Wahyu Bhekti
Prasojo
1. Dakwah Dalam Perspektif
Teori Unsur-Unsur Komunikasi
Komunikasi adalah kegiatan
untuk mencapai kebersamaan makna, sementara manusia memiliki latar belakang (field
experience) yang berbeda. Oleh karena itu komunikasi yang efektif menurut
Stewart L Tubbs dan Sylvia Moss[1]
meliputi unsur-unsur:
a.
Understanding
(Pengertian), yaitu penerimaan yang cermat dari isi stimulus
atau pesan seperti yang dimaksud oleh komunikator.
b. Pleasure (Kesenangan). Pada dasarnya komunikasi bukan sekedar
penyampaian informasi dan membentuk saling pengertian, melainkan juga untuk
mendapatkan kehangatan dalam interaksi dengan informasi atau pesan yang menyenangkan.
c. Attitude Influence (Mempengaruhi sikap). Domain utama proses komunikasi adalah
mempengaruhi sikap orang lain.
d. Improved Relationships (Meningkatkan hubungan social). Komunikasi juga bertujuan
untuk membina hubungan social yang baik di antara komunikator dan kmunikan.
Juga antara kelompok-kelompok dalam masyarakat. Jika suatu hubungan terlalu
ditutupi dengan ketidak percayaan, akan menghilangkan banyak kesempatan yang
baik, meskipun komunikator adalah seorang yang ahli.
e.
Action atau Tindakan. Proses komunikasi dapat dikatakan berhasil
jika mampu membuat komunikan melakukan tindakan nyata.
Jika kita melihat definisi dakwah, maka sesungguhnya ia telah
mengandung beberapa unsure komunikasi di atas. Yaitu Dakwah bermaksud mengajak
orang agar orang mengerti apa itu Islam, kemudian merubah cara berfikirnya,
sikap kesehariannya dan cara hidupnya sesuai dengan ajaran islam yang
didakwahkan itu. Selanjutnya dalam
praktek kita mengenal KH. Zaenudin MZ, yang banyak menggunakan joke serta
anekdot yang menyenangkan bagi audiensnya. Pilihan kata-kata dan kalimatnya
berhasil menciptakan hubungan yang hangat antara dia dengan jama’ahnya.
Sehingga mereka selalu senang untuk menghadiri tabligh akbarnya. Dengan mereka
selalu hadir diharapkan lama-kelamaan akan terbangun pengertian yang sesuai
dengan pesan yang disampaikan, sehingga mempengaruhi sikap dan mau mengamalkan
tausiyahnya.
2. Dakwah Dalam Perspektif Teori Pembentukan Persepsi
Menurut ilmu komunikasi, secara psikologis, suatu informasi
diterima orang melalui beberapa tahap. Salah satunya adalah tahap pengolahan informasi atau persepsi. Persepsi
adalah proses memberi makna (pengenalan dan interpretasi) pada stimulant,[2]
sehingga manusia memperoleh pengetahuan baru. [3]
Persepsi manusia bisa berbeda-berbeda, karena tidak semua proses persepsi memberi
interpretasi yang sama pada sensasi yang sama, dan tidak semua orang mau
menginterpretasi semua sensasi yang datang kepada mereka.[4]
Menurut Achmad Mubarok
persepsi manusia dipengaruhi beberapa faktor, diantaranya faktor personal
(perhatian). Perhatian adalah proses mental di mana kesadaran terhadap satu
rangsang menguat, pada saat yang sama kesadaran pada rangsang yang lain
melemah.[5]
Faktor penarik perhatian bisa dibagi menjadi faktor internal dan eksternal. Faktor
internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri manusia, seperti faktor
biologis dan faktor sosiopsikologis. Sedangkan faktor eksternal adalah
ketertarikan perhatian manusia kepada sesuatu di luar dirinya yang bergerak, yang
kontras, yang baru dan atau yang diulang-ulang. [6]
Dalam dunia dakwah televisi di Indonesia, masyarakat mengenal
Ustadz Maulana yang sering tampil di televisi swasta. Secara materi atau bahan
dakwah, tidak ada sesuatu yang baru pada materi ceramahnya. Tetapi beliau
menggunakan prinsip-prinsip gerak yang dilakukannya, dengan gerakannya itu lalu
tercipta citra tubuhnya yang kontras dengan situasi jama’ahnya yang diam atau
statis, serta selalu mengulang-ulang beberapa idiom khas yang membentuk ciri
khas penampilannya.
3. Dakwah
Dalam Perspektif Teori Interaksionalisme Simbolik
Teori Interaksionalisme Simbolik adalah salah satu
teori yang termasuk dalam paradigma definisi sosial. Tokoh paradigma ini adalah Max
Weber. Menurutnya, bentuk yang paling dasar dari perilaku yang dimotivasi
faktor-faktor religius atau magis, yang sangat penting bagi fungsi social agama
adalah control terhadap harta yang ada dalam keluarga, dan organisasi berbagai
individu dalam ranah kehidupan social.[7]Weber sangat berperan dalam
pengembangan ketiga teori yang termasuk dalam
paradigma definisi sosial, yakni interaksionalisme simbolik,
teori tindakan dan teori fenomenologi .
Teori interaksionisme
simbolik yang merupakan teori tindakan manusia dalam
menjalin interaksinya dengan sesama anggota masyarakat. Adapun
asumsi-asumsi dapat dikemukakan sebagai berikut:
1. Manusia bertindak ke arah berbagai hal berdasarkan makna yang
dimiliki hal-hal itu bagi mereka.
2. Makna hal-hal tersebut muncul dari interaksi sosial antara
seseorang dengan kawannya.
3. Makna hal-hal itu diambil dan dimodifikasi melalui sebuah
proses interpretatif yang digunakan perorangan dalam
hubungan dengan hal-hal yang dihadapinya.
Dalam perspektif interaksionalisme simbolik, dakwah dengan
pesan yang dibawanya dapat mengilhami pikiran anggota masyarakat untuk bersikap
dan bertindak tertentu terhadap kejadian dan fenomena yang terjadi dalam
masyarakat. Sehingga agama bukanlah refleksi proses social yang mendasar
melainkan ia adalah titik pusat produksi dan reproduksi social. [8]
Weber juga menegaskan bahwa manusia
adalah makhluk yang kreatif dalam membentuk realitas social.[9]
Di Bali ada komunitas muslim yang tinggal di daerah Loloan,
Jembrana. Desa Loloan itu dibelah oleh sungai Ijo Gading. Untuk berhubungan,
masyarakat dari ke dua sisi sungai menggunakan rakit atau perahu. Hal ini tentu
merepotkan. Maka merekapun membangun jembatan seadanya berbahan bambu atau
kayu. Tetapi jembatan ini selalu runtuh jika musim hujan tiba dan air sungai
meluap. Mereka baru berfikir membangun jembatan yang permanen pada sekitar
tahun 1901.[10]
Yaitu ketika para tokoh agama dan tokoh masyarakat bermufakat membangun sebuah
Masjid di Loloan sebelah timur. Kebutuhan masyarakat untuk beribadah terutama
melaksanakan sholat Jum’at berjama’ah adalah makna yang dimiliki secara
bersama-sama, dibagi dan dikembangkan secara bersama pula. Makna yang sama ini menumbuhkan
motivasi yang kemudian dimodifikasi menjadi tindakan membangun jembatan, secara
bergotong royong.
4. Dakwah Dalam Perspektif Teori Pertukaran Sosial
Dalam teori pertukaran,
Homans dipengaruhi oleh para pendahulunya pemikir ekonomi seperti Smith, David
Ricardo dan Stuart Mill, sehingga teori ini sangat menekankan pada pertimbangan
untung-rugi individu dalam interaksi sosialnya. Asumsi teori pertukaran ini
adalah :
a. semua
tindakan yang dilakukan oleh seseorang, makin sering satu bentuk tindakan
tertentu memperoleh imbalan, makin cenderung orang tersebut menampilkan
tindakan tadi.
b. makin
tinggi nilai hasil suatu perbuatan bagi seseorang, makin besar pula kemungkinan
perbuatan itu diulanginya kembali.
c. setiap
orang mengharapkan imbalan yang diterimanya sebanding dengan investasi yang
diberikannya. [11]
Namun demikian, walau senantiasa berusaha
mendapatkan keuntungan material, tetapi mereka juga melibatkan dan menghasilkan
hal-hal yang bersifat non-material seperti emosi, perasaan suka, sentimen dan lain
sebagainya. Hal ini dikembangkan dari keuntungan yang dapat diobservasi dari
lingkungannya.[12]
Berikut ini contoh yang dikisahkan
Ustadz M Zaaf Fadhlan Rabbani Al Garamatan, pendiri Yayasan Al Fatih Kaafah
Nusantara, dalam mendakwahkan Islam di Papua dengan menjelaskan
keuntungan-keuntungan yang akan didapat masyarakat dari konsep Islam dalam
masalah kebersihan.
Masyarakat Papua biasa mandi dengan melulur minyak babi
di tubuh. Kenapa begitu? Katanya untuk menghindari nyamuk dan udara dingin. Kami
ajari mereka mandi dengan air dan sabun. Tak jarang harus mandi massal orang
sekampung. Ibu-ibu keramas memakai sampo. Pernah ada seorang kepala suku yang
begitu menikmati sabun mandi. Tanpa dibilas, dia langsung keliling kampung
karena merasa amat senang dengan bau wangi sabun di tubuhnya.
Kami lakukan dakwah tentang kebersihan itu dengan bertahap.
Akhirnya mereka menyadari, ini anak-anak Islam ternyata lebih meyakinkan
dibanding orang-orang bule yang biasa mendatanginya dengan naik pesawat.
Misalnya tentang wudhu, kami jelaskan bahwa hidup ini harus
bersih. Sebelum menghadap-Nya, kami diperintah untuk bersih dulu. Dengan
demikian, ketika ber-takbiratul-ihram, Allah akan mengatakan, “Tangan kamu
sudah dicuci, sudah bersih.” Mulut yang mengucap “Allahu Akbar,” juga
bersih. Begitu juga bagian tubuh lainnya. Nah, kalau bapak-bapak dan ibu-ibu
sudah bersih, mari tegakkan harumnya Islam di tengah-tengah kita.
Dalam masalah pakaian dan kecantikan diajarkan oleh akhwat-akhwat[13]
binaan kami, yang tak kalah semangatnya di “medan tempur”, terutama bila
kondisi geografisnya tidak terlampau sulit. Bahkan kami pernah dakwah dengan
salon.
Ceritanya bermula dari akhwat binaan kami yang jadi karyawan
salon di Mojokerto (Jawa Timur). Dia jadi familier dengan masalah kecantikan.
Rambutnya di-rebounding sehingga lurus, tubuhnya (maaf) bersih.
Suatu saat dia pulang kampung ke Enarotali, Paniai, dan
ceramah. Ibu-ibu kagum. Ini anak jadi cantik, lancar mengaji, bisa ceramah,
tutup auratnya pake mukena. Dia katakan, perubahan fisik dan keilmuannya itu
karena ajaran Islam. Akhirnya ibu-ibu bilang, “Kami mau masuk Islam tapi pingin
cantik seperti kamu.”
Kami kemudian menyewa perlengkapan salon dan dibawa ke
kampung itu, selama 3 bulan. Alhamdulillah, banyak yang akhirnya bersyahadat. [14]
Daftar Pustaka
Brandan, Arifin & Abu Bakar, Loloan,
Sejumlah Potret Ummat Islam di Bali, (Jakarta, Yayasan Festival
Istiqlal, 1995).
Mubarok, Achmad, Psikologi Dakwah,
(Malang, Madani Press, 2014).
Ormrod, Jeanne Ellis, Human Learning, Theories,
Principles and Educational Applications, (New York, McMillan Publishing
Company, 1990).
Shonhaji, Sholeh, Sosiologi dakwah prespektif
teoretik, (Surabaya, IAIN Sunan Ampel Press, 2011).
Syams, Nina W, Psikologi Sosial sebagai Akar
Ilmu Komunikasi, (Bandung, Simbiosa Rekatama Media, 2012).
Tubbs, Stewart L. & Sylvia Moss, Human
Communication, an Interpersonal Perspektif, (New York, Random House,
1974).
Turner, Bryan S, Relasi Agama & Teori
Sosial Kontemporer, alih bahasa Inyiak Ridwan Muzir, (Jogjakarta,
IRCiSoD,2003).
https://dakwahafkn.wordpress.com/wawancara/%E2%80%9Cberdakwah-di-papua-luaarr-biasa-nikmatnya/
waktu akses, 31 Desember 2014
[1] Stewart L. Tubbs & Sylvia Moss, Human Communication, an Interpersonal Perspektif, (New York, Random House, 1974) hal.9-13.
[2] Jeanne Ellis Ormrod, Human Learning, Theories, Principles and Educational Applications, (New York, McMillan Publishing Company, 1990) hal.184.
[3] Achmad Mubarok, Psikologi Dakwah, (Malang, Madani Press, 2014), hal.113.
[4] Jeanne Ellis Ormrod, op.cit, hal.185.
[5] Achmad Mubarok, op.cit, hal.115.
[6] Achmad Mubarok, ibid, hal.115.
[7] Bryan S Turner, Relasi Agama & Teori Sosial Kontemporer, alih bahasa Inyiak Ridwan Muzir, (Jogjakarta, IRCiSoD,2003), hal.12.
[8] Bryan S Turner, ibid, hal.12.
[9] Sholeh Shonhaji, Sosiologi dakwah prespektif teoretik, (Surabaya, IAIN Sunan Ampel Press, 2011), hal 19.
[10] Arifin Brandan & Abu Bakar, Loloan, Sejumlah Potret Ummat Islam di Bali, (Jakarta, Yayasan Festival Istiqlal, 1995), hal.16.
[11] Nina W Syams, Psikologi Sosial sebagai Akar Ilmu Komunikasi, (Bandung, Simbiosa Rekatama Media, 2012), hal.67.
[12] Ibid, hal.68.
[13] (arab); akhwat: saudara perempuan / ikhwan: saudara lelaki, biasanya digunakan untuk menyebutkan persaudaraan seperjuangan di kalangan aktivis penggiat (dakwah) Islam.(pen)
[14] https://dakwahafkn.wordpress.com/wawancara/%E2%80%9Cberdakwah-di-papua-luaarr-biasa-nikmatnya/ waktu akses, 31 Desember 2014, jam 9:28.