wahyu bhekti prasojo
Imam Al Ghazali menjelaskan bahwa pangkal dari sifat ini adalah
kecintaan kepada kedudukan dan penghormatan, yang jika dilacak ia akan bermuara
kepada tiga sifat yaitu ; lezatnya sanjungan, menghindar dari sakitnya celaan
dan tamak terhadap apa yang ada di tangan orang lain.[1]
Maka orang yang riya’ sangat suka jika ada orang yang memujinya dan marah jika
ada orang yang mencela atau mengkritiknya. Sedangkan sifat tamaknya akan
membuatnya bakhil, baik dalam perbuatan maupun pemberian. Ia tidak mengerjakan
sesuatu amal kecuali hanya untuk tidak dikatakan malas. Jika ia berada di
antara orang-orang dermawan, ia cukup berinfak sekadarnya, hanya untuk
menghindari dikatakan bakhil.
Riya’ dapat menyebabkan keruhnya hati, terhalang dari mendapat
taufiq dan hidayah, hilangnya kedudukan dan kehinaan yang besar, murka Allah
dan siksa yang berat di akhirat.[2]
Allah adalah pemilik taufiq dan hidayah, dan menganugerahkannya
kepada yang dikehendakiNya, yaitu orang-orang yang benar-benar lurus niatnya
dalam beribadah. Apabila seseorang beramal karena riya’ dan sum’ah,
sesungguhnya ia menghancurkan keikhlasannya, kesungguhan, kebaikan dan
kejujurannya. Bagaimana mungkin ia akan mendapat hidayah Allah?[3]
Kemudian akan terbongkarlah suatu saat maksud-maksud hatinya di
hadapan orang banyak sehingga bukan kedudukan dan penghormatan yang didapatnya
melainkan cemooh dan penghinaan. Orang-orang akan berpaling darinya jika ia
berbicara, sehingga hilanglah wibawanya.[4]
Selanjutnya, menurut Imam Ibnul Qayyim, kemusyrikan dalam ibadah
akan membatalkan pahala, dan terkadang mendapatkan hukuman jika ibadah itu
adalah yang wajib. Sebab ia dianggap tidak melakukannya, maka ia dihukum karena
meninggalkan perintah. Sebab Allah hanya memerintahkannya untuk menyembahNya
secara murni (ikhlas).[5]
وما أمروا إلا ليعبدوا الله مخلصين له الدين حنفاء ويقيموا
الصلاة ويؤتوا الزكاة وذلك دين القيمة
Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan
memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan
supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah
agama yang lurus.(QS
Al Bayyinah 5)
Allah hanya menerima amal
ibadah yang ikhlas dan menolak yang tidak ikhlas. Riya’ dan sum’ah membuat
seseorang beribadah dengan tujuan yang terbagi, yaitu bagi dirinya dan bagi
orang lain, bukan bagi Allah. Maka amalnya itu tertolak. Ia akan merugi karena
yang tidak ada yang tersisa baginya sedikitpun pahala amalnya di sisi Allah.
Maka dia tidak akan memperoleh balasan kecuali siksa yang pedih di akhirat
kelak. [6]
وقدمنا إلى ما عملوا من عمل فجعلناه هباء
منثورا
Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan
amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan.(QS Al Furqan 23)
Daftar Pustaka
Hawwa, Sa’id, Mensucikan Jiwa, Intisari Ihya’ Ulumuddin, alih
bahasa Aunur Rafiq Saleh Tamhid, Robbani Press, Jakarta,2001.
al Jauziyah, Ibnul Qayyim, Al
Jawab al Kafi liman Sa’ala ‘an ad Dawa’ asy Syafi, alih bahasa
Futuhal Arifin, Gema Madinah Makkah Pustaka, Jakarta, 2007.
Nuh, Sayyid Muhammad, Terapi Mental Aktivis Harakah, Telaah atas
penyakit mental dan social kontemporer para da’iy, alih bahasa
As’ad Yasin dan Salim Bazemool, Pustaka Mantiq, Solo 1995.
[1] Sa’id Hawwa, Mensucikan Jiwa, Intisari Ihya’ Ulumuddin, alih bahasa Aunur Rafiq Saleh Tamhid, Robbani Press, Jakarta,2001, h.192.
[2] ibid, h. 193.
[3] Sayyid Muhammad Nuh, Terapi Mental Aktivis Harakah, Telaah atas penyakit mental dan social kontemporer para da’iy, alih bahasa As’ad Yasin dan Salim Bazemool, Pustaka Mantiq, Solo 1995, h.234.
[4] ibid, h. 235-238
[5] Ibnul Qayyim al Jauziyah, Al Jawab al Kafi liman Sa’ala ‘an ad Dawa’ asy Syafi, alih bahasa Futuhal Arifin, Gema Madinah Makkah Pustaka, Jakarta, 2007. h.219.
[6] ibid, h.243.