Oleh Wahyu Bhekti Prasojo
Nasab Imam Ali dari sisi ayah adalah Ali bin Abu Thalib (paman
Nabi saw), bin Abdul Muththalib, bin Hasyim, bin Abdi Manaf, bin Qushayy. Sedangkan
nasab beliau dari sisi Ibunya adalah, Fathimah binti Asad, bin
Hasyim, bin Abdi Manaf.[1] Dengan demikian, Ali bin
Abu Thalib adalah berdarah Hasyimi[2] dari kedua ibu-bapaknya. Sehingga Fathimah binti Asad dijuluki sebagai Perempuan
Bani Hasyim Pertama yang melahirkan seorang Putera Bani Hasyim.[3]
Nama lain Ali, yang dipilihkan oleh ibunya adalah
Haidarah. Haidarah berarti
singa, sesuai dengan nama kakeknya
dari pihak ibu: Asad (singa). Namun Abu Thalib menamakannya dengan
Ali, sehingga dia terkenal dengan dua nama tersebut. Tetapi Fathimah sendiri menyebutkan, bahwa yang
memberinya nama Ali adalah Rasulullah saw.[4]
Ali kadang dipanggil pula dengan julukan Abu Thurab. Abu
Thurab berarti pak tanah atau lelaki yang berdebu. Bukhari mengisahkan bagaimana
nama tersebut ia dapatkan; "Pada suatu malam, setelah dari rumah Fathimah,
Ali pergi ke masjid dan merebahkan diri di sana. Beberapa saat kemudian Nabi saw
datang ke rumah Fathimah, beliau bertanya,'Di mana Ali? Fathimah menjawab, 'Di masjid'.
Rasulullah saw lalu mendatanginya ke masjid, dan ternyata beliau melihat
selimut Ali tersingkap dari punggungnya hingga banyak debu (tanah atau pasir)
yang menempel di punggungnya. Rasulullah SAW -sambil meniup debu itu dari
punggung Ali- lalu berkata, 'Bangunlah, wahai Abu Thurab, sebanyak dua
kali."[5]
Orang-orang dengan jelas dapat melihat bahwa ia sangat suka dan bangga dengan
nama julukan yang diberikan oleh Nabi saw itu.[6]
Abu Thalib, ayah Ali, seorang Syaikh terkemuka di Mekkah
sampai akhir hidupnya, adalah kepala Bani Hasyim.[7] Sebuah kedudukan, yang
membuatnya merasa wajib untuk menanggung hidup keponakannya Muhammad, salah
satu anggota kabilahnya yang butuh
perlindungan. Kebetulan ia sangat dekat dengan Abdullah, ayah Nabi, semasa
hidupnya. Alasan itu pula yang mendorong Abdul Muththalib, menjelang ajalnya,
mengangkat Abu Thalib sebagai wali Rasulullah.[8] Di samping itu, Abdul
Muththalib merasa bahwa hanya istri Abu Thalib lah yang mampu terus menjaga dan
melindungi Nabi saw dengan kasih sayang.[9]
Abu Thalib, meskipun tidak menganut Islam, sangat
menyayangi Nabi dan melindunginya sepenuh hati dan kemampuannya. Pada suatu
ketika ia pernah berkata; "Demi Allah, aku akan membawanya pergi
bersamaku. Aku tidak akan meninggalkannya dan dia tidak akan meninggalkan aku
untuk selamanya."[10] Begitu pula istrinya, Fathimah binti Asad, sebagai nyonya rumah tangga tentu
saja ia adalah orang yang paling bertanggung jawab secara domestik dalam
menjalankan kebaikan keluarga itu. Ia bahkan lebih mengkhawatirkan Nabi saw
dari pada anak-anaknya sendiri.[11]
Sebaliknya, Nabi saw pun sangat menyayangi kedua Paman
dan Bibinya itu. Nabi saw sangat sedih ketika Abu Thalib wafat. Begitu pula saat
bibinya, Fathimah wafat, Rasulullah saw mengkafaninya dengan baju gamisnya
sendiri, meletakkannya dalam kuburnya, sambil menangisinya, sebagai tangisan
seorang anak yang kehilangan ibunya dan berdo’a,
"Yaa Allah.
Yang Maha Menghidupkan dan Mematikan, Yang Maha Hidup tidak mati. Ampunilah
ibuku Fathimah binti Asad. Ajarkan hujjah padanya dan luaskan kuburnya dengan
hak NabiMu dan para Nabi sebelumku. Karena Engkau Maha Penyayang di antara para
penyayang."[12]
Daftar Pustaka
al Bukhari, Muhammad bin
Ismail Abu Abdullah al Ja’fiy, Shahih Bukhari, Daar al
Thuqo al Najah,1422H.
Ibnu Katsir, Al
Bidayah wa al Nihayah, Masa Khulafaur Rasyidin, alih bahasa Abu Ihsan
al Atsari, Jakarta, Darul Haq, 1424H/2004M.
Al Mishri, Mahmud, Biografi
35 Shahabiyah Nabi, alih bahasa Umar Mujtahid, Jakarta, Ummul Qurra,
2018.
Rogerson, Barnaby, Sejarah
Empat Khalifah, alih bahasa Asnawi, Yogyakarta, Mitra Buku, 2012.
al Thabary, Abu Ja’far
Muhammad ibnu Jarir, Shahih Tarikh al Thabary, alih bahasa Abu
Ziad Muhammad Dhiyaul Haq, Jakarta, Pustaka Azzam, 2011.
Yahya, Mukhtar, Perpindahan-perpindahan
Kekuasaan di Timur Tengah, Jakarta, Bulan Bintang, 1985.
[1] Ibnu Katsir, Al Bidayah wa al Nihayah, Masa
Khulafaur Rasyidin, alih bahasa Abu Ihsan al Atsari, Jakarta, Darul
Haq, 1424H/2004M, hlm.415.
[2] Keluarga Hasyimi memiliki sejarah yang cemerlang
dalam masyarakat Mekkah. Sebelum datangnya Islam, keluarga Hasyim terkenal
sebagai keluarga yang mulia dari klan Quraisy, penuh kasih sayang, dan pemegang
kepemimpinan masyarakat.(Mukhtar Yahya, Perpindahan-perpindahan
Kekusaan di Timur Tengah, Jakarta, Bulan Bintang, 1985, hlm.240-241).
[3] Ibnu Katsir, loc.cit. hlm.415.
[4] Mahmud Al Mishri, Biografi 35 Shahabiyah Nabi, alih bahasa
Umar Mujtahid, Jakarta, Ummul Qurra, 2018, hlm.400.
[5] Muhammad bin Ismail Abu Abdullah al Bukhari al
Ja’fiy, Shahih Bukhari, Daar Thuqo an Najah,1422H, Juz 5, hlm.18,
hadits nomor 3703.
[6] Barnaby Rogerson, Sejarah Empat Khalifah,
alih bahasa Asnawi, Yogyakarta, Mitra Buku, 2012, hlm.329.
[7] ibid, hlm.26.
[8] al Thabary, Shahih Tarikh al Thabary,
alih bahasa Abu Ziad Muhammad Dhiyaul Haq, Jakarta, Pustaka Azzam, 2011, Jilid
1, hlm.795.
[9]
Mahmud Al Mishri, op.cit,
hlm.
399.
[10] al Thabary, op.cit, hlm.796.
[11] Mahmud Al Mishri, loc.cit, hlm.399.
[12] ibid, hlm.406.
