Kesombongan adalah penyakit yang membinasakan. Bayangkan jika semua
orang di dunia ini saling meremehkan dan melecehkan. Maka tidak ada lagi saling
menghormati di antara manusia. Tidak ada sopan santun, tida ada kewibawaan.
Bagaimana jika itu terjadi? Atau bagaimana jika semua orang menolak kebenaran
yang disampaikan padanya? Maka tidak ada orang yang dapat saling memahami satu
sama lain? Bagaimana akan terwujud kerja sama di antara manusia jika mereka
tidak saling memahami?
Imam Ghazali berpandangan bahwa tidak seorangpun manusia dapat
terhindar darinya, maka menghilangkan kesombongan adalah fardhu ‘ain. Ia tidak
bisa dihilangkan hanya dengan berangan-angan, melainkan dengan upaya yang
sungguh-sungguh untuk mengikisnya.[1]
Dalam pengobatannya beliau menganjurkan dua maqam atau
tingkatan, yaitu yang pertama mengikis akar-akarnya dan mencabut pohonnya dari
tempat tanamnya di dalam hati. Yang kedua, menolak hal-hal yang muncul darinya
dengan factor-faktor khusus yang dipakai manusia untuk menyombongkan diri.
Maqam pertama bisa
dicapai dengan ‘ilaj ‘ilmi dan ‘ilaj ‘amali.[2]’Ilaj
‘ilmi adalah dengan mengenal hakikat dirinya dan Tuhannya. Jika ia mengenal
hakikat ketuhanan Allah maka ia akan menyadari bahwa kesombongan hanya layak
bagi Allah. Syaikh Ibnu Atha’illah mengatakan tawadhu’ yang hakiki lahir
lantaran menyaksikan kebesaran Allah dan penyingkapan sifatNya. Tiada sesuatu
pun yang dapat mengeluarkan dirimu dari keangkuhanmu, selain jika engkau
menyaksikan sifat Allah.[3]
Kemudian apabila ia sudah memahami hakikat dirinya secara benar,
yaitu betapa hina dirinya, sudah cukup untuk mengikis kesombongan dari hatinya.
من أي شيء خلقه من نطفة خلقه فقدره
Tidakkah mereka lihat dari apa Allah menciptakan mereka pertama
kali? Allah menciptakan mereka dari air yang sedikit, yaitu mani, kemudian
ditentukan baginya umurnya. (QS Abasa 18-19)
Mengapa ia
menyombongkan diri, merasa cukup dan berpaling? Dari apa ia diciptakan? Ia
berasal dari sesuatu yang rendah dan tidak berharga. Seluruh nilai yang melekat
padanya berasal dari karunia Allah, nikmat, ketentuan dan pengaturanNya. Dari
sesuatu yang tidak bernilai sama sekali. Dari asal mula yang tidak berharga
sama sekali.[4] Dari sanalah asal kejadian itu, yakni dipertemukan air
bapak dengan air ibu, bertemu di dalam rahim ibu, lalu berpadu jadi satu,
menjadi satu nuthfah, yang berarti segumpal air. Setelah 40 hari pula sesudah
itu dia pun menjelma menjadi segumpal daging.[5]
Imam Ali bin Abi Thalib Karamallahu wajhahu
mengatakan;
كيف يفخر الإنسان وقد خرج من موضع البول مرتين. [6]
“Bagaimana manusia itu bisa menjadi angkuh dan
arogan sedangkan dia keluar dari tempat keluarnya kencing dua kali”.
‘Ilaj ‘amali adalah dengan
bersikap tawadhu’ kepada Allah dengan amal ibadah, dan tawadhu’ kepada
makhluq dengan senantiasa menjaga akhlaq orang-orang yang tawadhu’.Dalam al
Mu’jam al Wasith dijelaskan bahwa tawadhu’ berasal dari tawadha’a, yakni
tadzallalu wa takhaasya’u (menghinakan atau merendahkan diri dan
menundukkan diri).[7]
Tawadhu’ tidak dapat dicapai setelah pengetahuan kecuali dengan
beramal shalih. Itulah sebabnya orang-orang Arab yang menyombongkan diri
terhadap Allah dan RasulNya diperintahkan untuk beriman dan shalat.[8]
Senada dengan pandangan Al Ghazali di atas, Maulana Syah Waris
Hasan menjelaskan bahwa untuk menanamkan kepribadian tingkat tinggi, seseorang
harus rendah hati. Pendekatan terbaik kepada penguasa tertinggi, yaitu Allah
subahanahu wata’ala adalah dengan kerendahan hati. Keta’atan kepada syari’at
merupakan kerendahan hati yang paling efektif..[9]
Untuk itulah sebenarnya tujuan-tujuan dari ibadah-ibadah
disyari’atkan dalam agama Islam. Bukankah sholat yang lima waktu tiada lain
adalah ungkapan kerendahan hati? Lima kali sehari kita mengalihkan perhatian
dari kesibukan dunia, menundukkan kepala, membungkukkan badan, menyungkurkan
wajah, sambil melantunkan puji-pujian, penghormatan dan harapan-harapan kita
kepada Allah. Begitu pula setiap tahun kita berpuasa, menyisihkan substansi
duniawi kita kepada sebagian orang yang membutuhkan dengan zakat, atau kita
melepas predikat-predikat duniawi kita dan menggantinya dengan pakaian ihram,
bukankah itu adalah jalan kepada kerendahan hati? Syaikh Ibnu Atha’illah
menjelaskan perihal ini dalam butiran hikmahnya, seorang mukmin yang sibuk
memuji Allah hingga lupa memuji dirinya sendiri, dan ia disibukkan pula oleh
hak-hak Allah, hingga tak ingat kepentingannya sendiri.[10]
Tetapi Maulana Syah Waris Hasan mengingatkan bahwa betapa sibuknya
kita dengan itu semua, Allah tidak senang jika hati kita masih kusut, kotor dan
bau. Meskipun penampilan kita mungkin tampak rapi, tetapi jika karakter kita
jelek, jika kita suka berbicara tentang keburukan orang lain, menceritakan
kebohongan, gossip dan cemburu, mencoba merugikan orang lain, tamak kepada
hal-hal duniawi, dengan tingkah laku dan kebiasaan-kebiasaan buruk, Allah tidak
akan menganggap kita dengan serius.[11]
Imam Ghazali menganjurkan setelah manusia bersungguh-sungguh
beramal maka ia harus menyempurnakannya dengan melakukan ujian bagi upayanya
mengikis kesombongan itu pada moment-moment takabbur itu muncul mengganggu
jiwanya. Imam Ghazali menyebutnya imtihan,[12]
yaitu :
1.
Hendaklah
ia mengkaji permasalahan dengan seorang temannya. Jika kebenaran terungkap dari
temannya itu, dan ia merasa berat untuk mengakui, menerima, mematuhi, dan
mensyukurinya sebagai suatu peringatan baginya, maka dalam hatinya ada
kesombongan.
2.
Hendaklah
ia mengadakan perkumpulan dengan sanak saudaranya, teman-temannya, dalam
berbagai acara. Jika ia merasa berat untuk mendahulukan mereka, berjalan di
belakang mereka atau duduk di tempat yang lebih rendah dari mereka, maka ada
kesombongan dalam hatinya.
3.
Jika
ia merasa berat memenuhi undangan orang miskin, merasa enggan membantu
orang-orang miskin dan kerabat mereka, maka di hatinya ada kesombongan.
4.
Jika
ia merasa enggan membawa sendiri barang keperluannya, keperluan keluarganya
atau kawan-kawannya, maka itu adalah riya’ dan kesombongan.
5.
Hendaklah
ia memakai pakaian jelek, yang murah dan kasar. Jika ia enggan memakainya di
hadapan orang banyak maka itu adalah riya’, jika ia enggan memakainya di tempat
sepi maka itu adalah kesombongan.
BELAJAR DARI RASULULLAH
Allah
swt berfirman,
لقد كان لكم في رسول الله أسوة حسنة لمن كان يرجو الله
واليوم الآخر وذكر الله كثيرا
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang
baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan)
hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.(QS Al Ahzab
21)
Sungguh telah
sepakat orang-orang yang hidup bersama Nabi saw, dan melihat risalahnya bahwa
beliau selalu mendahului mengucap salam kepada para sahabatnya. Mengarahkan
wajahnya pada lawan bicaranya, baik dengan orang dewasa atau anak kecil. Beliau
selalu belakangan menarik tangannya ketika berjabat tangan. Bila datang
terlambat selalu duduk di manapun tempat yang masih tersisa.[13]
Tidak
pernah enggan mengerjakan pekerjaan buruh dan kuli bangunan, seperti pada
pembangunan Masjid Nabawi juga ketika menggali parit pada Perang Khandaq. Selalu
menghadiri undangan baik dari orang merdeka, hamba sahaya atau ummat pada
umumnya dan selalu memberi idzin pada
orang yang punya udzur.
Beliau biasa
pergi ke pasar membawa sendiri barang keperluannya. Suka menambal baju,
memperbaiki sandal dan membantu pekerjaan istri-istrinya. Selalu mengikat
untanya sendiri, makan bersama pembantunya. Membantu mengatasi kebutuhan orang
lemah dan fakir serta biasa duduk di lantai bersama mereka.
واخفض جناحك لمن اتبعك من المؤمنين
dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu,
yaitu orang-orang yang beriman.(QS Asy
Syu’ara 215)
Hendaklah para da’i adalah
orang-orang yang terlebih dahulu menyucikan jiwanya sebelum orang lain. Selalu
menuduh dirinya sebelum menuduh orang lain. Lebih cepat kepada amal kebaikan
ketimbang orang lain. Senantiasa menyadari bahwa godaan hawa nafsu selalu
mengintainya tanpa lelah, menunggu saat dirinya lengah.
Maka
hendaklah ia senantiasa mengingat akan perjanjiannya dengan Allah dalam kalimat
syahadatnya, bahwa ia tidak akan pernah menyekutukan Allah sepanjang hidupnya.
Hendaklah
ia selalu merasakan keagungan Allah Azza wa Jalla dalam setiap waktu dan
keadaannya, bahwa Kebesaran Allah itu selalu menyertainya di kala ramai atau
pun sepi.
Hendaklah
ia menghisab dirinya ketika beramal, apakah ia bertujuan menggapai ridho
Allah dengannya? Atau ada sesuatu yang lain? Apakah kehidupannya hari ini sudah
sesuai dengan perintah dan larangan Allah dan RasulNya?
Hendaklah
ia menuduh dirinya sendiri dan menghukumnya jika menemukan dirinya dalam
keadaan bersalah, karena membiarkan kesalahannya sendiri tanpa hukuman akan
mempermudah datangnya kesalahan demi kesalahan berikutnya.
Hendaklah
ia memaksa diri, hati dan jiwanya untuk melawan kemalasan, kelalaian, dan
godaan-godaan hawa nafsunya dengan melakukan kebaikan yang lebih banyak, segera
begitu disadarinya bahwa ia sedang diliputi malas dan lalai.
Daftar Pustaka
Hamka, Tafsir Al Azhar, Pustaka Panji Mas, Jakarta,
1988.
Hasan, Maulana Syah Waris, A Guide for Spiritual Asprants,
alih bahasa Munir MA, Penerbit Marja, Bandung, 2012.
Hawwa, Sa’id, Mensucikan Jiwa, Intisari Ihya’ Ulumuddin, alih
bahasa Aunur Rafiq Saleh Tamhid, Robbani Press, Jakarta,2001.
___________, Rambu-rambu Jalan Ruhani, Syarah al Hikam Syaikh Ibnu
Atha’illah as Sakandary, alih bahasa Imran Affandi, Robbani Press,
Jakarta, 2002.
al Maraghy, Ahmad bin Musthofa, Tafsir
Al Maraghy, Syirkah Maktabah wa Mathba’ah Musthofa al Baaby al Halaby
wa Awladuhu bi Misr, 1946.
Musthafa, Ibrahim dkk, Al Mu’jam al
Wasith, AlMaktabah al Islamiyah li at Tiba’ah wa Nasyr wa Tauzi’,
Istambul, Turki, 1972.
Quthb, Sayyid, Fii Dzhilal al Al Qur’an,
alih bahasa Aunur Rafiq Saleh Tamhid, Robbani Press, Jakarta, 2011.
‘Ulwan, Abdullah
Nashih, Tarbiyah Akhlaqiyah, alih bahasa Abu Muthi’ah,
Amal Sehat Press, 1994.
[1] Sa’id Hawwa, Mensucikan
Jiwa, Intisari Ihya’ Ulumuddin, alih bahasa Aunur Rafiq Saleh Tamhid,
Robbani Press, Jakarta,2001, hlm.242.
[2] ibid. 2001.hlm.242
[3] Sa’id Hawwa, Rambu-rambu Jalan Ruhani,
Syarah al Hikam Syaikh Ibnu Atha’illah as Sakandary, alih bahasa Imran
Affandi, Robbani Press, Jakarta, 2002, hlm.593.
[4] Sayyid Quthb, Fii Dzhilal al Al Qur’an,
alih bahasa Aunur Rafiq Saleh Tamhid, Robbani Press, Jakarta, 2011, jilid
13,hlm. 126
[5] Hamka, Tafsir Al Azhar, Pustaka
Panji Mas, Jakarta, 1988, Juz 30, hlm.20.
[6]Ahmad bin Musthofa Al Maraghy, Tafsir
Al Maraghy, Syirkah Maktabah wa Mathba’ah Musthofa al Baaby al Halaby
wa Awladuhu bi Misr, 1946, Juz 30, hlm.45.
[7]
Ibrahim Musthafa dkk, Al Mu’jam al Wasith, AlMaktabah al
Islamiyah li at Tiba’ah wa Nasyr wa Tauzi’, Istambul, Turki, 1972, hlm.1040
[8] Sa’id Hawwa, op.cit. 2001, hlm.242.
[9] Maulana Syah Waris Hasan, A Guide for
Spiritual Asprants, alih bahasa Munir MA, Penerbit Marja,
Bandung, 2012, hlm.38. Hadrad Maulana Syah Sayyid
Waris Hasan (1282-1355 H) adalah pemimpin Chistiya Silsala. Ia lahir di Darul
Aulia dan sangat dikenal sebagai wali di kawasan India.
[10] Sa’id Hawwa, op.cit, 2002, hlm.593.
[11] Ibid, 2002, hlm. 40.
[12] Sa’id Hawwa, op.cit,2001, hlm. 243-244
[13] Abdullah Nashih ‘Ulwan, Tarbiyah
Akhlaqiyah, alih bahasa Abu Muthi’ah, Amal Sehat Press, 1994, h
57.