Memahami Riya’ - Saungpikir

Tuesday, October 19, 2021

Memahami Riya’





wahyu b prasojo         

Riya’ berasal dari kata ara’a (melihat) dan riya’un (memperlihatkan). Maka riya’ berarti memperlihatkan amal shalih kepada orang lain, atau memamerkan amal shalihnya kepada orang lain.[1] Sedangkan secara istilah, riya’ berarti seorang muslim yang memperlihatkan atau memamerkan amal shalih yang diperbuatnya kepada orang-orang dengan pamrih di hadapan mereka, atau karena menghendaki martabat dan kedudukan di mata umum atau menghendaki harta dari mereka.[2]

Orang yang riya’ melakukan  ibadah atau amalan bukan untuk mengharapkan keridhaan Allah subhanahu wa ta’ala melainkan karena mengharapkan pujian dan penilaian dari manusia. Contohnya, mereka solat qobliah dan ba’diah di hadapan khalayak ramai saja tetapi apabila berada diluar ruang lingkup masyarakat mereka tidak mengerjakannya. Imam Al Ghazali menjelaskan bahwa pelaku riya’ menghias dirinya di hadapan hamba-hamba Allah, berpura-pura dan gembira dengan rasa hormat yang diraihnya dari manusia.[3]

إن المنافقين يخادعون الله وهو خادعهم وإذا قاموا إلى الصلاة قاموا كسالى يرآؤون الناس ولا يذكرون الله إلا قليلا

Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali. (QS An Nisaa’ 142).

Imam Ibnul Qayyim al Jauziyah menyatakan bahwa semua bentuk pamer adalah kemusyrikan.[4] Siapa saja yang meniatkan amal perbuatannya selain karena Allah, atau berniat sesuatu bukan untuk mendekatkan diri kepada Allah, mengharapkan balasan selain dariNya, maka ia telah syirik dalam niatnya.[5] Firman Allah,

قل إنما أنا بشر مثلكم يوحى إلي أنما إلهكم إله واحد فمن كان يرجو لقاء ربه فليعمل عملا صالحا ولا يشرك بعبادة ربه أحدا

Katakanlah: "Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa". Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shaleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya". (QS Al Kahfi 110) 

Yakni sebagaimana keyakinan bahwa Dia adalah Tuhan Yang Esa tiada tuhan yang lain, demikian halnya dengan ibadah, hanya kepadaNya semata. Sebagaimana Dia Esa dalam ketuhanan, seharusnya juga Esa dalam penyembahan kepadaNya, sehingga amal shalih adalah perbuatan yang terbebas dari pamer yang terikat dengan tuntunan sunnah. Umar bin Khatab ra berdo’a,

اللَّهُمَّ اجْعَلْ عَمَلِي كُلَّهُ صَالِحًا وَاجْعَلْهُ لِوَجْهِكَ خَالِصًا، وَلَا تَجْعَلْ لِأَحَدٍ فِيهِ شَيْئًا.[6]

“Ya Allah, jadikan semua amalku sebagai amal shalih, dan jadikan untuk keagunganMu sebagai amal yang shalih juga, dan jangan berikan ruang untuk siapa pun dalam ibadahku”.[7]

            Sebuah sifat yang beriringan dengan riya’ adalah sum’ah. Sum’ah berasal dari kata samma’a (memperdengarkan). Yaitu memperdengarkan yang telah diamalkannya yang sebelumnya tersembunyi atau rahasia.[8]

من سمّع سمّع الله بهِ ومن يُرائِ يُرائِ الله به [9]

Barangsiapa memperdengarkan amalnya, Allah akan memperdengarkannya. Siapa yang memperlihatkan amalnya, Allah akan memperllihatkannya.

Maksudnya jika orang yang beramal karena sum’ah dan riya’ Allah akan memperdengarkan dan memperlihatkannya seperti apa yang mereka kehendaki, karena amalnya bukan karena mengharapkan ridho Allah. Pelaku riya’ dan sum’ah memperlihatkan kepada orang banyak sesuatu yang dijadikannya sarana memperoleh kedudukan di hati mereka.

Daftar Pustaka


al Bukhari, Muhammad bin Ismail Abu Abdullah al Ja’fiy, Shahih Bukhari, Daar Thuqo an Najah, 2001.

al Ghazali, Abu Hamid Muhammad bin Muhammad, Ihya Ulumuddin, Daar al Ma’rifah Beyrut, tt.

al Jauziyah, Ibnul Qayyim, Al Jawab al Kafi liman Sa’ala ‘an ad Dawa’ asy Syafi ,Daarul Ma’rifah, Maroko, 1997.

_________, Al Jawab al Kafi liman Sa’ala ‘an ad Dawa’ asy Syafi, alih bahasa Futuhal Arifin, Gema Madinah Makkah Pustaka, Jakarta, 2007.

Mukaram, Muhammad bin, bin Ali, Abul Fadhil, Jamaluddin Ibnul Manzhur, Lisaanul Arab, Daar ash Shaddr, Beyrut, 1414H.

Nuh, Sayyid Muhammad, Terapi Mental Aktivis Harakah, Telaah Atas Penyakit Mental Dan Social Kontemporer Para Da’iy, alih bahasa As’ad Yasin dan Salim Bazemool, Pustaka Mantiq, Solo 1995.



[1]Muhammad bin Mukaram bin Ali, Abul Fadhil & Jamaluddin Ibnul Manzhur, Lisaanul Arab, Daar ash Shaddr, Beyrut, 1414H,h.165.

[2] Sayyid Muhammad Nuh, Terapi Mental Aktivis Harakah, Telaah Atas Penyakit Mental Dan Social Kontemporer Para Da’iy, alih bahasa As’ad Yasin dan Salim Bazemool, Pustaka Mantiq, Solo 1995, h.224.

[3] Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al Ghazali, Ihya Ulumuddin, Daar al Ma’rifah Beyrut, tt, juz 3, hlm.300.

[4]Ibnul Qayyim al Jauziyah, Al Jawab al Kafi liman Sa’ala ‘an ad Dawa’ asy Syafi, alih bahasa Futuhal Arifin, Gema Madinah Makkah Pustaka, Jakarta, 2007, h.218.

[5] ibid, h. 224.

[6] Ibnul Qayyim al Jauziyah, Al Jawab al Kafi liman Sa’ala ‘an ad Dawa’ asy Syafi ,Daarul Ma’rifah, Maroko, 1997, h.132.

[7] Imam Ibnul Qayyim Al Jauziyah,op.cit, h.218.

[8]Sayyid Muhammad Nuh,op.cit,h.223.

[9] Muhammad bin Ismail Abu Abdullah al Bukhari al Ja’fiy, Shahih Bukhari, Daar Thuqo an Najah,2001, juz 8, hlm. 130.

Comments


EmoticonEmoticon