Kita pernah bersimbah peluh karena beratnya jalan mendaki.
Setiap langkah bagai menarik jiwa dari dasar jurang.
Dalam bayangan kabut, pedihnya kerikil menggigit telapak kaki. Melukis jejak dengan darah.
Tetapi kita tak pernah menyerah mengejar matahari yang dibekap senja.
Karena air mata dalam perjalanan adalah hujan rahmat.
Kita nikmati ia jatuh, membasuh, membersihkan, lalu menumbuhkan bunga ma’rifat warna-warni. Tawa kita riak-riak yang memantul-mantul.
Sekarang kita berdiri, di persimpangan yang dulu pernah kita tandai dalam peta. Membentang bagai cabang sungai yang lupa bertemu lagi. Meski gelap, sesungguhnya malam tak berharap kita saling melepaskan tangan.
Bulan terjaga mengawasi arus mana menuju muara.
Suatu saat, jika rindu kembali mengetuk, bergembiralah.
Aku di sini.
Masih menggenggam angin yang pernah kita bagi.
Seperti embun di ujung daun.
Menunggu fajar muraqabahmu.
.jpg)