Kaum Nabi Nuh bernama Bani Rasib.[1]
Menurut Al-Qur’an bahwa pada zaman Nabi Nuh pembelahan masyarakat sangat kentara
antara yang miskin dan yang kaya. Kebanyakan kalangan kaya menolak dakwah, berbeda
dengan kalangan bawah yang kebanyakan mereka menerima dakwah. Bahkan kelompok
orang kaya dan bangsawan tidak hanya menolak dakwah, mereka juga mengejek setiap
ajakan kebaikan dan merendahkan orang-orang yang mengajak kepada perbaikan. Situasi
pembelahan strata sosial memperburuk penolakan mereka karena tidak mau dipersamakan
dengan orang-orang miskin. Mereka merasa lebih mulia dan tidak layak bersama
orang yang lebih rendah derajatnya.
فقال الملأ الذين كفروا من قومه ما نراك إلا بشرا مثلنا وما نراك
اتبعك إلا الذين هم أراذلنا بادي الرأي وما نرى لكم علينا من فضل بل نظنكم كاذبين
Maka berkatalah pemimpin-pemimpin yang kafir dari kaumnya:
"Kami tidak melihat kamu, melainkan (sebagai) seorang manusia (biasa)
seperti kami, dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti kamu melainkan
orang-orang yang hina dina di antara kami yang lekas percaya saja, dan kami
tidak melihat kamu memiliki sesuatu kelebihan apa pun atas kami, bahkan kami
yakin bahwa kamu adalah orang-orang yang dusta". (QS Huud [11] : 27)
Bermulanya
Paganisme dan Politheisme
Menurut Ibnu Katsir, jarak antara Nabi
Nuh dan Nabi Adam adalah 10 abad atau seribu tahun, yang mana selama itu pada umumnya ummat manusia beriman dan menyembah Allah.[2]
Sepeninggal Nabi Idris as, mulailah manusia ada yang ingkar
dan menyimpang dari
ajaran tauhid para Nabi. Adapula
yang baik sehingga dicintai kaum kerabatnya dan orang-orang yang tinggal
disekitarnya. Di antara mereka itu adalah Wad, Suwa’, Yaghut, Ja’uuq dan Nash.
Dengan maksud
untuk mengenang jasa-jasa mereka dan untuk mengingatkan semangat peribadatan
umat ketika itu, maka dibuatlah patung, gambar, simbol-simbol visualisasi fisik
mereka. Pada awalnya mereka hanya mengagumi patung-patung itu sebagai
orang-orang soleh yang berjasa bagi mereka. Inilah asal muasal nama-nama
berhala itu diambil.
Kemudian pada generasi berikutnya
beredarlah dongeng-dongeng tentang kehebatan orang-orang yang dipatungkan itu.
Dongeng dan mitos itu berkembang sedemikian rupa sehingga mempengaruhi cara
berfikir masyarakat. Pada tahap inilah patung-patung itu dipercayai memiliki
kekuatan mistik yang dapat memberi manfaat dan bahaya bagi mereka.[3]
Mereka berbuat yang demikian itu dikarenakan kejahilan dan menuruti hawa nafsu.
Maka dimulailah bentuk peribadatan yang
menyimpang dari ajaran tauhid. Dengan bergantinya generasi, patung-patung itu
justru disembah dan dijadikan tuhan. Mereka menjadikan berhala-berhala sebagai
Tuhan tempat meminta kebaikan dan tempat menolak bala. Berhala menjadi tempat
bergantung segala sesuatu dalam kehidupan mereka. Mereka meminta dan memanggil
berhala-berhala itu dengan beragam nama. Kadang dengan nama Wadda, Suwaa’, dan
Yaghuts. Kadang dengan nama Ya’uq, atau Nasr –nama-nama berhala ini diwarisi
masyarakat Arab di masa jahiliyah.
وقالوا لا تذرن آلهتكم ولا تذرن ودا ولا سواعا ولا يغوث ويعوق ونسرا
Dan mereka berkata, “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan
(penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan
(penyembahan) Wadd, dan jangan pula Suwaa’, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr.” (QS.Nuh[71]: 23).
Selain
menyembah berhala, kaum ini juga menyembah bintang-bintang, yang menandai arah
untuk melakukan perjalanan pada malam hari. Mereka memuliakan berhala nenek
moyang mereka dengan maksud agar berhala-berhala itu dapat menjadi perantara
antara mereka dengan bintang-bintang itu.[4]
Dalam
situasi masyarakat seperti itulah Nabi Nuh a.s. diutus. Allah
mengutus Nabi Nuh karena ummat manusia mulai menyembah berhala, sesungguhnya tidak dapat memberi
manfaat atau menyebabkan kecelekaan bagi mereka. Mereka tersesat dan dengan sengaja
mengingkari KeEsaan Allah. Allah mengutus beliau
sebagai rahmat bagi ummat manusia. Beliau adalah Rasul pertama yang diutus
kemuka bumi.[5]
Dalam masalah
ini, menurut Ali Ash Shabuny[6],
kebanyakan ulama berargumen dengan ayat pertama surat Nuh (surat nomor 71)[7]
dan sebuah hadits Nabi saw yang dicatat oleh Bukhari dan Muslim[8].
Yaitu hadits yang menyebutkan nama nabi-nabi yang dimintai syafa’atnya oleh
manusia pada saat dikumpulkan di padang mahsyar.
Daftar Pustaka
Arifin, Bey, Rangkaian
Cerita dalam Al Qur’an, Al Ma’arif, Bandung, 1952.
Al Bukhari, Muhammad bin Ismail, Shahih
Bukhari, Dar al Thuqa al Najah, 1422H.
Hajaj, Muslim bin, Shahih Muslim, Dar
Ihya al Turats al ‘Araby, Beyrut, tt.
Katsir, Ibnu, Qashashul Anbiya’,
alih bahasa M Abdul Ghofar, Pustaka Azzam, Jakarta, 2008.
Ash
Shabuny, Muhammad Ali, An Nubuwah wal Anbiya’ ,
Darul Fatah al Islamiy, Iskandariyah, 1390 H.
Thabarah, Afiif Abdul Fattah, Ma’a al
Anbiya fii al Quran al Karim, Dar al ‘Ilmi li al Malayiin, Beyrut, 1981.
[1] Ibnu Katsir, Qashashul Anbiya’, alih bahasa M Abdul
Ghofar, Pustaka Azzam, Jakarta, 2008,, hlm. 80.
[2] Ibnu Katsir, ibid, hlm.79.
[3]Bey Arifin, Rangkaian Cerita dalam Al
Qur’an, Al Ma’arif, Bandung, 1952, hlm.44.
[4]Afiif Abdul Fattah
Thabarah, Ma’a al Anbiya fii al Quran al Karim, Dar al ‘Ilmi li
al Malayiin, Beyrut, 1981, hlm.61.
[5] Ibnu Katsir, op.cit, hlm.80.
[6] Muhammad Ali Ash Shabuny, An Nubuwah wal Anbiya’ , Darul Fatah al Islamiy, Iskandariyah, 1390
H, hlm.134.
[7] إِنَّا أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ أَنْ أَنْذِرْ قَوْمَكَ
مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
[8] Lihat Shahih Bukhari (Dar al Thuqa al Najah, 1422H) Juz 4 hlm.134, hadits nomor 3340 dan Shahih Muslim (Dar Ihya al Turats al ‘Araby, Beyrut), Juz 1, hlm.184, hadits nomor 194.