Sejarah Bupati Galuh Imbanagara I Raden Panji Aria Jayanegara / Mas Bongsar ( 1636-1678 ) - Saungpikir

Thursday, January 5, 2023

Sejarah Bupati Galuh Imbanagara I Raden Panji Aria Jayanegara / Mas Bongsar ( 1636-1678 )

oleh Wahyu B Prasojo

Di desa Imbanagara Raya, kecamatan Ciamis Jawa Barat, tepatnya di jalan Anggapraja[1] terdapat sebuah makam Bangsawan Galuh yang dikenal sebagai makam Raden Panji Aria Jayanegara.

Jika diurutkan ke atas, Raden Panji Aria Jayanegara adalah Bupati Galuh ke 3.[2] Beliau menggantikan ayahandanya, Mas Dipati Imbanagara Bupati Galuh ke 2 yang berkuasa pada 1625-1636. Meski demikian pada gerbang kompleks makamnya, terdapat tulisan yang menerangkan bahwa Aria Jayanegara adalah Bupati Galuh Imbanagara I (pertama).



Gerbang Kompleks Makam RPA Jayanegara

Ini mungkin berkaitan dengan perubahan status bentuk pemerintahan galuh. Semula, Galuh yang berada di bawah kekuasaan Mataram antara tahun 1595-1705, masih merupakan wilayah di bawah perwalian Cirebon, meskipun para penguasanya tetap menggunakan gelar Prabu. Seperti Prabu Galuh Cipta Permana. Kemudian pada pemerintahan Sultan Agung, pemimpin Galuh Adipati Panaekan disebut dengan Wedana Mataram di Galuh.[3]

Setelah penyerangan Mataram ke Batavia yang gagal pada 1628 dan 1629[4], kemudian disusul pemberontakan Dipati Ukur 1628-1632, Sultan Agung memecah Galuh menjadi beberapa wilayah kecil. Yaitu Cibatu, Ciancang, Bojong Lopang, Kawasen. Untuk daerah yang pemimpinnya yang dianggap berjasa membantu menumpas pemberontakan Dipati Ukur diangkat menjadi Bupati. Seperti, Bagus Sutapura dikukuhkan menjadi Bupati Kawasen, Ki Astamanggala (Umbul Cihaurbeuti) menjadi bupati Bandung, Ki Wirawangsa (Umbul Sukakerta) menjadi bupati Sukapura (Tasikmalaya) dan Ki Somahita (Umbul Sindangkasih) menjadi bupati Parakanmuncang. [5]

Sementara itu Mas Dipati Imbangara penguasa Garatengah yang didakwa mendukung pemberontakan Dipati Ukur, dihukum mati pada 1630. Uniknya, Sultan Agung justru mengukuhkan putera Mas Dipati, Mas Bongsar, sebagai Bupati Garatengah dengan gelar Raden Panji Arya Jayanegara pada 6 Agustus 1636.[6][7] Dengan berubahnya status wilayah-wilayah tersebut menjadi kabupaten, membuat mereka termasuk Garatengah  lepas dari Cirebon.

Di samping itu, nampaknya sudah menjadi kebiasaan kerajaan-kerajaan di masa lalu yang mengalami perubahan nama seiring perpindahan pusat pemerintahannya. Raden Panji Arya Jayanegara kemudian memindahkan ibukota Kabupaten Garatengah ke Barunay. Kemudian untuk menghormati pendahulunya, nama Barunay diubahnya menjadi Imbanagara pada 12 Juni 1642. Agaknya perubahan nama ini juga merupakan usulan Sultan Agung.[8] Maka dapatlah difahami mengapa sebagian kalangan memandang bahwa R.P.A. Jayanegara adalah Bupati pertama Kabupaten Galuh Imbanagara.

Bupati yang membawa kemajuan

Pemindahan lokasi ibukota ini merupakan suatu langkah tepat untuk rencana pengembangan wilayah dan pembangunan. Selain terletak di jalur utama selatan pulau jawa yang strategis, Imbanagara merupakan wilayah yang memiliki tanah datar yang luas. Selain itu, wilayah ini dikenal memiliki sumber air yang melimpah, sampai hari ini.

Menurut para sesepuh & tokoh masyarakat di Imbanagara, gelar Jayanagara yang disandang Mas Bongsar adalah gelar yang menunjukkan pengakuan dari pemerintah pusat Mataram akan jasa-jasa dan keberhasilannya membawa kemajuan dan kebesaran wilayahnya. Karena jayanegara berarti kejayaan negara. Pada masa kepemimpinannya masyarakat merasakan kesejahteraan yang merata.

Dapat dikatakan bahwa program pembangunan yang dijalankan R.P.A. Jayanegara sesuai dengan visi Kesultanan Mataram. Ini lah mungkin yang melatarbelakangi, sejak 1641, Sultan Agung melakukan reorganisasi Pemerintahan, yang juga dilanjutkan oleh Amangkurat I. Reorganisasi tersebut secara bertahap memasukkan wilayah-wilayah kabupaten lain di bekas Kerajaan Galuh itu ke dalam Imabangara. Sehingga wilayah Imbanagara menjadi hampir seluas wilayah Galuh Purba.[9]

Makam Tengah

Ada yang unik tentang makam Raja yang satu ini. Masyarakat menyebut  kompleks makam yang kini ditetapkan Pemerintah Kabupaten Ciamis sebagai Hutan Kota ini sebagai makam tengah. Karena di sana dimakamkan bagian tengah jenazah Bupati Imbanagara tersebut.

Kompleks Makam RPA Jayanegara yang juga berfungsi sebagai Hutan Kota


Tradisi lokal menyebutkan bahwa jenazah Tumenggung Arya Jayanegara dimakamkan di tiga tempat berbeda. Selain makam tengah, dua tempat lainnya adalah gunung Ardilaya (tubuh bagian atas) dan daerah Kawali (tubuh bagian bawah). Hal ini dilakukan karena tubuh Bupati Arya Jayanegara jika disatukan akan hidup lagi dari kematiannya karena kesaktiannya.

Daftar Pustaka

Febri, Wakidi, dan Syaiful M, Tinjauan Historis Perjuangan Sultan Agung Dalam Perluasan Kekuasaan Mataram Tahun 1613-1645, FKIP Unila.

Hardjasaputra, A. Sobana,   Sejarah Galuh, Abad ke-8 s.d. Pertengahan Abad ke-20 (1942) http://usumhujan.wordpress.com/2008/05/09/sejarah-galuh-abad-ke-8-sd-pertengahan-abad-ke-20-1942/

http://kangandrinugraha.wordpress.com/2012/03/02/daftar-nama-bupati-ciamis-galuh/

Ratih, Dewi, Kadipaten Ciancang Dalam Perspektif Lokal, Jurnal Artefak: History and Education, Vol.4 No.1 April 2017, Universitas Galuh Ciamis.



[1] Di jalan ini juga terletak Makam Raden Dalem Adipati Tumenggung Anggapraja, Bupati Galuh Imbanagara ke 2.

[3] Dewi Ratih, Kadipaten Ciancang Dalam Perspektif Lokal, Jurnal Artefak: History and Education, Vol.4 No.1 April 2017, Universitas Galuh Ciamis, hlm.72.

[4] Febri, Wakidi, dan Syaiful M, Tinjauan Historis Perjuangan Sultan Agung Dalam Perluasan Kekuasaan Mataram Tahun 1613-1645, FKIP Unila.

[5] A. Sobana Hardjasaputra,   Sejarah Galuh, Abad ke-8 s.d. Pertengahan Abad ke-20 (1942) http://usumhujan.wordpress.com/2008/05/09/sejarah-galuh-abad-ke-8-sd-pertengahan-abad-ke-20-1942/

[6] Dewi Ratih, loc.cit, hlm.72.

[7] Kemungkinan Sultan Agung akhirnya mengetahui bahwa Mas Dipati Imbanagara sebenarnya tidak berkhianat, melainkan ia difitnah patihnya sendiri Wiranangga. Wiranangga terbukti memalsukan Piagam Pengangkatan Mas Bongsar yang ketika itu baru barusia 13 tahun, sehingga berada dalam perwaliannya. Wiranangga mengganti nama yang tercantum dalam piagam dengan namanya sendiri.

[8] Dewi Ratih, loc.cit, hlm.72.

[9] Dewi Ratih, ibid, hlm.72.

Comments


EmoticonEmoticon