DAKWAH DALAM PERSPEKTIF TEORI-TEORI KOMUNIKASI, PSIKOLOGI & PSIKOLOGI SOSIAL - Saungpikir

Saturday, October 23, 2021

DAKWAH DALAM PERSPEKTIF TEORI-TEORI KOMUNIKASI, PSIKOLOGI & PSIKOLOGI SOSIAL

 



Wahyu Bhekti Prasojo

1. Dakwah Dalam Perspektif Teori Unsur-Unsur Komunikasi

Komunikasi adalah kegiatan untuk mencapai kebersamaan makna, sementara manusia memiliki latar belakang (field experience) yang berbeda. Oleh karena itu komunikasi yang efektif menurut Stewart L Tubbs dan Sylvia Moss[1] meliputi unsur-unsur:

a.      Understanding (Pengertian), yaitu penerimaan yang cermat dari isi stimulus atau pesan seperti yang dimaksud oleh komunikator.

b.     Pleasure (Kesenangan). Pada dasarnya komunikasi bukan sekedar penyampaian informasi dan membentuk saling pengertian, melainkan juga untuk mendapatkan kehangatan dalam interaksi dengan informasi atau pesan yang menyenangkan.

c.      Attitude Influence (Mempengaruhi sikap). Domain utama proses komunikasi adalah mempengaruhi sikap orang lain.

d.     Improved Relationships (Meningkatkan hubungan social). Komunikasi juga bertujuan untuk membina hubungan social yang baik di antara komunikator dan kmunikan. Juga antara kelompok-kelompok dalam masyarakat. Jika suatu hubungan terlalu ditutupi dengan ketidak percayaan, akan menghilangkan banyak kesempatan yang baik, meskipun komunikator adalah seorang yang ahli.

e.      Action atau Tindakan. Proses komunikasi dapat dikatakan berhasil jika mampu membuat komunikan melakukan tindakan nyata.

Jika kita melihat definisi dakwah, maka sesungguhnya ia telah mengandung beberapa unsure komunikasi di atas. Yaitu Dakwah bermaksud mengajak orang agar orang mengerti apa itu Islam, kemudian merubah cara berfikirnya, sikap kesehariannya dan cara hidupnya sesuai dengan ajaran islam yang didakwahkan itu.  Selanjutnya dalam praktek kita mengenal KH. Zaenudin MZ, yang banyak menggunakan joke serta anekdot yang menyenangkan bagi audiensnya. Pilihan kata-kata dan kalimatnya berhasil menciptakan hubungan yang hangat antara dia dengan jama’ahnya. Sehingga mereka selalu senang untuk menghadiri tabligh akbarnya. Dengan mereka selalu hadir diharapkan lama-kelamaan akan terbangun pengertian yang sesuai dengan pesan yang disampaikan, sehingga mempengaruhi sikap dan mau mengamalkan tausiyahnya.

2. Dakwah Dalam Perspektif Teori Pembentukan Persepsi

Menurut ilmu komunikasi, secara psikologis, suatu informasi diterima orang melalui beberapa tahap. Salah satunya adalah tahap  pengolahan informasi atau persepsi. Persepsi adalah proses memberi makna (pengenalan dan interpretasi) pada stimulant,[2] sehingga manusia memperoleh pengetahuan baru. [3] Persepsi manusia bisa berbeda-berbeda, karena tidak semua proses persepsi memberi interpretasi yang sama pada sensasi yang sama, dan tidak semua orang mau menginterpretasi semua sensasi yang datang kepada mereka.[4]

Menurut Achmad Mubarok persepsi manusia dipengaruhi beberapa faktor, diantaranya faktor personal (perhatian). Perhatian adalah proses mental di mana kesadaran terhadap satu rangsang menguat, pada saat yang sama kesadaran pada rangsang yang lain melemah.[5] Faktor penarik perhatian bisa dibagi menjadi faktor internal dan eksternal. Faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri manusia, seperti faktor biologis dan faktor sosiopsikologis. Sedangkan faktor eksternal adalah ketertarikan perhatian manusia kepada sesuatu di luar dirinya yang bergerak, yang kontras, yang baru dan atau yang diulang-ulang. [6]

Dalam dunia dakwah televisi di Indonesia, masyarakat mengenal Ustadz Maulana yang sering tampil di televisi swasta. Secara materi atau bahan dakwah, tidak ada sesuatu yang baru pada materi ceramahnya. Tetapi beliau menggunakan prinsip-prinsip gerak yang dilakukannya, dengan gerakannya itu lalu tercipta citra tubuhnya yang kontras dengan situasi jama’ahnya yang diam atau statis, serta selalu mengulang-ulang beberapa idiom khas yang membentuk ciri khas penampilannya.

3. Dakwah Dalam Perspektif Teori Interaksionalisme  Simbolik

Teori Interaksionalisme  Simbolik adalah salah satu teori yang termasuk dalam paradigma definisi sosial. Tokoh paradigma ini adalah  Max Weber. Menurutnya, bentuk yang paling dasar dari perilaku yang dimotivasi faktor-faktor religius atau magis, yang sangat penting bagi fungsi social agama adalah control terhadap harta yang ada dalam keluarga, dan organisasi berbagai individu dalam ranah kehidupan social.[7]Weber  sangat berperan  dalam pengembangan  ketiga  teori  yang termasuk dalam  paradigma definisi sosial, yakni interaksionalisme  simbolik, teori tindakan  dan teori fenomenologi .

Teori interaksionisme simbolik  yang merupakan teori  tindakan manusia dalam menjalin interaksinya dengan sesama anggota  masyarakat. Adapun asumsi-asumsi dapat dikemukakan sebagai berikut:

1.     Manusia bertindak ke arah berbagai hal berdasarkan makna yang dimiliki hal-hal itu  bagi mereka.

2.     Makna hal-hal tersebut muncul dari interaksi sosial antara seseorang dengan kawannya.

3.     Makna hal-hal itu diambil dan dimodifikasi melalui sebuah proses interpretatif yang digunakan  perorangan  dalam hubungan  dengan hal-hal yang dihadapinya.

Dalam perspektif interaksionalisme simbolik, dakwah dengan pesan yang dibawanya dapat mengilhami pikiran anggota masyarakat untuk bersikap dan bertindak tertentu terhadap kejadian dan fenomena yang terjadi dalam masyarakat. Sehingga agama bukanlah refleksi proses social yang mendasar melainkan ia adalah titik pusat produksi dan reproduksi social. [8] Weber juga menegaskan bahwa manusia adalah makhluk yang kreatif dalam membentuk realitas social.[9]

Di Bali ada komunitas muslim yang tinggal di daerah Loloan, Jembrana. Desa Loloan itu dibelah oleh sungai Ijo Gading. Untuk berhubungan, masyarakat dari ke dua sisi sungai menggunakan rakit atau perahu. Hal ini tentu merepotkan. Maka merekapun membangun jembatan seadanya berbahan bambu atau kayu. Tetapi jembatan ini selalu runtuh jika musim hujan tiba dan air sungai meluap. Mereka baru berfikir membangun jembatan yang permanen pada sekitar tahun 1901.[10] Yaitu ketika para tokoh agama dan tokoh masyarakat bermufakat membangun sebuah Masjid di Loloan sebelah timur. Kebutuhan masyarakat untuk beribadah terutama melaksanakan sholat Jum’at berjama’ah adalah makna yang dimiliki secara bersama-sama, dibagi dan dikembangkan secara bersama pula. Makna yang sama ini menumbuhkan motivasi yang kemudian dimodifikasi menjadi tindakan membangun jembatan, secara bergotong royong.

4. Dakwah Dalam Perspektif Teori Pertukaran Sosial

Dalam teori pertukaran, Homans dipengaruhi oleh para pendahulunya pemikir ekonomi seperti Smith, David Ricardo dan Stuart Mill, sehingga teori ini sangat menekankan pada pertimbangan untung-rugi individu dalam interaksi sosialnya. Asumsi teori pertukaran ini adalah :

a.     semua tindakan yang dilakukan oleh seseorang, makin sering satu bentuk tindakan tertentu memperoleh imbalan, makin cenderung orang tersebut menampilkan tindakan tadi.

b.     makin tinggi nilai hasil suatu perbuatan bagi seseorang, makin besar pula kemungkinan perbuatan itu diulanginya kembali.

c.      setiap orang mengharapkan imbalan yang diterimanya sebanding dengan investasi yang diberikannya. [11]

Namun demikian, walau senantiasa berusaha mendapatkan keuntungan material, tetapi mereka juga melibatkan dan menghasilkan hal-hal yang bersifat non-material seperti emosi, perasaan suka, sentimen dan lain sebagainya. Hal ini dikembangkan dari keuntungan yang dapat diobservasi dari lingkungannya.[12]

Berikut ini contoh yang dikisahkan Ustadz M Zaaf Fadhlan Rabbani Al Garamatan, pendiri Yayasan Al Fatih Kaafah Nusantara, dalam mendakwahkan Islam di Papua dengan menjelaskan keuntungan-keuntungan yang akan didapat masyarakat dari konsep Islam dalam masalah kebersihan.

Masyarakat Papua biasa mandi dengan melulur minyak babi di tubuh. Kenapa begitu? Katanya untuk menghindari nyamuk dan udara dingin. Kami ajari mereka mandi dengan air dan sabun. Tak jarang harus mandi massal orang sekampung. Ibu-ibu keramas memakai sampo. Pernah ada seorang kepala suku yang begitu menikmati sabun mandi. Tanpa dibilas, dia langsung keliling kampung karena merasa amat senang dengan bau wangi sabun di tubuhnya.

Kami lakukan dakwah tentang kebersihan itu dengan bertahap. Akhirnya mereka menyadari, ini anak-anak Islam ternyata lebih meyakinkan dibanding orang-orang bule yang biasa mendatanginya dengan naik pesawat.

Misalnya tentang wudhu, kami jelaskan bahwa hidup ini harus bersih. Sebelum menghadap-Nya, kami diperintah untuk bersih dulu. Dengan demikian, ketika ber-takbiratul-ihram, Allah akan mengatakan, “Tangan kamu sudah dicuci, sudah bersih.” Mulut yang mengucap “Allahu Akbar,” juga bersih. Begitu juga bagian tubuh lainnya. Nah, kalau bapak-bapak dan ibu-ibu sudah bersih, mari tegakkan harumnya Islam di tengah-tengah kita.

Dalam masalah pakaian dan kecantikan diajarkan oleh akhwat-akhwat[13] binaan kami, yang tak kalah semangatnya di “medan tempur”, terutama bila kondisi geografisnya tidak terlampau sulit. Bahkan kami pernah dakwah dengan salon.

Ceritanya bermula dari akhwat binaan kami yang jadi karyawan salon di Mojokerto (Jawa Timur). Dia jadi familier dengan masalah kecantikan. Rambutnya di-rebounding sehingga lurus, tubuhnya (maaf) bersih.

Suatu saat dia pulang kampung ke Enarotali, Paniai, dan ceramah. Ibu-ibu kagum. Ini anak jadi cantik, lancar mengaji, bisa ceramah, tutup auratnya pake mukena. Dia katakan, perubahan fisik dan keilmuannya itu karena ajaran Islam. Akhirnya ibu-ibu bilang, “Kami mau masuk Islam tapi pingin cantik seperti kamu.”

Kami kemudian menyewa perlengkapan salon dan dibawa ke kampung itu, selama 3 bulan. Alhamdulillah, banyak yang akhirnya bersyahadat. [14]

 

Daftar Pustaka

Brandan, Arifin & Abu Bakar, Loloan, Sejumlah Potret Ummat Islam di Bali, (Jakarta, Yayasan Festival Istiqlal, 1995).

Mubarok, Achmad, Psikologi Dakwah, (Malang, Madani Press, 2014).

Ormrod, Jeanne Ellis, Human Learning, Theories, Principles and Educational Applications, (New York, McMillan Publishing Company, 1990).

Shonhaji, Sholeh, Sosiologi dakwah prespektif teoretik, (Surabaya, IAIN Sunan Ampel Press, 2011).

Syams, Nina W, Psikologi Sosial sebagai Akar Ilmu Komunikasi, (Bandung, Simbiosa Rekatama Media, 2012).

Tubbs, Stewart L. & Sylvia Moss, Human Communication, an Interpersonal Perspektif, (New York, Random House, 1974).

Turner, Bryan S, Relasi Agama & Teori Sosial Kontemporer, alih bahasa Inyiak Ridwan Muzir, (Jogjakarta, IRCiSoD,2003).

https://dakwahafkn.wordpress.com/wawancara/%E2%80%9Cberdakwah-di-papua-luaarr-biasa-nikmatnya/ waktu akses, 31 Desember 2014



[1] Stewart L. Tubbs & Sylvia Moss, Human Communication, an Interpersonal Perspektif, (New York, Random House, 1974) hal.9-13.

[2] Jeanne Ellis Ormrod, Human Learning, Theories, Principles and Educational Applications, (New York, McMillan Publishing Company, 1990) hal.184.

[3] Achmad Mubarok, Psikologi Dakwah, (Malang, Madani Press, 2014), hal.113.

[4] Jeanne Ellis Ormrod, op.cit, hal.185.

[5] Achmad Mubarok, op.cit, hal.115.

[6] Achmad Mubarok, ibid, hal.115.

[7] Bryan S Turner, Relasi Agama & Teori Sosial Kontemporer, alih bahasa Inyiak Ridwan Muzir, (Jogjakarta, IRCiSoD,2003), hal.12.

[8] Bryan S Turner, ibid, hal.12.

[9] Sholeh Shonhaji, Sosiologi dakwah prespektif teoretik, (Surabaya, IAIN Sunan Ampel Press, 2011), hal 19. 

[10] Arifin Brandan & Abu Bakar, Loloan, Sejumlah Potret Ummat Islam di Bali, (Jakarta, Yayasan Festival Istiqlal, 1995), hal.16.

[11] Nina W Syams, Psikologi Sosial sebagai Akar Ilmu Komunikasi, (Bandung, Simbiosa Rekatama Media, 2012), hal.67.

[12] Ibid, hal.68.

[13] (arab); akhwat: saudara perempuan / ikhwan: saudara lelaki, biasanya digunakan untuk menyebutkan persaudaraan seperjuangan di kalangan aktivis penggiat (dakwah) Islam.(pen)

Comments


EmoticonEmoticon