oleh Wahyu B Prasojo
Di desa
Imbanagara Raya, kecamatan Ciamis Jawa Barat, tepatnya di jalan Anggapraja[1] terdapat
sebuah makam Bangsawan Galuh yang dikenal sebagai makam Raden Panji Aria
Jayanegara.
Jika diurutkan ke atas, Raden Panji Aria Jayanegara adalah Bupati Galuh ke 3.[2] Beliau menggantikan ayahandanya, Mas Dipati Imbanagara Bupati Galuh ke 2 yang berkuasa pada 1625-1636. Meski demikian pada gerbang kompleks makamnya, terdapat tulisan yang menerangkan bahwa Aria Jayanegara adalah Bupati Galuh Imbanagara I (pertama).
![]() |
| Gerbang Kompleks Makam RPA Jayanegara |
Ini mungkin berkaitan dengan perubahan
status bentuk pemerintahan galuh. Semula, Galuh yang berada
di bawah kekuasaan Mataram antara tahun 1595-1705, masih merupakan wilayah di
bawah perwalian Cirebon, meskipun para penguasanya tetap menggunakan gelar
Prabu. Seperti Prabu Galuh Cipta Permana. Kemudian pada pemerintahan Sultan
Agung, pemimpin Galuh Adipati Panaekan disebut dengan Wedana Mataram di
Galuh.[3]
Setelah
penyerangan Mataram ke Batavia yang gagal pada 1628 dan 1629[4], kemudian
disusul pemberontakan Dipati Ukur 1628-1632, Sultan Agung memecah Galuh menjadi
beberapa wilayah kecil. Yaitu Cibatu, Ciancang, Bojong Lopang, Kawasen. Untuk
daerah yang pemimpinnya yang dianggap berjasa membantu menumpas pemberontakan
Dipati Ukur diangkat menjadi Bupati. Seperti, Bagus Sutapura dikukuhkan menjadi Bupati Kawasen, Ki Astamanggala (Umbul
Cihaurbeuti) menjadi bupati Bandung, Ki Wirawangsa (Umbul Sukakerta) menjadi
bupati Sukapura (Tasikmalaya) dan Ki Somahita (Umbul Sindangkasih) menjadi
bupati Parakanmuncang. [5]
Sementara
itu Mas Dipati Imbangara penguasa Garatengah yang didakwa mendukung
pemberontakan Dipati Ukur, dihukum mati pada 1630. Uniknya, Sultan Agung justru
mengukuhkan putera Mas Dipati, Mas Bongsar, sebagai Bupati Garatengah dengan
gelar Raden Panji Arya Jayanegara pada 6 Agustus 1636.[6][7] Dengan
berubahnya status wilayah-wilayah tersebut menjadi kabupaten, membuat mereka
termasuk Garatengah lepas dari Cirebon.
Di samping itu, nampaknya sudah
menjadi kebiasaan kerajaan-kerajaan di masa lalu yang mengalami perubahan nama
seiring perpindahan pusat pemerintahannya. Raden Panji Arya Jayanegara kemudian
memindahkan ibukota Kabupaten Garatengah ke Barunay. Kemudian untuk menghormati
pendahulunya, nama Barunay diubahnya menjadi Imbanagara pada 12 Juni 1642. Agaknya
perubahan nama ini juga merupakan usulan Sultan Agung.[8] Maka
dapatlah difahami mengapa sebagian kalangan memandang bahwa R.P.A. Jayanegara
adalah Bupati pertama Kabupaten Galuh Imbanagara.
Bupati yang membawa kemajuan
Pemindahan lokasi ibukota ini
merupakan suatu langkah tepat untuk rencana pengembangan wilayah dan
pembangunan. Selain terletak di jalur utama selatan pulau jawa yang strategis,
Imbanagara merupakan wilayah yang memiliki tanah datar yang luas. Selain itu,
wilayah ini dikenal memiliki sumber air yang melimpah, sampai hari ini.
Menurut para sesepuh & tokoh
masyarakat di Imbanagara, gelar Jayanagara yang disandang Mas Bongsar adalah
gelar yang menunjukkan pengakuan dari pemerintah pusat Mataram akan jasa-jasa
dan keberhasilannya membawa kemajuan dan kebesaran wilayahnya. Karena jayanegara
berarti kejayaan negara. Pada masa kepemimpinannya masyarakat merasakan
kesejahteraan yang merata.
Dapat dikatakan bahwa program
pembangunan yang dijalankan R.P.A. Jayanegara sesuai dengan visi Kesultanan
Mataram. Ini lah mungkin yang melatarbelakangi, sejak 1641, Sultan Agung
melakukan reorganisasi Pemerintahan, yang juga dilanjutkan oleh Amangkurat I.
Reorganisasi tersebut secara bertahap memasukkan wilayah-wilayah kabupaten lain
di bekas Kerajaan Galuh itu ke dalam Imabangara. Sehingga wilayah Imbanagara
menjadi hampir seluas wilayah Galuh Purba.[9]
Makam Tengah
Ada yang unik tentang makam Raja
yang satu ini. Masyarakat menyebut kompleks makam yang kini ditetapkan Pemerintah
Kabupaten Ciamis sebagai Hutan Kota ini sebagai makam tengah. Karena di
sana dimakamkan bagian tengah jenazah Bupati Imbanagara tersebut.
![]() |
| Kompleks Makam RPA Jayanegara yang juga berfungsi sebagai Hutan Kota |
Tradisi lokal menyebutkan bahwa
jenazah Tumenggung Arya Jayanegara dimakamkan di tiga tempat berbeda. Selain
makam tengah, dua tempat lainnya adalah gunung Ardilaya (tubuh bagian atas) dan
daerah Kawali (tubuh bagian bawah). Hal ini dilakukan karena tubuh Bupati Arya
Jayanegara jika disatukan akan hidup lagi dari kematiannya karena kesaktiannya.
Daftar Pustaka
Febri, Wakidi, dan Syaiful M, Tinjauan
Historis Perjuangan Sultan Agung Dalam Perluasan Kekuasaan Mataram Tahun
1613-1645, FKIP Unila.
Hardjasaputra, A. Sobana, Sejarah
Galuh, Abad ke-8 s.d. Pertengahan Abad ke-20 (1942) http://usumhujan.wordpress.com/2008/05/09/sejarah-galuh-abad-ke-8-sd-pertengahan-abad-ke-20-1942/
http://kangandrinugraha.wordpress.com/2012/03/02/daftar-nama-bupati-ciamis-galuh/
Ratih, Dewi, Kadipaten
Ciancang Dalam Perspektif Lokal, Jurnal
Artefak: History and Education, Vol.4 No.1 April 2017, Universitas Galuh Ciamis.
[1] Di jalan ini juga terletak Makam Raden Dalem Adipati
Tumenggung Anggapraja, Bupati Galuh Imbanagara ke 2.
[3] Dewi Ratih, Kadipaten
Ciancang Dalam Perspektif Lokal, Jurnal
Artefak: History and Education, Vol.4 No.1 April 2017, Universitas Galuh
Ciamis, hlm.72.
[4] Febri, Wakidi, dan Syaiful M, Tinjauan
Historis Perjuangan Sultan Agung Dalam Perluasan Kekuasaan Mataram Tahun
1613-1645, FKIP Unila.
[5] A. Sobana
Hardjasaputra, Sejarah Galuh, Abad ke-8 s.d.
Pertengahan Abad ke-20 (1942) http://usumhujan.wordpress.com/2008/05/09/sejarah-galuh-abad-ke-8-sd-pertengahan-abad-ke-20-1942/
[6] Dewi Ratih, loc.cit, hlm.72.
[7] Kemungkinan Sultan Agung akhirnya mengetahui bahwa Mas
Dipati Imbanagara sebenarnya tidak berkhianat, melainkan ia difitnah patihnya
sendiri Wiranangga. Wiranangga terbukti memalsukan Piagam Pengangkatan Mas
Bongsar yang ketika itu baru barusia 13 tahun, sehingga berada dalam perwaliannya.
Wiranangga mengganti nama yang tercantum dalam piagam dengan namanya sendiri.
[8] Dewi Ratih, loc.cit, hlm.72.
[9]
Dewi Ratih, ibid, hlm.72.

