Kematian Tidak Menjemputmu Dua Kali - Saungpikir

Tuesday, May 24, 2022

Kematian Tidak Menjemputmu Dua Kali

 


Wahyu Bhekti Prasojo

Demi mendengar Rasulullah wafat, Abu Bakar bergegas menuju masjid dalam diam. Tiada seorangpun ditegurnya sampai ia masuk bilik Aisyah. Dibukanya kain penutup jenazah Rasulullah pada bagian wajah beliau. Didekatkannya wajahnya itu lalu dikecupnya sambil menangis. Angannya melayang ke suatu masa ketika bersama Rasulullah dalam medan jihad di bukit Uhud.

Ketika itu kekacauan menyebar, kepanikan menghujam dalam dada setiap anggota pasukan Islam, akibat serangan balik Khalid bin Walid. Lalu terdengarlah suara-suara entah dari mana,

“Muhammad sudah mati, Muhammad sudah mati”.

“Rasulullah telah terbunuh.”.

“Seandainya ia benar seorang nabi, tentu tidak akan terbunuh.”

Meruntuhkan semangat sebagian besar pasukan. Tetapi hari ini bukan seperti yang di Uhud dulu. Ini adalah saat yang sesungguhnya, yang dikhawatirkan itu. Dalam isaknya, ia berbisik lirih, “Demi ayah dan ibuku, tidaklah Allah mengumpulkan dua kematian pada engkau…”

Tiba-tiba suasana menjadi gaduh di luar. “Siapa yang mengatakan Rasulullah telah wafat, aku penggal kepalanya. Beliau tidak wafat, hanya pergi sebentar saja, dan akan kembali lagi!” Umar bin Khattab dengan pedang terhunus, berteriak-teriak mengancam siapa saja yang berkata bahwa Rasulullah telah wafat.

Abu Bakar keluar dari bilik Rasulullah dan melihat Umar sedang berbicara dengan orang-orang. Ditegurnya Umar, “Duduklah hai Umar!” Kemudian melanjutkan, “Siapa yang menyembah Muhammad, Muhammad telah mati. Siapa yang menyembah Allah, sungguh Allah tidak akan pernah mati.  Lalu membaca,

وما محمد إلا رسول قد خلت من قبله الرسل أفإن مات أو قتل انقلبتم على أعقابكم ومن ينقلب على عقبيه فلن يضر الله شيئا وسيجزي الله الشاكرين[1]

Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barang siapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudarat kepada Allah sedikit pun; dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur…

 

Umar terkejut kemudian jatuh terduduk. Dia mengenang, “Demi Allah begitu aku mendengar Abu Bakar membacanya, sontak berpeluhlah aku, kedua kakiku lemas hingga terjatuh ke tanah.” Ini dulu juga yang aku lakukan pada perang Uhud. Kenangnya, “Ketika peperangan Uhud, kami terpisah dari Rasulullah, lalu aku mendaki bukit Uhud, di sana aku dengar orang-orang berkata, ‘Muhammad telah terbunuh’. Maka aku berkata dalam hati, ‘Tak seorang pun yang mengatakan bahwa Muhammad telah terbunuh kecuali akan saya bunuh.”[2]

Ayat ini unik karena seolah-olah turun dua kali. Pertama adalah pada saat perang Uhud. Yang kedua hari wafatnya Rasulullah saw. Ayat ini dibaca oleh Abu Bakar pada saat orang-orang sedang galau pasca wafatnya Nabi Muhammad saw. Seolah-olah Allah secara khusus melatih para sahabat untuk mempersiapkan mereka menghadapi peristiwa wafatnya Nabi saw. Begitu beratnya situasi itu untuk mental para sahabat, sampai-sampai sebagian dari mereka mengatakan seolah-olah ayat ini baru diturunkan untuk mereka ketika Abu Bakar membacakannya.[3]

Maka inilah sikap mukmin sejati, “Berperanglah demi sesuatu yang karenanya Nabi kalian telah berperang, hingga Allah memenangkan kalian atau kalian menyusul beliau.”

Semasa hidup Rasulullah saw, Imam Ali bin Abi Thalib biasa mengatakan, “Demi Allah, kami tidak akan berbalik ke belakang setelah kami diberi petunjuk oleh Allah. Demi Allah, jika ia (Nabi Muhammad) mati atau terbunuh, aku akan tetap berjuang mempertahankan apa yang beliau pertahankan sampai aku mati. Demi Allah, aku adalah saudaranya, sepupunya, pelindungnya dan ahli warisnya. Maka siapa yang lebih berhak terhadapnya dari pada aku?”[4]

 

Daftar Pustaka

 

As Suyuthi, Jalaludin, Lubabun Nuqul fii Asbabin Nuzul, Darul Kutub Ilmiyah Beyrut, tt.

Ibnu Katsier, Abul Fida’ Ismail bin Umar Al Qurasyiy, Tafsir Al Qur’an Al ‘Adzhim, Darul Kutub Al Ilmiyah, Beyrut, 1419 H.



[1] Ibnu Katsier, Tafsir Al Qur’an Al ‘Adzhim, Darul Kutub Al Ilmiyah, Beyrut, 1419 H, Juz 2, hal.112.

[2]Jalaludin As Suyuthi, Lubabun Nuqul fii Asbabin Nuzul, Darul Kutub Ilmiyah Beyrut, tt, hal.48.

[3] Jalaludin As Suyuthi, ibid,hal.48.

[4] Ibnu Katsir, loc.cit. hal.112

Comments


EmoticonEmoticon