Sodom & Gomorra - Saungpikir

Wednesday, August 31, 2022

Sodom & Gomorra

 

oleh wahyu bhekti prasojo

Hampir 4000 tahun yang lalu, beberapa ratus tahun sebelum Musa dan Harun memulai petualangan mereka melawan Diktator Ramses II, tersebutlah Luth, keponakan Ibrahim, menjalankan perintah Tuhan, membaktikan hidupnya bagi kemanusiaan.

Luth yang merupakan murid Ibrahim ditugaskan berdakwah kepada sebuah negeri di lembah Sungai Yordan. Masyarakat di negeri yang beribukota Saduum ( Sodom), dan tersebar juga di kota-kota; Amura (Gomorra), Daduma, Dho’uh, dan Qatam.[1] Populasi kota-kota itu sangat ramai. Ada yang menyebut sekitar 400 ribu orang, ada pula yang memperkirakan sampai 4 juta orang. Kemungkinan sebagian besarnya adalah budak.

Kota-kota yang sangat kaya itu dihidupi dari pertanian dan peternakan luas di lembah yang subur. Juga pertambangan aspal. Dengan kekayaannya mereka membangun gedung-gedung megah dan bangunan mewah dari bahan batu bata yang kokoh. Semuanya dikerjakan secara paksa oleh para budak.

Mereka juga membangun pasukan perang yang kuat. Dengan pasukan yang kuat itu mereka berperang dan menjarah  negeri-negeri di sekitar mereka. Perang juga adalah cara mereka mendapatkan budak untuk dikerja-paksakan. Mereka juga mencegat kafilah-kafilah dagang yang lewat di jalur-jalur yang dekat dengan kota. Bahkan orang-orang yang singgah dan menginap di tempat-tempat penginapan mereka, jika mampu dan ada kesempatan, mereka curi dan rampas hartanya, lalu ditawan sebagai budak.

Orang-orang kaya dan para pembesar juga dilayani budak-budak. Bukan hanya melayani keperluan hidup sehari-hari, para budak juga ada yang menjadi pemuas syahwat mereka yang menyimpang.

Di Saduum, bersama pengikutnya, Luth memusatkan kegiatan dakwahnya sambil menjalankan usaha peternakannya yang sudah dilakukannya sejak masih tinggal di Syam dekat dengan gurunya. Ia kemudian menikah dengan Edith penduduk asli Saduum. Tuhan memberi mereka dua orang anak perempuan, Ratsya dan Za’ura.

Tapi orang-orang tak menggubris ajakannya kepada kebaikan. “Jangan sok suci Tuan Luth. Anda datang kesini kan karena persaingan bisnis Anda dengan Tuan Ibrahim, paman Anda sendiri. Anda hanya berpura-pura jadi orang baik. Sudah beruntung Anda kami izinkan tinggal, berkeluarga dan berbisnis di sini. Jangan macam-macam!”, kata mereka sambil mengancam.

Segala cara diupayakan Luth untuk menyadarkan masyarakat. Ia pernah berencana menikahkan anak-anak perempuannya dengan tokoh pembesar negeri yang berpengaruh. Ia berharap pernikahan itu akan menjadi contoh yang baik bagi penduduk negeri. Tapi para pembesar negeri menolak.

Mereka berkata, “Tuan Luth, sesungguhnya Anda sudah tahu apa yang kami sukai. Kami tak menginginkan perempuan untuk dijadikan isteri.”.

Luth berkata, “Apakah sesungguhnya kamu patut mendatangi laki-laki, menyamun dan mengerjakan kemungkaran di tempat-tempat pertemuanmu? Mereka justru mengatakan: "Datangkanlah kepada kami adzab Allah, jika kamu termasuk orang-orang yang benar". (Al Ankabut 29)

---

Suatu hari, salah seorang anaknya dengan tergopoh-gopoh berlari menemuinya dan berkata, “Ayah ada dua orang asing ingin masuk ke kota. Mereka sangat tampan Ayah. Aku khawatir mereka celaka jika orang-orang kota melihat mereka.”

“Di mana mereka sekarang?”, tanya Luth.

“Mereka kusembunyikan di dekat gerbang kota, Ayah.”, jawabnya.

Luth segera menuju tempat yang ditunjukkan anak perempuannya itu kemudian menyelundupkan dua orang asing itu ke rumahnya. Ia berharap tidak ada orang kota yang melihat kedua orang itu.

“Kami ingin menginap di sini”, kata orang-orang asing itu.

Luth terdiam. Hatinya gundah. Ia membayangkan kesulitan yang akan dihadapinya atas permintaan tamu-tamu asingnya itu. “Sangat berbahaya bagi kalian untuk tingal di kota ini. Orang-orang di sini sangat keji. Mereka suka memangsa pemuda tampan seperti kalian. Harta kalian pun akan mereka rampas lalu mereka akan menjadikan kalian sebagai budak mereka.”, jelas Luth.

Orang-orang asing itu terus memaksa, bahkan mereka mengatakan akan menginap di lapangan jika tidak ada rumah yang dapat diinapi. Luth sampai berulang kali menjelaskan apa yang ia maksud dengan kekejian yang dilakukan orang-orang kota.

Malangnya, rahasia keberadaan orang-orang asing itu di rumah Luth, terbongkar. Edith dalam kesibukannya menyiapkan jamuan bagi tamu suaminya, membocorkan rahasia itu.

Mendengar bahwa di rumah Luth ada dua orang asing yang sangat tampan, para lelaki berdatangan dengan setengah berlari. Mereka berkerumun dan mengepung semua jalan keluar dari rumahnya. Mereka berteriak-teriak meminta Luth menyerahkan tamunya kepada mereka. Sebagaimana mereka tidak mempercayai motif Luth dalam berdakwah, mereka kini  menuduh Luth sebenarnya punya perilaku yang sama dengan mereka, karena terbukti ia juga menyembunyikan pemuda tampan di rumahnya.

Melihat kegelisahan semakin memuncak di wajah Luth, kedua tamunya itu berkata, “Urusan kaum Anda ini wahai Tuan Luth, telah diwariskan Tuhan kepada malaikatNya. Pergilah Anda segera di sisa malam ini, ajak keluarga Anda, selamatkan mereka dan jangan menengok ke belakang,”.

Menjelang pagi, guntur dan kilat mulai menyambar-nyambar dengan suara meledak-ledak, bersahutan dengan gemuruh getaran gempa bumi yang dahsyat. Bersama rombongan pengikutnya, Luth terus berjalan meninggalkan kota. Semua sepakat dan patuh, bertahan untuk tidak menengok ke belakang. Kecuali Edith, ia melambatkan langkahnya. Ia tak sanggup menahan rasa tidak percayanya akan apa yang akan terjadi kepada kota tempat tinggalnya. Ia menyesal, kenapa ia harus pergi meninggalkan kesenangan-kesenangan yang dulu biasa ia nikmati. Sepertinya Edith tak pernah beriman kepada Luth, ia masih dalam kepercayaan dan tradisi kaumnya. Ia pun tertinggal, tak selamat. Konon, sebuah bongkahan batu menimpanya, seketika, begitu ia membalikkan tubuhnya ke arah kota.

Orang-orang tua menceritakan bahwa malam menjelang pagi itu, gempa vulkanik dahsyat menggoncang tanah sepanjang batas-batas kota tempat tinggal kaum Luth. Gempa itu seolah mengangkat kota-kota tersebut hingga orang-orang menjeritkan kengerian mereka karena tanah yang mereka pijak seakan bergerak naik. Seolah langit akan pecah oleh teriakan dan jeritan. Kota-kota itu seperti dijungkir-balikkan  sehingga semua penduduknya terjatuh meluncur ke bumi.  Menyusul, bangunan-bangunan mulai retak dan hancur karena terlepas dari pondasinya --yang juga tercabut dari tanah yang terbalik-- sehingga dinding-dinding bangunan kota yang hancur menghujani mereka bertubi-tubi. Letusan gunung memuntahkan aspal panas yang tersembur dan jatuh bagai hujan meteor, menyapu bekas-bekas negeri dan kota.

Kemudian berjuta-juta ton tanah bekas tempat berdirinya kota-kota itu dijatuhkan pula...



[1] Abu Abdullah Muhammad Syamsuddin Al Qurthuby, 1384, Al Jami’ li Ahkami Al Quran, Dar al Kutub al Mishriyah-Kairo, Juz 9, hlm,81.

Comments


EmoticonEmoticon