Terapi Riya’ dan Sum’ah - Saungpikir

Monday, December 20, 2021

Terapi Riya’ dan Sum’ah




Wahyu Bhekti Prasojo

Untuk mengobati penyakit ini Imam Al Ghazali menjelaskan dua maqam, yaitu yang pertama mencabut akar-akar penyebabnya dan menggusur pondasi-pondasinya. Untuk dapat melakukan hal ini orang perlu tahu tentang bahaya yang dikandungnya. Kemudian ia mengisi jiwanya dengan gambaran-gambaran kenikmatan di sisi Allah di akhirat nanti. Jika ia meyakininya dan berkonsentrasi untuk mendapatkannya maka akan ringanlah segala ukuran-ukuran yang berlaku di dunia.[1] Sehingga ia tidak memerlukan lagi penilaian orang terhadapnya.

قل إنما أنا بشر مثلكم يوحى إلي أنما إلهكم إله واحد فمن كان يرجو لقاء ربه فليعمل عملا صالحا ولا يشرك بعبادة ربه أحدا

Katakanlah: "Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa". Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shaleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya". (QS Al Kahfi 110) 

Maqam yang kedua adalah bersegera menolak hal yang ditimbulkan riya’ ketika beribadah. [2]Gangguan riya’ dan sum’ah ini berlangsung terus menerus sepanjang hidup. Maka diperlukan upaya keras yang terus menerus untuk melawannya. Manusia harus selalu ingat bahwa riya’ ini selalu mengintainya. Begitu terasa godaannya ia harus segera memupusnya dari dalam hatinya.

Imam al Ghazali menganjurkan untuk berlatih membiasakan dirinya menyembunyikan berbagai ibadah sampai ia betul-betul merasakan pengawasan Allah dalam ibadahnya. Tidak ada obat yang paling mujarab melawan riya’ kecuali menyembunyikan ibadah di hadapan makhluq. Ini adalah sesuatu yang berat pada awal mujahadah, tetapi jika ia bersabar tentu kesulitannya akan berkurang dan terasa mudah baginya dengan dukungan taufiq dan hidayah allah.[3]

إن الله لا يغير ما بقوم حتى يغيروا ما بأنفسهم

Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. QS Ar Ra’du 11)

إن الله لا يضيع أجر المحسنين

Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik,(QS At Taubah 120)

إن الله لا يظلم مثقال ذرة وإن تك حسنة يضاعفها ويؤت من لدنه أجرا عظيما

Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah, dan jika ada kebajikan sebesar zarrah, niscaya Allah akan melipat gandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar.(QS An Nisaa 40)

Daftar Pustaka

Hawwa, Sa’id, Mensucikan Jiwa, Intisari Ihya’ Ulumuddin, alih bahasa Aunur Rafiq Saleh Tamhid, Robbani Press, Jakarta,2001



[1] Sa’id, Hawwa, Mensucikan Jiwa, Intisari Ihya’ Ulumuddin, alih bahasa Aunur Rafiq Saleh Tamhid, Robbani Press, Jakarta,2001h.194.

[2] ibid, h.195.

[3] ibid, h.194. 

Comments


EmoticonEmoticon