Mencapai Tawaddhu’, Mengikis Kesombongan - Saungpikir

Friday, December 24, 2021

Mencapai Tawaddhu’, Mengikis Kesombongan

wahyu bhekti prasojo

Kesombongan adalah penyakit yang membinasakan. Bayangkan jika semua orang di dunia ini saling meremehkan dan melecehkan. Maka tidak ada lagi saling menghormati di antara manusia. Tidak ada sopan santun, tida ada kewibawaan. Bagaimana jika itu terjadi? Atau bagaimana jika semua orang menolak kebenaran yang disampaikan padanya? Maka tidak ada orang yang dapat saling memahami satu sama lain? Bagaimana akan terwujud kerja sama di antara manusia jika mereka tidak saling memahami?

Imam Ghazali berpandangan bahwa tidak seorangpun manusia dapat terhindar darinya, maka menghilangkan kesombongan adalah fardhu ‘ain. Ia tidak bisa dihilangkan hanya dengan berangan-angan, melainkan dengan upaya yang sungguh-sungguh untuk mengikisnya.[1]

Dalam pengobatannya beliau menganjurkan dua maqam atau tingkatan, yaitu yang pertama mengikis akar-akarnya dan mencabut pohonnya dari tempat tanamnya di dalam hati. Yang kedua, menolak hal-hal yang muncul darinya dengan factor-faktor khusus yang dipakai manusia untuk menyombongkan diri.

Maqam pertama bisa dicapai dengan ‘ilaj ‘ilmi dan ‘ilaj ‘amali.[2]’Ilaj ‘ilmi adalah dengan mengenal hakikat dirinya dan Tuhannya. Jika ia mengenal hakikat ketuhanan Allah maka ia akan menyadari bahwa kesombongan hanya layak bagi Allah. Syaikh Ibnu Atha’illah mengatakan tawadhu’ yang hakiki lahir lantaran menyaksikan kebesaran Allah dan penyingkapan sifatNya. Tiada sesuatu pun yang dapat mengeluarkan dirimu dari keangkuhanmu, selain jika engkau menyaksikan sifat Allah.[3]

Kemudian apabila ia sudah memahami hakikat dirinya secara benar, yaitu betapa hina dirinya, sudah cukup untuk mengikis kesombongan dari hatinya.

من أي شيء خلقه من نطفة خلقه فقدره

Tidakkah mereka lihat dari apa Allah menciptakan mereka pertama kali? Allah menciptakan mereka dari air yang sedikit, yaitu mani, kemudian ditentukan baginya umurnya. (QS Abasa 18-19)

Mengapa ia menyombongkan diri, merasa cukup dan berpaling? Dari apa ia diciptakan? Ia berasal dari sesuatu yang rendah dan tidak berharga. Seluruh nilai yang melekat padanya berasal dari karunia Allah, nikmat, ketentuan dan pengaturanNya. Dari sesuatu yang tidak bernilai sama sekali. Dari asal mula yang tidak berharga sama sekali.[4] Dari sanalah asal kejadian itu, yakni dipertemukan air bapak dengan air ibu, bertemu di dalam rahim ibu, lalu berpadu jadi satu, menjadi satu nuthfah, yang berarti segumpal air. Setelah 40 hari pula sesudah itu dia pun menjelma menjadi segumpal daging.[5]

Imam Ali bin Abi Thalib Karamallahu wajhahu mengatakan;

 كيف يفخر الإنسان وقد خرج من موضع البول مرتين. [6]

Bagaimana manusia itu bisa menjadi angkuh dan arogan sedangkan dia keluar dari tempat keluarnya kencing dua kali”.

‘Ilaj ‘amali adalah dengan bersikap tawadhu’ kepada Allah dengan amal ibadah, dan tawadhu’ kepada makhluq dengan senantiasa menjaga akhlaq orang-orang yang tawadhu’.Dalam al Mu’jam al Wasith dijelaskan bahwa tawadhu’ berasal dari tawadha’a, yakni tadzallalu wa takhaasya’u (menghinakan atau merendahkan diri dan menundukkan diri).[7]

Tawadhu’ tidak dapat dicapai setelah pengetahuan kecuali dengan beramal shalih. Itulah sebabnya orang-orang Arab yang menyombongkan diri terhadap Allah dan RasulNya diperintahkan untuk beriman dan shalat.[8]

Senada dengan pandangan Al Ghazali di atas, Maulana Syah Waris Hasan menjelaskan bahwa untuk menanamkan kepribadian tingkat tinggi, seseorang harus rendah hati. Pendekatan terbaik kepada penguasa tertinggi, yaitu Allah subahanahu wata’ala adalah dengan kerendahan hati. Keta’atan kepada syari’at merupakan kerendahan hati yang paling efektif..[9]

Untuk itulah sebenarnya tujuan-tujuan dari ibadah-ibadah disyari’atkan dalam agama Islam. Bukankah sholat yang lima waktu tiada lain adalah ungkapan kerendahan hati? Lima kali sehari kita mengalihkan perhatian dari kesibukan dunia, menundukkan kepala, membungkukkan badan, menyungkurkan wajah, sambil melantunkan puji-pujian, penghormatan dan harapan-harapan kita kepada Allah. Begitu pula setiap tahun kita berpuasa, menyisihkan substansi duniawi kita kepada sebagian orang yang membutuhkan dengan zakat, atau kita melepas predikat-predikat duniawi kita dan menggantinya dengan pakaian ihram, bukankah itu adalah jalan kepada kerendahan hati? Syaikh Ibnu Atha’illah menjelaskan perihal ini dalam butiran hikmahnya, seorang mukmin yang sibuk memuji Allah hingga lupa memuji dirinya sendiri, dan ia disibukkan pula oleh hak-hak Allah, hingga tak ingat kepentingannya sendiri.[10]

Tetapi Maulana Syah Waris Hasan mengingatkan bahwa betapa sibuknya kita dengan itu semua, Allah tidak senang jika hati kita masih kusut, kotor dan bau. Meskipun penampilan kita mungkin tampak rapi, tetapi jika karakter kita jelek, jika kita suka berbicara tentang keburukan orang lain, menceritakan kebohongan, gossip dan cemburu, mencoba merugikan orang lain, tamak kepada hal-hal duniawi, dengan tingkah laku dan kebiasaan-kebiasaan buruk, Allah tidak akan menganggap kita dengan serius.[11]

Imam Ghazali menganjurkan setelah manusia bersungguh-sungguh beramal maka ia harus menyempurnakannya dengan melakukan ujian bagi upayanya mengikis kesombongan itu pada moment-moment takabbur itu muncul mengganggu jiwanya. Imam Ghazali menyebutnya imtihan,[12] yaitu :

1.      Hendaklah ia mengkaji permasalahan dengan seorang temannya. Jika kebenaran terungkap dari temannya itu, dan ia merasa berat untuk mengakui, menerima, mematuhi, dan mensyukurinya sebagai suatu peringatan baginya, maka dalam hatinya ada kesombongan.

2.      Hendaklah ia mengadakan perkumpulan dengan sanak saudaranya, teman-temannya, dalam berbagai acara. Jika ia merasa berat untuk mendahulukan mereka, berjalan di belakang mereka atau duduk di tempat yang lebih rendah dari mereka, maka ada kesombongan dalam hatinya.

3.      Jika ia merasa berat memenuhi undangan orang miskin, merasa enggan membantu orang-orang miskin dan kerabat mereka, maka di hatinya ada kesombongan.

4.      Jika ia merasa enggan membawa sendiri barang keperluannya, keperluan keluarganya atau kawan-kawannya, maka itu adalah riya’ dan kesombongan.

5.      Hendaklah ia memakai pakaian jelek, yang murah dan kasar. Jika ia enggan memakainya di hadapan orang banyak maka itu adalah riya’, jika ia enggan memakainya di tempat sepi maka itu adalah kesombongan.

 

BELAJAR DARI RASULULLAH

            Allah swt berfirman,

لقد كان لكم في رسول الله أسوة حسنة لمن كان يرجو الله واليوم الآخر وذكر الله كثيرا

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.(QS Al Ahzab 21)

Sungguh telah sepakat orang-orang yang hidup bersama Nabi saw, dan melihat risalahnya bahwa beliau selalu mendahului mengucap salam kepada para sahabatnya. Mengarahkan wajahnya pada lawan bicaranya, baik dengan orang dewasa atau anak kecil. Beliau selalu belakangan menarik tangannya ketika berjabat tangan. Bila datang terlambat selalu duduk di manapun tempat yang masih tersisa.[13]

            Tidak pernah enggan mengerjakan pekerjaan buruh dan kuli bangunan, seperti pada pembangunan Masjid Nabawi juga ketika menggali parit pada Perang Khandaq. Selalu menghadiri undangan baik dari orang merdeka, hamba sahaya atau ummat pada umumnya dan selalu memberi idzin pada  orang yang punya udzur.

Beliau biasa pergi ke pasar membawa sendiri barang keperluannya. Suka menambal baju, memperbaiki sandal dan membantu pekerjaan istri-istrinya. Selalu mengikat untanya sendiri, makan bersama pembantunya. Membantu mengatasi kebutuhan orang lemah dan fakir serta biasa duduk di lantai bersama mereka.

واخفض جناحك لمن اتبعك من المؤمنين

dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman.(QS Asy Syu’ara 215)

            Hendaklah para da’i adalah orang-orang yang terlebih dahulu menyucikan jiwanya sebelum orang lain. Selalu menuduh dirinya sebelum menuduh orang lain. Lebih cepat kepada amal kebaikan ketimbang orang lain. Senantiasa menyadari bahwa godaan hawa nafsu selalu mengintainya tanpa lelah, menunggu saat dirinya lengah.

Maka hendaklah ia senantiasa mengingat akan perjanjiannya dengan Allah dalam kalimat syahadatnya, bahwa ia tidak akan pernah menyekutukan Allah sepanjang hidupnya.

            Hendaklah ia selalu merasakan keagungan Allah Azza wa Jalla dalam setiap waktu dan keadaannya, bahwa Kebesaran Allah itu selalu menyertainya di kala ramai atau pun sepi.

            Hendaklah ia menghisab dirinya ketika beramal, apakah ia bertujuan menggapai ridho Allah dengannya? Atau ada sesuatu yang lain? Apakah kehidupannya hari ini sudah sesuai dengan perintah dan larangan Allah dan RasulNya?

            Hendaklah ia menuduh dirinya sendiri dan menghukumnya jika menemukan dirinya dalam keadaan bersalah, karena membiarkan kesalahannya sendiri tanpa hukuman akan mempermudah datangnya kesalahan demi kesalahan berikutnya.

            Hendaklah ia memaksa diri, hati dan jiwanya untuk melawan kemalasan, kelalaian, dan godaan-godaan hawa nafsunya dengan melakukan kebaikan yang lebih banyak, segera begitu disadarinya bahwa ia sedang diliputi malas dan lalai.

Daftar Pustaka

Hamka, Tafsir Al Azhar, Pustaka Panji Mas, Jakarta, 1988.

Hasan, Maulana Syah Waris, A Guide for Spiritual Asprants, alih bahasa Munir MA, Penerbit Marja, Bandung, 2012.

Hawwa, Sa’id, Mensucikan Jiwa, Intisari Ihya’ Ulumuddin, alih bahasa Aunur Rafiq Saleh Tamhid, Robbani Press, Jakarta,2001.

___________, Rambu-rambu Jalan Ruhani, Syarah al Hikam Syaikh Ibnu Atha’illah as Sakandary, alih bahasa Imran Affandi, Robbani Press, Jakarta, 2002.

al Maraghy, Ahmad bin Musthofa, Tafsir Al Maraghy, Syirkah Maktabah wa Mathba’ah Musthofa al Baaby al Halaby wa Awladuhu bi Misr, 1946.

Musthafa, Ibrahim dkk, Al Mu’jam al Wasith, AlMaktabah al Islamiyah li at Tiba’ah wa Nasyr wa Tauzi’, Istambul, Turki, 1972.

Quthb, Sayyid, Fii Dzhilal al Al Qur’an, alih bahasa Aunur Rafiq Saleh Tamhid, Robbani Press, Jakarta, 2011.

‘Ulwan, Abdullah Nashih, Tarbiyah Akhlaqiyah, alih bahasa Abu Muthi’ah, Amal Sehat Press, 1994.



[1] Sa’id Hawwa, Mensucikan Jiwa, Intisari Ihya’ Ulumuddin, alih bahasa Aunur Rafiq Saleh Tamhid, Robbani Press, Jakarta,2001, hlm.242.

[2] ibid. 2001.hlm.242

[3] Sa’id Hawwa, Rambu-rambu Jalan Ruhani, Syarah al Hikam Syaikh Ibnu Atha’illah as Sakandary, alih bahasa Imran Affandi, Robbani Press, Jakarta, 2002, hlm.593.

[4] Sayyid Quthb, Fii Dzhilal al Al Qur’an, alih bahasa Aunur Rafiq Saleh Tamhid, Robbani Press, Jakarta, 2011, jilid 13,hlm. 126

[5] Hamka, Tafsir Al Azhar, Pustaka Panji Mas, Jakarta, 1988, Juz 30, hlm.20.

[6]Ahmad bin Musthofa Al Maraghy, Tafsir Al Maraghy, Syirkah Maktabah wa Mathba’ah Musthofa al Baaby al Halaby wa Awladuhu bi Misr, 1946, Juz 30, hlm.45.

[7]  Ibrahim Musthafa dkk, Al Mu’jam al Wasith, AlMaktabah al Islamiyah li at Tiba’ah wa Nasyr wa Tauzi’, Istambul, Turki, 1972, hlm.1040

[8] Sa’id Hawwa, op.cit. 2001, hlm.242.

[9] Maulana Syah Waris Hasan, A Guide for Spiritual Asprants, alih bahasa Munir MA, Penerbit Marja, Bandung, 2012, hlm.38. Hadrad Maulana Syah Sayyid Waris Hasan (1282-1355 H) adalah pemimpin Chistiya Silsala. Ia lahir di Darul Aulia dan sangat dikenal sebagai wali di kawasan India.

[10] Sa’id Hawwa, op.cit, 2002, hlm.593.

[11] Ibid, 2002, hlm. 40.

[12] Sa’id Hawwa, op.cit,2001, hlm. 243-244

[13] Abdullah Nashih ‘Ulwan, Tarbiyah Akhlaqiyah, alih bahasa Abu Muthi’ah, Amal Sehat Press, 1994, h 57.

Comments


EmoticonEmoticon