Tingkat-tingkat Kesombongan[1] - Saungpikir

Friday, December 24, 2021

Tingkat-tingkat Kesombongan[1]





wahyu b prasojo

Jika dilihat berdasarkan pihak yang disombongi, maka ia terbagi kepada tiga tingkatan yaitu:

a.                   Sombong kepada Allah. Ini merupakan bentuk kesombongan yang paling keji. Penyebabnya adalah kebodohan dan pembangkangan. Seperti yang diceritakan pada kisah-kisah para penguasa yang zhalim seperti Namruz atau Fir’aun.

سأصرف عن آياتي الذين يتكبرون في الأرض بغير الحق وإن يروا كل آية لا يؤمنوا بها وإن يروا سبيل الرشد لا يتخذوه سبيلا وإن يروا سبيل الغي يتخذوه سبيلا ذلك بأنهم كذبوا بآياتنا وكانوا عنها غافلين

Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku. Mereka jika melihat tiap-tiap ayat (Ku), mereka tidak beriman kepadanya. Dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka tidak mau menempuhnya, tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka terus menempuhnya. Yang demikian itu adalah karena mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka selalu lalai daripadanya.(QS Al A’raf 146)

 

b.                  Sombong kepada Rasul, yaitu dengan enggannya jiwa untuk mengikuti dan mematuhi. Kadang-kadang keengganannya itu karena ia menolak membuka mata fikirannya sehingga ia merasa dirinya benar lalu tidak mau mengikuti ajaran para nabi. Terkadang ia enggan begitu saja padahal ia tahu kebenarannya.

وقال الذين لا يرجون لقاءنا لولا أنزل علينا الملائكة أو نرى ربنا لقد استكبروا في أنفسهم وعتو عتوا كبيرا

Berkatalah orang-orang yang tidak menanti-nanti pertemuan (nya) dengan Kami: "Mengapakah tidak diturunkan kepada kita malaikat atau (mengapa) kita (tidak) melihat Tuhan kita?" Sesungguhnya mereka memandang besar tentang diri mereka dan mereka benar-benar telah melampaui batas (dalam melakukan) kedzaliman. (QS Al Furqan 21)

Bangsa Quraisy mengingkari Muhammad sebagai utusan Tuhan. Mereka berkata, “Allah terlalu agung untuk mengangkat seorang rasul dari kalangan manusia.” Setelah berulangkali Allah menunjukkan hujjah kepada mereka, mereka masih saja berkata, ‘Kalau pun manusia, ada selain Muhammad yang tentu lebih berhak menerima risalah.’

وقالوا لولا نزل هذا القرآن على رجل من القريتين عظيم

Dan mereka berkata: "Mengapa Al Qur'an ini tidak diturunkan kepada seorang besar (kaya dan berpengaruh) dari salah satu dua negeri (Mekah dan Taif) ini? (QS Az Zukhruf 31)

Kata mereka, ‘Yang lebih mulia dari pada Muhammad.’ Yang mereka maksud adalah Walid bin Mughirah dari Mekkah dan Mas’ud bin Am rats Tsaqafi dari Thaif.[2] Bahkan mereka mengatakan, bagaimana Allah mengirimkan seorang anak yatim kepada kami?[3] Maka Allah membantah mereka,

أهم يقسمون رحمة ربك نحن قسمنا بينهم معيشتهم في الحياة الدنيا ورفعنا بعضهم فوق بعض درجات ليتخذ بعضهم بعضا سخريا ورحمت ربك خير مما يجمعون

“Apakah mereka yang membagi-bagikan rahmat Tuhanmu…” (Az Zukhruf:32)

c.                   Sombong terhadap manusia. Yaitu dengan menganggap diri lebih terhormat dan melecehkan orang lain sehingga tidak mau patuh kepada mereka, meremehkan dan tidak mau sejajar dengan mereka. Walaupun lebih rendah dari yang pertama dan kedua, kesombongan ini juga berbahaya. Karena sesungguhnya kesombongan dan keangkuhan hanya milik Allah. Manusia sesungguhnya lemah tidak punya kuasa apa-apa. Maka barangsiapa sombong sesungguhnya ia telah menantang Allah. Maka Allah mengisyaratkannya,

العظمة إزاري والكبرياء ردائي فمن نازعني فيهما قصمته[4]

“Kebesaran adalah sarungKu, dan kesombongan adalah selendangKu. Barangsiapa melawanKu pada keduanya niscaya Aku hancurkan dia.”

 

Maksudnya, kesombongan dan kebesaran adalah sifat yang khusus bagi Allah saja. Tidak ada selainNya yang boleh mensifati dirinya dengan itu. Orang yang menggunakan sifat itu dalam hidupnya maka ia telah menantang Allah dengan memaksa untuk memakai atribut Allah.

Daftar Pustaka

al Ghazali, Abu Hamid Muhammad bin Muhammad  ath Thusy, Ihya Ulumuddin, Daar al Ma’rifah Beyrut, tt.

Hawwa, Sa’id, Mensucikan Jiwa, Intisari Ihya’ Ulumuddin, alih bahasa Aunur Rafiq Saleh Tamhid, Robbani Press, Jakarta,2001

as Suyuthi, Jalaluddin, Al Lubab an Nuqul fii Asbab an Nuzul, alih bahasa Tim Abdul Hayie, Gema Insani Press, Jakarta, 2008.



[1]Sa’id Hawwa, Mensucikan Jiwa, Intisari Ihya’ Ulumuddin, alih bahasa Aunur Rafiq Saleh Tamhid, Robbani Press, Jakarta,2001,hlm. 230-233

[2] Jalaluddin as Suyuthi, Al Lubab an Nuqul fii Asbab an Nuzul, alih bahasa Tim Abdul Hayie, Gema Insani Press, Jakarta, 2008, h. 311.

[3] Sa’id Hawwa, op.cit, h.232.

[4] Abu Hamid Muhammad bin Muhammad  Al Ghazali ath Thusy, Ihya Ulumuddin, Daar al Ma’rifah Beyrut, tt, Juz 3, hlm. 346. 

Comments


EmoticonEmoticon