wahyu b prasojo
Jika
dilihat berdasarkan pihak yang disombongi, maka ia terbagi kepada tiga
tingkatan yaitu:
a.
Sombong
kepada Allah. Ini merupakan bentuk kesombongan yang paling keji. Penyebabnya
adalah kebodohan dan pembangkangan. Seperti yang diceritakan pada kisah-kisah
para penguasa yang zhalim seperti Namruz atau Fir’aun.
سأصرف عن آياتي الذين يتكبرون في الأرض
بغير الحق وإن يروا كل آية لا يؤمنوا بها وإن يروا سبيل الرشد لا يتخذوه سبيلا وإن
يروا سبيل الغي يتخذوه سبيلا ذلك بأنهم كذبوا بآياتنا وكانوا عنها غافلين
Aku
akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa
alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku. Mereka jika melihat tiap-tiap
ayat (Ku), mereka tidak beriman kepadanya. Dan jika mereka melihat jalan yang
membawa kepada petunjuk, mereka tidak mau menempuhnya, tetapi jika mereka
melihat jalan kesesatan, mereka terus menempuhnya. Yang demikian itu adalah
karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka selalu lalai daripadanya.(QS
Al A’raf 146)
b.
Sombong
kepada Rasul, yaitu dengan enggannya jiwa untuk mengikuti dan mematuhi.
Kadang-kadang keengganannya itu karena ia menolak membuka mata fikirannya
sehingga ia merasa dirinya benar lalu tidak mau mengikuti ajaran para nabi.
Terkadang ia enggan begitu saja padahal ia tahu kebenarannya.
وقال الذين لا يرجون لقاءنا لولا أنزل علينا الملائكة أو
نرى ربنا لقد استكبروا في أنفسهم وعتو عتوا كبيرا
Berkatalah orang-orang yang tidak
menanti-nanti pertemuan (nya) dengan Kami: "Mengapakah tidak diturunkan
kepada kita malaikat atau (mengapa) kita (tidak) melihat Tuhan kita?"
Sesungguhnya mereka memandang besar tentang diri mereka dan mereka benar-benar
telah melampaui batas (dalam melakukan) kedzaliman. (QS Al Furqan 21)
Bangsa
Quraisy mengingkari Muhammad sebagai utusan Tuhan. Mereka berkata, “Allah
terlalu agung untuk mengangkat seorang rasul dari kalangan manusia.” Setelah
berulangkali Allah menunjukkan hujjah kepada mereka, mereka masih saja berkata,
‘Kalau pun manusia, ada selain Muhammad yang tentu lebih berhak menerima risalah.’
وقالوا لولا نزل هذا القرآن
على رجل من القريتين عظيم
Dan mereka
berkata: "Mengapa Al Qur'an ini tidak diturunkan kepada seorang besar
(kaya dan berpengaruh) dari salah satu dua negeri (Mekah dan Taif) ini? (QS
Az Zukhruf 31)
Kata mereka, ‘Yang lebih mulia dari pada Muhammad.’ Yang mereka
maksud adalah Walid bin Mughirah dari Mekkah dan Mas’ud bin Am rats Tsaqafi
dari Thaif.[2]
Bahkan mereka mengatakan, bagaimana Allah mengirimkan seorang anak yatim kepada
kami?[3]
Maka Allah membantah mereka,
أهم
يقسمون رحمة ربك نحن قسمنا بينهم معيشتهم في الحياة الدنيا ورفعنا بعضهم فوق بعض
درجات ليتخذ بعضهم بعضا سخريا ورحمت ربك خير مما يجمعون
“Apakah
mereka yang membagi-bagikan rahmat Tuhanmu…” (Az Zukhruf:32)
c.
Sombong
terhadap manusia. Yaitu dengan menganggap diri lebih terhormat dan melecehkan
orang lain sehingga tidak mau patuh kepada mereka, meremehkan dan tidak mau
sejajar dengan mereka. Walaupun lebih rendah dari yang pertama dan kedua,
kesombongan ini juga berbahaya. Karena sesungguhnya kesombongan dan keangkuhan
hanya milik Allah. Manusia sesungguhnya lemah tidak punya kuasa apa-apa. Maka
barangsiapa sombong sesungguhnya ia telah menantang Allah. Maka Allah
mengisyaratkannya,
العظمة إزاري
والكبرياء ردائي فمن نازعني فيهما قصمته[4]
“Kebesaran
adalah sarungKu, dan kesombongan adalah selendangKu. Barangsiapa melawanKu pada
keduanya niscaya Aku hancurkan dia.”
Maksudnya,
kesombongan dan kebesaran adalah sifat yang khusus bagi Allah saja. Tidak ada
selainNya yang boleh mensifati dirinya dengan itu. Orang yang menggunakan sifat
itu dalam hidupnya maka ia telah menantang Allah dengan memaksa untuk memakai
atribut Allah.
Daftar Pustaka
al Ghazali, Abu
Hamid Muhammad bin Muhammad ath Thusy, Ihya
Ulumuddin, Daar al Ma’rifah Beyrut, tt.
Hawwa, Sa’id, Mensucikan Jiwa, Intisari Ihya’ Ulumuddin, alih
bahasa Aunur Rafiq Saleh Tamhid, Robbani Press, Jakarta,2001
as Suyuthi, Jalaluddin,
Al Lubab an Nuqul fii Asbab an Nuzul, alih bahasa Tim Abdul
Hayie, Gema Insani Press, Jakarta, 2008.
[1]Sa’id Hawwa, Mensucikan Jiwa, Intisari
Ihya’ Ulumuddin, alih bahasa Aunur Rafiq Saleh Tamhid, Robbani Press,
Jakarta,2001,hlm. 230-233
[2] Jalaluddin as Suyuthi, Al Lubab an
Nuqul fii Asbab an Nuzul, alih bahasa Tim Abdul Hayie, Gema Insani
Press, Jakarta, 2008, h. 311.
[3] Sa’id Hawwa, op.cit, h.232.
[4] Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al Ghazali ath Thusy, Ihya Ulumuddin, Daar al Ma’rifah Beyrut, tt, Juz 3, hlm. 346.