzhalimi di kota Mekkah. Persekutuan ini melibatkan beberapa suku Quraisy. Semangat persekutuan ini sesungguhnya bertentangan dengan fanatisme kesukuan yang masih kuat dianut kebanyakan penduduk Mekkah. Tetapi tentu ini lebih baik dan merupakan sesuatu yang sangat diinginkan oleh Nabi dalam dakwahnya nanti. Nabi sendiri mengisahkan,

لَقَدْ شَهِدْتُ فِي دَارِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ جُدْعَانَ  حِلْفًا مَا أُحِبُّ أَنَّ لِي بِهِ حُمْرَ النَّعَمِ  وَلَوْ أُدْعَى بِهِ فِي الْإِسْلَامِ لَأَجَبْتُ.[31]

“Sungguh aku telah menyaksikan suatu persekutuan di rumah Abdullah bin Jad’an. Betapa senang hatiku menyaksikan hal itu. Seandainya setelah Islam datang, aku diajak untuk mengadakan persekuktuan semacam itu, pasti aku sambut.”

Seiring waktu Muhammad pun jatuh cinta kepada Khadijah, mereka menikah pada saat Muhammad berusia 25 tahun. Saat itu Khadijah telah berusia mendekati umur 40 tahun. Perbedaan usia yang demikian bukanlah halangan, karena bagi Muhammad, keluhuran budi pekerti Khadijah jauh lebih mengesankan.

Ketika Muhammad berumur 35 tahun, ia ikut bersama kaum Quraisy dalam perbaikan Ka’bah. Pada saat pemimpin-pemimpin suku Quraisy berdebat tentang siapa yang berhak meletakkan Hajar Aswad, Muhammad dapat menyelesaikan masalah tersebut dan memberikan penyelesaian adil.

Misi Dakwah dan Kerasulan

Muhammad menerima wahyu untuk menyampaikan dan menyiarkan ajaran agama Islam dan mengajak umat manusia  untuk menyembah Allah SWT. Ia  menyampaikan dakwahnya secara sembunyi-sembunyi. Adapun orang-orang yang pertama masuk Agama Islam atau disebut dengan Assabiqunal Awwwalun yaitu keluarga dan para sahabatnya, yaitu: istrinya Khadijah, sahabatnya Ali bin Abi Thalib, Abu Bakar As-Shiddiq, anak angkatnya Zaid bin Haritsah, Utsman bin Affan, Zubair dan masih banyak lagi keluarga dan para sahabat Nabi yang lainnya.

Selama 3 tahun lamanya Rasulullah SAW berdakwah secara sembunyi sembunyi dari satu rumah ke rumah lainnya. Kemudian turunlah surat Al Hijr: 94.

فَٱصۡدَعۡ بِمَا تُؤۡمَرُ وَأَعۡرِضۡ عَنِ ٱلۡمُشۡرِكِينَ ٩٤

Maka sampaikanlah secara terang-terangan segala apa yang telah diperintahkan kepadamu dan berpalinglah dari orang-orang musyrik 

Dengan turunnya ayat ini maka Rasulullah SAW menyiarkan dakwahnya secara terang-terangan. Tanggapan orang-orang Quraisy pada saat itu sangat marah dan melarang penyiaran islam yang dibawa oleh nabi bahkan nyawa nabi Muhammad sangat terancam. Namun Nabi dan para sahabatnya semakin kuat dan tangguh menghadapi tantangan dan hambatan yang dihadapi dengan ketabahan serta sabar walau ejekan, caci maki, olok-olokan dan menentang seluruh ajaran Nabi.

Pada tahun ke 10 masa kerasulannya pamannya Abu Thalib dan istrinya Siti Khadijah wafat. Ditengah-tengah kesedihannya, beliau dijemput Malaikat Jibril untuk Isra’ Mi’raj yaitu melakukan perjalanan dari masjidil Aqsha ke Masjidil Haram sampai ke Sidratul Muntaha untuk menghadap Allah SWT  dan untuk menerima perintah shalat lima waktu.

Pada tahun 10 H nabi melakukan haji wada’ atau haji terakhir. Dalam wukufnya di Arafah, beliau menyampaikan khutbahnya yang berisi larangan melakukan penumpahan darah kecuali dengan cara yang benar, larangan mengambil harta orang lain dengan cara yang tidak benar, larangan memakan harta riba, hamba sahaya harus diperlakukan dengan cara yang baik, dan agar umatnya selalu berpegang teguh kepada Al Qur’an dan Sunah Nabi SAW. Setelah berdakwah selama 23 tahun, beliau wafat pada usia 63 tahun, pada tanggal 8 Juni 632 M di Madinah.


Daftar Pustaka

Abduh, Muhamad, Risalah Tauhid, Bulan Bintang, Jakarta, 1995.

Al Buthy, Ramadhan, Sirah Nabawiyah, terjemahan, Robbani Press, Jakarta, 1993.

Haekal, Muhammad Husain, Sejarah Hidup Muhammad, alih Bahasa Miftah A. Faridh, Pustaka Akhlaq, 2015.

Ibnu Hisyam, Abdul Malik bin Ayub Al Hamiry Al Ma’afiry, Sirah Nabawiyah li Ibni Hisyam, Syirkah Maktabah wal Mathbaah Musthafa Al Baaby Al Halaby wa Awladuhu bi Misr, 1955.

Al Mubarakfury, Shafiyur Rahman, Ar Rahiqul Makhtum, alih Bahasa Rahmat, Robbani Press, Jakarta, 2002.

Ath Thabary, Abu Ja’far, Tarikh Ar Rusul wal Muluk, Dar at Turats, Beyrut, 1387.



[1] Shafiyur Rahman Al Mubarakfury, Ar Rahiqul Makhtum, alih Bahasa Rahmat, Robbani Press, Jakarta, 2002, hal.46.

[2] Shafiyur Rahman Al Mubarakfury, ibid, hal,46.

[3] Shafiyur Rahman Al Mubarakfury, ibid, hal.47.

[4] Abdul Malik bin Hisyam bin Ayub Al Hamiry Al Ma’afiry, Sirah Nabawiyah li Ibni Hisyam, Syirkah Maktabah wal Mathbaah Musthafa Al Baaby Al Halaby wa Awladuhu bi Misr, 1955,  Juz 1, hal.4.

[5] Abdul Malik bin Hisyam, ibid, Juz 1, hal.2.

[6] Ramadhan Al Buthy, Sirah Nabawiyah, terjemahan, Robbani Press, Jakarta, 1993, hal.43.

[7] Abu Ja’far Ath Thabary, Tarikh Ar Rusul wal Muluk, Dar at Turats, Beyrut, 1387 H, Juz 2, hal.239.

[8] Abdul Malik bin Hisyam, op.cit, Juz 1, hal. 110.

[9] Muhammad Husain Haekal, Sejarah Hidup Muhammad, alih Bahasa Miftah A. Faridh, Pustaka Akhlaq, 2015, hal. 119.

[10] Abdul Malik bin Hisyam, op.cit, Juz 1, hal.159

[11] Abu Ja’far Ath Thabary, op.cit, Juz 2, hal.293.

[12] Muhamad Abduh, Risalah Tauhid, Bulan Bintang, Jakarta, 1995, hal.112.

[13] Tahun Gajah merupakan nama yang diberikan kepada tahun terjadinya penyerbuan kota Makkah oleh Pasukan Abrahah, yaitu Gubernur Habsyi di Yaman. Pasukan atau tentara Raja Abrahah itu mengendarai gajah sebagai kendaraan perangnya. Peristiwa inilah yang menandai tahun kelahiran Muhammad dan pada akhirnya disebut Tahun Gajah. Peristiwa ini diabadikan dalam Al-Qur’an surat Al Fiil ayat 1-5.

[14] Muhammad Husain Haekal, op.cit, hal.122.

[15] Shafiyur Rahman Al Mubarakfury, op.cit, hal.56.

[16] Muhammad Husain Haekal, op.cit, hal.123.

[17] Shafiyur Rahman Al Mubarakfury, ibid, hal.56.

[18] Muhammad Husain Haekal, op.cit, hal.123.

[19] Muhammad Husain Haekal, ibid, hal.123

[20] Abdul Malik bin Hisyam, op.cit, Juz 1, hal.162.

[21] Shafiyur Rahman Al Mubarakfury, op.cit, hal.59.

[22] Abdul Malik bin Hisyam, op.cit, Juz 1, hal.179.

[23] Abdul Malik bin Hisyam, ibid, Juz 1, hal. 167

[24] Muhammad Husain Haekal, op.cit, hal.140.

[25] Muhammad Husain Haekal, op.cit, hal.141.

[26] Abu Ja’far Ath Thabary, op.cit, Juz 2, hal.279.

[27] Muhammad Husain Haekal, op.cit, hal.136.

[28] Abdul Malik bin Hisyam, op.cit, Juz 1, hal.186

[29] Muhammad Husain Haekal, op.cit, hal.138.

[30] Abdul Malik bin Hisyam, op.cit, Juz 1, hal.179.

[31] Abdul Malik bin Hisyam, op.cit, Juz 1, hal.134.

Comments


EmoticonEmoticon