Wahyu Bhekti Prasojo
Demi
mendengar Rasulullah wafat, Abu Bakar bergegas menuju masjid dalam diam. Tiada
seorangpun ditegurnya sampai ia masuk bilik Aisyah. Dibukanya kain penutup
jenazah Rasulullah pada bagian wajah beliau. Didekatkannya wajahnya itu lalu
dikecupnya sambil menangis. Angannya melayang ke suatu masa ketika bersama
Rasulullah dalam medan jihad di bukit Uhud.
Ketika
itu kekacauan menyebar, kepanikan menghujam dalam dada setiap anggota pasukan
Islam, akibat serangan balik Khalid bin Walid. Lalu terdengarlah suara-suara
entah dari mana,
“Muhammad
sudah mati, Muhammad sudah mati”.
“Rasulullah
telah terbunuh.”.
“Seandainya
ia benar seorang nabi, tentu tidak akan terbunuh.”
Meruntuhkan
semangat sebagian besar pasukan. Tetapi hari ini bukan seperti yang di Uhud
dulu. Ini adalah saat yang sesungguhnya, yang dikhawatirkan itu. Dalam isaknya,
ia berbisik lirih, “Demi ayah dan ibuku, tidaklah Allah mengumpulkan dua
kematian pada engkau…”
Tiba-tiba
suasana menjadi gaduh di luar. “Siapa yang mengatakan Rasulullah telah wafat,
aku penggal kepalanya. Beliau tidak wafat, hanya pergi sebentar saja, dan akan
kembali lagi!” Umar bin Khattab dengan pedang terhunus, berteriak-teriak mengancam
siapa saja yang berkata bahwa Rasulullah telah wafat.
Abu Bakar keluar dari bilik
Rasulullah dan melihat Umar sedang berbicara dengan orang-orang. Ditegurnya
Umar, “Duduklah hai Umar!” Kemudian melanjutkan, “Siapa yang menyembah
Muhammad, Muhammad telah mati. Siapa yang menyembah Allah, sungguh Allah tidak
akan pernah mati. Lalu membaca,
وما محمد إلا رسول قد خلت من قبله الرسل
أفإن مات أو قتل انقلبتم على أعقابكم ومن ينقلب على عقبيه فلن يضر الله شيئا
وسيجزي الله الشاكرين[1]…
Muhammad
itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa
orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang
(murtad)? Barang siapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat
mendatangkan mudarat kepada Allah sedikit pun; dan Allah akan memberi balasan
kepada orang-orang yang bersyukur…
Umar
terkejut kemudian jatuh terduduk. Dia mengenang, “Demi Allah
begitu aku mendengar Abu Bakar membacanya, sontak berpeluhlah aku, kedua kakiku
lemas hingga terjatuh ke tanah.” Ini dulu juga yang aku lakukan pada perang
Uhud. Kenangnya, “Ketika peperangan Uhud, kami terpisah dari Rasulullah, lalu
aku mendaki bukit Uhud, di sana aku dengar orang-orang berkata, ‘Muhammad telah
terbunuh’. Maka aku berkata dalam hati, ‘Tak seorang pun yang mengatakan bahwa
Muhammad telah terbunuh kecuali akan saya bunuh.”[2]
Ayat
ini unik karena seolah-olah turun dua kali. Pertama adalah pada saat perang
Uhud. Yang kedua hari wafatnya Rasulullah saw. Ayat ini dibaca oleh Abu Bakar
pada saat orang-orang sedang galau pasca wafatnya Nabi Muhammad saw.
Seolah-olah Allah secara khusus melatih para sahabat untuk mempersiapkan mereka
menghadapi peristiwa wafatnya Nabi saw. Begitu beratnya situasi itu untuk
mental para sahabat, sampai-sampai sebagian dari mereka mengatakan seolah-olah
ayat ini baru diturunkan untuk mereka ketika Abu Bakar membacakannya.[3]
Maka
inilah sikap mukmin sejati, “Berperanglah demi sesuatu yang karenanya Nabi
kalian telah berperang, hingga Allah memenangkan kalian atau kalian menyusul
beliau.”
Semasa
hidup Rasulullah saw, Imam Ali bin Abi Thalib biasa mengatakan, “Demi Allah,
kami tidak akan berbalik ke belakang setelah kami diberi petunjuk oleh Allah.
Demi Allah, jika ia (Nabi Muhammad) mati atau terbunuh, aku akan tetap berjuang
mempertahankan apa yang beliau pertahankan sampai aku mati. Demi Allah, aku
adalah saudaranya, sepupunya, pelindungnya dan ahli warisnya. Maka siapa yang
lebih berhak terhadapnya dari pada aku?”[4]
Daftar Pustaka
As Suyuthi, Jalaludin,
Lubabun Nuqul fii Asbabin Nuzul, Darul Kutub Ilmiyah Beyrut, tt.
Ibnu Katsier, Abul Fida’ Ismail bin Umar Al Qurasyiy, Tafsir
Al Qur’an Al ‘Adzhim, Darul Kutub Al Ilmiyah, Beyrut, 1419 H.
