Wahyu Bhekti Prasojo
Ahmad Mubarok berpendapat bahwa Ma’ruf
adalah sesuatu yang secara social dipandang memiliki kepantasan.[1] Ia
adalah sesuatu tentang bagaimana cara menegakkan keadilan dan kejujuran, atau
bagaimana caranya berbakti kepada orang tua, atau menolong orang yang lemah.
Secara bahasa al ma’ruf artinya sesuatu yang diketahui, yang kemudian
diartikan sebagai kebaikan. Bahwa pada dasarnya (fitrah) manusia mengetahui
nilai-nilai kepantasan, kepatutan yang secara social dipandang sebagai
kebaikan.[2]
Oleh karena itu, Imam Az
Zamakhsyari menyebutkan syarat melakukan amar ma’ruf nahi mungkar sebagai
berikut:
لا يصلح له إلا من علم المعروف والمنكر، وعلم كيف يرتب الأمر في
إقامته وكيف يباشر[3]
Hendaklah ia memahami dengan jelas tentang
yang ma’ruf dan yang munkar dan mengetahui bagaimana menata urusan-urusan yang
berkaitan dengannya dan cara menyampaikannya.
Secara lebih humanis, Imam
Sufyan ats Tsauri melarang melakukan amar ma’ruf dan nahi mungkar kecuali bagi
orang yang memiliki tiga sifat “
رَفِيقٌ بِمَا يَأْمُرُ، رَفِيقٌ بِمَا يَنْهَى، عَدْلٌ
بِمَا يَأْمُرُ، عَدْلٌ بِمَا يَنْهَى، عَالِمٌ بِمَا يَأْمُرُ، عَالِمٌ بِمَا
يَنْهَى[4]”
kasih sayang dalam sesuatu yang ia
perintahkan dan ia larang, berlaku adil dalam sesuatu yang ia perintahkan dan
ia larang, dan memiliki pengetahuan tentang sesuatu yang ia perintahkan dan ia
larang.
Imam Al
Baydhowy memberi acuan langkah-langkah amar ma’ruf nahi munkar sebagai berikut:
العلم
بالأحكام ومراتب الاحتساب وكيفية إقامتها والتمكن من القيام بها[5]
Yaitu
hendaklah seorang yang terjun dalam lapangan dakwah:
1. Mengetahui hukum-hukum,
2. Mengetahui tahapan-tahapan memberi
peringatan,
3. Mengetahui tata cara melaksanakan peringatan,
4. Memiliki
kemampuan membudayakan nilai-nilai (Islam).
Ini sejalan dengan pandangan Adh
Dhahak, bahwa menyampaikan kebenaran dan mencegah kemungkaran itu, mesti
dilakukan dengan cara yang baik (ma’ruf). Jangan sampai mencegah kemungkaran
justru menimbulkan kemungkaran lain yang lebih besar bahayanya. [6]
Daftar Pustaka
al Baydhowy,
Nashirudin Abu Sa’id, Anwar at Tanzil wa Asror at Ta’wil, Dar
Ihya at Turats Al Araby, Beyrut, 1418 H.
al Hambali, Ibnu Rajab: Jaami’
al ‘Ulum wal Hikam, Beirut : Muassasah ar Risalah, 1422 H.
Mubarok, Ahmad, Psikologi
Keluarga, Mubarok Institute, Jakarta, 2011.
az Zamakhsyari, Abdul
Qosim Mahmud, Al Kasyaaf ‘an Haqo’iq wa Ghowamidh at Tanzil, Dar
Al Kitab Al Araby, Beyrut, 1407H.
al Wa’iy, Tawfiq, Dakwah
ke Jalan Allah, Muatan, Sarana dan Tujuan, alih bahasa Muhith M. Ishaq,
Robbani Press, Jakarta, 2010.
[1] Ahmad Mubarok, Psikologi Keluarga, Mubarok Institute, Jakarta, 2011, hal.25.
[2] Ibid, hal 25.
[3] Abdul Qosim Mahmud Az Zamakhsyari, Al Kasyaaf ‘an Haqo’iq wa Ghowamidh at Tanzil, Dar Al Kitab Al Araby, Beyrut, 1407H, Juz 1, hal. 396.
[4] Ibnu Rajab
al Hambali : Jaami’ al ‘Ulum wal Hikam, Beirut : Muassasah ar Risalah,
1422 H, juz 2, hlm 256.
[5]
Nashirudin Abu Sa’id Al Baydhowy, Anwar at Tanzil wa Asror at Ta’wil,
Dar Ihya at Turats Al Araby, Beyrut, 1418 H, Juz 2, hal 32.
[6]
Tawfiq Al Wa’iy, Dakwah ke Jalan Allah, Muatan, Sarana dan Tujuan, alih
bahasa Muhith M. Ishaq, Robbani Press, Jakarta, 2010, hal. 78.
