wahyu bhekti prasojo
Yang pertama, berdakwah
adalah menyampaikan kebaikan (al khayr). Imam Ibnul Katsir menuliskan bahwa
berkata Abu Ja’far al Baqir[1]:
قَرَأَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ ثُمَّ قَالَ
«الْخَيْرُ اتِّبَاعُ الْقُرْآنِ وَسُنَّتِي» رَوَاهُ ابْنُ مَرْدَوَيْهِ.[2]
Rasulullah membaca waltakun minkum ummatun
yad’uuna ila al khayr, kemudian berkata: Al Khayr adalah mengikuti Al Qur’an
dan sunnahku.
Imam Al Maraghy
mengartikan al khayr adalah sesuatu yang padanya ada kebaikan untuk
manusia dalam urusan agama dan dunia.[3] Senada,
namun lebih gamblang, Ahmad Mubarok menejelaskan makna al khayr sebagai kebaikan
normative yang datangnya dari Tuhan dan bersifat universal, yang secara fitri
di miliki semua generasi manusia sepanjang zaman, termasuk pada masyarakat
primitive yang belum mengenal pendidikan.[4]
Seperti kejujuran, keadilan, berbuat baik kepada orang tua, menolong orang yang
lemah dan semacamnya. Lawan dari al khayr adalah fahisyah. Yaitu
sesuatu yang secara universal dipandang sebagai kekejian.[5]
واللاتي يأتين الفاحشة من نسآئكم فاستشهدوا عليهن أربعة منكم فإن
شهدوا فأمسكوهن في البيوت حتى يتوفاهن الموت أو يجعل الله لهن سبيلا
Dan (terhadap) para wanita yang
mengerjakan perbuatan keji, hendaklah ada empat orang saksi di antara kamu
(yang menyaksikannya). Kemudian apabila mereka telah memberi persaksian, maka
kurunglah mereka (wanita-wanita itu) dalam rumah sampai mereka menemui ajalnya,
atau sampai Allah memberi jalan yang lain kepadanya. (QS. An Nisaa [4]: 15)
Dalam ayat ini, kalimat fahisyah
digunakan untuk menyebut perbuatan zina. Maksudnya, hubungan seks di luar
nikah adalah perbuatan keji, dalam pandangan seluruh manusia sepanjang sejarah.
Yang kedua, berdakwah
adalah memerintahkan al ma’ruf dan mencegah al munkar. Menurut
Imam Ar Raghib Al Asfihany, al ma’ruf adalah sesuatu yang dipandang baik
oleh akal dan diinginkan oleh hukum syara’, sedangkan al munkar adalah
sesuatu yang dipandang buruk oleh akal dan dihindarkan oleh syara’.[6]
Senada dengan pengertian ini juga pengertian yang diberikan oleh Imam Al
Maraghy, al ma’ruf adalah sesuatu yang dipandang baik oleh syari’at dan
akal, adapun al munkar adalah lawan katanya.[7]
Secara lebih rinci Ahmad
Mubarok mengartikan al munkar sebagai berikut:
Term al munkar yang
disebut Al Qur’an (wa nahyuna an al munkar) untuk menyebut perbuatan
jahat yang diperdebatkan. Perbuatan munkar adalah kejahatan yang dilakukan
sebagai wujud dari kecerdasan seseorang, sehingga kejahatannya bisa
disembunyikan atau dilapis dengan logika, seakan perbuatan itu tidak jahat.
Munkar adalah prestasi negatif dari kecerdikan.[8]
Al Asfihany, Abul Qasim Husayn bin Muhammad Ar Raghib, Tafsir
Ar Raghib Al Asfihany, Darun Nasyr Darul Wathan Riyadh, 2003.
Al Maraghy, Ahmad bin
Musthofa, Tafsir Al Maraghy, Syirkah Maktabah wa Mathba’ah Musthofa al Baaby al Halaby wa Awladuhu,
Mesir, 1946.
Mubarok, Ahmad, Psikologi
Keluarga, Mubarok Institute, Jakarta, 2011.
Ibnu Katsir, Abul Fida’ Ismail bin Umar, Tafsir Al
Qur’an Al Adzim, tahqiq Muhammad Husyan Syamsuddin, Darul Kutub al
Ilmiyah, Beyrut, 1419 H.
[1] Dia adalah Muhammad bin Ali bin Husayn bin Ali bin Abi Thalib, wafat tahun 114 H. Beliau disebut Al Baqir karena beliau memahami banyak ilmu, seolah olah ia itu induk yang melahirkan ilmu.
[2] Abul Fida’ Ismail bin Umar bin Katsir, Tafsir Al Qur’an Al Adzim, tahqiq Muhammad Husyan Syamsuddin, Darul Kutub al Ilmiyah, Beyrut, 1419 H, Juz 2, hal.78.
[3] Ahmad bin Musthofa Al Maraghy, Tafsir Al Maraghy, Syirkah Maktabah wa Mathba’ah Musthofa al Baaby al Halaby wa Awladuhu, Mesir, 1946, Juz 4, hal.21.
[4] Ahmad Mubarok, Psikologi Keluarga, Mubarok Institute, Jakarta, 2011, hal. 25.
[5] Ibid, hal.26.
[6] Abul Qasim Husayn bin Muhammad Ar Raghib Al Asfihany, Tafsir Ar Raghib Al Asfihany, Darun Nasyr Darul Wathan Riyadh, 2003, Juz 2, hal. 770-771.
[7] Imam Al Maraghy, op.cit, Juz 3, hal 21.
[8] Ahmad Mubarok, Psikologi Keluarga, op.cit. hal. 26.
