AGAMA DALAM PERUBAHAN SOSIAL - Saungpikir

Friday, February 18, 2022

AGAMA DALAM PERUBAHAN SOSIAL

 



oleh wahyu bhekti prasojo

            Agama dalam literatur sosiologi diperhitungkan sebagai salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya perubahan sosial di masyarakat. Pertama-tama, Simbol agama mengintegrasikan individu yang mempunyai komitmen kepada keyakinan dan agamanya. Kemudian melalui simbol agama itu terjadi perluasan pengikut agama sehingga agama tidak hanya berfungsi integratif. Agama menjadi faktor revolusioner karena berusaha mengintegrasikan masyarakat dalam terminologi sistem simbol yang baru.[1]

Bahkan Weber yang capitalistic materialistic juga mengaitkan agama sebagai pembentuk motivasi individu untuk melakukan aktivitas keduniaan (ekonomi).[2] Lebih jauh, agama menurutnya juga mempengaruhi masyarakat dalam banyak segi, seperti pembentukan system dominasi dalam masyarakat, pertumbuhan ekonomi, perkembangan social dan pembentukan struktur social. Jadi agama bagi Weber memberi legitimasi bagi motif-motif duniawi dan materialistic yang menumbuhkan kapitalisme.

Smith yang tak kalah capitalistic materialistic dibanding Weber, mendukung kompetisi dalam agama yang melahirkan sekte-sekte kecil di dalamnya, yang pada gilirannya akan melahirkan lebih banyak kepentingan dari para anggota yang bervariasi. Menurutnya, dalam sekte agama kecil, moral orang awam lebih teratur dan tertib, ketimbang gereja yang dimapankan oleh negara.[3] Agama bermanfaat jika iman dan organisasi dibiarkan bebas dan terbuka. Keragaman sekte agama akan mempromosikan toleransi, moderasi dan pemikiran agama yang rasional. Sekaligus mengurangi semangat berlebihan dalam beragama dan fanatisme.[4] Bertolak belakang dengan ide kapitalilstiknya, diam-diam Smith selama hidupnya memberi sumbangan kepada seorang pemuda buta untuk mengembangkan kariernya.[5]

August Comte percaya bahwa agama merupakan perekat social, menjaga perpecahan keolmpok-kelompok dalam masyarakat secara keseluruhan. Ide ini sejalan dengan pandangannya bahwa masyarakat berkembang sebagai satu organisma tunggal.[6]

Menurutnya, masyarakat berkembang melalui tiga tahap secara sistematik, yaitu tahap teologis, tahap metafisik dan tahap ilmiah (saintifik). Pada tahap pertama, masyarakat tumbuh dan berkembang berdasarkan penjelasan-penjelasan agama terhadap segala sesuatu yang mereka hadapi dan butuhkan. Tahap kedua adalah tahap pencerahan atau reformasi terhadap penjelasan-penjelasan agamis tersebut. Ketika masyarakat mulai skeptic dan mempertanyakan keabsahan penjelasan-penjelasan agama yang ada, para ilmuwan berusaha mencari jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan yang muncul dengan mengungkapkan fakta-fakta yang nampak. Maka sampailah masyarakat ke tahap ketiga yaitu revolusi pemikiran manusia yang menghasilkan temuan-temuan ilmiah, teknologi dan pembangunan.

Sementara itu, Emile Durkheim percaya bahwa agama memiliki fungsi menginteraksikan masyarakat dalam suatu tatanan moral. Setiap anggota masyarakat mempunyai peran berbeda dalam menyusun tatanan moral tersebut melalui aktivitas ritual suci keagamaan. Ritual-ritual agama meningkatkan kesadaran dan loyalitas kelompok. Agama juga membentuk struktur social, mengendalikan penyimpangan perilaku sekaligus meningkatkan harmoni dan soliditas social.[7]

Meski percaya bahwa agama berperan penting dalam pembentukan masyarakat, tapi ia berbeda dengan Comte. Jika Comte menyebutkan bahwa agama adalah yang pertama sebelum yang lainnya, Durkheim lebih memandang agama secara fungsional, karena agama sesungguhnya adalah ekspresi kohesi social suatu masyarakat. Bagi Comte agama secara primitive adalah disposisi psikologis universal, sementara bagi Durkheim, agama adalah hasil dinamika interaksi social.[8]

Sebuah teori non-materialistic yang lahir jauh sebelumnya adalah teori yang dikemukakan Ibnu Khaldun tentang soliditas social yang dibentuk oleh pertalian darah atau pertalian lain yang memiliki arti sama.[9] Menurutnya, pertalian darah mempunyai kekuatan mengikat pada kebanyakan ummat manusia. Ikatan itu menimbulkan empaty yang kuat pada kaumnya sehingga menimbulkan dorongan untuk membela dan menolong. Apabila hubungan darah di antara orang-orang agak jauh, maka ikatannya akan melemah. Tetapi sebagai gantinya timbullah perasaan kekeluargaan yang didasarkan kepada pengetahuan yang lebih luas tentang arti persaudaraan. Sungguhpun demikian, setiap orang ingin membantu orang lain karena khawatir akan kehinaan yang mungkin menimpanya apabila ia gagal dalam kewajibannya terhadap orang-orang yang secara umum diketahui terhubung dengannya.[10]

            Sesungguhnya agama-agama sangat lekat dengan perubahan sosial sejak awal kelahirannya. Agama-agama besar di dunia atau sekte-sekte dan aliran di dalamnya selalu muncul dengan keinginan untuk melakukan perubahan sosial. Biasanya dalam bidang moral dan perilaku sosial. Islam, misalnya, sejak awal adalah antitesa dari perilaku dan moral jahiliyah bangsa Arab. Dimulai dari perubahan keyakinan, nilai-nilai etik dan kemudian hukum.

            Islam mengubah masyarakat yang sebelumya tidak percaya kepada Tuhan Yang Esa, mejadi percaya. Mengubah struktur masyarakat yang terpencar-pencar secara geografis maupun ideologis menjadi satu ummah, yang bersatu secara ideologis meski relativ tetap terpencar secara geografis. Dengan itu masyarakat juga berubah menjadi tunduk kepada satu sistem hukum syari’ah yang dibawanya. Islam juga mengubah struktur sosial masyarakat, sistem politik dan ekonomi. Bahkan sebagai agama yang komprehensif, Islam memiliki mandat untuk menciptakan masyarakat ideal universal.[11]

Daftar Pustaka

Haryanto, Sindung, Sosiologi Agama, Ar Ruzz Media, Jogjakarta, 2016.

Ibnu Khaldun, Abdurrahman bin Muhammad, Muqaddimah, alih bahasa Ahmadie Thoha, Pustaka Firdaus, Jakarta, 2001.

As Siba’iy, Mustafa, Peradaban Islam, Dulu, Kini dan Esok, alih bahasa RB Irwan & Fauzi Rahman, Gema InsaniPress, Jakarta, 1993.

Skousen, Mark, Sang Maestro Teori-teori Ekonomi Modern, alih bahasa Tri Wibowo Budi Santoso, Prenada Media, Jakarta, 2005.

 



[1] Sindung Haryanto, Sosiologi Agama, Ar Ruzz Media, Jogjakarta, 2016, hal.232.

[2]Sindung Haryanto, ibid, hal.63.

[3] Mark Skousen, Sang Maestro Teori-teori Ekonomi Modern, alih Bahasa Tri Wibowo Budi Santoso, Prenada Media, Jakarta, 2005, hal.32.

[4] Mark Skoussen, ibid, hal.33.

[5] Mark Skoussen, ibid, hal.33.

[6] Sindung Haryanto, op.cit, hal.56.

[7]Sindung Haryanto, ibid, hal. 58.

[8]Sindung Haryanto, ibid, hal.62.

[9]Ibnu Khaldun, Muqaddimah, alih Bahasa Ahmadie Thoha, Pustaka Firdaus, Jakarta, 2001, hal.151.

[10]Ibnu Khaldun, ibid, hal.152.

[11] Mustafa As Siba’iy, Peradaban Islam, Dulu, Kini dan Esok, alih bahasa RB Irwan & Fauzi Rahman, Gema InsaniPress, Jakarta, 1993, hal.28.

Comments


EmoticonEmoticon