Penyebab Riya’ dan Bahayanya - Saungpikir

Wednesday, October 27, 2021

Penyebab Riya’ dan Bahayanya

 


wahyu bhekti prasojo

Imam Al Ghazali menjelaskan bahwa pangkal dari sifat ini adalah kecintaan kepada kedudukan dan penghormatan, yang jika dilacak ia akan bermuara kepada tiga sifat yaitu ; lezatnya sanjungan, menghindar dari sakitnya celaan dan tamak terhadap apa yang ada di tangan orang lain.[1] Maka orang yang riya’ sangat suka jika ada orang yang memujinya dan marah jika ada orang yang mencela atau mengkritiknya. Sedangkan sifat tamaknya akan membuatnya bakhil, baik dalam perbuatan maupun pemberian. Ia tidak mengerjakan sesuatu amal kecuali hanya untuk tidak dikatakan malas. Jika ia berada di antara orang-orang dermawan, ia cukup berinfak sekadarnya, hanya untuk menghindari dikatakan bakhil.

Riya’ dapat menyebabkan keruhnya hati, terhalang dari mendapat taufiq dan hidayah, hilangnya kedudukan dan kehinaan yang besar, murka Allah dan siksa yang berat di akhirat.[2]

Allah adalah pemilik taufiq dan hidayah, dan menganugerahkannya kepada yang dikehendakiNya, yaitu orang-orang yang benar-benar lurus niatnya dalam beribadah. Apabila seseorang beramal karena riya’ dan sum’ah, sesungguhnya ia menghancurkan keikhlasannya, kesungguhan, kebaikan dan kejujurannya. Bagaimana mungkin ia akan mendapat hidayah Allah?[3]

Kemudian akan terbongkarlah suatu saat maksud-maksud hatinya di hadapan orang banyak sehingga bukan kedudukan dan penghormatan yang didapatnya melainkan cemooh dan penghinaan. Orang-orang akan berpaling darinya jika ia berbicara, sehingga hilanglah wibawanya.[4]

Selanjutnya, menurut Imam Ibnul Qayyim, kemusyrikan dalam ibadah akan membatalkan pahala, dan terkadang mendapatkan hukuman jika ibadah itu adalah yang wajib. Sebab ia dianggap tidak melakukannya, maka ia dihukum karena meninggalkan perintah. Sebab Allah hanya memerintahkannya untuk menyembahNya secara murni (ikhlas).[5]

وما أمروا إلا ليعبدوا الله مخلصين له الدين حنفاء ويقيموا الصلاة ويؤتوا الزكاة وذلك دين القيمة

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.(QS Al Bayyinah 5)

 Allah hanya menerima amal ibadah yang ikhlas dan menolak yang tidak ikhlas. Riya’ dan sum’ah membuat seseorang beribadah dengan tujuan yang terbagi, yaitu bagi dirinya dan bagi orang lain, bukan bagi Allah. Maka amalnya itu tertolak. Ia akan merugi karena yang tidak ada yang tersisa baginya sedikitpun pahala amalnya di sisi Allah. Maka dia tidak akan memperoleh balasan kecuali siksa yang pedih di akhirat kelak. [6]

وقدمنا إلى ما عملوا من عمل فجعلناه هباء منثورا

Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.(QS Al Furqan 23)

Daftar Pustaka

Hawwa, Sa’id, Mensucikan Jiwa, Intisari Ihya’ Ulumuddin, alih bahasa Aunur Rafiq Saleh Tamhid, Robbani Press, Jakarta,2001.

al Jauziyah, Ibnul Qayyim,  Al Jawab al Kafi liman Sa’ala ‘an ad Dawa’ asy Syafi, alih bahasa Futuhal Arifin, Gema Madinah Makkah Pustaka, Jakarta, 2007.

Nuh, Sayyid Muhammad, Terapi Mental Aktivis Harakah, Telaah atas penyakit mental dan social kontemporer para da’iy, alih bahasa As’ad Yasin dan Salim Bazemool, Pustaka Mantiq, Solo 1995.



[1] Sa’id Hawwa, Mensucikan Jiwa, Intisari Ihya’ Ulumuddin, alih bahasa Aunur Rafiq Saleh Tamhid, Robbani Press, Jakarta,2001, h.192.

[2] ibid, h. 193.

[3] Sayyid Muhammad Nuh, Terapi Mental Aktivis Harakah, Telaah atas penyakit mental dan social kontemporer para da’iy, alih bahasa As’ad Yasin dan Salim Bazemool, Pustaka Mantiq, Solo 1995, h.234.

[4] ibid, h. 235-238

[5] Ibnul Qayyim al Jauziyah,  Al Jawab al Kafi liman Sa’ala ‘an ad Dawa’ asy Syafi, alih bahasa Futuhal Arifin, Gema Madinah Makkah Pustaka, Jakarta, 2007. h.219.

[6] ibid, h.243.

Comments


EmoticonEmoticon