Aminah Quthb (1927 - 2007)
Mungkinkah kita akan bertemu lagi?
Ataukah hanya bertemu di alam fatamorgana?
Lalu (bayanganmu) berpaling, dan sedikit demi sedikit sirna
Berubah menjadi kenangan yang menyiksa
Hatiku selalu bertanya
Hari-hari begitu panjang, setelah engkau berpulang
Tiba-tiba bayanganmu menatap, tersenyum
Seakan-akan kudengar jawaban
Mengapa kita tak berjalan bersama
Bergandengan tangan menegakkan kebenaran
Agar kembali kebaikan di bumi
Lalu kita pergi, meniti jalan berduri
Meninggalkan semua ambisi kita
Mengubur hasrat jarak ke dalam diri
Dan kita bertahan dengan keikhlasan
Hanya berharap pahala-Nya
*Aminah Quthb adalah anak ketiga dari 4 bersaudara Quthb, Sayyid (1906-1967), Muhammad (1919-2014) dan Halidah (1937-2012). Puisi ini ditulis Aminah mengantar kepergian suaminya, Kamaluddin As Sananiry, yang gugur dalam penjara militer Mesir pada 1981. Padahal selama sekitar 25 tahun pernikahan, mereka hanya sempat tinggal bersama sekitar 6 atau 7 tahun saja.