oleh wahyu b. prasojo
Pendahuluan
Lazimnya
penulisan sejarah Islam Indonesia, sejarah Islam di wilayah Galuh juga tidak
dapat memastikan di mana awal mula, kapan, penyebarannya dan siapa yang membawa
dan menyebarkannya. Kemungkinan para ulama atau mubaligh yang mendakwahkan
Islam tidak terlalu mementingkan pencatatannya karena menganggap kegiatannya
berdakwah sebagai suatu amal ibadah biasa, yang dalam Islam memang dituntut
sebagai kewajiban yang harus dikerjakan dengan ikhlas, tanpa perlu
“menghitung-hitung” amal. Sikap yang dimaknai oleh Bung Karno sebagai tidak
mementingkan perlunya pencatatan sejarah.[1]
Jika
berbicara tentang di mana awal mula penyebaran Islam di Jawa bagian barat
khususnya Galuh (Ciamis), nampaknya tidak dapat dilepaskan dari nama Cirebon.
Bisa jadi karena Cirebon adalah pelabuhan yang relatif ramai pada abad 14-16. Pada
perempat pertama abad ke-14 Masehi saudagar-saudagar yang berasal dari Pasai,
Arab, India, Parsi, Malaka, Tumasik (Singapura), Palembang, Cina, Jawa Timur,
dan Madura datang berkunjung ke Pelabuhan Muhara Jati dan Pasar Pasambangan di
Cirebon untuk berniaga dan memenuhi keperluan pelayaran lainnya. Kedatangan
mereka, yang telah memeluk Islam, memungkinkan penduduk setempat berkenalan dengan
agama Islam.[2]
Cirebon
terlibat dalam jalur perdagangan yang ramai ini karena menyuplai beras[3]
dan palawija yang melimpah[4]
dari daerah pedalamannya. Beras diekspor ke Malaka, juga terutama ke Ternate,
Tidore, Hitu dan Banda.[5]
Sementara dari wilayah pesisirnya, Cirebon adalah sentra produksi bubukan
rebon yang sangat halus berbentuk gelondongan[6]
(terasi).
Mengenai
waktu kedatangannya, sebagian sejarawan di antaranya J.C. Van Leur menyebutkan
bahwa pelabuhan-pelabuhan di nusantara telah terlibat dalam jalur perdagangan
laut (sea route) sejak masa-masa awal masehi.[7]
Jalur yang menghubungkan Venesia – Banten – India – Kekhalifahan Islam, yang
dipertahankan ini, adalah salah satu urat syaraf penting dalam sistem
tradisional Islam dari barat ke timur.[8]
Dengan demikian dapat diperkirakan bahwa Islam telah sampai ke nusantara sejak
masa awal penyebarannya, yaitu sekitar abad ke 7 Masehi, karena terjadinya
kontak antara pedagang lokal dengan pedagang-pedagang dari Arab, Persia, India,
Malaka, Pasai, Banten, Tuban dan Gresik yang berdampak pada penyebaran agama
Islam. Bukan hanya Cirebon, juga pada kota-kota yang tumbuh pada masa itu
seperti Indramayu[9] dan
Tegal.[10]
Namun
demikian tidak ditemukan bukti bahwa Islam telah masuk ke wilayah Galuh pada
abad ke 7 sampai beberapa abad sesudahnya. Menurut Nina Herlina Lubis dan
kawan-kawan, sampai akhir abad ke 15, Raja-raja Galuh masih menganut agama
Hindu Syiwa dan Budha pada sebagian kerajaan bawahannya seperti di Kerajaan
Talaga.[11]
Data ini bersesuaian dengan penjelasan tentang Cirebon sebagai tempat masuknya
Islam pada sekitar abad ke 14.
Begitu pula
dengan keterangan tentang keberadaan beberapa tokoh pembawa, penyebar atau
pengajar agama Islam di Galuh yang ditandai dengan angka tahun sekitar abad ke
14. Namun demikian didapati beberapa nama yang disebut sebagai pembawa agama
Islam atau perintis dakwah atau yang mula-mula menyebarkan Islam di wilayah
Galuh.
Bratalegawa / Haji Purwa
Angka tahun paling tua yang menunjukkan sudah
ada orang Islam tinggal di wilayah Kerajaan Galuh adalah pada
paruh pertama abad ke-14. Sumber sejarah
lokal yang dicatat oleh Hageman (1866) menyebutkan bahwa penganut Islam yang
pertama datang ke Jawa Barat adalah Haji Purwa pada tahun 1250 Jawa atau
1337 Masehi. [12]
Haji Purwa
(Bratalegawa) adalah putera kedua dari Prabu Guru Pangandiparamarta
Jayadewabrata (Prabu Bunisora) Raja Galuh ke 31 yang berkuasa pada 1357-1371 M.[13]
Bunisora menggantikan kakaknya yang bernama Prabu Maharaja Linggabuana
(berkuasa 1350-1357). Linggabuana gugur saat terjadi insiden Perang Bubat antara
kerajaan Galuh dan Majapahit di tahun 1357. Dikarenakan anak Linggabuana,
Anggalarang (Niskala Wastukencana), masih
sangat muda saat Linggabuana gugur, tahta kerajaan Galuh diemban
sementara oleh Bunisora sampai ia menyerahkan takhta kembali kepada
keponakannya.[14]
Bratalegawa yang saudagar, banyak melakukan perjalanan perdagangan ke luar daerah Nusantara.
Ia mengenal Islam saat melakukan perjalanan ke India (Kesultanan Delhi), dimana
ia banyak berinteraksi dengan para pedagang Arab yang juga berdagang disana.[15]
Karena ia adalah
orang pertama dari Galuh (sunda) yang menjalankan ibadah haji, maka selanjutnya
ia dikenal dengan julukan haji purwa[16].
Purwa dalam bahasa sunda berarti awal-mula, yang pertama atau terdahulu.[17]
Setelah
berkeluarga, Bratalegawa pulang ke Kawali, ibukota Galuh di tahun 1337, dimana ia mulai
menyebarkan Islam di kalangan istana. Ia berusaha
mengislamkan saudara kandungnya, Giri Dewanti dan Ratu Banawati, namun
ajakannya tersebut ditolak. Ia kemudian meninggalkan Kawali ibukota Galuh, menuju Cirebon Girang (sekarang Kab. Cirebon) dan menetap di sana. Cirebon Girang yang masih bagian dari wilayah Galuh,[18]
ketika itu dipimpin oleh saudara lelakinya Ki Gedeng Kasmaya, dimana penyebaran
Islam yang dilakukan olehnya berhasil mmbentuk komunitas muslim di pesisir
Cirebon.
Tokoh
berikutnya yang berperan besar dalam islamisasi Galuh adalah Sunan Gunung Jati. Sunan Gunung Jati, salah
satu anggota Wali Songo, ketika itu sudah menjadi penguasa Cirebon sebagai Ratu
Pandita. Ia kemudian mengembangkan politik luar negerinya untuk memisahkan
diri dari Rajagaluh. Cirebon mulai tidak lagi mengirimkan upeti dan tidak
menghadiri pesewakan raja-raja bawahan Rajagaluh di Kawali. Sehingga Rajagaluh,
Prabu Cakraningrat[19]
mengetahui bahwa Cirebon nampaknya akan melepaskan diri. Maka sambil mengirim
utusan dan surat peringatan agar Cirebon mempertahankan kesetiaannya,
disiapkanlah sebuah penyerangan untuk meredam gerakan seperatis itu.
Cirebon
kemudian mempersiapkan diri untuk berperang. Dalam pada itu, Kesultanan Demak
mengirimkan bantuan pasukannya. Bergabung pula dalam pasukan itu, pasukan dari
Kadipaten Kuningan yang sudah menerima Islam secara damai, beberapa tahun
sebelumnya. Pasukan gabungan itu memilih mendahului menyerang ke wilayah
Rajagaluh, dengan sebelumnya mengirim surat pernyataan perang.
Pada tahun
1528, perang akhirnya dimenangkan Pasukan gabungan Cirebon-Demak-Kuningan.
Wilayah Rajagaluh, kemudian dimasukkan ke dalam Kesultanan Cirebon.[20] Setahun berikutnya Talaga (kerajaan bawahan Galuh lainnya), menyerah
kepada Cirebon, pada 1529 Masehi.[21]
Keberhasilan
Cirebon menguasai wialayah-wilayah[22]
di Galuh, juga didukung oleh situasi politik Galuh yang kurang stabil. Galuh
yang ketika itu berada di bawah kekuasaan Kerajaan Sunda, sedang terpecah-pecah
karena pusat kekuasaan Kerajaan Sunda dipindah ke Bogor. Keadaan
tersebut mempermudah Susuhunan Jati merebutnya satu-persatu kemudian mempersatukannya kembali
dengan Agama Islam sebagai alatnya.[23]
Kondisi
masyarakat yang terpecah-pecah akibat pindahnya pusat kekuasaan, tersusun lagi dalam
bentuknya yang baru, yaitu menjadi komunitas muslim.[24] Proses
islamisasi dalam hal ini berlangsung lewat jalur kekuasaan struktural (top down), yang tidak merubah
struktur masyarakat dan struktur politiknya.
Maulana Ifdhil Hanafi / Haji Tan Eng Hoat
Sementara
itu, berita dari
kelenteng Talang Cirebon mengatakan bahwa Maulana Ifdil Hanafi atau
Haji Tan Eng Hoat pada 1513 sampai 1564 menjadi bawahan Sultan Cirebon
dengan gelar Pangeran Wirasenjaya dan berkedudukan di Kadipaten Majalengka.
Ia aktif mengembangkan Islam ke pedalaman Priangan Timur sampai ke Galuh.[25]
Haji Tan Eng
Hoat kemungkinan adalah seorang Duta Dinasti Ming yang ditugaskan Laksamana
Zheng He (1371–1433) dalam muhibbahnya ke kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara,
untuk mengokohkan hubungan diplomatik antara Dinasti Ming dengan Cirebon. Laksamana
Zeng He diyakini telah menyemai mazhab Hanafi di wilayah ini.[26]
Maulana
Ifdhil Hanafi adalah gelar yang dianugrahkan Sultan Trenggana dari Demak kepadanya
pada 1526.[27] Sebagai
pengokohan atas ketokohannya dalam Madzhab Hanafi dan semacam ijazah/izin/hak
untuk menyebarkan dan mempraktikkan ibadah dalam madzhab Hanafi. Ia dalam hal ini memasukkan Galuh dalam
pengaruh Islam tidak lewat strategi kultural, melainkan melalui strategi
struktural, yakni konversi agama masyarakat dari Hindu ke Islam melalui saluran
kekuasaannya sebagai Adipati.[28]
Meski
kemungkinan bermadzhab hanafi, Pangeran Wirasanjaya sepertinya tidak memaksakan
madzhabnya yang cenderung rasionalistik terhadap masyarakat. Sampai hari ini,
dapat diterima pandangan bahwa madzhab Imam Syafi’i, secara umum, lebih hidup di
Indonesia karena lebih kompatibel dengan kultur masyarakatnya.
Ia gugur
dalam peperangan antara Kesultanan Cirebon dan Kerajaan Galuh dan dimakamkan di
sebuah pulau dalam danau.[29]
Apun Di Anjung / Pangeran Mahadikusumah
Berdasarkan
sumber tradisi dari Ciamis, masuknya Islam ke daerah Galuh (Ciamis) dihubungkan
dengan tokoh Apun Di Anjung atau Pangeran Mahadikusumah, Maharaja Kawali, pada abad ke 16.
Pangeran Mahadikusumah terkenal sebagai ulama yang sangat
dipercayai Cirebon.[30]
Beliau
mengislamkan Ujang Ngekel putra Raja Galuh, Prabu Cipta Sanghyang yang
sebelumnya beragama Hindu. Melalui pernikahan dengan putrinya, Tanduran di
Anjung, atas sepengetahuan (izin) Kesultanan Cirebon.[31]
Ujang Ngekel kemudian bergelar Prabu Cipta Permana ketika naik tahta
menggantikan ayahnya. Meski sudah beragama Islam, Prabu Cipta Permana diberi
izin oleh Kesultanan Cirebon untuk dapat melaksanakan adat istiadat leluhurnya
di Galuh. Prabu Cipta Permana berkedudukan di Gara Tengah (masuk wilayah Tasikmalaya
sekarang), nantinya melahirkan raja-raja Galuh Imbanagara.
Sebuah Petilasan
berupa umpak batu yang mungkin bekas bangunan masjid di Pulau Danau Panjalu
(Ciamis) dipercaya sebagai petunjuk permulaan Islam di daerah itu.[32] Yaitu
sekitar tahun 1528-1530.[33]
Kesimpulan
Proses Islamisasi Galuh berlangsung
antara abad ke 14 sampai dengan abad ke 16. Dengan melibatkan banyak pelaku
dakwah dengan metode yang bervariasi. Di satu sisi pelaku dakwahnya individual,
ada pula pelaku dakwah individu penguasa. Pada kesempatan yang lain, pelaku
dakwahnya adalah negara.
Pada pelaku dakwah individual,
dakwah dilakukan melalui saluran kultural di antara sesama keluarga seperti
pada kasus Haji Purwa kepada saudara-saudari kandungnya.
Ada pula yang dilakukan secara
struktural malalui jalur kekuasaan politik. Di mana kerajaan-kerajaan seperti
Demak dan Cirebon melakukan Islamisasi melalui penguasa-penguasa lokal yang
ditunjuknya di wilayah Galuh. Sebuah kasus yang unik dalam tema ini mungkin
ditemukan pada syarat masuk Islamnya Prabu Cipta Permana untuk dapat menikah
dengan Putri Tanduran Di Anjung.
Pada jalur politik juga ditemukan
kasus bergabungnya beberapa kerajaan dengan sukarela kepada Kesultanan Cirebon
dan menerima dakwah Islam dengan damai. Seperti Kasus Kadipaten Kuningan,
Talaga dan Gara Tengah. Sebuah kasus yang mungkin jarang ditemui adalah
islamisasi melalui peperangan yang dilakukan Cirebon dengan sekutunya terhadap
Rajagaluh. Meski demikian terdapat toleransi yang tinggi dalam proses
islamisasi yang berlangsung, seperti dibebaskannya Prabu Cipta Permana
menyelenggarakan tradisi leluhurnya di wilayah kekuasaannya. Juga toleransi
Pangeran Wirasanjaya yang bermadzhab Hanafi tetapi justru menyebarkan madzhab
Syafi’i yang lebih cocok dengan kultur warga Kadipaten yang dipimpinnya.
Daftar Pustaka
Arnold, Thomas Walker, Sejarah Dakwah Islam,
ter. Nawawi Rambe, Penerbit Wijaya, 1977.
Laffan, Michael, Sejarah Islam di Nusantara,
Penerbit Bentang, Jogjakarta, 2015.
Leur, J.C. Van, Perdagangan dan Masyarakat
Indonesia, Penerbit Ombak, Jogjakarta, 2015.
Lubis, Nina Herlina. (Ketua Tim), Sejarah
Perkembangan Islam di Jawa Barat, Bandung: Masyarakat Sejarawan
Indonesia, 2011.
Al Qurtuby, Sumanto, Arus Cina-Islam-Jawa,
Inspeal ahimsakarya Press, Jogjakarta, 2003.
Sulendraningrat, P.S., Babad Tanah Sunda Babad
Cirebon, tp,1984.
Suryanegara, Ahmad Mansur, Menemukan Sejarah,
Wacana Pergerakan Islam Indonesia, Penerbit Mizan, Bandung, 1995.
Tjandrasasmita, Uka, Pertumbuhan dan Perkembangan
Kota-kota Muslim di Indonesia abad XIII sampai abad XVIII Masehi,
Penerbit Menara, Kudus, 2000.
Jurnal
Lubis, Nina Herlina, dkk, Rekonstruksi Sejarah
Kerajaan Galuh abad VIII – XV, Jurnal Paramitha Vol.26. No-1, Tahun
2016.
Ratih, Dewi,
Kadipaten
Ciancang Dalam Perspektif Lokal, Jurnal
Artefak: History and Education, Vol.4 No.1 April 2017, Universitas Galuh Ciamis.
Widyastuti, Endang, PERLAKUAN TERHADAP TINGGALAN
BERCORAK HINDU-BUDDHA Kaitannya dengan Proses Islamisasi, dalam
“Widyasaparuna”,
hlm. 17 – 23. Editor Prof. Dr. Timbul Haryono. Bandung: Ikatan Ahli Arkeologi
Indonesia Komda Jawa Barat – Banten, 2007.
Makalah
Muhsin Z, Mumuh, Penyebaran Islam di Jawa Barat,
Makalah. Pada Saresehan Nasional “Sejarah Perjuangan Syaikhuna Badruzzaman
(1898 – 1972)“, PROGRAM STUDI ILMU SEJARAH FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS
PADJADJARAN JATINANGOR 2010.
Sumber Internet
Ekadjati, Edi S., Islamisasi Jawa Barat, (sundaislam.wordpress.com)
Hardjasaputra,A.Sobana, Sejarah Galuh, Abad ke-8 s.d. Pertengahan Abad ke-20 (1942) http://usumhujan.wordpress.com/2008/05/09/sejarah-galuh-abad-ke-8-sd-pertengahan-abad-ke-20-1942/
[1] Ahmad Manshur Suryanegara, Menemukan Sejarah,
Wacana Pergerakan Islam Indonesia, Penerbit Mizan, Bandung, 1995,
hlm.73.
[2] Mumuh Muhsin Z, Penyebaran Islam di Jawa Barat,
Makalah. Pada Saresehan Nasional “Sejarah Perjuangan Syaikhuna Badruzzaman
(1898 – 1972)“, PROGRAM STUDI ILMU SEJARAH FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS
PADJADJARAN JATINANGOR 2010, hlm.3.
[3] Uka Tcandrasasmita, Pertumbuhan dan Perkembangan
Kota-kota Muslim di Indonesia abad XIII sampai abad XVIII Masehi,
Penerbit Menara, Kudus, 2000, hlm. 152.
[4] P.S. Sulendraningrat, Babad Tanah Sunda Babad
Cirebon, tp,1984, hlm. 12.
[5] Uka Tcandra Sasmita, loc.cit, hlm.152.
[6] P.S. Sulendraningrat, op.cit, hlm.13.
[7] J.C. Van Leur, Perdagangan dan Masyarakat Indonesia,
Penerbit Ombak, Jogjakarta, 2015, hlm.243.
[8] Ibid, hlm. 242.
[9] Uka, Tjandra Sasmita, op.cit, hlm.21
[10] Uka, Tjandra Sasmita, ibid, hlm.39.
[11] Nina Herlina
Lubis, dkk, Reknstruksi Sejarah Kerajaa Galuh abad VIII – XV,
Jurnal Paramitha Vol.26. No-1, Tahun 2016, hlm. 15.
[12] Edi S. Ekadjati, Islamisasi Jawa Barat, (sundaislam.wordpress.com,
akses 23/11/2013; 20:53).
[13] Edi S. Ekadjati, Islamisasi Jawa Barat, (sundaislam.wordpress.com,
akses 23/11/2013; 20:53).
[14] Dewi Ratih, Kadipaten
Ciancang Dalam Perspektif Lokal, Jurnal Artefak:
History and Education, Vol.4 No.1 April 2017, Universitas Galuh
Ciamis, hlm.70.
[15] Edi S. Ekadjati, Islamisasi Jawa Barat, (sundaislam.wordpress.com,
akses 23/11/2013; 20:53).
[16] T.W. Arnold juga menceritakan tentang Haji Purwa dalam
Sejarah Dakwah Islam. bahwa Haji Purwa adalah putera pertama Raja Pajajaran,
yang merupakan seorang pedagang. Ia menyerahkan haknya atas tahta kepada
adiknya, yang kemudian naik tahta dengan gelar Prabu Mundingsari. Ia masuk
Islam karena pergaulannya dengan pedagang Arab yang ditemuinya di India. Setelah
gagal dalam usaha mengislamkan kerabatnya, ia lalu pergi dari istana dan
menghilang. (Thomas Walker Arnold, Sejarah Dakwah Islam, ter.
Nawawi Rambe, Penerbit Wijaya, 1977, hlm. 329-330.)
[17] Ahmad Manshur Suryanegara, op.cit, hlm.98.
[18] P.S. Sulendraningrat, op.cit, hlm.14.
[19] Ibid, hlm.69.
[20] Ibid, hlm.80.
[21] Nina H. Lubis (Ketua Tim), Sejarah Perkembangan
Islam di Jawa Barat, Bandung: Masyarakat Sejarawan Indonesia, 2011,
hlm.25.
[22]Beberapa daerah/kerajaan
bawahan Galuh antara lain; Rajagaluh, Kalapa, Pakwan, Galuh, Datar, Mandiri,
Jawakalapa, Gegelang dan Salajo. Dewi Ratih, op.cit, hlm.71.
[23]Endang Widyastuti, PERLAKUAN TERHADAP TINGGALAN BERCORAK HINDU-BUDDHA
Kaitannya dengan Proses Islamisasi, dalam “Widyasaparuna”, hlm.
17 – 23. Editor Prof. Dr. Timbul Haryono. Bandung: Ikatan Ahli Arkeologi
Indonesia Komda Jawa Barat – Banten, 2007.
[24] Endang Widyastuti, ibid. Masyarakat di
daerah-daerah itu sebelumnya sudah tertata dalam struktur politi berbentuk
kabupaten/kadipaten dalam balutan agama Hindu-Budha (pen).
[25] Nina H. Lubis (Ketua Tim), op.cit, hlm.26
[26] Michael Laffan, Sejarah Islam di Nusantara,
Penerbit Bentang, Jogjakarta, 2015, hlm.8
[27] Sumanto Al Qurtuby, Arus Cina-Islam-Jawa,
Inspeal ahimsakarya Press, Jogjakarta, 2003, hlm.167.
[28] Sumanto Al Qurtuby, ibid,
hlm. 109.
[29] Sumanto Al Qurtuby, ibid, hlm. 168.
[30] Dewi Ratih, loc,cit, hlm.71
[31] A. Sobana
Hardjasaputra, Sejarah Galuh, Abad ke-8 s.d. Pertengahan
Abad ke-20 (1942) http://usumhujan.wordpress.com/2008/05/09/sejarah-galuh-abad-ke-8-sd-pertengahan-abad-ke-20-1942/ akses 23/11/2013; 23:55
wib.
[32] Nina H. Lubis (Ketua Tim), op.cit, hlm.28
[33] A. Sobana Hardjasaputra, Sejarah Galuh, Abad ke-8 s.d. Pertengahan
Abad ke-20 (1942) http://usumhujan.wordpress.com/2008/05/09/sejarah-galuh-abad-ke-8-sd-pertengahan-abad-ke-20-1942/ akses 23/11/2013; 23:55 wib.
[1] Ahmad Manshur Suryanegara, Menemukan Sejarah,
Wacana Pergerakan Islam Indonesia, Penerbit Mizan, Bandung, 1995,
hlm.73.
[2] Mumuh Muhsin Z, Penyebaran Islam di Jawa Barat,
Makalah. Pada Saresehan Nasional “Sejarah Perjuangan Syaikhuna Badruzzaman
(1898 – 1972)“, PROGRAM STUDI ILMU SEJARAH FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS
PADJADJARAN JATINANGOR 2010, hlm.3.
[3] Uka Tcandrasasmita, Pertumbuhan dan Perkembangan
Kota-kota Muslim di Indonesia abad XIII sampai abad XVIII Masehi,
Penerbit Menara, Kudus, 2000, hlm. 152.
[4] P.S. Sulendraningrat, Babad Tanah Sunda Babad
Cirebon, tp,1984, hlm. 12.
[5] Uka Tcandra Sasmita, loc.cit, hlm.152.
[6] P.S. Sulendraningrat, op.cit, hlm.13.
[7] J.C. Van Leur, Perdagangan dan Masyarakat Indonesia,
Penerbit Ombak, Jogjakarta, 2015, hlm.243.
[8] Ibid, hlm. 242.
[9] Uka, Tjandra Sasmita, op.cit, hlm.21
[10] Uka, Tjandra Sasmita, ibid, hlm.39.
[11] Nina Herlina
Lubis, dkk, Reknstruksi Sejarah Kerajaa Galuh abad VIII – XV,
Jurnal Paramitha Vol.26. No-1, Tahun 2016, hlm. 15.
[12] Edi S. Ekadjati, Islamisasi Jawa Barat, (sundaislam.wordpress.com,
akses 23/11/2013; 20:53).
[13] Edi S. Ekadjati, Islamisasi Jawa Barat, (sundaislam.wordpress.com,
akses 23/11/2013; 20:53).
[14] Dewi Ratih, Kadipaten
Ciancang Dalam Perspektif Lokal, Jurnal Artefak:
History and Education, Vol.4 No.1 April 2017, Universitas Galuh
Ciamis, hlm.70.
[15] Edi S. Ekadjati, Islamisasi Jawa Barat, (sundaislam.wordpress.com,
akses 23/11/2013; 20:53).
[16] Ahmad Manshur Suryanegara, op.cit, hlm.98.
[17] P.S. Sulendraningrat, op.cit, hlm.14.
[18] Ibid, hlm.69.
[19] Ibid, hlm.80.
[20] Nina H. Lubis (Ketua Tim), Sejarah Perkembangan
Islam di Jawa Barat, Bandung: Masyarakat Sejarawan Indonesia, 2011,
hlm.25.
[21]Beberapa daerah/kerajaan
bawahan Galuh antara lain; Rajagaluh, Kalapa, Pakwan, Galuh, Datar, Mandiri,
Jawakalapa, Gegelang dan Salajo. Dewi Ratih, op.cit, hlm.71.
[22]Endang Widyastuti, PERLAKUAN TERHADAP TINGGALAN BERCORAK HINDU-BUDDHA
Kaitannya dengan Proses Islamisasi, dalam “Widyasaparuna”, hlm.
17 – 23. Editor Prof. Dr. Timbul Haryono. Bandung: Ikatan Ahli Arkeologi
Indonesia Komda Jawa Barat – Banten, 2007.
[23] Endang Widyastuti, ibid. Masyarakat di
daerah-daerah itu sebelumnya sudah tertata dalam struktur politi berbentuk
kabupaten/kadipaten dalam balutan agama Hindu-Budha (pen).
[24] Nina H. Lubis (Ketua Tim), op.cit, hlm.26
[25] Michael Laffan, Sejarah Islam di Nusantara,
Penerbit Bentang, Jogjakarta, 2015, hlm.8
[26] Sumanto Al Qurtuby, Arus Cina-Islam-Jawa,
Inspeal ahimsakarya Press, Jogjakarta, 2003, hlm.167.
[27] Sumanto Al Qurtuby, ibid,
hlm. 109.
[28] Sumanto Al Qurtuby, ibid, hlm. 168.
[29] Dewi Ratih, loc,cit, hlm.71
[30] A. Sobana
Hardjasaputra, Sejarah Galuh, Abad ke-8 s.d. Pertengahan
Abad ke-20 (1942) http://usumhujan.wordpress.com/2008/05/09/sejarah-galuh-abad-ke-8-sd-pertengahan-abad-ke-20-1942/ akses 23/11/2013; 23:55
wib.
[31] Nina H. Lubis (Ketua Tim), op.cit, hlm.28
[32] A. Sobana Hardjasaputra, Sejarah Galuh, Abad ke-8 s.d. Pertengahan
Abad ke-20 (1942) http://usumhujan.wordpress.com/2008/05/09/sejarah-galuh-abad-ke-8-sd-pertengahan-abad-ke-20-1942/ akses 23/11/2013; 23:55 wib.
