Ali bin Abi Thalib & Hubungannya dengan Rasulullah saw - Saungpikir

Tuesday, June 28, 2022

Ali bin Abi Thalib & Hubungannya dengan Rasulullah saw

 

Oleh Wahyu Bhekti Prasojo

Nasab Imam Ali dari sisi ayah adalah Ali bin Abu Thalib (paman Nabi saw), bin Abdul Muththalib, bin Hasyim, bin Abdi Manaf, bin Qushayy. Sedangkan nasab beliau dari sisi Ibunya adalah, Fathimah binti Asad, bin Hasyim, bin Abdi Manaf.[1] Dengan demikian, Ali bin Abu Thalib adalah berdarah Hasyimi[2] dari kedua ibu-bapaknya. Sehingga Fathimah binti Asad dijuluki sebagai Perempuan Bani Hasyim Pertama yang melahirkan seorang Putera Bani Hasyim.[3]

Nama lain Ali, yang dipilihkan oleh ibunya adalah Haidarah. Haidarah berarti singa, sesuai dengan nama kakeknya dari pihak ibu: Asad (singa). Namun Abu Thalib menamakannya dengan Ali, sehingga dia terkenal dengan dua nama tersebut. Tetapi Fathimah sendiri menyebutkan, bahwa yang memberinya nama Ali adalah Rasulullah saw.[4]

Ali kadang dipanggil pula dengan julukan Abu Thurab. Abu Thurab berarti pak tanah atau lelaki yang berdebu. Bukhari mengisahkan bagaimana nama tersebut ia dapatkan; "Pada suatu malam, setelah dari rumah Fathimah, Ali pergi ke masjid dan merebahkan diri di sana. Beberapa saat kemudian Nabi saw datang ke rumah Fathimah, beliau bertanya,'Di mana Ali? Fathimah menjawab, 'Di masjid'. Rasulullah saw lalu mendatanginya ke masjid, dan ternyata beliau melihat selimut Ali tersingkap dari punggungnya hingga banyak debu (tanah atau pasir) yang menempel di punggungnya. Rasulullah SAW -sambil meniup debu itu dari punggung Ali- lalu berkata, 'Bangunlah, wahai Abu Thurab, sebanyak dua kali."[5] Orang-orang dengan jelas dapat melihat bahwa ia sangat suka dan bangga dengan nama julukan yang diberikan oleh Nabi saw itu.[6]

Abu Thalib, ayah Ali, seorang Syaikh terkemuka di Mekkah sampai akhir hidupnya, adalah kepala Bani Hasyim.[7] Sebuah kedudukan, yang membuatnya merasa wajib untuk menanggung hidup keponakannya Muhammad, salah satu anggota  kabilahnya yang butuh perlindungan. Kebetulan ia sangat dekat dengan Abdullah, ayah Nabi, semasa hidupnya. Alasan itu pula yang mendorong Abdul Muththalib, menjelang ajalnya, mengangkat Abu Thalib sebagai wali Rasulullah.[8] Di samping itu, Abdul Muththalib merasa bahwa hanya istri Abu Thalib lah yang mampu terus menjaga dan melindungi Nabi saw dengan kasih sayang.[9]

Abu Thalib, meskipun tidak menganut Islam, sangat menyayangi Nabi dan melindunginya sepenuh hati dan kemampuannya. Pada suatu ketika ia pernah berkata; "Demi Allah, aku akan membawanya pergi bersamaku. Aku tidak akan meninggalkannya dan dia tidak akan meninggalkan aku untuk selamanya."[10] Begitu pula istrinya, Fathimah  binti Asad, sebagai nyonya rumah tangga tentu saja ia adalah orang yang paling bertanggung jawab secara domestik dalam menjalankan kebaikan keluarga itu. Ia bahkan lebih mengkhawatirkan Nabi saw dari pada anak-anaknya sendiri.[11]  

Sebaliknya, Nabi saw pun sangat menyayangi kedua Paman dan Bibinya itu. Nabi saw sangat sedih ketika Abu Thalib wafat. Begitu pula saat bibinya, Fathimah wafat, Rasulullah saw mengkafaninya dengan baju gamisnya sendiri, meletakkannya dalam kuburnya, sambil menangisinya, sebagai tangisan seorang anak yang kehilangan ibunya dan berdo’a,

"Yaa Allah. Yang Maha Menghidupkan dan Mematikan, Yang Maha Hidup tidak mati. Ampunilah ibuku Fathimah binti Asad. Ajarkan hujjah padanya dan luaskan kuburnya dengan hak NabiMu dan para Nabi sebelumku. Karena Engkau Maha Penyayang di antara para penyayang."[12]

Daftar Pustaka

al Bukhari, Muhammad bin Ismail Abu Abdullah al Ja’fiy, Shahih Bukhari, Daar al Thuqo al Najah,1422H.

Ibnu Katsir, Al Bidayah wa al Nihayah, Masa Khulafaur Rasyidin, alih bahasa Abu Ihsan al Atsari, Jakarta, Darul Haq, 1424H/2004M.

Al Mishri, Mahmud, Biografi 35 Shahabiyah Nabi, alih bahasa Umar Mujtahid, Jakarta, Ummul Qurra, 2018.

Rogerson, Barnaby, Sejarah Empat Khalifah, alih bahasa Asnawi, Yogyakarta, Mitra Buku, 2012.

al Thabary, Abu Ja’far Muhammad ibnu Jarir, Shahih Tarikh al Thabary, alih bahasa Abu Ziad Muhammad Dhiyaul Haq, Jakarta, Pustaka Azzam, 2011.

Yahya, Mukhtar, Perpindahan-perpindahan Kekuasaan di Timur Tengah, Jakarta, Bulan Bintang, 1985.



[1] Ibnu Katsir, Al Bidayah wa al Nihayah, Masa Khulafaur Rasyidin, alih bahasa Abu Ihsan al Atsari, Jakarta, Darul Haq, 1424H/2004M, hlm.415.

[2] Keluarga Hasyimi memiliki sejarah yang cemerlang dalam masyarakat Mekkah. Sebelum datangnya Islam, keluarga Hasyim terkenal sebagai keluarga yang mulia dari klan Quraisy, penuh kasih sayang, dan pemegang kepemimpinan masyarakat.(Mukhtar Yahya, Perpindahan-perpindahan Kekusaan di Timur Tengah, Jakarta, Bulan Bintang, 1985, hlm.240-241).

[3] Ibnu Katsir, loc.cit. hlm.415.

[4] Mahmud Al Mishri, Biografi 35 Shahabiyah Nabi, alih bahasa Umar Mujtahid, Jakarta, Ummul Qurra, 2018, hlm.400.

[5] Muhammad bin Ismail Abu Abdullah al Bukhari al Ja’fiy, Shahih Bukhari, Daar Thuqo an Najah,1422H, Juz 5, hlm.18, hadits nomor 3703.

[6] Barnaby Rogerson, Sejarah Empat Khalifah, alih bahasa Asnawi, Yogyakarta, Mitra Buku, 2012, hlm.329.

[7] ibid, hlm.26.

[8] al Thabary, Shahih Tarikh al Thabary, alih bahasa Abu Ziad Muhammad Dhiyaul Haq, Jakarta, Pustaka Azzam, 2011, Jilid 1, hlm.795.

[9] Mahmud Al Mishri, op.cit, hlm.
399.

[10] al Thabary, op.cit, hlm.796.

[11] Mahmud Al Mishri, loc.cit, hlm.399.

[12] ibid, hlm.406.

Comments


EmoticonEmoticon