MASYARAKAT NABI NUH, Bermulanya Paganisme dan Politheisme - Saungpikir

Thursday, December 9, 2021

MASYARAKAT NABI NUH, Bermulanya Paganisme dan Politheisme


 


oleh Wahyu B. Prasojo

Kaum Nabi Nuh bernama Bani Rasib.[1] Menurut Al-Qur’an bahwa pada zaman Nabi Nuh pembelahan masyarakat sangat kentara antara yang miskin dan yang kaya. Kebanyakan kalangan kaya menolak dakwah, berbeda dengan kalangan bawah yang kebanyakan mereka menerima dakwah. Bahkan kelompok orang kaya dan bangsawan tidak hanya menolak dakwah, mereka juga mengejek setiap ajakan kebaikan dan merendahkan orang-orang yang mengajak kepada perbaikan. Situasi pembelahan strata sosial memperburuk penolakan mereka karena tidak mau dipersamakan dengan orang-orang miskin. Mereka merasa lebih mulia dan tidak layak bersama orang yang lebih rendah derajatnya. 

فقال الملأ الذين كفروا من قومه ما نراك إلا بشرا مثلنا وما نراك اتبعك إلا الذين هم أراذلنا بادي الرأي وما نرى لكم علينا من فضل بل نظنكم كاذبين

Maka berkatalah pemimpin-pemimpin yang kafir dari kaumnya: "Kami tidak melihat kamu, melainkan (sebagai) seorang manusia (biasa) seperti kami, dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti kamu melainkan orang-orang yang hina dina di antara kami yang lekas percaya saja, dan kami tidak melihat kamu memiliki sesuatu kelebihan apa pun atas kami, bahkan kami yakin bahwa kamu adalah orang-orang yang dusta". (QS Huud [11] : 27)

Bermulanya Paganisme dan Politheisme

Menurut Ibnu Katsir, jarak antara Nabi Nuh dan Nabi Adam adalah 10 abad atau seribu tahun, yang mana selama itu pada umumnya ummat manusia beriman dan menyembah Allah.[2] Sepeninggal Nabi Idris as, mulailah manusia ada yang ingkar dan menyimpang dari ajaran tauhid para Nabi. Adapula yang baik sehingga dicintai kaum kerabatnya dan orang-orang yang tinggal disekitarnya. Di antara mereka itu adalah Wad, Suwa’, Yaghut, Ja’uuq dan Nash.

Dengan maksud untuk mengenang jasa-jasa mereka dan untuk mengingatkan semangat peribadatan umat ketika itu, maka dibuatlah patung, gambar, simbol-simbol visualisasi fisik mereka. Pada awalnya mereka hanya mengagumi patung-patung itu sebagai orang-orang soleh yang berjasa bagi mereka. Inilah asal muasal nama-nama berhala itu diambil.

Kemudian pada generasi berikutnya beredarlah dongeng-dongeng tentang kehebatan orang-orang yang dipatungkan itu. Dongeng dan mitos itu berkembang sedemikian rupa sehingga mempengaruhi cara berfikir masyarakat. Pada tahap inilah patung-patung itu dipercayai memiliki kekuatan mistik yang dapat memberi manfaat dan bahaya bagi mereka.[3] Mereka berbuat yang demikian itu dikarenakan kejahilan dan menuruti hawa nafsu.

Maka dimulailah bentuk peribadatan yang menyimpang dari ajaran tauhid. Dengan bergantinya generasi, patung-patung itu justru disembah dan dijadikan tuhan. Mereka menjadikan berhala-berhala sebagai Tuhan tempat meminta kebaikan dan tempat menolak bala. Berhala menjadi tempat bergantung segala sesuatu dalam kehidupan mereka. Mereka meminta dan memanggil berhala-berhala itu dengan beragam nama. Kadang dengan nama Wadda, Suwaa’, dan Yaghuts. Kadang dengan nama Ya’uq, atau Nasr –nama-nama berhala ini diwarisi masyarakat Arab di masa jahiliyah.

وقالوا لا تذرن آلهتكم ولا تذرن ودا ولا سواعا ولا يغوث ويعوق ونسرا

Dan mereka berkata, “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) Wadd, dan jangan pula Suwaa’, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr.” (QS.Nuh[71]: 23).

          Selain menyembah berhala, kaum ini juga menyembah bintang-bintang, yang menandai arah untuk melakukan perjalanan pada malam hari. Mereka memuliakan berhala nenek moyang mereka dengan maksud agar berhala-berhala itu dapat menjadi perantara antara mereka dengan bintang-bintang itu.[4]

Dalam situasi masyarakat seperti itulah Nabi Nuh a.s. diutus. Allah mengutus Nabi Nuh karena ummat manusia mulai menyembah berhala, sesungguhnya tidak dapat memberi manfaat atau menyebabkan kecelekaan bagi mereka. Mereka tersesat dan dengan sengaja mengingkari KeEsaan Allah. Allah mengutus beliau sebagai rahmat bagi ummat manusia. Beliau adalah Rasul pertama yang diutus kemuka bumi.[5]

Dalam masalah ini, menurut Ali Ash Shabuny[6], kebanyakan ulama berargumen dengan ayat pertama surat Nuh (surat nomor 71)[7] dan sebuah hadits Nabi saw yang dicatat oleh Bukhari dan Muslim[8]. Yaitu hadits yang menyebutkan nama nabi-nabi yang dimintai syafa’atnya oleh manusia pada saat dikumpulkan di padang mahsyar.

Daftar Pustaka

Arifin, Bey, Rangkaian Cerita dalam Al Qur’an, Al Ma’arif, Bandung, 1952.

Al Bukhari, Muhammad bin Ismail, Shahih Bukhari, Dar al Thuqa al Najah, 1422H.

Hajaj,  Muslim bin, Shahih Muslim, Dar Ihya al Turats al ‘Araby, Beyrut, tt.

Katsir, Ibnu, Qashashul Anbiya’, alih bahasa M Abdul Ghofar, Pustaka Azzam, Jakarta, 2008.

Ash Shabuny, Muhammad Ali, An Nubuwah wal Anbiya’ , Darul Fatah al Islamiy, Iskandariyah, 1390 H.

Thabarah, Afiif Abdul Fattah, Ma’a al Anbiya fii al Quran al Karim, Dar al ‘Ilmi li al Malayiin, Beyrut, 1981.



[1] Ibnu Katsir, Qashashul Anbiya’, alih bahasa M Abdul Ghofar, Pustaka Azzam, Jakarta, 2008,, hlm. 80.

[2] Ibnu Katsir, ibid, hlm.79.

[3]Bey Arifin, Rangkaian Cerita dalam Al Qur’an, Al Ma’arif, Bandung, 1952, hlm.44.

[4]Afiif Abdul Fattah Thabarah, Ma’a al Anbiya fii al Quran al Karim, Dar al ‘Ilmi li al Malayiin, Beyrut, 1981, hlm.61.

[5] Ibnu Katsir, op.cit, hlm.80.

[6] Muhammad Ali Ash Shabuny,  An Nubuwah wal Anbiya’ , Darul Fatah al Islamiy, Iskandariyah, 1390 H, hlm.134.

[7] إِنَّا أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ أَنْ أَنْذِرْ قَوْمَكَ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

[8] Lihat Shahih Bukhari (Dar al Thuqa al Najah, 1422H) Juz 4 hlm.134, hadits nomor 3340 dan Shahih Muslim (Dar Ihya al Turats al ‘Araby, Beyrut), Juz 1, hlm.184, hadits nomor 194. 

Comments


EmoticonEmoticon