oleh Wahyu B. Prasojo
1. Teks dan Sanad Hadits
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ بُكَيْرٍ، حَدَّثَنَا
اللَّيْثُ، عَنْ عُقَيْلٍ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، عَنْ عُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ،
أَنَّ زَيْنَبَ بِنْتَ أَبِي سَلَمَةَ، حَدَّثَتْهُ عَنْ أُمِّ حَبِيبَةَ بِنْتِ
أَبِي سُفْيَانَ، عَنْ زَيْنَبَ بِنْتِ جَحْشٍ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُنَّ أَنَّ
النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، دَخَلَ عَلَيْهَا فَزِعًا يَقُولُ:
«لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَيْلٌ لِلْعَرَبِ مِنْ شَرٍّ قَدِ اقْتَرَبَ ، فُتِحَ
اليَوْمَ مِنْ رَدْمِ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ مِثْلُ هَذِهِ» وَحَلَّقَ
بِإِصْبَعِهِ الإِبْهَامِ وَالَّتِي تَلِيهَا، قَالَتْ زَيْنَبُ بِنْتُ جَحْشٍ
فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ: أَنَهْلِكُ وَفِينَا الصَّالِحُونَ؟ قَالَ: «نَعَمْ
إِذَا كَثُرَ الخَبَثُ»[1]
2. Terjemah
Hadits
Telah
bercerita kepada kami Abu Al Yaman telah mengabarkan kepada kami Syu'aib dari
Az Zuhriy berkata, telah bercerita kepadaku 'Urwah bin Az Zubair bahwa Zainab
binti Usamah bercerita keadanya bahwa Ummu Habibah binti Abu Sufyan bercerita
kepadanya dari Zainab binti Jahsy bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam masuk
menemuinya dengan gemetar lalu bersabda: "Laa ilaaha illallah, celakalah
bangsa Arab karena keburukan yang semakin dekat, hari ini telah dibuka benteng
Ya'juj dan ma'juj". Beliau memberi isyarat dengan mendekatkan telunjuknya
dengan jari sebelahnya. Zainab binti Jahsy berkata, Aku bertanya; "Wahai
Rasulullah, apakah kita akan binasa sedangkan di tengah-tengah kita banyak
orang-orang yang shalih?". Beliau menjawab: "Benar, jika keburukan
telah mewabah".(HR. Bukhari)
Imam Al Bukhary meriwayatkan
hadits ini dalam Shahihnya pada banyak tempat, yaitu pada bab Qishah Ya’juj
wa Ma’juj,juz 4 halaman 138, bab ‘Alamatun Nubuwah fil Islam,juz 4,
halaman 198, bab Qauli Nabi saw: Waylul al Arab min Syarr qod iqtaraba, juz
9 halaman 48 dan pada bab Ya’juj wa Ma’juj, juz 9 halaman 61.
Imam
Muslim juga meriwayatkannya dalam Shahihnya, pada bab Iqtaroba al Fitan wa
Fathu Radmi, juz 4 halaman 2207 dan 2208. Demikian pula Imam At Tirmidzy
dalam Sunannya, yaitu pada bab Ma Ja’a ma’a Kharaja Ya’juj wa Ma’juj, juz
4 halaman 480. Juga Imam Ibnu Majah dalam Sunan Ibnu Majah, bab Ma Yakunu
min al Fitan, juz 2 halaman 1305.
4. Penjelasan Hadits dan Pelajarannya
a. Sebagaimana melaksanakan amar
ma’ruf nahi munkar mengandung banyak kemaslahatan bagi umat manusia di dunia
maupun di akhirat, maka begitu pula sebaliknya, meninggalkan amalan yang agung
ini akan menimbulkan berbagai kerusakan yang dapat menghilangkan ketentraman
dan kedamaian dalam kehidupan.
b. Syaikh Muhammad Fuad Abdul
Baqy menjelaskan bahwa jika kerusakan telah menyebar luas dan orang-orang
melakukan maksiat dengan terang-terangan, sebagian ulama memaksudkan kerusakan
itu dengan berzina secara terang-terangan, maka semua orang akan dibinasakan,
meskipun di tengah-tengah mereka ada orang-orang shaleh.[2]
واتقوا فتنة لا تصيبن الذين ظلموا منكم خآصة واعلموا
أن الله شديد العقاب
‘’Dan peliharalah dirimu dari
pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara
kamu. dan ketahuilah bahwa Allah Amat keras siksaan-Nya.’’ (Al-Anfal:25)
Dalam mengomentari hadits di
atas, Syaikh Muhammad bin `Abdurrahmân al-Mubârakfûri rahimahullah berkata:
“Dan memang seperti itu maknanya, jika manusia melarang orang yang berbuat maksiat,
maka mereka semua akan selamat dari adzab Allah Ta’ala, dan sebaliknya, jika
mereka membiarkan kemaksiatan, maka mereka semua akan ditimpa adzab dan akan
binasa, dan ini adalah makna ayat (di atas).[3]
c. Di antara tanda kerusakan
merajalela tersebut adalah:
§ Maksiat merajalela, karena
para pelaku maksiat dan dosa semakin bernyali untuk melakukan perbuatan
nistanya.
§ Hilangnya ilmu dan
tersebarnya kebodohan, karena jarangnya ahli agama yang menyebarkan ilmu dan
menegakkan amar ma’ruf nahi munkar.
§ Sikap diam orang-orang yang
mampu menegakkan amar ma’ruf nahi munkar akan membuat perbuatan tersebut
menjadi baik dan indah di mata khalayak ramai, kemudian mereka pun akan menjadi
pengikut para pelaku maksiat, dan hal ini adalah termasuk musibah dan bencana
yang paling besar.
d. Diriwayatkan dari Qays bin
Abu Hazim, di mana ia berkata, Aku mendengar Abu Bakar ra berkata: Sesungguhnya
kalian membaca ayat ini:
يا أيها الذين آمنوا عليكم أنفسكم لا يضركم من ضل
إذا اهتديتم إلى الله مرجعكم جميعا فينبئكم بما كنتم تعملون
Hai orang-orang yang beriman,
jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudarat kepadamu
apabila kamu telah mendapat petunjuk. Hanya kepada Allah kamu kembali semuanya,
maka Dia akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.(QS Al Ma’idah: 5).
Sesungguhnya Aku mendengar
bahwa Rasulullah bersabda:
وَإِنِّي
سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «مَا مِنْ
قَوْمٍ يُعْمَلُ فِيهِمْ بِالْمَعَاصِي، ثُمَّ يَقْدِرُونَ عَلَى أَنْ
يُغَيِّرُوا، ثُمَّ لَا يُغَيِّرُوا، إِلَّا يُوشِكُ أَنْ يَعُمَّهُمُ اللَّهُ
مِنْهُ بِعِقَابٍ[4]
“Sesungguhnya jika manusia
melihat seseorang melakukan kedzaliman, kemudian mereka tidak mencegah orang
itu, maka ALLAH akan meratakan adzab kepada mereka semua. (HR. Abu Dawud).
Diriwayatkan
dari Ibnu Mas’ud ketika beliau ditanya tentang ayat tersebut di atas, beliau
menjawab, “Saat ini bukanlah saat yang seperti itu. Akan tetapi saat itu nanti
adalah manakala hawa nafsu telah menguasai jiwa dan orang-orang suka berdebat
kusir, maka pada saat itu masing-masing orang akan menginterpretasikannya.[5]
Daftar Pustaka
Abu Dawud, Sulayman bin Asy’ats, Sunan Abu Dawud,
Maktabah Al ‘Ashriyah, Beyrut.
el Amien, Maer, Bahaya Meninggalkan
Dakwah (http://maer-elamien.blogspot.com/2013/01/hadist-dakwah-makalah-maerelamien.html).
al Bukhari, Muhammad bin Ismail Abu Abdullah al Ja’fiy, Shahih
Bukhari, Daar al Thuqo al Najah,1422H.
al Naisabury,
Muslim bin al Hajjaj Abu al hasan al Qusyairy, Shahih
Muslim, Beirut: Daar ihyau At
Turats al Araby, tth.
al Samarqandy, Nashr bin
Muhammad bin Ibrahim, Abu Laits, Tanbihul Ghafilin, alih bahasa
Muslich Shabir, Karya Toha Putra, Semarang, 2005.
[1] Muhammad bin Isma’il Abu Abdullah al Bukhary al Ja’fy, Shahih Bukhary, 1422, Juz 4, hal.134.
[2] Imam Muslim, Shahih Muslim,, juz 4, halaman 2207.
[3] Maer el Amien, Bahaya Meninggalkan Dakwah (http://maer-elamien.blogspot.com/2013/01/hadist-dakwah-makalah-maerelamien.html), 6/11/2014, 8:45 wib.
[4] Abu Dawud, Sunan Abu Daud, Juz 4, hal.122.
[5] Nashr bin Muhammad bin Ibrahim, Abu Laits As Samarqandy, Tanbihul Ghafilin, alih bahasa Muslich Shabir, Karya Toha Putra, Semarang, 2005, hal.148.
