MAKNA DAN HAKIKAT AQIDAH - Saungpikir

Monday, November 15, 2021

MAKNA DAN HAKIKAT AQIDAH

 



Wahyu Bhekti Prasojo

Syahadat la Ilaaha illa Allah adalah syahadat yang mengandung ketiga aspek tauhid; uluhiyah, rububiyah dan asma wa sifat. Syahadat ini adalah prinsip bagi beribadah secara ikhlash kepada Allah satu-satunya, baik dalam bathin maupun lahiriyah seorang muslim. Ia tidak menjadikan sesuatu ibadah yang dikerjakannya untuk tujuan selain mengharap ridha Allah.

Maka beriman kepada Allah harus direalisasikan dengan hanya menyembah kepada Allah dan tidak menyembah yang selain Dia, hanya merasa takut kepada Allah, penuh harap kepada pertolonganNya, sepenuh hati mencintaiNya, bertawakkal, taat, rendah hati, patuh dan beragam jenis ibadah lainnya.[1]

A. Definisi Aqidah secara Bahasa dan Istilah

Secara bahasa, aqidah berasal dari perkataan bahasa arab yaitu kata dasar ‘aqada yang berarti ikatan pada tali dan semacamnya, fondasi bangunan, jual beli, perjanjian dan sumpah.[2]

Jika disebutkan al ‘aqdu, maka ia berarti sesuatu yang menjadi dasar dari suatu bangunan.[3] Makna lainnya dari al aqdu adalah al ‘ahdu, yaitu kesepakatan antara dua pihak yang mengikat kedua belah pihak untuk memenuhi tuntutan-tuntutan kesepakatan itu, seperti pada perjanjian jual beli dan akad nikah.[4] Demikian pula pada perjanjian kerja, umpamanya dalam bidang ekonomi atau politik, maka aqdu mewajibkan seseorang untuk bekerja melayani seseorang lainnya dengan imbalan gaji atau upah.[5]

Maka al ‘aqidah adalah sebuah hukum atau kepastian yang tidak diterima adanya keraguan padanya bagi orang yang meyakininya. Dalam agama, maksudnya adalah keyakinan-keyakinan yang bukan perbuatan, seperti yakin kepada eksistensi Allah dan diutusnya rasul-rasul.[6]

Sedangkan secara istilah, aqidah menurut Hasan al-Banna adalah beberapa perkara yang wajib diyakini kebenarannya oleh hati, mendatangkan ketentraman jiwa yang tidak bercampur sedikit dengan keraguan-raguan.[7] Sehingga menjadi suatu kenyataan yang teguh dan kokoh, yang tidak tercampuri oleh keraguan dan kebimbangan,atau dapat juga diartikan sebagai iman yang teguh dan pasti, yang tidak ada keraguan sedikitpun bagi orang yang meyakininya serta tidak mudah terurai oleh  pengaruh manapun baik dari dalam atau dari luar diri seseorang.

B. Kedudukan Aqidah dalam Kompleksitas Ajaran Islam

            Aqidah yang benar merupakan landasan tegaknya agama dan kunci diterimanya ibadah dan amal-amal saleh. Hal ini sebagaimana ditetapkan oleh Allah Ta’ala di dalam firman-Nya:

فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلا صَالِحًا وَلا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

“Maka barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Tuhannya hendaklah dia beramal shalih dan tidak mempersekutukan sesuatu apapun dengan-Nya dalam beribadah kepada-Nya.”(QS. Al Kahfi: 110)

Allah ta’ala juga berfirman,

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Sungguh telah diwahyukan kepadamu dan kepada orang-orang sebelummu: Sungguh, apabila kamu berbuat syirik pasti akan terhapus seluruh amalmu dan kamu benar-benar akan termasuk golongan orang-orang yang merugi.” (QS. Az Zumar: 65)

Hal ini telah diberitakan oleh Allah di dalam firman-Nya:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

“Dan sungguh telah Kami utus kepada setiap umat seorang Rasul yang menyerukan ‘Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut (sesembahan selain Allah)'” (QS. An Nahl: 36)

Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa amalan tidak akan diterima apabila tercampuri dengan kesyirikan. Oleh sebab itulah para Rasul sangat memperhatikan perbaikan aqidah sebagai prioritas pertama dakwah mereka; menyembah kepada Allah saja dan meninggalkan penyembahan kepada selain-Nya. Aqidah Islam yang direpresentasikan dengan kalimat syahadat, menjadikan Allah sebagai sentral perhatian setiap muslim di mana saja mereka berada. Menjadi warna fikirannya dan bentuk aktifitas mereka, sepanjang waktu.[8]

C. Sarana Mencapai Tauhid dan Aqidah yang Benar

1. Pengetahuan dari Teks Suci

Firman-Nya takkala Dia menyuruh Nabi Musa alahissalam dari sebatang pohon, di tepi kanan sebuah lembah, di suatu tempat yang diberkahi :

يَا مُوسَى إِنِّي أَنَا اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

Artinya : “ Hai Musa Sesungguhnya aku adalah Allah, Rabb semesta alam” (Al Qashas:  30)

 Juga FirmanNya :

إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي

Artinya : “Sesungguhnya aku adalah Allah tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Aku, maka sembahlah aku dan dirikanlah shalat untuk mengingatku “ (QS. Thaha[20]: 14)

 Juga FirmanNya dalam mengagungkan dirinya serta menyebut nama-nama dan sifat-sifat-Nya, Artinya : 

Dialah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dialah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

Dialah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan Keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki segala Keagungan, Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.

Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Asmaaul Husna. Bertasbih kepada-Nya apa yang di langit dan bumi. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.. (QS. Al Hasyr [59]22 -24)

2. Ilmu yang didapat melalui Penalaran Akal

Berbeda dengan penjelasan agama-agama sebelumnya yang sulit dicarikan penjelasan logisnya, Al Qur’an datang membawa keterangan-keterangan yang masuk akal. Karena iman dan Islam seharusnya diterima dengan rela dan senang hati, muncul setelah akal dapat memahami sejauh yang dapat difahaminya.[9]

Al Qur’an itu sendiri adalah keterangan yang logis akan kebenaran Nabi yang membawanya yaitu Muhammad saw. Bagi Muhammad Abduh, Al Qur’an telah mempertemukan akal (rasio) dengan agama. Keunggulan Al Qur’an itu digambarkan oleh Muhammad Abduh:

Ia bukanlah datang dengan membawa cerita-cerita, tetapi juga mengemukakan dalil dan kenyataan-kenyataan yang mematahkan kepercayaan-kepercayaan orang-orang yang membantah. Dituntunnya akal, dibangkitkannya fikiran, kemudian ditunjukkannya undang-undang alam, hukum-hukum dan peraturan-peraturan yang sesuai akal. Dan diajaknya akal memperhatikan undang-undang alam itu dengan penuh perhatian, agar orang yakin akan kebenaran yang dibawanya.[10]

            Betapa banyak perkara aqidah Islam yang memerlukan akal yang sehat dan kuat untuk memahaminya. Seperti perkara iman kepada wujud Allah, diutusnya para rasul Allah, juga hal-hal yang terkait dengan perintah atau larangan yang diwahyukanNya. Bahkan Al Qur’an juga mengandung ayat-ayat mutasyabihat untuk membangkitkan rasa ingin tahu para pemikir,[11] memecahkan masalah-masalah keagamaan dan kemanusiaan. Islam juga menetapkan syarat berakal sehat bagi orang yang mengamalkan semua ibadahnya, terutama ibadah ritual.

Argumen lainnya; ada rislah yang dibawa oleh setidaknya 25 Nabi dan Rasul yang diutus Allah bagi manusia sepanjang sejarah mereka; memberitakan tentang wujud Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Rububiyah nya bagi semesta alam, tentang penciptaan-Nya dan penguasaan-Nya terhadap alam semesta ini; dan tentang asma’ dan sifat-sifat-Nya.

Berita yang disampaikan tersebut tidak memungkinkan bagi akal sehat untuk mendustakannya, sebagaimana tidak mungkin mereka sepakat untuk berdusta dan menyampaikan berita tentang sesuatu yang tidak mereka ketahui.

3. Mengenal Allah dengan perasaan

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. Al An’am: 162)

Di dalam shalat, pastinya sudah terbiasa melafalkan do’a tersebut bukan? Namun sudahkah hati benar-benar memaknai ayat tersebut dengan sebenarnya? Atau hati tidak dapat merasakan apa-apa ketika membacanya?

Allah menginginkan petunjuk dan cahaya bagi hamba-hambaNya dalam menjalani hidup keseharian mereka sampai saat kembalinya tiba. Karena dalam agama Islam, ibadah itu mencakup keseluruhan kegiatan manusia dalam hidup di dunia ini, termasuk kegiatan yang sifatnya duniawi. Jika kegiatan itu dilakukan dengan sikap bathin yang berniat menghamba hanya kepada Allah saja.[12]

 D. Implementasi Aqidah dalam Dimensi Akhlaq, Ibadah dan Mu’amalah

1. Aqidah dalam Dimensi Akhlaq; Shabar dalam setiap keadaan

            Shabar adalah akhlaq yang melekat pada keimanan. Seseorang yang merasakan kehadiran Allah dalam setiap tindak tanduknya akan memiliki sifat shabar. Karena shabar adalah separuh iman. Sahabat Abdullah bin Mas’ud radlyallahu’anhu mengatakan, “Iman itu dua bagian, separuh adalah shabar dan separuh lagi syukur.”[13] Dengan keshabaran, seorang mukmin akan mampu menahan kesulitan-kesulitan dalam mengerjakan kebaikan-kebaikan atau menahan diri dari hal-hal yang dilarang, juga ketika mengalami musibah. Karena ia yakin bahwa semuanya terjadi atas kehendak Allah, Tuhan yang dia imani dan sembah.

يا أيها الذين آمنوا استعينوا بالصبر والصلاة إن الله مع الصابرين

Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (QS Al Baqarah: 153)

Dengan kebersamaan Allah ini, orang-orang yang bersabar menggenggam kebaikan dunia dan akhirat. Dengan sabar pula mereka mendapatkan nikmat-nikmatNya yang terlihat dan yang tidak. Bahkan sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang sabar.

والله يحب الصابرين

Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar.(QS. Ali Imran: 146)

Sebuah riwayat dari Abu Sa’id al Khudry menceritakan bahwa pada suatu ketika sekelompok orang dari kalangan Anshar meminta kepada Rasulullah, berulang kali mereka meminta berulang kali pula Rasulullah memberi mereka, sampai tidak ada lagi sesuatu pada diri Rasulullah. Lalu beliau bersabda,

مَا يَكُونُ عِنْدِي مِنْ خَيْرٍ فَلَنْ أَدَّخِرَهُ عَنْكُمْ، وَمَنْ يَسْتَعْفِفْ يُعِفَّهُ اللَّهُ، وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللَّهُ وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللَّهُ، وَمَا أُعْطِيَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ[14]

Artinya: Aku tidak punya apa-apa lagi, sehingga aku tak bisa memenuhi permintaan kalian. Barangsiapa yang menjaga kehormatannya (dari meminta) maka Allah akan membuatnya ‘iffah. Barangsiapa yang merasa cukup, maka Allah akan mencukupkan baginya. Barangsiapa yang menyabarkan dirinya maka Allah akan menjadikannya sabar. Seseorang tidak diberi sesuatu yang lebih baik dan lebih luas daripada sifat sabar.

            Sayyidina Ali bin Abi Thalib, karamallahu wajhahu, berkata, “Ketahuilah bahwa posisi shabar bagi iman adalah seperti posisi kepala bagi tubuh. Jika kepala terputus maka matilah tubuh”. Kemudian beliau meninggikan suaranya, “Ketahuilah, tidak beriman orang yang tidak bersabar.”[15]

2. Aqidah dalam Dimensi Ibadah ; Senantiasa berdo’a kepada Allah dalam setiap aktifitas dan urusan-urusannya

Orang-orang yang hidup berketuhanan akan selalu merasa butuh kepada pertolongan Allah. Do’a adalah ibadah yang paling utama bagi lidah setelah membaca Al Qur’an dan dzikir. Dimana dengan do’a seorang hamba menyampaikan segala kebutuhannya kepada Allah. Karena mereka sadar betapa lemahnya diri dan kemampuan mereka di hadapan Allah, maka mereka berdo’a dengan perasaan cemas dan penuh harap. Mereka sangat ingin agar Allah Yang Mahakuasa mendengar permintaannya dan mengabulkan permohonannya. Sebagaimana Allah SWT sendiri telah berfirman,

وإذا سألك عبادي عني فإني قريب أجيب دعوة الداع إذا دعان فليستجيبوا لي وليؤمنوا بي لعلهم يرشدون

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (QS Al Baqarah : 186)

Rasulullah saw bersabda,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «أَشْرَفُ الْعِبَادَةِ الدُّعَاءُ»[16]

Artinya; Dari Abu Hurayrah, dari Nabi saw beliau bersabda’ “Ibadah yang paling utama adalah do’a”.(HR. Al Bukhary).

Berdo’a kepada Allah bukan hanya ketika menghadapi masalah-masalah pelik yang besar-besar. Rasulullah saw mengajarkan kepada kita untuk berdo’a kepada Allah dalam setiap keadaan. Maka dalam Islam aktifitas yang “remeh” sekalipun seumpama masuk ke kamar kecil, ada do’a yang dapat kita panjatkan kepada Allah, agar Allah menjaga kita dari marabahaya.

Sebuah  peristiwa pada masa Khalifah Abu Bakar Shiddiq, yaitu pada waktu memadamkan pemberontakan kaum murtad pasca wafatnya Rasulullah saw, dapat menggambarkan hakikat ini. Pasukan yang ditugaskan ke Bahrain tertahan badai yang menyebabkan kuda-kuda dan onta-onta mereka kocar kacir, termasuk onta-onta pembawa perbekalan, padahal hari sudah malam. Sehingga seluruh anggota pasukan diliputi putus asa karena letih, lapar dan haus. Maka pemimpin pasukan itu, Shahabat Rasulullah bernama Allak Al Hadhrami berteriak memperingatkan anggotanya.

“Apakah kamu semuanya bukan muslim? Apakah kamu tidak percaya akan kekuasaan Allah? Kalian ini sedang bertugas di jalan Allah membela agamaNya. Teguhkan hati kalian, percayalah pada kekuasaanNya.”

Maka selepas shalat shubuh mereka berdo’a dengan penuh ketundukan dipimpin komandan mereka. Beberapa saat kemudian, seorang berteriak “fatamorgana!” sambil menunjuk ke arah belakang barisan. Tapi orang-orang justeru berteriak “air! Air! Benarlah ternyata telah tergenang di jalur yang kering itu sebuah oase yang melimpah airnya. Mereka pun minum dengan tenang. Tak lama kemudian kuda-kuda dan onta pengangkut bekal mereka pun datang ke oase itu mengikuti burung-burung yang terbang berputar-putar di atas oase itu.[17]

3. Aqidah dalam Dimensi Mu’amalah; dermawan, suka memberi kepada orang lain yang membutuhkan

            Suka memberi adalah salah satu perwujudan dari rasa syukur. Sedangkan syukur bersama shabar adalah dua hal yang melengkapi keimanan seseorang kepada Allah. Sebagaimana perkataan Abdullah bin Mas’ud, Iman itu dua bagian, sebagiannya adalah shabar dan sebagiannya lagi adalah syukur. Orang yang bersyukur, merasa cukup dengan apa yang diberikan Allah kepadanya. Dia juga yakin bahwa Allah telah menyediakan rezeqi baginya setiap hari, jam, menit dan detiknya. Sehingga dia tidak takut kekurangan untuk memberi bagi orang lain yang dilihatnya membutuhkan bantuan.

وابتغ فيما آتاك الله الدار الآخرة ولا تنس نصيبك من الدنيا وأحسن كما أحسن الله إليك ولا تبغ الفساد في الأرض إن الله لا يحب المفسدين

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (QS. Al Qashshash:77)

            Allah merangkaikan antara iman, shalat dan infaq dalam sebuah ayat,

الذين يؤمنون بالغيب ويقيمون الصلاة ومما رزقناهم ينفقون

(yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka,(QS. Al Baqarah:3)

            Kedua perkara setelah iman adalah bukti dari kebenarannya. Sesungguhnya iman adalah ikatan ghaib antara manusia dengan Allah. Ia akan terlihat dari ketundukan seorang mukmin dalam shalat. Kemudian sebagai bukti keyakinannya akan kekuasaan Allah, muncullah infaq, yang merupakan tanggung jawab social seorang mukmin, yang disebut ukhuwah islamiyah, persaudaraan orang-orang yang beriman.[18]

            Rasulullah mengajarkan kepada kita,

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ، وَقُتَيْبَةُ يَعْنِي ابْنَ سَعِيدٍ، وَابْنُ حُجْرٍ، قَالُوا: حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ هُوَ ابْنُ جَعْفَرٍ، عَنِ الْعَلَاءِ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: " إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ "[19]

Artinya: Jika manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya, kecuali tiga perkara, yaitu; sedekah jariah, ilmu yang dimanfaatkan dan anak sholeh yang mendo’akannya.

            Infaq dan sedekah yang diberikan sesuai dengan kehendak Allah dan RasulNya akan mengalir terus manfaatnya bagi si pemberi selama barang itu masih dimanfaatkan orang. Orang-orang yang robbani yakin infaq yang dikeluarkannya tidak akan merugikan dirinya. Tetapi sebaliknya, Allah mengganjarnya dengan pahala yang lebih baik dari pada harta yang diinfaqkan itu. Sedangkan di dunia ia mendapatkan keberkahan akan hartanya, meskipun sedikit.[20]

            Para sahabat Nabi saw adalah pribadi-pribadi yang dermawan. Salah satunya yang terkenal misalnya Utsman bin Affan radliallahu’anhu. Suatu ketika pada  masa pemerintahan Khalifah Abu Bakar Shiddiq, sedang terjadi krisis pangan di Madinah. Beliau menyumbangkan barang dagangannya berupa gandum yang dipikul oleh 1000 ekor unta. Di mana 1 ekor unta dapat mengangkut 250kg.[21] Padahal para pedagang sudah berkumpul mengajukan tawaran keuntungan yang banyak baginya jika beliau mau menjualnya. Sumbangan ini benar-benar meringankan beban kaum muslimin yang tinggal di Madinah ketika itu.

 

Daftar Pustaka

Abduh, Muhammad, Risalah Tauhid, terj. Firdaus AN, (Jakarta, Bulan Bintang, 1996).

Ali, Yunasril, Pilar-pilar Tasawuf, (Jakarta, Kalam Mulia, 1999).

al Banna, Hasan, Majmu’atu Rosail Hasan Al Banna, terj. Khozin Abu Faqih & Burhan, (Jakarta, I’tishom Cahaya Ummat, 2011).

al Bukhary, Muhammad bin Isma’il Abu Abdullah al Ja’fy, Shahih Bukhari, , (Damaskus Daar ath Thuqa an Najah, 1422H).

___________, Muhammad bin Isma’il Abu Abdullah, al Ja’fy, Al Adabul Mufrad, (Beyrut; Darul Basya’ir Islamiyah;1989).

al Faruqi, Ismail Raji, Al Tawhid: Its Implications for Thougt and Life, (Herndon, Virginia, The International Institute of Islamic Thought, 1992).

Hamka, Pelajaran Agama Islam, (Jakarta, Bulan Bintang, 1996).

Ibnul Qoyyim, Syamsudin Muhammad bin Abu Bakar, al Jauziyah, Sabar Perisai Seorang Mukmin, terjemahan, Fadli, Lc, (Jakarta, Pustaka Azzam, 1999).

Mustafa, Ibrahim, at.all, Al Mu’jam Al Wasith, (Istambul, Al Maktabah Al Islamiyah, lit Tiba’ah wan Nasyr wat Tauzi’, 1972).

al Qusyairy, Muslim bin Hajaj Abu Hasan, Shahih Muslim, (Dar Ihya at Turats al ‘Araby, Beyrut,tt).

Sou’yb, Yusuf, Sejarah Daulat Khulafaur Rasyidin, (Jakarta, Bulan Bintang, 1979).

Yasin, Muhammad Na’im, Yang Menguatkan Yang Membatalkan Iman, Kajian Rinci Dua Kalimah Syahadah,, terj. Abu Fahmi, (Jakarta, Gema Insani Press, 1992).

Yusuf, Yunan, Al Qur’an di Bumi, dalam Agama di Tengah Kemelut, Komarudin Hidayat et.al, (Jakarta, Mediacita, 2001).



[1] Muhammad Na’im Yasin, Al Iiman, Arkanuhu, Haqiqatuhu, Nawaqiduhu, terj. Abu Fahmi, Yang Menguatkan Yang Membatalkan Iman, Kajian Rinci Dua Kalimah Syahadah, (Jakarta, Gema Insani Press, 1992), hal.25.

[2] Ibrahim Mustafa, at.all, Al Mu’jam Al Wasith, (Istambul, Al Maktabah Al Islamiyah, lit Tiba’ah wan Nasyr wat Tauzi’, 1972), hal.613-614.

[3] Ibid.hal.614

[4] Ibid.hal.614.

[5] Ibid.614.

[6] Ibid.614.

[7] Hasan Al Banna, Majmu’atu Rosail Hasan Al Banna, terj. Khozin Abu Faqih & Burhan, Kumpulan Risalah Dakwah Hasan Al Banna, (Jakarta, I’tishom Cahaya Ummat, 2011), Jilid 2, hal.343.

[8] Ismail Raji Al Faruqi, Al Tawhid: Its Implications for Thougt and Life, (Herndon, Virginia, The International Institute of Islamic Thought, 1992), hal.1.

[9] Hamka, Pelajaran Agama Islam, (Jakarta, Bulan Bintang, 1996), hal.9.

[10] Muhammad Abduh, Risalah Tauhid, terj. Firdaus AN, (Jakarta, Bulan Bintang, 1996), hal.4-5.

[11] Ibid, hal.6.

[12] Yunan Yusuf, Al Qur’an di Bumi, dalam Agama di Tengah Kemelut, Komarudin Hidayat et.al, (Jakarta, Mediacita, 2001), hal.347.

[13] Syamsudin Muhammad bin Abu Bakar Ibnul Qoyyim al Jauziyah, Sabar Perisai Seorang Mukmin, terjemahan, Fadli, Lc, (Jakarta, Pustaka Azzam, 1999), hal.137.

[14] Muhammad bin Isma’il Abu Abdullah al Bukhary al Ja’fy, Shahih Bukhari, , (Damaskus Daar ath Thuqa an Najah, 1422H), Juz 2, hal.122.

[15] Ibnul Qoyyim al Jauziyah, ibid, hal.119.

[16] Muhammad bin Isma’il Abu Abdullah al Bukhary al Ja’fy, Al Adabul Mufrad, (Beyrut; Darul Basya’ir Islamiyah;1989), Juz 1, hal.249.

 

[17] Yusuf Sou’yb, Sejarah Daulat Khulafaur Rasyidin, (Jakarta, Bulan Bintang, 1979), hal.75

[18] Yunasril Ali, Pilar-pilar Tasawuf, (Jakarta, Kalam Mulia, 1999), hal.48.

[19] Muslim bin Hajaj Abu Hasan Al Qusyairy, Shahih Muslim, (Dar Ihya at Turats al ‘Araby, Beyrut,tt), Juz 3, hal. 1255.

[20] Yunasril Ali, op.cit, hal.49.

[21] Yusuf Sou’yb, op.cit, hal.329.

Comments


EmoticonEmoticon