Wahyu Bhekti Prasojo
Untuk mengobati penyakit ini Imam Al Ghazali menjelaskan dua maqam,
yaitu yang pertama mencabut akar-akar penyebabnya dan menggusur
pondasi-pondasinya. Untuk dapat melakukan hal ini orang perlu tahu tentang
bahaya yang dikandungnya. Kemudian ia mengisi jiwanya dengan gambaran-gambaran
kenikmatan di sisi Allah di akhirat nanti. Jika ia meyakininya dan
berkonsentrasi untuk mendapatkannya maka akan ringanlah segala ukuran-ukuran
yang berlaku di dunia.[1]
Sehingga ia tidak memerlukan lagi penilaian orang terhadapnya.
قل إنما أنا بشر مثلكم يوحى إلي أنما إلهكم إله واحد فمن
كان يرجو لقاء ربه فليعمل عملا صالحا ولا يشرك بعبادة ربه أحدا
Katakanlah: "Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia
seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu
adalah Tuhan Yang Esa". Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya
maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shaleh dan janganlah ia mempersekutukan
seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya". (QS
Al Kahfi 110)
Maqam yang kedua
adalah bersegera menolak hal yang ditimbulkan riya’ ketika beribadah. [2]Gangguan
riya’ dan sum’ah ini berlangsung terus menerus sepanjang hidup. Maka diperlukan
upaya keras yang terus menerus untuk melawannya. Manusia harus selalu ingat
bahwa riya’ ini selalu mengintainya. Begitu terasa godaannya ia harus segera
memupusnya dari dalam hatinya.
Imam al Ghazali
menganjurkan untuk berlatih membiasakan dirinya menyembunyikan berbagai ibadah
sampai ia betul-betul merasakan pengawasan Allah dalam ibadahnya. Tidak ada
obat yang paling mujarab melawan riya’ kecuali menyembunyikan ibadah di hadapan
makhluq. Ini adalah sesuatu yang berat pada awal mujahadah, tetapi jika ia
bersabar tentu kesulitannya akan berkurang dan terasa mudah baginya dengan
dukungan taufiq dan hidayah allah.[3]
إن الله لا يغير ما بقوم حتى يغيروا ما بأنفسهم
Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga
mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. QS
Ar Ra’du 11)
إن الله لا يضيع أجر المحسنين
Sesungguhnya
Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik,(QS At Taubah
120)
إن الله لا يظلم مثقال ذرة وإن تك حسنة يضاعفها ويؤت من
لدنه أجرا عظيما
Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar
zarrah, dan jika ada kebajikan sebesar zarrah, niscaya Allah akan melipat gandakannya
dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar.(QS
An Nisaa 40)
Daftar Pustaka
Hawwa, Sa’id, Mensucikan Jiwa, Intisari Ihya’ Ulumuddin, alih
bahasa Aunur Rafiq Saleh Tamhid, Robbani Press, Jakarta,2001
[1] Sa’id, Hawwa, Mensucikan Jiwa, Intisari Ihya’
Ulumuddin, alih bahasa Aunur Rafiq Saleh Tamhid, Robbani Press,
Jakarta,2001h.194.
[2] ibid, h.195.
[3] ibid, h.194.