Wahyu Bhekti Prasojo
Syahadat
la Ilaaha illa Allah adalah syahadat yang mengandung ketiga aspek
tauhid; uluhiyah, rububiyah dan asma wa sifat. Syahadat ini adalah prinsip bagi
beribadah secara ikhlash kepada Allah satu-satunya, baik dalam bathin maupun
lahiriyah seorang muslim. Ia tidak menjadikan sesuatu ibadah yang dikerjakannya
untuk tujuan selain mengharap ridha Allah.
Maka
beriman kepada Allah harus direalisasikan dengan hanya menyembah kepada Allah
dan tidak menyembah yang selain Dia, hanya merasa takut kepada Allah, penuh
harap kepada pertolonganNya, sepenuh hati mencintaiNya, bertawakkal, taat,
rendah hati, patuh dan beragam jenis ibadah lainnya.[1]
A. Definisi Aqidah secara
Bahasa dan Istilah
Secara
bahasa, aqidah berasal dari perkataan bahasa arab yaitu kata dasar ‘aqada
yang berarti ikatan pada tali dan semacamnya, fondasi bangunan, jual beli,
perjanjian dan sumpah.[2]
Jika
disebutkan al ‘aqdu, maka ia berarti sesuatu yang menjadi dasar dari
suatu bangunan.[3]
Makna lainnya dari al aqdu adalah al ‘ahdu, yaitu kesepakatan
antara dua pihak yang mengikat kedua belah pihak untuk memenuhi
tuntutan-tuntutan kesepakatan itu, seperti pada perjanjian jual beli dan akad
nikah.[4]
Demikian pula pada perjanjian kerja, umpamanya dalam bidang ekonomi atau
politik, maka aqdu mewajibkan seseorang untuk bekerja melayani seseorang
lainnya dengan imbalan gaji atau upah.[5]
Maka al
‘aqidah adalah sebuah hukum atau kepastian yang tidak diterima adanya
keraguan padanya bagi orang yang meyakininya. Dalam agama, maksudnya adalah
keyakinan-keyakinan yang bukan perbuatan, seperti yakin kepada eksistensi Allah
dan diutusnya rasul-rasul.[6]
Sedangkan
secara istilah, aqidah menurut Hasan al-Banna adalah beberapa perkara yang
wajib diyakini kebenarannya oleh hati, mendatangkan ketentraman jiwa yang tidak
bercampur sedikit dengan keraguan-raguan.[7] Sehingga
menjadi suatu kenyataan yang teguh dan kokoh, yang tidak tercampuri oleh
keraguan dan kebimbangan,atau dapat juga diartikan sebagai iman yang teguh dan
pasti, yang tidak ada keraguan sedikitpun bagi orang yang meyakininya serta
tidak mudah terurai oleh pengaruh manapun baik dari dalam atau dari luar
diri seseorang.
B. Kedudukan Aqidah dalam
Kompleksitas Ajaran Islam
Aqidah yang benar merupakan landasan
tegaknya agama dan kunci diterimanya ibadah dan amal-amal saleh. Hal ini
sebagaimana ditetapkan oleh Allah Ta’ala di dalam firman-Nya:
فَمَنْ
كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلا صَالِحًا وَلا يُشْرِكْ
بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
“Maka barangsiapa yang
mengharapkan perjumpaan dengan Tuhannya hendaklah dia beramal shalih dan tidak
mempersekutukan sesuatu apapun dengan-Nya dalam beribadah kepada-Nya.”(QS. Al
Kahfi: 110)
Allah ta’ala juga berfirman,
وَلَقَدْ
أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ
لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
“Sungguh telah diwahyukan
kepadamu dan kepada orang-orang sebelummu: Sungguh, apabila kamu berbuat syirik
pasti akan terhapus seluruh amalmu dan kamu benar-benar akan termasuk golongan
orang-orang yang merugi.” (QS. Az Zumar: 65)
Hal ini telah diberitakan oleh Allah di dalam
firman-Nya:
وَلَقَدْ
بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا
الطَّاغُوتَ
“Dan sungguh telah Kami utus
kepada setiap umat seorang Rasul yang menyerukan ‘Sembahlah Allah dan jauhilah
thaghut (sesembahan selain Allah)'” (QS. An Nahl: 36)
Ayat-ayat
ini menunjukkan bahwa amalan tidak akan diterima apabila tercampuri dengan
kesyirikan. Oleh sebab itulah para Rasul sangat memperhatikan perbaikan aqidah
sebagai prioritas pertama dakwah mereka; menyembah kepada
Allah saja dan meninggalkan penyembahan kepada selain-Nya. Aqidah Islam yang
direpresentasikan
dengan kalimat syahadat, menjadikan Allah sebagai sentral perhatian setiap
muslim di mana saja mereka berada. Menjadi warna fikirannya dan bentuk
aktifitas mereka, sepanjang waktu.[8]
C. Sarana Mencapai Tauhid dan Aqidah yang Benar
1. Pengetahuan dari Teks
Suci
Firman-Nya takkala Dia
menyuruh Nabi Musa alahissalam dari sebatang pohon, di tepi kanan
sebuah lembah, di suatu tempat yang diberkahi :
يَا مُوسَى إِنِّي أَنَا اللَّهُ رَبُّ
الْعَالَمِينَ
Artinya : “ Hai
Musa Sesungguhnya aku adalah Allah, Rabb semesta alam” (Al Qashas:
30)
Juga FirmanNya :
إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا
فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي
Artinya : “Sesungguhnya
aku adalah Allah tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Aku, maka
sembahlah aku dan dirikanlah shalat untuk mengingatku “ (QS.
Thaha[20]: 14)
Juga FirmanNya
dalam mengagungkan dirinya serta menyebut nama-nama dan sifat-sifat-Nya, Artinya
:
Dialah Allah Yang tiada
Tuhan selain Dia, Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dialah Yang Maha
Pemurah lagi Maha Penyayang.
Dialah Allah Yang tiada
Tuhan selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan
Keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang
Memiliki segala Keagungan, Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.
Dialah Allah Yang
Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Asmaaul
Husna. Bertasbih kepada-Nya apa yang di langit dan bumi. Dan Dialah Yang Maha
Perkasa lagi Maha Bijaksana.. (QS. Al Hasyr
[59]22 -24)
2. Ilmu yang didapat
melalui Penalaran Akal
Berbeda dengan penjelasan agama-agama
sebelumnya yang sulit dicarikan penjelasan logisnya, Al Qur’an datang membawa
keterangan-keterangan yang masuk akal. Karena iman dan Islam seharusnya
diterima dengan rela dan senang hati, muncul setelah akal dapat memahami sejauh
yang dapat difahaminya.[9]
Al Qur’an itu sendiri adalah keterangan yang
logis akan kebenaran Nabi yang membawanya yaitu Muhammad saw. Bagi Muhammad
Abduh, Al Qur’an telah mempertemukan akal (rasio) dengan agama. Keunggulan Al
Qur’an itu digambarkan oleh Muhammad Abduh:
Ia
bukanlah datang dengan membawa cerita-cerita, tetapi juga mengemukakan dalil
dan kenyataan-kenyataan yang mematahkan kepercayaan-kepercayaan orang-orang
yang membantah. Dituntunnya akal, dibangkitkannya fikiran, kemudian
ditunjukkannya undang-undang alam, hukum-hukum dan peraturan-peraturan yang
sesuai akal. Dan diajaknya akal memperhatikan undang-undang alam itu dengan
penuh perhatian, agar orang yakin akan kebenaran yang dibawanya.[10]
Betapa banyak perkara aqidah Islam yang memerlukan akal
yang sehat dan kuat untuk memahaminya. Seperti perkara iman kepada wujud Allah,
diutusnya para rasul Allah, juga hal-hal yang terkait dengan perintah atau
larangan yang diwahyukanNya. Bahkan Al Qur’an juga mengandung ayat-ayat
mutasyabihat untuk membangkitkan rasa ingin tahu para pemikir,[11] memecahkan
masalah-masalah keagamaan dan kemanusiaan. Islam juga menetapkan syarat berakal
sehat bagi orang yang mengamalkan semua ibadahnya, terutama ibadah ritual.
Argumen lainnya; ada rislah yang dibawa oleh setidaknya 25 Nabi
dan Rasul yang diutus Allah
bagi manusia sepanjang sejarah mereka; memberitakan tentang wujud
Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Rububiyah nya bagi semesta alam, tentang
penciptaan-Nya dan penguasaan-Nya terhadap alam semesta ini; dan
tentang asma’ dan sifat-sifat-Nya.
Berita yang disampaikan tersebut
tidak memungkinkan bagi akal sehat untuk mendustakannya, sebagaimana tidak
mungkin mereka
sepakat untuk berdusta dan menyampaikan berita tentang sesuatu yang tidak
mereka ketahui.
3. Mengenal Allah dengan perasaan
قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ
وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
“Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah
untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Al An’am: 162)
Di dalam shalat,
pastinya sudah terbiasa melafalkan do’a tersebut bukan? Namun sudahkah hati benar-benar
memaknai ayat tersebut dengan sebenarnya? Atau hati tidak dapat merasakan
apa-apa ketika membacanya?
Allah menginginkan
petunjuk dan cahaya bagi hamba-hambaNya dalam menjalani hidup keseharian mereka
sampai saat kembalinya tiba. Karena dalam agama Islam, ibadah itu mencakup
keseluruhan kegiatan manusia dalam hidup di dunia ini, termasuk kegiatan yang
sifatnya duniawi. Jika kegiatan itu dilakukan dengan sikap bathin yang berniat
menghamba hanya kepada Allah saja.[12]
D. Implementasi Aqidah dalam Dimensi Akhlaq, Ibadah dan
Mu’amalah
1. Aqidah dalam Dimensi Akhlaq; Shabar dalam setiap keadaan
Shabar
adalah akhlaq yang melekat pada keimanan. Seseorang yang merasakan kehadiran
Allah dalam setiap tindak tanduknya akan memiliki sifat shabar. Karena shabar
adalah separuh iman. Sahabat Abdullah bin Mas’ud radlyallahu’anhu
mengatakan, “Iman itu dua bagian, separuh adalah shabar dan separuh lagi
syukur.”[13]
Dengan keshabaran, seorang mukmin akan mampu menahan kesulitan-kesulitan dalam
mengerjakan kebaikan-kebaikan atau menahan diri dari hal-hal yang dilarang,
juga ketika mengalami musibah. Karena ia yakin bahwa semuanya terjadi atas
kehendak Allah, Tuhan yang dia imani dan sembah.
يا
أيها الذين آمنوا استعينوا بالصبر والصلاة إن الله مع الصابرين
Hai orang-orang yang beriman,
mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat,
sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (QS Al
Baqarah: 153)
Dengan
kebersamaan Allah ini, orang-orang yang bersabar menggenggam kebaikan dunia dan
akhirat. Dengan sabar pula mereka mendapatkan nikmat-nikmatNya yang terlihat
dan yang tidak. Bahkan sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang sabar.
والله يحب الصابرين
Dan Allah mencintai
orang-orang yang sabar.(QS. Ali Imran: 146)
Sebuah
riwayat dari Abu Sa’id al Khudry menceritakan bahwa pada suatu ketika
sekelompok orang dari kalangan Anshar meminta kepada Rasulullah, berulang kali
mereka meminta berulang kali pula Rasulullah memberi mereka, sampai tidak ada
lagi sesuatu pada diri Rasulullah. Lalu beliau bersabda,
مَا
يَكُونُ عِنْدِي مِنْ خَيْرٍ فَلَنْ أَدَّخِرَهُ عَنْكُمْ، وَمَنْ يَسْتَعْفِفْ يُعِفَّهُ
اللَّهُ، وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللَّهُ وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ
اللَّهُ، وَمَا أُعْطِيَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ[14]
Artinya: Aku tidak punya
apa-apa lagi, sehingga aku tak bisa memenuhi permintaan kalian. Barangsiapa
yang menjaga kehormatannya (dari meminta) maka Allah akan membuatnya ‘iffah.
Barangsiapa yang merasa cukup, maka Allah akan mencukupkan baginya. Barangsiapa
yang menyabarkan dirinya maka Allah akan menjadikannya sabar. Seseorang tidak
diberi sesuatu yang lebih baik dan lebih luas daripada sifat sabar.
Sayyidina Ali bin Abi Thalib, karamallahu wajhahu, berkata,
“Ketahuilah bahwa posisi shabar bagi iman adalah seperti posisi kepala bagi
tubuh. Jika kepala terputus maka matilah tubuh”. Kemudian beliau meninggikan
suaranya, “Ketahuilah, tidak beriman orang yang tidak bersabar.”[15]
2. Aqidah dalam Dimensi Ibadah ; Senantiasa berdo’a kepada
Allah dalam setiap aktifitas dan urusan-urusannya
Orang-orang
yang hidup berketuhanan akan selalu merasa butuh kepada pertolongan Allah. Do’a
adalah ibadah yang paling utama bagi lidah setelah membaca Al Qur’an dan
dzikir. Dimana dengan do’a seorang hamba menyampaikan segala kebutuhannya
kepada Allah. Karena mereka sadar betapa lemahnya diri dan kemampuan mereka di
hadapan Allah, maka mereka berdo’a dengan perasaan cemas dan penuh harap. Mereka
sangat ingin agar Allah Yang Mahakuasa mendengar permintaannya dan mengabulkan
permohonannya. Sebagaimana Allah SWT sendiri telah berfirman,
وإذا
سألك عبادي عني فإني قريب أجيب دعوة الداع إذا دعان فليستجيبوا لي وليؤمنوا بي
لعلهم يرشدون
Dan apabila hamba-hamba-Ku
bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat.
Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka
hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman
kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (QS Al
Baqarah : 186)
Rasulullah
saw bersabda,
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ قَالَ: «أَشْرَفُ الْعِبَادَةِ الدُّعَاءُ»[16]
Artinya; Dari Abu
Hurayrah, dari Nabi saw beliau bersabda’ “Ibadah yang paling utama adalah
do’a”.(HR. Al Bukhary).
Berdo’a
kepada Allah bukan hanya ketika menghadapi masalah-masalah pelik yang
besar-besar. Rasulullah saw mengajarkan kepada kita untuk berdo’a kepada Allah
dalam setiap keadaan. Maka dalam Islam aktifitas yang “remeh” sekalipun
seumpama masuk ke kamar kecil, ada do’a yang dapat kita panjatkan kepada Allah,
agar Allah menjaga kita dari marabahaya.
Sebuah peristiwa pada masa Khalifah Abu Bakar
Shiddiq, yaitu pada waktu memadamkan pemberontakan kaum murtad pasca wafatnya
Rasulullah saw, dapat menggambarkan hakikat ini. Pasukan yang ditugaskan ke
Bahrain tertahan badai yang menyebabkan kuda-kuda dan onta-onta mereka kocar
kacir, termasuk onta-onta pembawa perbekalan, padahal hari sudah malam.
Sehingga seluruh anggota pasukan diliputi putus asa karena letih, lapar dan
haus. Maka pemimpin pasukan itu, Shahabat Rasulullah bernama Allak Al Hadhrami
berteriak memperingatkan anggotanya.
“Apakah
kamu semuanya bukan muslim? Apakah kamu tidak percaya akan kekuasaan Allah?
Kalian ini sedang bertugas di jalan Allah membela agamaNya. Teguhkan hati
kalian, percayalah pada kekuasaanNya.”
Maka
selepas shalat shubuh mereka berdo’a dengan penuh ketundukan dipimpin komandan
mereka. Beberapa saat kemudian, seorang berteriak “fatamorgana!” sambil
menunjuk ke arah belakang barisan. Tapi orang-orang justeru berteriak “air!
Air! Benarlah ternyata telah tergenang di jalur yang kering itu sebuah oase
yang melimpah airnya. Mereka pun minum dengan tenang. Tak lama kemudian kuda-kuda
dan onta pengangkut bekal mereka pun datang ke oase itu mengikuti burung-burung
yang terbang berputar-putar di atas oase itu.[17]
3. Aqidah dalam Dimensi Mu’amalah;
dermawan, suka memberi kepada orang lain yang membutuhkan
Suka memberi adalah salah satu perwujudan dari rasa
syukur. Sedangkan syukur bersama shabar adalah dua hal yang melengkapi keimanan
seseorang kepada Allah. Sebagaimana perkataan Abdullah bin Mas’ud, Iman itu dua
bagian, sebagiannya adalah shabar dan sebagiannya lagi adalah syukur. Orang
yang bersyukur, merasa cukup dengan apa yang diberikan Allah kepadanya. Dia
juga yakin bahwa Allah telah menyediakan rezeqi baginya setiap hari, jam, menit
dan detiknya. Sehingga dia tidak takut kekurangan untuk memberi bagi orang lain
yang dilihatnya membutuhkan bantuan.
وابتغ
فيما آتاك الله الدار الآخرة ولا تنس نصيبك من الدنيا وأحسن كما أحسن الله إليك
ولا تبغ الفساد في الأرض إن الله لا يحب المفسدين
Dan carilah pada apa yang
telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah
kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada
orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu
berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang
yang berbuat kerusakan. (QS. Al Qashshash:77)
Allah merangkaikan antara iman, shalat dan infaq dalam
sebuah ayat,
الذين يؤمنون بالغيب ويقيمون الصلاة ومما رزقناهم ينفقون
(yaitu) mereka yang beriman
kepada yang gaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezki yang
Kami anugerahkan kepada mereka,(QS. Al Baqarah:3)
Kedua perkara setelah iman adalah bukti dari
kebenarannya. Sesungguhnya iman adalah ikatan ghaib antara manusia dengan
Allah. Ia akan terlihat dari ketundukan seorang mukmin dalam shalat. Kemudian
sebagai bukti keyakinannya akan kekuasaan Allah, muncullah infaq, yang
merupakan tanggung jawab social seorang mukmin, yang disebut ukhuwah
islamiyah, persaudaraan orang-orang yang beriman.[18]
Rasulullah mengajarkan kepada kita,
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ
أَيُّوبَ، وَقُتَيْبَةُ يَعْنِي ابْنَ سَعِيدٍ، وَابْنُ حُجْرٍ، قَالُوا:
حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ هُوَ ابْنُ جَعْفَرٍ، عَنِ الْعَلَاءِ، عَنْ أَبِيهِ،
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ،
قَالَ: " إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ
ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ
وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ "[19]
Artinya: Jika manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya, kecuali
tiga perkara, yaitu; sedekah jariah, ilmu yang dimanfaatkan dan anak sholeh
yang mendo’akannya.
Infaq dan sedekah yang diberikan sesuai dengan kehendak
Allah dan RasulNya akan mengalir terus manfaatnya bagi si pemberi selama barang
itu masih dimanfaatkan orang. Orang-orang yang robbani yakin infaq yang
dikeluarkannya tidak akan merugikan dirinya. Tetapi sebaliknya, Allah
mengganjarnya dengan pahala yang lebih baik dari pada harta yang diinfaqkan
itu. Sedangkan di dunia ia mendapatkan keberkahan akan hartanya, meskipun
sedikit.[20]
Para sahabat Nabi saw adalah pribadi-pribadi yang
dermawan. Salah satunya yang terkenal misalnya Utsman bin Affan radliallahu’anhu.
Suatu ketika pada masa pemerintahan
Khalifah Abu Bakar Shiddiq, sedang terjadi krisis pangan di Madinah. Beliau
menyumbangkan barang dagangannya berupa gandum yang dipikul oleh 1000 ekor
unta. Di mana 1 ekor unta dapat mengangkut 250kg.[21]
Padahal para pedagang sudah berkumpul mengajukan tawaran keuntungan yang banyak
baginya jika beliau mau menjualnya. Sumbangan ini benar-benar meringankan beban
kaum muslimin yang tinggal di Madinah ketika itu.
Daftar Pustaka
Abduh, Muhammad, Risalah
Tauhid, terj. Firdaus AN, (Jakarta, Bulan Bintang, 1996).
Ali, Yunasril, Pilar-pilar
Tasawuf, (Jakarta, Kalam Mulia, 1999).
al Banna, Hasan, Majmu’atu
Rosail Hasan Al Banna, terj. Khozin Abu Faqih & Burhan, (Jakarta,
I’tishom Cahaya Ummat, 2011).
al
Bukhary, Muhammad
bin Isma’il Abu Abdullah al Ja’fy, Shahih Bukhari, , (Damaskus
Daar ath Thuqa an Najah, 1422H).
___________, Muhammad
bin Isma’il Abu Abdullah, al
Ja’fy, Al Adabul Mufrad, (Beyrut; Darul Basya’ir Islamiyah;1989).
al Faruqi, Ismail
Raji, Al Tawhid: Its Implications for Thougt and Life, (Herndon,
Virginia, The International Institute of Islamic Thought, 1992).
Hamka, Pelajaran
Agama Islam, (Jakarta, Bulan Bintang, 1996).
Ibnul Qoyyim, Syamsudin Muhammad bin Abu Bakar, al
Jauziyah, Sabar Perisai Seorang Mukmin, terjemahan, Fadli, Lc,
(Jakarta, Pustaka Azzam, 1999).
Mustafa, Ibrahim, at.all, Al
Mu’jam Al Wasith, (Istambul, Al Maktabah Al Islamiyah, lit Tiba’ah wan
Nasyr wat Tauzi’, 1972).
al Qusyairy, Muslim bin Hajaj Abu Hasan, Shahih
Muslim, (Dar Ihya at Turats al ‘Araby, Beyrut,tt).
Sou’yb, Yusuf, Sejarah Daulat
Khulafaur Rasyidin, (Jakarta, Bulan Bintang, 1979).
Yasin, Muhammad Na’im, Yang
Menguatkan Yang Membatalkan Iman, Kajian Rinci Dua Kalimah Syahadah,, terj. Abu Fahmi, (Jakarta, Gema Insani Press, 1992).
Yusuf, Yunan, Al Qur’an di Bumi, dalam Agama
di Tengah Kemelut, Komarudin Hidayat et.al, (Jakarta, Mediacita, 2001).
[1]
Muhammad Na’im
Yasin, Al Iiman, Arkanuhu, Haqiqatuhu, Nawaqiduhu, terj. Abu
Fahmi, Yang Menguatkan Yang Membatalkan Iman, Kajian Rinci Dua Kalimah
Syahadah, (Jakarta, Gema Insani Press, 1992), hal.25.
[2]
Ibrahim
Mustafa, at.all, Al Mu’jam Al Wasith, (Istambul, Al Maktabah Al
Islamiyah, lit Tiba’ah wan Nasyr wat Tauzi’, 1972), hal.613-614.
[3] Ibid.hal.614
[4] Ibid.hal.614.
[5] Ibid.614.
[6] Ibid.614.
[7]
Hasan Al Banna,
Majmu’atu Rosail Hasan Al Banna, terj. Khozin Abu Faqih &
Burhan, Kumpulan Risalah Dakwah Hasan Al Banna, (Jakarta,
I’tishom Cahaya Ummat, 2011), Jilid 2, hal.343.
[8] Ismail Raji Al Faruqi, Al Tawhid: Its Implications for Thougt and Life, (Herndon, Virginia, The International Institute of Islamic Thought, 1992), hal.1.
[9] Hamka, Pelajaran Agama Islam, (Jakarta, Bulan Bintang, 1996), hal.9.
[10] Muhammad Abduh, Risalah Tauhid, terj. Firdaus AN, (Jakarta, Bulan Bintang, 1996), hal.4-5.
[11] Ibid, hal.6.
[12] Yunan Yusuf, Al Qur’an di Bumi, dalam Agama di Tengah Kemelut, Komarudin Hidayat et.al, (Jakarta, Mediacita, 2001), hal.347.
[13] Syamsudin Muhammad bin Abu Bakar Ibnul Qoyyim al Jauziyah, Sabar Perisai Seorang Mukmin, terjemahan, Fadli, Lc, (Jakarta, Pustaka Azzam, 1999), hal.137.
[14] Muhammad bin Isma’il Abu Abdullah al Bukhary al Ja’fy, Shahih Bukhari, , (Damaskus Daar ath Thuqa an Najah, 1422H), Juz 2, hal.122.
[15] Ibnul Qoyyim al Jauziyah, ibid, hal.119.
[16]
Muhammad bin
Isma’il Abu Abdullah al Bukhary al Ja’fy, Al Adabul Mufrad, (Beyrut;
Darul Basya’ir Islamiyah;1989), Juz 1, hal.249.
[17] Yusuf Sou’yb, Sejarah Daulat Khulafaur Rasyidin, (Jakarta, Bulan Bintang, 1979), hal.75
[18]
Yunasril Ali, Pilar-pilar
Tasawuf, (Jakarta, Kalam Mulia, 1999), hal.48.
[19]
Muslim bin Hajaj Abu Hasan Al Qusyairy, Shahih Muslim,
(Dar Ihya at Turats al ‘Araby, Beyrut,tt), Juz 3, hal. 1255.
[20] Yunasril Ali, op.cit, hal.49.
[21] Yusuf Sou’yb, op.cit, hal.329.