oleh wahyu bhekti prasojo
Hampir 4000 tahun yang lalu, beberapa ratus
tahun sebelum Musa dan Harun memulai petualangan mereka melawan Diktator Ramses
II, tersebutlah Luth, keponakan Ibrahim, menjalankan perintah Tuhan,
membaktikan hidupnya bagi kemanusiaan.
Luth yang merupakan murid Ibrahim ditugaskan berdakwah kepada sebuah negeri di lembah Sungai Yordan.
Masyarakat di negeri yang beribukota Saduum ( Sodom), dan tersebar juga di
kota-kota; Amura (Gomorra), Daduma, Dho’uh, dan Qatam.[1] Populasi kota-kota itu sangat ramai. Ada yang menyebut sekitar 400 ribu orang, ada pula yang memperkirakan sampai 4 juta orang. Kemungkinan sebagian
besarnya adalah budak.
Kota-kota yang sangat kaya itu dihidupi dari
pertanian dan peternakan luas di lembah yang subur. Juga pertambangan aspal. Dengan
kekayaannya mereka membangun gedung-gedung megah dan bangunan mewah dari bahan
batu bata yang kokoh. Semuanya dikerjakan secara paksa oleh para budak.
Mereka juga membangun pasukan perang yang
kuat. Dengan pasukan yang kuat itu mereka berperang dan menjarah negeri-negeri di sekitar mereka. Perang juga
adalah cara mereka mendapatkan budak untuk dikerja-paksakan. Mereka juga
mencegat kafilah-kafilah dagang yang lewat di jalur-jalur yang dekat dengan
kota. Bahkan orang-orang yang singgah dan menginap di tempat-tempat penginapan
mereka, jika mampu dan ada kesempatan, mereka curi dan rampas hartanya, lalu ditawan
sebagai budak.
Orang-orang kaya dan para pembesar juga
dilayani budak-budak. Bukan hanya melayani keperluan hidup sehari-hari, para
budak juga ada yang menjadi pemuas syahwat mereka yang menyimpang.
Di Saduum, bersama pengikutnya, Luth memusatkan
kegiatan dakwahnya sambil menjalankan usaha peternakannya yang sudah
dilakukannya sejak masih tinggal di Syam dekat dengan gurunya. Ia kemudian
menikah dengan Edith penduduk asli Saduum. Tuhan memberi mereka dua orang anak
perempuan, Ratsya dan Za’ura.
Tapi orang-orang tak menggubris ajakannya
kepada kebaikan. “Jangan sok suci Tuan Luth. Anda datang kesini kan
karena persaingan bisnis Anda dengan Tuan Ibrahim, paman Anda sendiri. Anda
hanya berpura-pura jadi orang baik. Sudah beruntung Anda kami izinkan tinggal,
berkeluarga dan berbisnis di sini. Jangan macam-macam!”, kata mereka sambil
mengancam.
Segala cara diupayakan Luth untuk menyadarkan
masyarakat. Ia pernah berencana menikahkan anak-anak perempuannya dengan tokoh
pembesar negeri yang berpengaruh. Ia berharap pernikahan itu akan menjadi
contoh yang baik bagi penduduk negeri. Tapi para pembesar negeri menolak.
Mereka berkata, “Tuan Luth, sesungguhnya Anda
sudah tahu apa yang kami sukai. Kami tak menginginkan perempuan untuk dijadikan
isteri.”.
Luth berkata, “Apakah sesungguhnya kamu patut
mendatangi laki-laki, menyamun dan mengerjakan kemungkaran di tempat-tempat
pertemuanmu? Mereka justru mengatakan: "Datangkanlah kepada kami adzab
Allah, jika kamu termasuk orang-orang yang benar". (Al Ankabut 29)
---
Suatu hari, salah seorang anaknya dengan
tergopoh-gopoh berlari menemuinya dan berkata, “Ayah ada dua orang asing ingin
masuk ke kota. Mereka sangat tampan Ayah. Aku khawatir mereka celaka jika
orang-orang kota melihat mereka.”
“Di mana mereka sekarang?”, tanya Luth.
“Mereka kusembunyikan di dekat gerbang kota,
Ayah.”, jawabnya.
Luth segera menuju tempat yang ditunjukkan
anak perempuannya itu kemudian menyelundupkan dua orang asing itu ke rumahnya.
Ia berharap tidak ada orang kota yang melihat kedua orang itu.
“Kami ingin menginap di sini”, kata orang-orang
asing itu.
Luth terdiam. Hatinya gundah. Ia membayangkan
kesulitan yang akan dihadapinya atas permintaan tamu-tamu asingnya itu. “Sangat
berbahaya bagi kalian untuk tingal di kota ini. Orang-orang di sini sangat
keji. Mereka suka memangsa pemuda tampan seperti kalian. Harta kalian pun akan
mereka rampas lalu mereka akan menjadikan kalian sebagai budak mereka.”, jelas
Luth.
Orang-orang asing itu terus memaksa, bahkan
mereka mengatakan akan menginap di lapangan jika tidak ada rumah yang dapat
diinapi. Luth sampai berulang kali menjelaskan apa yang ia maksud dengan
kekejian yang dilakukan orang-orang kota.
Malangnya, rahasia keberadaan orang-orang
asing itu di rumah Luth, terbongkar. Edith dalam kesibukannya menyiapkan jamuan
bagi tamu suaminya, membocorkan rahasia itu.
Mendengar bahwa di rumah Luth ada dua orang
asing yang sangat tampan, para lelaki berdatangan dengan setengah berlari.
Mereka berkerumun dan mengepung semua jalan keluar dari rumahnya. Mereka
berteriak-teriak meminta Luth menyerahkan tamunya kepada mereka. Sebagaimana
mereka tidak mempercayai motif Luth dalam berdakwah, mereka kini menuduh Luth sebenarnya punya perilaku yang
sama dengan mereka, karena terbukti ia juga menyembunyikan pemuda tampan di
rumahnya.
Melihat kegelisahan semakin memuncak di wajah
Luth, kedua tamunya itu berkata, “Urusan kaum Anda ini wahai Tuan Luth, telah
diwariskan Tuhan kepada malaikatNya. Pergilah Anda segera di sisa malam ini,
ajak keluarga Anda, selamatkan mereka dan jangan menengok ke belakang,”.
Menjelang pagi, guntur dan kilat mulai
menyambar-nyambar dengan suara meledak-ledak, bersahutan dengan gemuruh getaran
gempa bumi yang dahsyat. Bersama rombongan pengikutnya, Luth terus berjalan
meninggalkan kota. Semua sepakat dan patuh, bertahan untuk tidak menengok ke
belakang. Kecuali Edith, ia melambatkan langkahnya. Ia tak sanggup menahan rasa
tidak percayanya akan apa yang akan terjadi kepada kota tempat tinggalnya. Ia menyesal,
kenapa ia harus pergi meninggalkan kesenangan-kesenangan yang dulu biasa ia
nikmati. Sepertinya Edith tak pernah beriman kepada Luth, ia masih dalam
kepercayaan dan tradisi kaumnya. Ia pun tertinggal, tak selamat. Konon, sebuah
bongkahan batu menimpanya, seketika, begitu ia membalikkan tubuhnya ke arah
kota.
Orang-orang tua menceritakan bahwa malam
menjelang pagi itu, gempa vulkanik dahsyat menggoncang tanah sepanjang batas-batas
kota tempat tinggal kaum Luth. Gempa itu seolah mengangkat kota-kota tersebut
hingga orang-orang menjeritkan kengerian mereka karena tanah yang mereka pijak seakan
bergerak naik. Seolah langit akan pecah oleh teriakan dan jeritan. Kota-kota
itu seperti dijungkir-balikkan sehingga semua
penduduknya terjatuh meluncur ke bumi. Menyusul,
bangunan-bangunan mulai retak dan hancur karena terlepas dari pondasinya --yang
juga tercabut dari tanah yang terbalik-- sehingga dinding-dinding bangunan kota
yang hancur menghujani mereka bertubi-tubi. Letusan gunung memuntahkan aspal panas
yang tersembur dan jatuh bagai hujan meteor, menyapu bekas-bekas negeri dan kota.
Kemudian berjuta-juta ton tanah bekas tempat berdirinya
kota-kota itu dijatuhkan pula...
[1]
Abu Abdullah Muhammad Syamsuddin Al Qurthuby,
1384, Al Jami’ li Ahkami Al Quran, Dar al Kutub al
Mishriyah-Kairo, Juz 9, hlm,81.
