wahyu b prasojo
Riya’
berasal dari kata ara’a (melihat) dan riya’un (memperlihatkan). Maka riya’
berarti memperlihatkan amal shalih kepada orang lain, atau memamerkan amal
shalihnya kepada orang lain.[1]
Sedangkan secara istilah, riya’ berarti seorang muslim yang memperlihatkan atau
memamerkan amal shalih yang diperbuatnya kepada orang-orang dengan pamrih di
hadapan mereka, atau karena menghendaki martabat dan kedudukan di mata umum
atau menghendaki harta dari mereka.[2]
Orang yang
riya’ melakukan ibadah atau amalan bukan
untuk mengharapkan keridhaan Allah subhanahu wa ta’ala melainkan karena
mengharapkan pujian dan penilaian dari manusia. Contohnya, mereka solat qobliah
dan ba’diah di hadapan khalayak ramai saja tetapi apabila berada diluar ruang
lingkup masyarakat mereka tidak mengerjakannya. Imam Al Ghazali menjelaskan
bahwa pelaku riya’ menghias dirinya di hadapan hamba-hamba Allah, berpura-pura
dan gembira dengan rasa hormat yang diraihnya dari manusia.[3]
إن المنافقين يخادعون الله وهو خادعهم وإذا قاموا إلى
الصلاة قاموا كسالى يرآؤون الناس ولا يذكرون الله إلا قليلا
Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas
tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan
malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah
mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali. (QS An Nisaa’ 142).
Imam Ibnul
Qayyim al Jauziyah menyatakan bahwa semua bentuk pamer adalah kemusyrikan.[4]
Siapa saja yang meniatkan amal perbuatannya selain karena Allah, atau berniat
sesuatu bukan untuk mendekatkan diri kepada Allah, mengharapkan balasan selain
dariNya, maka ia telah syirik dalam niatnya.[5]
Firman Allah,
قل إنما أنا بشر مثلكم يوحى إلي أنما إلهكم إله واحد فمن
كان يرجو لقاء ربه فليعمل عملا صالحا ولا يشرك بعبادة ربه أحدا
Katakanlah: "Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia
seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu
adalah Tuhan Yang Esa". Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya
maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shaleh dan janganlah ia mempersekutukan
seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya". (QS Al Kahfi 110)
Yakni
sebagaimana keyakinan bahwa Dia adalah Tuhan Yang Esa tiada tuhan yang lain,
demikian halnya dengan ibadah, hanya kepadaNya semata. Sebagaimana Dia Esa
dalam ketuhanan, seharusnya juga Esa dalam penyembahan kepadaNya, sehingga amal
shalih adalah perbuatan yang terbebas dari pamer yang terikat dengan tuntunan
sunnah. Umar bin Khatab ra berdo’a,
اللَّهُمَّ اجْعَلْ عَمَلِي كُلَّهُ صَالِحًا وَاجْعَلْهُ لِوَجْهِكَ
خَالِصًا، وَلَا تَجْعَلْ لِأَحَدٍ فِيهِ شَيْئًا.[6]
“Ya Allah,
jadikan semua amalku sebagai amal shalih, dan jadikan untuk keagunganMu sebagai
amal yang shalih juga, dan jangan berikan ruang untuk siapa pun dalam ibadahku”.[7]
Sebuah sifat yang beriringan dengan
riya’ adalah sum’ah. Sum’ah berasal dari kata samma’a
(memperdengarkan). Yaitu memperdengarkan yang telah diamalkannya yang
sebelumnya tersembunyi atau rahasia.[8]
من سمّع سمّع الله بهِ ومن يُرائِ يُرائِ
الله به [9]
Barangsiapa memperdengarkan amalnya, Allah akan memperdengarkannya.
Siapa yang memperlihatkan amalnya, Allah akan memperllihatkannya.
Maksudnya jika
orang yang beramal karena sum’ah dan riya’ Allah akan memperdengarkan dan
memperlihatkannya seperti apa yang mereka kehendaki, karena amalnya bukan karena
mengharapkan ridho Allah. Pelaku riya’ dan sum’ah memperlihatkan kepada orang
banyak sesuatu yang dijadikannya sarana memperoleh kedudukan di hati mereka.
Daftar Pustaka
al Bukhari, Muhammad bin Ismail Abu Abdullah al Ja’fiy, Shahih Bukhari,
Daar Thuqo an Najah, 2001.
al Ghazali, Abu Hamid Muhammad bin Muhammad, Ihya
Ulumuddin, Daar al Ma’rifah Beyrut, tt.
al Jauziyah, Ibnul Qayyim, Al Jawab al Kafi liman Sa’ala ‘an ad Dawa’ asy
Syafi ,Daarul Ma’rifah, Maroko, 1997.
_________, Al Jawab al Kafi liman
Sa’ala ‘an ad Dawa’ asy Syafi, alih bahasa Futuhal Arifin, Gema
Madinah Makkah Pustaka, Jakarta, 2007.
Mukaram, Muhammad bin, bin Ali, Abul Fadhil, Jamaluddin Ibnul Manzhur, Lisaanul Arab,
Daar ash Shaddr, Beyrut, 1414H.
Nuh, Sayyid Muhammad, Terapi Mental Aktivis Harakah, Telaah Atas
Penyakit Mental Dan Social Kontemporer Para Da’iy, alih bahasa
As’ad Yasin dan Salim Bazemool, Pustaka Mantiq, Solo 1995.
[1]Muhammad bin Mukaram bin Ali, Abul Fadhil & Jamaluddin Ibnul Manzhur, Lisaanul
Arab, Daar ash Shaddr, Beyrut, 1414H,h.165.
[2] Sayyid Muhammad Nuh, Terapi Mental
Aktivis Harakah, Telaah Atas Penyakit Mental Dan Social Kontemporer Para Da’iy,
alih bahasa As’ad Yasin dan Salim Bazemool, Pustaka Mantiq, Solo 1995,
h.224.
[3] Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al Ghazali, Ihya Ulumuddin, Daar
al Ma’rifah Beyrut, tt, juz 3, hlm.300.
[4]Ibnul Qayyim al Jauziyah, Al Jawab al
Kafi liman Sa’ala ‘an ad Dawa’ asy Syafi, alih bahasa Futuhal
Arifin, Gema Madinah Makkah Pustaka, Jakarta, 2007, h.218.
[5] ibid, h. 224.
[6] Ibnul Qayyim al Jauziyah, Al Jawab al
Kafi liman Sa’ala ‘an ad Dawa’ asy Syafi ,Daarul Ma’rifah,
Maroko, 1997, h.132.
[7] Imam Ibnul Qayyim Al Jauziyah,op.cit,
h.218.
[8]Sayyid Muhammad Nuh,op.cit,h.223.
[9] Muhammad bin Ismail Abu Abdullah al Bukhari
al Ja’fiy, Shahih Bukhari, Daar Thuqo an Najah,2001, juz 8, hlm. 130.