Sejarah Penyebar Islam ke Galuh Ciamis - Saungpikir

Thursday, January 19, 2023

Sejarah Penyebar Islam ke Galuh Ciamis

oleh wahyu b. prasojo


Pendahuluan

Lazimnya penulisan sejarah Islam Indonesia, sejarah Islam di wilayah Galuh juga tidak dapat memastikan di mana awal mula, kapan, penyebarannya dan siapa yang membawa dan menyebarkannya. Kemungkinan para ulama atau mubaligh yang mendakwahkan Islam tidak terlalu mementingkan pencatatannya karena menganggap kegiatannya berdakwah sebagai suatu amal ibadah biasa, yang dalam Islam memang dituntut sebagai kewajiban yang harus dikerjakan dengan ikhlas, tanpa perlu “menghitung-hitung” amal. Sikap yang dimaknai oleh Bung Karno sebagai tidak mementingkan perlunya pencatatan sejarah.[1]

Jika berbicara tentang di mana awal mula penyebaran Islam di Jawa bagian barat khususnya Galuh (Ciamis), nampaknya tidak dapat dilepaskan dari nama Cirebon. Bisa jadi karena Cirebon adalah pelabuhan yang relatif ramai pada abad 14-16. Pada perempat pertama abad ke-14 Masehi saudagar-saudagar yang berasal dari Pasai, Arab, India, Parsi, Malaka, Tumasik (Singapura), Palembang, Cina, Jawa Timur, dan Madura datang berkunjung ke Pelabuhan Muhara Jati dan Pasar Pasambangan di Cirebon untuk berniaga dan memenuhi keperluan pelayaran lainnya. Kedatangan mereka, yang telah memeluk Islam, memungkinkan penduduk setempat berkenalan dengan agama Islam.[2]

Cirebon terlibat dalam jalur perdagangan yang ramai ini karena menyuplai beras[3] dan palawija yang melimpah[4] dari daerah pedalamannya. Beras diekspor ke Malaka, juga terutama ke Ternate, Tidore, Hitu dan Banda.[5] Sementara dari wilayah pesisirnya, Cirebon adalah sentra produksi bubukan rebon yang sangat halus berbentuk gelondongan[6] (terasi).

Mengenai waktu kedatangannya, sebagian sejarawan di antaranya J.C. Van Leur menyebutkan bahwa pelabuhan-pelabuhan di nusantara telah terlibat dalam jalur perdagangan laut (sea route) sejak masa-masa awal masehi.[7] Jalur yang menghubungkan Venesia – Banten – India – Kekhalifahan Islam, yang dipertahankan ini, adalah salah satu urat syaraf penting dalam sistem tradisional Islam dari barat ke timur.[8] Dengan demikian dapat diperkirakan bahwa Islam telah sampai ke nusantara sejak masa awal penyebarannya, yaitu sekitar abad ke 7 Masehi, karena terjadinya kontak antara pedagang lokal dengan pedagang-pedagang dari Arab, Persia, India, Malaka, Pasai, Banten, Tuban dan Gresik yang berdampak pada penyebaran agama Islam. Bukan hanya Cirebon, juga pada kota-kota yang tumbuh pada masa itu seperti Indramayu[9] dan Tegal.[10]

Namun demikian tidak ditemukan bukti bahwa Islam telah masuk ke wilayah Galuh pada abad ke 7 sampai beberapa abad sesudahnya. Menurut Nina Herlina Lubis dan kawan-kawan, sampai akhir abad ke 15, Raja-raja Galuh masih menganut agama Hindu Syiwa dan Budha pada sebagian kerajaan bawahannya seperti di Kerajaan Talaga.[11] Data ini bersesuaian dengan penjelasan tentang Cirebon sebagai tempat masuknya Islam pada sekitar abad ke 14.

Begitu pula dengan keterangan tentang keberadaan beberapa tokoh pembawa, penyebar atau pengajar agama Islam di Galuh yang ditandai dengan angka tahun sekitar abad ke 14. Namun demikian didapati beberapa nama yang disebut sebagai pembawa agama Islam atau perintis dakwah atau yang mula-mula menyebarkan Islam di wilayah Galuh.

Bratalegawa / Haji Purwa

Angka tahun paling tua yang menunjukkan sudah ada orang Islam tinggal di wilayah Kerajaan Galuh adalah pada paruh pertama abad ke-14. Sumber sejarah lokal yang dicatat oleh Hageman (1866) menyebutkan bahwa penganut Islam yang pertama datang ke Jawa Barat adalah Haji Purwa pada tahun 1250 Jawa atau 1337 Masehi. [12]

Haji Purwa (Bratalegawa) adalah putera kedua dari Prabu Guru Pangandiparamarta Jayadewabrata (Prabu Bunisora) Raja Galuh ke 31 yang berkuasa pada 1357-1371 M.[13] Bunisora menggantikan kakaknya yang bernama Prabu Maharaja Linggabuana (berkuasa 1350-1357). Linggabuana gugur saat terjadi insiden Perang Bubat antara kerajaan Galuh dan Majapahit di tahun 1357. Dikarenakan anak Linggabuana, Anggalarang (Niskala Wastukencana), masih sangat muda saat Linggabuana gugur, tahta kerajaan Galuh diemban sementara oleh Bunisora sampai ia menyerahkan takhta kembali kepada keponakannya.[14]

Bratalegawa yang saudagar, banyak melakukan perjalanan perdagangan ke luar daerah Nusantara. Ia mengenal Islam saat melakukan perjalanan ke India (Kesultanan Delhi), dimana ia banyak berinteraksi dengan para pedagang Arab yang juga berdagang disana.[15]

Karena ia adalah orang pertama dari Galuh (sunda) yang menjalankan ibadah haji, maka selanjutnya ia dikenal dengan julukan haji purwa[16]. Purwa dalam bahasa sunda berarti awal-mula, yang pertama atau terdahulu.[17]

Setelah berkeluarga, Bratalegawa pulang ke Kawali, ibukota Galuh di tahun 1337, dimana ia mulai menyebarkan Islam di kalangan istana. Ia berusaha mengislamkan saudara kandungnya, Giri Dewanti dan Ratu Banawati, namun ajakannya tersebut ditolak. Ia kemudian meninggalkan Kawali ibukota Galuh, menuju Cirebon Girang (sekarang Kab. Cirebon) dan menetap di sana. Cirebon Girang yang masih bagian dari wilayah Galuh,[18] ketika itu dipimpin oleh saudara lelakinya Ki Gedeng Kasmaya, dimana penyebaran Islam yang dilakukan olehnya berhasil mmbentuk komunitas muslim di pesisir Cirebon.

Sunan Gunung Jati

Tokoh berikutnya yang berperan besar dalam islamisasi Galuh adalah Sunan Gunung Jati. Sunan Gunung Jati, salah satu anggota Wali Songo, ketika itu sudah menjadi penguasa Cirebon sebagai Ratu Pandita. Ia kemudian mengembangkan politik luar negerinya untuk memisahkan diri dari Rajagaluh. Cirebon mulai tidak lagi mengirimkan upeti dan tidak menghadiri pesewakan raja-raja bawahan Rajagaluh di Kawali. Sehingga Rajagaluh, Prabu Cakraningrat[19] mengetahui bahwa Cirebon nampaknya akan melepaskan diri. Maka sambil mengirim utusan dan surat peringatan agar Cirebon mempertahankan kesetiaannya, disiapkanlah sebuah penyerangan untuk meredam gerakan seperatis itu.

Cirebon kemudian mempersiapkan diri untuk berperang. Dalam pada itu, Kesultanan Demak mengirimkan bantuan pasukannya. Bergabung pula dalam pasukan itu, pasukan dari Kadipaten Kuningan yang sudah menerima Islam secara damai, beberapa tahun sebelumnya. Pasukan gabungan itu memilih mendahului menyerang ke wilayah Rajagaluh, dengan sebelumnya mengirim surat pernyataan perang.

Pada tahun 1528, perang akhirnya dimenangkan Pasukan gabungan Cirebon-Demak-Kuningan. Wilayah Rajagaluh, kemudian dimasukkan ke dalam Kesultanan Cirebon.[20] Setahun berikutnya Talaga (kerajaan bawahan Galuh lainnya), menyerah kepada Cirebon, pada 1529 Masehi.[21]

Keberhasilan Cirebon menguasai wialayah-wilayah[22] di Galuh, juga didukung oleh situasi politik Galuh yang kurang stabil. Galuh yang ketika itu berada di bawah kekuasaan Kerajaan Sunda, sedang terpecah-pecah karena pusat kekuasaan Kerajaan Sunda dipindah ke Bogor. Keadaan tersebut mempermudah Susuhunan Jati merebutnya satu-persatu kemudian mempersatukannya kembali dengan Agama Islam sebagai alatnya.[23]

Kondisi masyarakat yang terpecah-pecah akibat pindahnya pusat kekuasaan, tersusun lagi dalam bentuknya yang baru, yaitu menjadi komunitas muslim.[24] Proses islamisasi dalam hal ini berlangsung lewat jalur kekuasaan struktural (top down), yang tidak merubah struktur masyarakat dan struktur politiknya.

Maulana Ifdhil Hanafi / Haji Tan Eng Hoat

Sementara itu, berita dari kelenteng Talang Cirebon mengatakan bahwa Maulana Ifdil Hanafi atau Haji Tan Eng Hoat pada 1513 sampai 1564 menjadi bawahan Sultan Cirebon dengan gelar Pangeran Wirasenjaya dan berkedudukan di Kadipaten Majalengka. Ia aktif mengembangkan Islam ke pedalaman Priangan Timur sampai ke Galuh.[25]

Haji Tan Eng Hoat kemungkinan adalah seorang Duta Dinasti Ming yang ditugaskan Laksamana Zheng He (1371–1433) dalam muhibbahnya ke kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara, untuk mengokohkan hubungan diplomatik antara Dinasti Ming dengan Cirebon. Laksamana Zeng He diyakini telah menyemai mazhab Hanafi di wilayah ini.[26]

Maulana Ifdhil Hanafi adalah gelar yang dianugrahkan Sultan Trenggana dari Demak kepadanya pada 1526.[27] Sebagai pengokohan atas ketokohannya dalam Madzhab Hanafi dan semacam ijazah/izin/hak untuk menyebarkan dan mempraktikkan ibadah dalam madzhab Hanafi.  Ia dalam hal ini memasukkan Galuh dalam pengaruh Islam tidak lewat strategi kultural, melainkan melalui strategi struktural, yakni konversi agama masyarakat dari Hindu ke Islam melalui saluran kekuasaannya sebagai Adipati.[28]

Meski kemungkinan bermadzhab hanafi, Pangeran Wirasanjaya sepertinya tidak memaksakan madzhabnya yang cenderung rasionalistik terhadap masyarakat. Sampai hari ini, dapat diterima pandangan bahwa madzhab Imam Syafi’i, secara umum, lebih hidup di Indonesia karena lebih kompatibel dengan kultur masyarakatnya.

Ia gugur dalam peperangan antara Kesultanan Cirebon dan Kerajaan Galuh dan dimakamkan di sebuah pulau dalam danau.[29]

Apun Di Anjung / Pangeran Mahadikusumah

Berdasarkan sumber tradisi dari Ciamis, masuknya Islam ke daerah Galuh (Ciamis) dihubungkan dengan tokoh Apun Di Anjung atau Pangeran Mahadikusumah, Maharaja Kawali, pada abad ke 16. Pangeran Mahadikusumah terkenal sebagai ulama yang sangat dipercayai Cirebon.[30]

Beliau mengislamkan Ujang Ngekel putra Raja Galuh, Prabu Cipta Sanghyang yang sebelumnya beragama Hindu. Melalui pernikahan dengan putrinya, Tanduran di Anjung, atas sepengetahuan (izin) Kesultanan Cirebon.[31] Ujang Ngekel kemudian bergelar Prabu Cipta Permana ketika naik tahta menggantikan ayahnya. Meski sudah beragama Islam, Prabu Cipta Permana diberi izin oleh Kesultanan Cirebon untuk dapat melaksanakan adat istiadat leluhurnya di Galuh. Prabu Cipta Permana berkedudukan di Gara Tengah (masuk wilayah Tasikmalaya sekarang), nantinya melahirkan raja-raja Galuh Imbanagara.

Sebuah Petilasan berupa umpak batu yang mungkin bekas bangunan masjid di Pulau Danau Panjalu (Ciamis) dipercaya sebagai petunjuk permulaan Islam di daerah itu.[32]  Yaitu sekitar tahun 1528-1530.[33]

Kesimpulan

Proses Islamisasi Galuh berlangsung antara abad ke 14 sampai dengan abad ke 16. Dengan melibatkan banyak pelaku dakwah dengan metode yang bervariasi. Di satu sisi pelaku dakwahnya individual, ada pula pelaku dakwah individu penguasa. Pada kesempatan yang lain, pelaku dakwahnya adalah negara.

Pada pelaku dakwah individual, dakwah dilakukan melalui saluran kultural di antara sesama keluarga seperti pada kasus Haji Purwa kepada saudara-saudari kandungnya.

Ada pula yang dilakukan secara struktural malalui jalur kekuasaan politik. Di mana kerajaan-kerajaan seperti Demak dan Cirebon melakukan Islamisasi melalui penguasa-penguasa lokal yang ditunjuknya di wilayah Galuh. Sebuah kasus yang unik dalam tema ini mungkin ditemukan pada syarat masuk Islamnya Prabu Cipta Permana untuk dapat menikah dengan Putri Tanduran Di Anjung.

Pada jalur politik juga ditemukan kasus bergabungnya beberapa kerajaan dengan sukarela kepada Kesultanan Cirebon dan menerima dakwah Islam dengan damai. Seperti Kasus Kadipaten Kuningan, Talaga dan Gara Tengah. Sebuah kasus yang mungkin jarang ditemui adalah islamisasi melalui peperangan yang dilakukan Cirebon dengan sekutunya terhadap Rajagaluh. Meski demikian terdapat toleransi yang tinggi dalam proses islamisasi yang berlangsung, seperti dibebaskannya Prabu Cipta Permana menyelenggarakan tradisi leluhurnya di wilayah kekuasaannya. Juga toleransi Pangeran Wirasanjaya yang bermadzhab Hanafi tetapi justru menyebarkan madzhab Syafi’i yang lebih cocok dengan kultur warga Kadipaten yang dipimpinnya.

Daftar Pustaka

Arnold, Thomas Walker, Sejarah Dakwah Islam, ter. Nawawi Rambe, Penerbit Wijaya, 1977.

Laffan, Michael, Sejarah Islam di Nusantara, Penerbit Bentang, Jogjakarta, 2015.

Leur, J.C. Van, Perdagangan dan Masyarakat Indonesia, Penerbit Ombak, Jogjakarta, 2015.

Lubis, Nina Herlina. (Ketua Tim), Sejarah Perkembangan Islam di Jawa Barat, Bandung: Masyarakat Sejarawan Indonesia, 2011.

Al Qurtuby, Sumanto, Arus Cina-Islam-Jawa, Inspeal ahimsakarya Press, Jogjakarta, 2003.

Sulendraningrat, P.S., Babad Tanah Sunda Babad Cirebon, tp,1984.

Suryanegara, Ahmad Mansur, Menemukan Sejarah, Wacana Pergerakan Islam Indonesia, Penerbit Mizan, Bandung, 1995.

Tjandrasasmita, Uka, Pertumbuhan dan Perkembangan Kota-kota Muslim di Indonesia abad XIII sampai abad XVIII Masehi, Penerbit Menara, Kudus, 2000.

Jurnal

Lubis, Nina Herlina, dkk, Rekonstruksi Sejarah Kerajaan Galuh abad VIII – XV, Jurnal Paramitha Vol.26. No-1, Tahun 2016.

Ratih, Dewi, Kadipaten Ciancang Dalam Perspektif Lokal, Jurnal Artefak: History and Education, Vol.4 No.1 April 2017, Universitas Galuh Ciamis.

Widyastuti, Endang, PERLAKUAN TERHADAP TINGGALAN BERCORAK HINDU-BUDDHA Kaitannya dengan Proses Islamisasi, dalam “Widyasaparuna”, hlm. 17 – 23. Editor Prof. Dr. Timbul Haryono. Bandung: Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia Komda Jawa Barat – Banten, 2007.

Makalah

Muhsin Z, Mumuh, Penyebaran Islam di Jawa Barat, Makalah. Pada Saresehan Nasional “Sejarah Perjuangan Syaikhuna Badruzzaman (1898 – 1972)“, PROGRAM STUDI ILMU SEJARAH FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS PADJADJARAN JATINANGOR 2010.

Sumber Internet

Ekadjati, Edi S., Islamisasi Jawa Barat, (sundaislam.wordpress.com)

Hardjasaputra,A.Sobana, Sejarah Galuh, Abad ke-8 s.d. Pertengahan Abad ke-20 (1942) http://usumhujan.wordpress.com/2008/05/09/sejarah-galuh-abad-ke-8-sd-pertengahan-abad-ke-20-1942/



[1] Ahmad Manshur Suryanegara, Menemukan Sejarah, Wacana Pergerakan Islam Indonesia, Penerbit Mizan, Bandung, 1995, hlm.73.

[2] Mumuh Muhsin Z, Penyebaran Islam di Jawa Barat, Makalah. Pada Saresehan Nasional “Sejarah Perjuangan Syaikhuna Badruzzaman (1898 – 1972)“, PROGRAM STUDI ILMU SEJARAH FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS PADJADJARAN JATINANGOR 2010, hlm.3.

[3] Uka Tcandrasasmita, Pertumbuhan dan Perkembangan Kota-kota Muslim di Indonesia abad XIII sampai abad XVIII Masehi, Penerbit Menara, Kudus, 2000, hlm. 152.

[4] P.S. Sulendraningrat, Babad Tanah Sunda Babad Cirebon, tp,1984, hlm. 12.

[5] Uka Tcandra Sasmita, loc.cit, hlm.152.

[6] P.S. Sulendraningrat, op.cit, hlm.13.

[7] J.C. Van Leur, Perdagangan dan Masyarakat Indonesia, Penerbit Ombak, Jogjakarta, 2015, hlm.243.

[8] Ibid, hlm. 242.

[9] Uka, Tjandra Sasmita, op.cit, hlm.21

[10] Uka, Tjandra Sasmita, ibid, hlm.39.

[11]  Nina Herlina Lubis, dkk, Reknstruksi Sejarah Kerajaa Galuh abad VIII – XV, Jurnal Paramitha Vol.26. No-1, Tahun 2016, hlm. 15.

[12] Edi S. Ekadjati, Islamisasi Jawa Barat, (sundaislam.wordpress.com, akses 23/11/2013; 20:53).

[13] Edi S. Ekadjati, Islamisasi Jawa Barat, (sundaislam.wordpress.com, akses 23/11/2013; 20:53).

[14] Dewi Ratih, Kadipaten Ciancang Dalam Perspektif Lokal, Jurnal Artefak: History and Education, Vol.4 No.1 April 2017, Universitas Galuh Ciamis, hlm.70.

[15] Edi S. Ekadjati, Islamisasi Jawa Barat, (sundaislam.wordpress.com, akses 23/11/2013; 20:53).

[16] T.W. Arnold juga menceritakan tentang Haji Purwa dalam Sejarah Dakwah Islam. bahwa Haji Purwa adalah putera pertama Raja Pajajaran, yang merupakan seorang pedagang. Ia menyerahkan haknya atas tahta kepada adiknya, yang kemudian naik tahta dengan gelar Prabu Mundingsari. Ia masuk Islam karena pergaulannya dengan pedagang Arab yang ditemuinya di India. Setelah gagal dalam usaha mengislamkan kerabatnya, ia lalu pergi dari istana dan menghilang. (Thomas Walker Arnold, Sejarah Dakwah Islam, ter. Nawawi Rambe, Penerbit Wijaya, 1977, hlm. 329-330.)

[17] Ahmad Manshur Suryanegara, op.cit, hlm.98.

[18] P.S. Sulendraningrat, op.cit, hlm.14.

[19] Ibid, hlm.69.

[20] Ibid, hlm.80.

[21] Nina H. Lubis (Ketua Tim), Sejarah Perkembangan Islam di Jawa Barat, Bandung: Masyarakat Sejarawan Indonesia, 2011, hlm.25.

[22]Beberapa daerah/kerajaan bawahan Galuh antara lain; Rajagaluh, Kalapa, Pakwan, Galuh, Datar, Mandiri, Jawakalapa, Gegelang dan Salajo. Dewi Ratih, op.cit, hlm.71.

[23]Endang Widyastuti, PERLAKUAN TERHADAP TINGGALAN BERCORAK HINDU-BUDDHA Kaitannya dengan Proses Islamisasi, dalam “Widyasaparuna”, hlm. 17 – 23. Editor Prof. Dr. Timbul Haryono. Bandung: Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia Komda Jawa Barat – Banten, 2007.

[24] Endang Widyastuti, ibid. Masyarakat di daerah-daerah itu sebelumnya sudah tertata dalam struktur politi berbentuk kabupaten/kadipaten dalam balutan agama Hindu-Budha (pen).

[25] Nina H. Lubis (Ketua Tim), op.cit, hlm.26

[26] Michael Laffan, Sejarah Islam di Nusantara, Penerbit Bentang, Jogjakarta, 2015, hlm.8

[27] Sumanto Al Qurtuby, Arus Cina-Islam-Jawa, Inspeal ahimsakarya Press, Jogjakarta, 2003, hlm.167.

[28] Sumanto Al Qurtuby, ibid, hlm. 109.

[29] Sumanto Al Qurtuby, ibid, hlm. 168.

[30] Dewi Ratih, loc,cit, hlm.71

[31] A. Sobana Hardjasaputra, Sejarah Galuh, Abad ke-8 s.d. Pertengahan Abad ke-20 (1942) http://usumhujan.wordpress.com/2008/05/09/sejarah-galuh-abad-ke-8-sd-pertengahan-abad-ke-20-1942/ akses 23/11/2013; 23:55 wib.

[32] Nina H. Lubis (Ketua Tim), op.cit, hlm.28

[33] A. Sobana Hardjasaputra, Sejarah Galuh, Abad ke-8 s.d. Pertengahan Abad ke-20 (1942) http://usumhujan.wordpress.com/2008/05/09/sejarah-galuh-abad-ke-8-sd-pertengahan-abad-ke-20-1942/ akses 23/11/2013; 23:55 wib.


[1] Ahmad Manshur Suryanegara, Menemukan Sejarah, Wacana Pergerakan Islam Indonesia, Penerbit Mizan, Bandung, 1995, hlm.73.

[2] Mumuh Muhsin Z, Penyebaran Islam di Jawa Barat, Makalah. Pada Saresehan Nasional “Sejarah Perjuangan Syaikhuna Badruzzaman (1898 – 1972)“, PROGRAM STUDI ILMU SEJARAH FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS PADJADJARAN JATINANGOR 2010, hlm.3.

[3] Uka Tcandrasasmita, Pertumbuhan dan Perkembangan Kota-kota Muslim di Indonesia abad XIII sampai abad XVIII Masehi, Penerbit Menara, Kudus, 2000, hlm. 152.

[4] P.S. Sulendraningrat, Babad Tanah Sunda Babad Cirebon, tp,1984, hlm. 12.

[5] Uka Tcandra Sasmita, loc.cit, hlm.152.

[6] P.S. Sulendraningrat, op.cit, hlm.13.

[7] J.C. Van Leur, Perdagangan dan Masyarakat Indonesia, Penerbit Ombak, Jogjakarta, 2015, hlm.243.

[8] Ibid, hlm. 242.

[9] Uka, Tjandra Sasmita, op.cit, hlm.21

[10] Uka, Tjandra Sasmita, ibid, hlm.39.

[11]  Nina Herlina Lubis, dkk, Reknstruksi Sejarah Kerajaa Galuh abad VIII – XV, Jurnal Paramitha Vol.26. No-1, Tahun 2016, hlm. 15.

[12] Edi S. Ekadjati, Islamisasi Jawa Barat, (sundaislam.wordpress.com, akses 23/11/2013; 20:53).

[13] Edi S. Ekadjati, Islamisasi Jawa Barat, (sundaislam.wordpress.com, akses 23/11/2013; 20:53).

[14] Dewi Ratih, Kadipaten Ciancang Dalam Perspektif Lokal, Jurnal Artefak: History and Education, Vol.4 No.1 April 2017, Universitas Galuh Ciamis, hlm.70.

[15] Edi S. Ekadjati, Islamisasi Jawa Barat, (sundaislam.wordpress.com, akses 23/11/2013; 20:53).

[16] Ahmad Manshur Suryanegara, op.cit, hlm.98.

[17] P.S. Sulendraningrat, op.cit, hlm.14.

[18] Ibid, hlm.69.

[19] Ibid, hlm.80.

[20] Nina H. Lubis (Ketua Tim), Sejarah Perkembangan Islam di Jawa Barat, Bandung: Masyarakat Sejarawan Indonesia, 2011, hlm.25.

[21]Beberapa daerah/kerajaan bawahan Galuh antara lain; Rajagaluh, Kalapa, Pakwan, Galuh, Datar, Mandiri, Jawakalapa, Gegelang dan Salajo. Dewi Ratih, op.cit, hlm.71.

[22]Endang Widyastuti, PERLAKUAN TERHADAP TINGGALAN BERCORAK HINDU-BUDDHA Kaitannya dengan Proses Islamisasi, dalam “Widyasaparuna”, hlm. 17 – 23. Editor Prof. Dr. Timbul Haryono. Bandung: Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia Komda Jawa Barat – Banten, 2007.

[23] Endang Widyastuti, ibid. Masyarakat di daerah-daerah itu sebelumnya sudah tertata dalam struktur politi berbentuk kabupaten/kadipaten dalam balutan agama Hindu-Budha (pen).

[24] Nina H. Lubis (Ketua Tim), op.cit, hlm.26

[25] Michael Laffan, Sejarah Islam di Nusantara, Penerbit Bentang, Jogjakarta, 2015, hlm.8

[26] Sumanto Al Qurtuby, Arus Cina-Islam-Jawa, Inspeal ahimsakarya Press, Jogjakarta, 2003, hlm.167.

[27] Sumanto Al Qurtuby, ibid, hlm. 109.

[28] Sumanto Al Qurtuby, ibid, hlm. 168.

[29] Dewi Ratih, loc,cit, hlm.71

[30] A. Sobana Hardjasaputra, Sejarah Galuh, Abad ke-8 s.d. Pertengahan Abad ke-20 (1942) http://usumhujan.wordpress.com/2008/05/09/sejarah-galuh-abad-ke-8-sd-pertengahan-abad-ke-20-1942/ akses 23/11/2013; 23:55 wib.

[31] Nina H. Lubis (Ketua Tim), op.cit, hlm.28

[32] A. Sobana Hardjasaputra, Sejarah Galuh, Abad ke-8 s.d. Pertengahan Abad ke-20 (1942) http://usumhujan.wordpress.com/2008/05/09/sejarah-galuh-abad-ke-8-sd-pertengahan-abad-ke-20-1942/ akses 23/11/2013; 23:55 wib.

Comments


EmoticonEmoticon