oleh Wahyu Bhekti Prasojo
PENGERTIAN-PENGERTIAN
1.1
Definisi Sejarah
Dalam Kamus Umum Bahasa
Indonesia sejarah diartikan sebagai kejadian dan peristiwa yang benar-benar
terjadi pada masa yang lampau atau peristiwa penting yang benar-benar terjadi.[1]
Pengertian ini memberi tekanan pada materi peristiwa yang terjadi di masa
lampau, seolah peristiwa-peristiwa itu berdiri sendiri-sendiri, tidak saling
terkait. Padahal tidak semua peristiwa
pada masa lampau dapat dimasukkan dalam lingkup sejarah. Yang masuk kedalam
lingkup sejarah adalah kejadian, institusi dan pribadi yang mempunyai
signifikansi secara historis, yaitu yang cukup punya pengaruh terhadap orang
lain, kejadian-kejadian lain dan institusi-institusi lain, sehingga membuatnya
bermanfaat untuk diingat.[2]
Pengertian yang lebih
dinamis terkandung dalam kata history dalam bahasa Inggris yaitu; branch of
knowledge dealing with past events, political, social, economic, of the
country, continent or the world.[3]
Sedangkan dalam bahasa
Arab, sejarah disebut dengan at Tarikh (.(التاريخ
جملة الأحوال والأحداث التي يمر بها كائن ما, ويصدق على الفرد
والمجتمع, كما يصدق على الظواهر الطبيعية والإنسانية.[4]
Secara terminologis
sejarah diambil dari bahasa Arab, syajaratun, yang berarti pohon atau
silsilah, menjadi kata yang digunakan dalam bahasa Indonesia melalui
perantaraan bahasa melayu.[5] Istilah
ini kemudian banyak dikaitkan dengan silsilah, babad, tarikh, mitos, legenda
dan sebagainya. Jadi sejarah adalah riwayat masa lampau yang menjelaskan asal
dan proses suatu peristiwa.[6]
Kalimat syajarah ini
memberikan gambaran analogis petumbuhan peradaban manusia dengan pohon yang
tumbuh dari biji yang kecil menjadi pohon yang rindang dan berkesinambungan.[7] Nampaknya
pengertian yang menjelaskan makna analogis sejarah itu adalah yang ditulis Ibnu
Khaldun dalam Muqaddimahnya:
Sejarah adalah catatan
tentang masyarakat manusia atau peradaban dunia; perubahan-perubahan yang
terjadi dalam sifat masyarakat itu seperti kekejaman, keramahan, dan solidaritas
kelompok, golongan dan suku, revolusi-revolusi, pemberontakan-pemberontakan
oleh sekelompok masyarakat terhadap masyarakat lainnya yang kemudian melahirkan
kerajaan-kerajaan atau negara-negara, dengan berbagai macam tingkatannya, tentang
perbedaan kegiatan-kegiatan dan kedudukan orang, baik untuk mencari penghidupan
mereka, atau dalam berbagai ilmu pengetahuan dan pertukangan, dan pada umumnya
bagi semua perubahanan yang terjadi dalam peradaban sebagai watak dari
peradaban itu sendiri.[8]
Maka jelaslah bahwa sejarah bukan hanya berbicara tentang
peristiwa itu sendiri tetapi juga tentang hubungan-hubungan dan
dinamika-dinamika yang melatarinya dan mengiringinya.
1.2
.Sejarah sebagai Ilmu
Sejarah dikatakan sebagai
ilmu karena merupakan pengetahuan masa lampau yang disusun secara sistematis
dengan metode kajian secara ilmiah untuk mendapatkan kebenaran mengenai
peristiwa masa lampau. Sebagaimana dijelaskan Mohammad Nazir, sejarah adalah
pengetahuan yang tepat terhadap apa yang telah terjadi. Sejarah adalah
deskripsi yang terpadu dari keadaan-keadaan atau fakta-fakta masa lampau yang
tertulis berdasarkan penelitian serta studi yang kritis untuk mencari
kebenaran.[9]
Oleh karena itu, sebagai
salah satu cabang ilmu pengetahuan harus dibuktikan secara keilmuan dengan
menggunakan metode-metode dan berbagai standar ilmiah yang dapat
dipertanggungjawabkan. Kebenaran itu dapat dibuktikan dari dokumen yang telah
diuji sehingga dapat dipercaya sebagai suatu fakta sejarah. Sejarah dianggap
sebagai ilmu sebab sejarah memiliki syarat-syarat ilmu, antara lain ada masalah
yang menjadi objek, ada metode, tersusun secara sistematis, menggunakan
pemikiran yang rasional, dan kebenaran bersifat objektif.
Jika melihat hal tersebut, sejarah sebagai ilmu dapat
memenuhinya, dikarenakan: objek kajian
sejarah ialah kejadian-kejadian di masa lalu yang merupakan sebab akibat;
adanya metode sejarah yang menghubungkan bukti-bukti sejarah; kisah sejarah
tersusun secara sistematis dan kronologis; kebenaran fakta diperoleh dari
penelitian sumber yang disusun secara rasional dan kritik (penilaian) yang
sistematis; fakta bersifat subjektif karena tiap orang melihat masa lampau
dengan cara yang berbeda. Kebenaran hanya "milik" peristiwa ini
sendiri.
1.3. Kegunaan Sejarah
Dalam perspektif Al Qur’an kisah-kisah masa lampau yang
diceritakan di dalamnya, mengandung ibrah atau pembelajaran atau proses mengambil
pelajaran yang baik dari sejarah orang-orang di masa lalu oleh orang-orang di
masa kini.
لقد كان في قصصهم عبرة لأولي
الألباب ما كان حديثا يفترى ولكن تصديق الذي بين يديه وتفصيل كل شيء وهدى ورحمة
لقوم يؤمنون
Artinya:Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka
itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Qur'an itu
bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang
sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi
kaum yang beriman. (QS Yusuf 111).
Di tengah masyarakat yang luas, sejarah mempunyai arti dan
kegunaan sosial, yaitu memberi kegunaan edukatif (pelajaran), kegunaan yang
menimbulkan inspirasi (ilham), dan fungsi rekreatif (rasa yang menyenangkan).
1.3.1. Kegunaan edukatif
(sebagai pelajaran)
Mempelajari sejarah
berarti belajar dari pengalaman yang pernah dilakukan masyarakat, baik pada
masa sekarang atau masyarakat sebelumnya.[10]
Keberhasilan di masa lampau akan dapat memberi pengalaman pada masa sekarang.
Sebaliknya, kesalahan masyarakat di masa lampau akan menjadi pelajaran berharga
yang harus diwaspadai di masa kini.
Bung Karno menjelaskan dalam
Pidato beliau pada Hari Ulang Tahun Proklamasi VI[11]
sebagai berikut,
Dari mempelajari sejarah
orang bisa menemukan hukum-hukum yang menguasai kehidupan manusia. Salah satu
hukum itu ialah : bahwa tidak ada bangsa bisa menjadi besar zonder kerja.
Terbukti dalam sejarah segala zaman, bahwa kebesaran bangsa dan kemakmuran
tidak pernah jatuh gratis dari langit. Kebesaran bangsa dan kemakmuran selalu
“kristalisasi” keringat. Ini adalah hukum, yang kita temukan
dari mempelajari sejarah.
Dengan belajar sejarah kita juga dapat berbuat bijaksana
untuk menghadapi masa depan (ingat belajar sejarah akan bijaksana lebih
dahulu). Maksudnya kesalahan pada masa lalu dapat dihindarkan dan kebaikan pada
masa lalu dapat ditiru dan dimodifikasi untuk pengembangan. Oleh karena itu,
belajarlah dari sejarah karena sejarah dapat mengajarkan kita apa yang telah
dilakukan sebelumnya.
1.3.2. Kegunaan inspiratif
Berbagai kisah sejarah yang terjadi memberikan inspirasi bagi
pembaca atau pendengarnya.[12] Kisah-kisah
perjuangan yang membuahkan hasil setelah mengalami banyak kesulitan dan
penderitaan, akan membangkitkan semangat generasi sekarang untuk berjuang dan
percaya kepada hasil yang akan dicapainya. Begitu pula kisah-kisah kegagalan,
memberikan peringatan untuk menghindarinya, mengevaluasi dan memodifikasinya menjadi
keberhasilan.
1.3.3. Kegunaan rekreatif
Kisah-kisah sejarah dapat
memberikan hiburan yang segar. Dengan gaya penulisan yang komunikatif sejarah
dapat memberikan kesenangan. Maka pembaca sejarah berekreasi tanpa beranjak
dari tempat. Karena bukan hanya terhibur oleh bacaan seperti membaca novel,
pembaca sejarah juga dapat menyaksikan peristiwa-peristiwa yang telah lampau di
tempat-tempat yang dekat dan yang jauh.[13]
Proses rekreasi terhadap berbagai peristiwa di masa lampau
memungkinkan orang membuat perbandingan-perbandingan dari berbagai macam
situasi dalam ruang dan waktu yang berbeda. Peristiwa lampau memang sudah
berlalu, tetapi situasi masa kini adalah akibat dari situasi yang terjadi pada
masa lampau.[14]
Dengan demikian sejarah dapat membuat orang bercermin diri, bukan hanya bagi dirinya tetapi juga bagi
masyarakatnya.
OBYEK DAN METODE
PENELITIAN SEJARAH
2.1. Definisi Penelitian
Sejarah
Penelitian sejarah adalah
penelitian yang bertujuan merekonstruksi masa lampau secara sistematis dan
obyektif dengan cara mengumpulkan, mengevaluasi, memverifikasi serta
mensistematisasikan bukti-bukti untuk menegakkan fakta dan memperoleh
kesimpulan yang kuat.[15]
Metode sejarah digunakan sebagai metode penelitian, pada
prinsipnya bertujuan untuk menjawab enam pertanyaan (5 W dan 1 H) yang
merupakan elemen dasar penulisan sejarah, yaitu what (apa / peristiwa
apa) yang terjadi? When (kapan) terjadinya? Where (dimana) terjadinya?
Who (siapa) yang terlibat dalam peristiwa itu? Why (mengapa) peristiwa itu
terjadi? How (bagaimana) proses terjadinya peristiwa itu?[16]
2.2. Obyek dan Metode
Sejarah
Metode penelitian sejarah
adalah instrumen untuk merekonstruksi peristiwa sejarah sebagai pengalaman
empiris menjadi sejarah sebagai kisah, yaitu ketika pengalaman empiris itu telah
diberi makna dan menjadi bagian dari kesadaran sejarah masyarakatnya.[17]
Dalam proses penulisan sejarah sebagai kisah, obyeknya adalah
peristiwa-peristiwa yang digambarkan dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan
dasar yang disebutkan di atas. Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu disusun
secara deskriptif, komparatif dan analitis. Deksriptif yaitu menggambarkan
peristiwa-peristiwa berdasarkan bukti-bukti. Komparatif yaitu penggambaran peristiwa juga
mencakup usaha membandingkannya dengan realitas-realitas lain, di ruang dan
waktu yang berbeda. Analitis maksudnya berusaha memahami detail-detail hubungan
yang ada pada peristiwa yang digambarkan. Kemudian dilakukan sintesa tentang
hal-hal yang berguna bagi kekinian. Karena penulisan sejarah dituntut untuk
menghasilkan eksplanasi (kejelasan) mengenai signifikansi (arti penting) dan
makna peristiwa.
2.3. Jenis-jenis
Penelitian Sejarah[18]
Menurut M Nazir,
penelitian historis itu banyak sekali macamnya, tetapi secara umum dapat dibagi
atas empat jenis, yaitu: Penelitian Sejarah Komparatif. Yaitu penelitian
sejarah yang membandingkan factor-faktor dan fenomena-fenomena sejenis pada
suatu periode di masa yang lampau.
Kemudian, Penelitian
Yuridis atau Legal. Yaitu penelitian sejarah yang menyelidiki hal-hal yang terkait
dengan hukum, baik formal maupun nonformal, pada masa yang lalu.
Berikutnya adalah
Penelitian Biografis. Yaitu penelitian yang digunakan untuk meneliti kehidupan
seseorang dan hubungannya dengan masyarakat. Pada penelitian ini, diteliti
sifat-sifat, watak, pengaruh, baik pengaruh lingkungan maupun pengaruh
pemikiran dan ide dari subyek penelitian dalam masa hidupnya, serta pembentukan
watak figur yang diterima selama hidupnya. Sumber-sumber untuk penelitian
biografis antara lain; surat-surat peribadi, buku harian, hasil karya seseorang
tentang subyek, juga catatan-catatan teman dari subyek yang diteliti.
Yang terakhir, Penelitian Bibliografis. Yaitu penelitian
untuk mencari, menganalisis, membuat interpretasi serta generalisasi dari
fakta-fakta yang merupakan pendapat para ahli dalam suatu masalah atau suatu
organisasi. Penelitian ini mencakup hasil pemikiran dan ide yang telah ditulis
oleh para pemikir dan ahli. Termasuk menghimpun karya-karya tertentu dari
seorang penulis atau filosof dan menerbitkan kembali dokumen-dokumen unik yang
dianggap hilang dan tersembunyi, seraya memberikan interpretasi serta
generalisasi yang tepat terhadap karya-karya tersebut.
PROSES PENELITIAN SEJARAH
3.1. Pemilihan Topik
Penelitian
Suatu penelitian ilmiah
tentu berawal dari pemilihan topik yang akan diteliti. Dalam bidang sejarah,
topik penelitian harus memenuhi beberapa persyaratan.
a) Topik itu harus
menarik (interesting topic), dalam arti menarik sebagai obyek penelitian. Dalam
hal ini termasuk adanya keunikan (uniqueness topic).
b) Substansi masalah
dalam topik harus memiliki arti penting (significant topic), baik bagi ilmu
pengetahuan maupun bagi kegunaan tertentu.
c) Masalah yang tercakup
dalam topik memungkinkan untuk diteliti (manageable topic).[19]
Persyaratan ini berkaitan dengan sumber, yaitu
sumber-sumbernya dapat diperoleh. Meskipun topik sangat menarik dan memiliki
arti penting, namun bila sumber-sumbernya, khususnya sumber utama tidak
diperoleh, masalah dalam topik tidak akan dapat diteliti. Oleh karena itu calon
peneliti harus memiliki wawasan luas mengenai sumber, khususnya sumber
tertulis.
3.2. Studi Pendahuluan
Setelah topik penelitian
ditentukan, segera lakukan studi pendahuluan. Cari sumber-sumber acuan utama,
yaitu sumber-sumber yang diduga memuat data atau informasi yang relevan dengan
topik penelitian.[20]
Dengan menelaah sumber-sumber acuan utama secara efektif, peneliti akan dapat
memahami ruang lingkung penelitian, baik ruang lingkup masalah maupun ruang
lingkup temporal (waktu) dan spasial (tempat/wilayah) obyek penelitian.
Ruang lingkup penelitian itu kemudian dituangkan dalam
rencana kerangka tulisan (laporan penelitian). Sementara itu, telaah pula
bibliografi/daftar pustaka pada setiap sumber acuan utama yang berupa buku
ilmiah.[21]
Hal itu dimaksudkan untuk mendapat tambahan informasi sumbersumber yang diduga
memuat data tentang masalah yang akan diteliti. Catat identitas sumber-sumber
itu menjadi bibliografi kerja.
3.3. Langkah-langkah
Penelitian Sejarah
Penelitian sejarah yang pada dasarnya adalah penelitian
terhadap sumber-sumber sejarah, merupakan implementasi dari tahapan kegiatan
yang tercakup dalam metode sejarah, yaitu heuristik, kritik, interpretasi, dan
historiografi.[22]
Tahapan kegiatan yang disebut terakhir sebenarnya bukan kegiatan penelitian,
melainkan kegiatan penulisan sejarah (penulisan hasil penelitian).
3.3.1 Heuristik
Heuristik adalah kegiatan
mencari, menemukan dan mengumpulkan sumber data yang terkait dengan masalah
yang sedang diteliti.[23] Sumber-sumber
sejarah terdiri atas arsip, dokumen, buku, majalah/jurnal, surat kabar, dan
lain-lain. Untuk itu peneliti dapat melacaknya di tempat-tempat dokumen dan
arsip ada tersedia, seperti museum, gedung atau kantor arsip dan lain-lain.
Peneliti juga dapat mengunjungi situs-situs sejarah atau melakukan wawancara
dengan pelaku dan saksi sejarah.
Sumber-sumber sejarah dapat
dibagi sebagai berikut:
a). Jika ditinjau dari
sengaja atau tidak sengajanya sumber tersebut ditinggalkan, maka sumber sejarah
terbagi dua yaitu remain atau relics, dan dokument. Remain atau
relics adalah bahan-bahan fisik atau
tulisan yang mempunyai nilai-nilai sejarah yang terdapat tanpa suatu kesadaran
untuk menjadikannya sumber sejarah.[24]
Sedangkan dokumen adalah laporan dari kejadian-kejadian yang berisi pandangan
serta pemikiran manusia pada masa yang lalu. Dokumen dibuat secara sengaja
untuk tujuan komunikasi dan transmisi keterangan.[25]
b). Sumber sejarah dapat
juga dibedakan antara sumber tertulis dan sumber tidak tertulis. Sumber
tertulis dapat berupa dokumen-dokumen, surat peribadi, otobiografi, surat
kabar, ceritera dan babad. Sedangkan sumber tidak tertulis dapat berupa artifact,
bangunan seperti candi, makam, alat-alat dan foto-foto.[26]
c) Dari sudut urutan
penyampaiannya, sumber sejarah terbagi menjadi sumber primer dan sumber
sekunder. Sumber primer adalah sumber yang waktu pembuatannya semasa[27]
atau tidak jauh dari waktu peristiwa terjadi. Sumber sekunder adalah sumber
yang waktu pembuatannya jauh dari waktu terjadinya peristiwa[28]
atau dibuat oleh orang yang tidak sezaman dengan peristiwa sejarah.[29]
Peneliti harus mengetahui benar, mana sumber primer dan mana sumber sekunder.
Dalam pencarian sumber sejarah, sumber primer harus ditemukan, karena penulisan
sejarah ilmiah tidak cukup hanya menggunakan sumber sekunder.
d) Selain itu, menurut
Sartono Kartodirjo, sumber sejarah selain berbentuk artifact, juga dapat
berbentuk sociofact dan mentifact. Sociofact adalah fakta yang
berdimensi social misalnya jaringan interaksi antar manusia. Sedangkan
mentifact adalah fakta yang bersifat abstrak misalnya keyakinan-keyakinan dan
kepercayaan-kepercayaan.[30]
Agar pencarian sumber
berlangsung secara efektif, dua unsur penunjang heuristik harus diperhatikan.
a) Pencarian sumber harus
berpedoman pada bibliografi kerja dan kerangka tulisan. Dengan memperhatikan
permasalahan-permasalahan yang tersirat dalam kerangka tulisan (bab dan
subbab), peneliti akan mengetahui sumber-sumber yang belum ditemukan.
b)
Dalam mencari sumber di perpustakaan, peneliti wajib memahami sistem katalog
perpustakaan yang bersangkutan.
3.3.2 Kritik Sumber
Sumber untuk penulisan
sejarah ilmiah bukan sembarang sumber, tetapi sumber-sumber itu terlebih dahulu
harus dinilai melalui kritik ekstern dan kritik intern. Kritik ekstern menilai,
apakah sumber itu benar-benar sumber yang diperlukan? Apakah sumber itu asli,
turunan, atau palsu?[31]
Dengan kata lain, kritik ekstern menilai keakuratan sumber. Sedangkan Kritik
intern menilai apakah isi yang terdapat dalam sumber tersebut valid atau tidak.[32]
Tujuan utama kritik sumber adalah untuk menyeleksi data,
sehingga diperoleh fakta. Setiap data sebaiknya dicatat dalam lembaran lepas
(sistem kartu), agar memudahkan pengklasifikasiannya berdasarkan kerangka
tulisan.
3.3.3 Interpretasi
Setelah fakta untuk mengungkap dan membahas masalah yang
diteliti cukup memadai, kemudian dilakukan interpretasi, yaitu penafsiran akan
makna fakta dan hubungan antara satu fakta dengan fakta lain.[33]
Penafsiran atas fakta dilakukan agar ditemukan struktur logisnya. Interpretasi
harus mempunyai pijakan yang jelas, untuk menghindari suatu penafsiran yang
semena-mena, akibat dari pemikiran yang sempit.[34] Rekonstruksi
peristiwa sejarah harus menghasilkan sejarah yang benar atau mendekati
kebenaran. Meskipun penafsiran biasanya subyektif bergantung kepada
sejarawannya.[35]
Itulah diantara penyebab terjadinya perbedaan versi untuk satu peristiwa
sejarah yang sama.
3.3.4 Historiografi
Kegiatan terakhir dari
penelitian sejarah (metode sejarah) adalah merangkaikan fakta berikut maknanya
secara kronologis/diakronis dan sistematis, menjadikan tulisan sejarah sebagai
kisah. Kedua sifat uraian itu harus benar-benar tampak, karena kedua hal itu
merupakan bagian dari ciri karya sejarah ilmiah, sekaligus ciri sejarah sebagai
ilmu. Selain kedua hal tersebut, penulisan sejarah, khususnya sejarah yang
bersifat ilmiah, juga harus memperhatikan kaidah-kaidah penulisan karya ilmiah
umumnya.
Historiografi dewasa ini telah menggunakan pendekatan yang multidimensional,
di mana hubungan-hubungan yang terjadi dalam fakta sejarah dilacak pada
struktur masyarakat, pola kelakuan, kecendrungan proses dalam berbagai bidang
dan lain-lain. Juga dijelaskan tentang hubungan ilmu sejarah dengan ilmu-ilmu
social, seperti geografi, ilmu politik, ekonomi, sosiologi dan anthropologi.[36]
Dengan pendekatan ilmu-ilmu social, tulisan sejarah akan menjadi lebih menarik,
bukan hanya bagi kalangan sejarawan, tetapi juga ahli-ahli yang lain. Bahkan
juga menarik bagi masyarakat umum.
PROBLEMATIKA PENULISAN SEJARAH
ISLAM
4.1. Makna Sejarah Lokal
dalam kaitannya dengan Sejarah Dunia
Sejarah Islam masih
seringkali difahami sebagai sejarah local yang dibicarakan secara terpisah dari
keseluruhan lanskap sejarah dunia yang besar dan global. Seolah jika menulis
sejarah Islam, maka itu bukanlah tulisan tentang sejarah dunia. Situasi ini seperti
yang dipaparkan oleh Sejarawan Henri Cordier sebagai berikut,
Orang-orang barat dengan cara sepihak telah
menyempitkan sejarah dunia dengan mengelompokkan pihak kecil yang mereka
ketahui penyebaran ras manusianya berada di sekitar bangsa-bangsa Israel,
Yunani dan Romawi. Jadi mereka telah mengabaikan semua musafir dan peneliti
yang berlayar mengarungi Lautan Cina dan Samudra Hindia, atau melakukan
perjalanan melintasi wilayah-wilayah luas di Asia Tengah sampai Teluk Persia.
Sebenarnya, lebih sebagian bumi ini, memuat kebudayaan-kebudayaan yang berbeda
dari kebudayaan-kebudayaan Yunani dan Romawi tanpa berkurang tingkat
peradabannya. Tetapi kebudayaan-kebudayaan tersebut tetap tidak diketahui oleh
mereka yang hanya menulis sejarah dunianya yang kecil, walaupun ada kesan bahwa
mereka telah menulis sejarah dunia.[37]
Sebagai contoh, masih
banyak sejarawan atau guru sejarah yang memaknai sejarah Indonesia sebagai
sejarah local, bukan sejarah internasional. Seolah Indonesia bukan bagian dari
dunia, dan tidak punya pengaruh apa-apa terhadap dinamika internasional.
Ketidakpahaman ini menurut Ahmad Manshur Suryanegara disebabkan tidak ada kesadaran
wilayah dalam pembentukan kesadaran sejarah suatu bangsa.[38]
Padahal sejarah Indonesia sebagai peristiwa sejarah, terjadi pada ruang seluas
seperenam lingkaran bumi. Jika diukur, luas seluruh provinsi di Indonesia lebih
besar dari gabungan luas negara-negara Eropa. Wilayah Indonesia barat ke timur,
yaitu dari Sabang sampai Merauke itu sama dengan panjang dari London ke Baghdad.
Sedangkan dari utara ke selatan, yaitu Talaud sampai Pulau Rotee, sama
panjangnya dengan Berlin hingga Aljazair. Kesadaran wilayah ini akan membantu
kita memberi makna yang lebih kuat dan tepat pada kesadaran sejarah local kita
dalam konstelasi sejarah internasional.
Selanjutnya dengan pendekatan multidimensional, sejarah local
suatu wilayah menuntut untuk dibahas tanpa memisahkannya dengan sejarah-sejarah
local yang lainnya. Karena tidak ada suatu bangsa atau kelompok masyarakat
dapat terhindar dari kontak dengan bangsa atau kelompok lain, dan saling
mempengaruhi. Sebagai contoh, bukankah sudah sejak sangat lama Eropa
mengandalkan kebutuhan rempah-rempahnya dari Asia Tenggara khususnya Nusantara,
lebih khususnya lagi, kepulauan Maluku? Yang mana Eropa memperolehnya dari para
pedagang Arab yang mereka beli dengan mata uang Emas Byzantium yang emasnya
mereka dapatkan juga dari Asia Timur.[39]
4.2. Ketergantungan dan
Tantangan Ilmiyah Penulisan Ulang Sejarah Islam
Mengikut pandangan Henri
Cordier, Barat seperti sengaja mengecilkan makna luas dan
pentingnya peranan Timur. Dunia pemberitaan dari Barat tidak memberikan porsi
yang benar terhadap peristiwa sejarah di wilayah Asia-Afrika. Anthony Smith,
menjelaskan bagaimana upaya Barat mendominasi Timur dengan membuat rasio
pemberitaan 96 persen untuk Barat dan menyisakan 4 persen untuk Timur. Ditambah
lagi dengan mendistorsikan kebenarannya.[40]
Pada kasus Indonesia,
sejarahnya masih memakai makna peninggalan penjajah Belanda yang cenderung
menggambarkan Belanda dengan skala besar, dan sebaliknya mengecilkan gambaran
Indonesia. Pengecilan ini masih terasa gemanya, sehingga penyebutan wilayah di
luar Indonesia berarti global dan internasional. Sedangkan Indonesia seolah
hanyalah suatu wilayah di sudut Asia.
Sejarawan Barat sangat giat dan bersemangat dalam penulisan sejarah
Timur dan Islam, dengan berbagai motifnya. Dari mulai motif-motif ilmu
pengetahuan semata sampai dengan motif-motif penjajahan bahkan motif-motif
kristenisasi.[41]
Untuk itu mereka sangat tekun dalam mengumpulkan dan membuat catatan-catatan
data dan sumber sejarah. Suatu pekerjaan yang disayangkan Bung Karno tidak ada
dalam kebiasaan ulama dan da’i pelopor
islamisasi Indonesia.[42]
Sehingga sejarah Indonesia (terutama
sejarah Islam) lebih banyak ditulis berdasarkan sumber-sumber yang dibuat oleh
lembaga-lembaga Asing yang menjajah Indonesia seperti EIC milik Inggris dan VOC
milik Belanda.
KESIMPULAN
Penelitian sejarah harus
dilandasi atau berpedoman pada kaidah-kaidah metode sejarah. Jika tidak,
penelitian itu hanya akan menghasilkan tulisan sejarah semi ilmiah atau bahkan
sejarah populer. Oleh karena itu calon peneliti sejarah harus memahami
kaidah-kaidah metode sejarah dan mampu mengimplementasikannya, agar penelitian
itu menghasilkan karya sejarah ilmiah.
Penulisan sejarah ilmiah
dituntut untuk menghasilkan eksplanasi mengenai permasalahan yang dibahas.
Eksplanasi itu diperoleh melalui analisis. Untuk mempertajam analisis, dalam
proses penulisan sejarah, aplikasi metode dan teori sejarah perlu ditunjang
oleh teori dan/atau konsep ilmu-ilmu sosial yang relevan (sosiologi,
antropologi, ekonomi, politik, dll.). Dengan kata lain, penulisan sejarah yang
dituntut memberikan eksplanasi mengenai masalah yang dibahas, perlu dilakukan
secara interdisipliner dengan menggunakan pendekatan multidimensional
(multidimensional approach). Hal itu sesuai dengan ciri-ciri dan karakteristik
sejarah sebagai ilmu.
Oleh karena itu,
penelitian sejarah dan hasilnya dapat membantu penelitian dan pengembangan
kebudayaan. Sejarah mengkaji aspek-aspek kehidupan manusia di masa lampau,
termasuk kebudayaan.
DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, Taufik, Islam
dan Masyarakat, Pantulan Sejarah Indonesia, LP3ES, Jakarta, 1996.
Assamurai, Qassim, Bukti-bukti
Kebohongan Orientalis, alih bahasa Syuhudi Ismail dkk, Gema Insani
Press, Jakarta, 1996.
Dunn, Ross E., Petualangan
Ibnu Batutah, Seorang Musafir Muslim Abad ke 14, alih bahasa Amir
Sutaarga, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, 1995.
Hariyono, Mempelajari
Sejarah Secara Efektif, Dunia
Pustaka Jaya, Jakarta, 1995.
Hornby, A.S., etc, The
Advanced Learner’s Dictionary of Current English, Oxford University
Press, 1973.
Khaldun, Ibnu, Muqaddimah
Ibnu Khaldun, alih bahasa Ahmadie Thaha, Pustaka Firdaus, Jakarta, 2001.
Musthafa, Ibrahim dkk, Al
Mu’jam Al Wasith, Al Maktabah Al Islamiyah li Tiba’ah wa an
Nasyr wa at Tawzi’, Istambul, 1972.
Nata, Abuddin, Metodologi
Studi Islam, Rajawali Press, Jakarta, 2009.
Nazir, Mohammad, Metode Penelitian,
Ghalia Indonesia, Bogor, 2009.
Purwadarminta, W.J.S., Kamus
Umum Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta,1991.
Suryabrata, Sumadi, Metodologi
Penelitian, Rajawali Press, Jakarta, 2012.
Suryanegara, Ahmad
Manshur, Menemukan Sejarah, Wacana Peregarakan Islam di Indonesia,
Mizan, Bandung, 1995.
Tjandrasasmita, Uka, Naskah
Klasik dan Penerapannya Bagi Kajian Sejarah Islam di Indonesia,
Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Kementrian
Agama RI, 2012.
[1] W.J.S. Purwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta,1991, hal.887.
[2] Hariyono, Mempelajari Sejarah Secara Efektif, Dunia Pustaka Jaya, Jakarta, 1995, hal.88.
[3] A.S. Hornby, etc, The Advanced Learner’s Dictionary of Current English, Oxford University Press, 1973, p. 469.
[4] Ibrahim Musthafa dkk, Al Mu’jam Al Wasith, Al Maktabah Al Islamiyah li Tiba’ah wa an Nasyr wa at Tawzi’, Istambul, 1972, hal.13.
[5] Hariyono, Mempelajari Sejarah Secara Efektif, op.cit, hal.51.
[6] Hariyono, ibid, hal.51.
[7] Ahmad Manshur Suryanegara, Menemukan Sejarah, Wacana Peregarakan Islam di Indonesia, Mizan, Bandung, 1995, hal.21.
[8]Ibnu Khaldun, Muqaddimah Ibnu Khaldun, alih bahasa Ahmadie Thaha, Pustaka Firdaus, Jakarta, 2001, h.57.
[9] Mohammad Nazir, Metode Penelitian, Ghalia Indonesia, Bogor, 2009, h. 48.
[10] Hariyono, Mempelajari Sejarah Secara Efaktif, op.cit, hal. 192.
[11] Ahmad Manshur Suryanegara, Menemukan Sejarah, op.cit, hal. 20.
[12] Hariyono, ibid, hal. 193.
[13] Hariyono, Ibid, hal.195.
[14] Hariyono, Ibid, hal.196.
[15] Sumadi Suryabrata, Metodologi Penelitian, Rajawali Press, Jakarta, 2012, hal.73.
[16] Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam, Rajawali Press, Jakarta, 2009, hal.362.
[17] Taufik Abdullah, Islam dan Masyarakat, Pantulan Sejarah Indonesia, LP3ES, Jakarta, 1996, hal. 161.
[18] Mohammad Nazir, Metode Penelitian, op.cit, hal. 52-53.
[19] M. Nazir, ibid, hal.53.
[20] Hariyono, op.cit, hal. 114.
[21] Hariyono, ibid, hal.114.
[22] Hariyono, Mempelajari Sejarah Secara Efektif, op.cit, hal 109.
[23] Hariyono, loc.cit, hal.109.
[24] M.Nazir, Metode Penelitian, op.cit. hal. 49.
[25] M.Nazir, loc.cit, hal. 49.
[26] Didin Saefuddin Buchori, Metodologi Studi Islam, Granada Sarana Pustaka, Bogor, 2005, hal. 60.
[27] Didin Saefuddin Buchori, loc.cit, hal.60.
[28] M.Nazir, op.cit, hal.50.
[29] Didin Saefuddin Buchori, loc.cit, hal.60.
[30] Didin Saefuddin Buchori, ibid, hal. 61.
[31] Hariyono, op.cit, hal. 110.
[32] Hariyono, loc.cit, hal.110.
[33] Uka Tcandrasasmita, op.cit, hal.32.
[34] Hariyono, loc.cit, hal. 110.
[35] Didin Saefuddin Buchori, loc.cit, 61.
[36] Uka Tjandrasasmita, op.cit, hal.35.
[37] Ross E. Dunn, Petualangan Ibnu Batutah, Seorang Musafir Muslim Abad ke 14, alih bahasa Amir Sutaarga, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, 1995, hal.xxxv.
[38] Ahmad Manshur Suryanegara, op.cit, hal.65.
[39] Qassim Assamurai, Bukti-bukti Kebohongan Orientalis, alih bahasa Syuhudi Ismail dkk, Gema Insani Press, Jakarta, 1996, hal. 42.
[40] Ahmad Manshur Suryanegara, op.cit,hal.67.
[41] Qasim Assamurai, op.cit, hal 138.
[42] Ahmad Manshur Suryanegara, op.cit, hal.73.