Wednesday, January 7, 2026
Saturday, September 27, 2025
Sifat-sifat dan Karakter Rasulullah saw
Nabi
Muhammad SAW adalah teladan sempurna bagi umat manusia, yang tidak hanya
dikenal sebagai utusan Allah, tetapi juga sebagai pribadi dengan akhlak mulia
yang menjadi panutan sepanjang zaman. Sifat dan karakternya yang luhur, seperti
kejujuran, kesabaran, kasih sayang, dan keteguhan dalam menyampaikan risalah,
telah menginspirasi miliaran umat Islam di seluruh dunia. Artikel ini akan
mengupas berbagai sifat dan karakter Nabi Muhammad SAW yang mencerminkan
keunggulan moral dan spiritual, serta bagaimana nilai-nilai tersebut tetap
relevan sebagai pedoman hidup hingga kini.
1. Sifat-sifat Wajib Bagi Para Nabi
Sebagai Nabi utusan Allah ia memilki
sifat-sifat yang wajib bagi para Rasul. Yaitu:
Sidiq
(benar)
Muhammad mempunyai sifat siddiq, yaitu jujur menyatakan mana
yang benar dan mana yang salah. Sifat siddiq berarti mengikuti dan menetapi
kebenaran. Tidak mengikuti hawa nafsunya sehingga menjauhkan diri dari
kebenaran.
وَٱلَّذِي جَآءَ بِٱلصِّدۡقِ
وَصَدَّقَ بِهِۦٓ أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُتَّقُونَ ٣٣
Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan
membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertakwa (Az
Zumar 33)
وَمَا يَنطِقُ عَنِ ٱلۡهَوَىٰٓ ٣ إِنۡ هُوَ إِلَّا وَحۡيٞ
يُوحَىٰ ٤
3.
dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya
4. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan
(kepadanya) (An Najm 3 & 4)
Dia tidak
pernah berdusta, karena itu akan menghilangkan kepercayaan orang kepada
kata-katanya. Sehingga tidak mau membenarkan dan mengikuti ajarannya. Kaisar
Heraklius pernah bertanya kepada abu Sufyan ketika ia masih musyrik, “Sebelum
ia membawa seruan ini, pernahkah kamu ketahui ia sebagai seorang pembohong? Abu
Sufyan menjawab, “Sekalipun tidak”. Heraklius menyimpulkan, “Kalau orang tidak
berani berdusta dalam urusan dengan manusia, dia pasti lebih takut untuk
berdusta dalam urusannya dengan Tuhan.”
Amanah
(dapat dipercaya)
Amanah secara umum berarti
bertanggungjawab terhadap tugas yang dipikulkan di pundaknya. Selalu sama
antara kata dan perbuatan, selalu menepati janji, melaksanakan perintah,
menunaikan keadilan, memberikan hukum yang sesuai dan dapat menjalankan sesuatu
yang disepakatinya. Muhammad terkenal dengan dua sifat ini di kalangan
masyarakat Quraisy. Mereka menjulukinya As Sadiq Al Amin, yang benar lagi
terpercaya.
إِنَّ ٱللَّهَ
يَأۡمُرُكُمۡ أَن تُؤَدُّواْ ٱلۡأَمَٰنَٰتِ إِلَىٰٓ أَهۡلِهَا وَإِذَا حَكَمۡتُم
بَيۡنَ ٱلنَّاسِ أَن تَحۡكُمُواْ بِٱلۡعَدۡلِۚ إِنَّ ٱللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُم
بِهِۦٓۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ سَمِيعَۢا بَصِيرٗا ٥٨
Sesungguhnya
Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan
(menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu
menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang
sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha
Melihat (An Nisaa :58)
Tabligh
(menyampaikan)
Sebagaimana
lazimnya tugas para Nabi, Muhammad menyampaikan apa saja yang datang dari
Tuhannya kepada ummatnya. Tidak ada bujukan dan rayuan bahkan ancaman yang
dapat membuatnya menahan dan menyembunyikannya. Meski itu berlawanan dengan
hawa nafsu dan keinginan manusia, tetap ia sampaikan. Sehingga tak jarang ia dimusuhi
karenanya.
يَٰٓأَيُّهَا ٱلرَّسُولُ
بَلِّغۡ مَآ أُنزِلَ إِلَيۡكَ مِن رَّبِّكَۖ وَإِن لَّمۡ تَفۡعَلۡ فَمَا
بَلَّغۡتَ رِسَالَتَهُۥۚ وَٱللَّهُ يَعۡصِمُكَ مِنَ ٱلنَّاسِۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا
يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلۡكَٰفِرِينَ ٦٧
Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari
Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti)
kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan)
manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang ingkar.
(Al Maidah 67)
Fatanah
(cerdas)
Meskipun ia seorang ummi (tidak pandai
membaca dan menulis), namun akalnya sangat cerdas, pendapatnya sangat jitu,
wajahnya berseri, lebih suka diam dari pada berbicara dan pandai bergaul.[1]
Thomas Carlyle menyebutnya “tahu hakikat segala sesuatu, bukan sebatas kulitnya
saja.”[2]
Kecerdasan Muhammad dapat dilihat bagaimana ia merencanakan, mengorganisasi,
melaksanakan dan mengendalikan gerakan perubahan sosialnya.[3]
Hamka juga mengartikan fathanah sebagai bijaksana dan dapat mengatur kekuatan
kaumnya. [4]
2. Keunggulan Kualitas Pribadi
Nabi
Muhammad memiliki kepribadian unggul dan sempurna dalam segala segi, fisik,
akal, budi pekerti dan adab sopan santun.[5]
Ia adalah manusia yang paling tinggi mutunya.[6]
Beberapa sifat dan karakter kepemimpinan yang penting pada diri Nabi Muhammad
antara lain;
Tidak
mementingkan dunia
Dia tidak
peduli pada dunia yang hanya sementara. Meski pintu-pintu kekayaan dunia di
timur dan di barat sudah berada di tanganya. Hidupnya sangat sederhana.
Makanannya hanya sekedar mengenyangkan perutnya, pakaiannya hanya sekedar yang
perlu dipakainya. Peninggalannya ketika wafat hanya sebilah pedang, seekor kuda
tunggangan dan tanah yang disedekahkan.[7]
Jurji
Zaidan menuliskan bahwa sebagian penulis sejarah menuduh bahwa Muhammad
menyiarkan agama karena menginginkan kebesaran dan kemegahan dunia. Padahal
sejarah hidup Muhammad itu cukup jelas untuk menunjukkan bahwa ia bekerja
dengan ikhlash. Sekiranya ada motivasi yag seperti dituduhkan itu, tentu ia
tidak akan kuat menerima siksaan orang-orang yang menolaknya.[8]
Thomas Carlyle menjelaskan ketulusan
hati dari orang yang agung adalah sesuatu yang tidak bisa diungkapkan. Bahkan
saya pikir orang itu sendiri tidak sadar akan ketulusan hatinya. Untuk apa
seseorang berlaku benar hanya untuk satu hari? Tidak, orang yang besar tidak
akan menyombongkan ketulusan hatinya sendiri.[9]
Jiwa yang besar yang pendiam: adalah orang yang walaupun tidak bisa, ia akan
bersungguh-sungguh karena sifat dasarnya membawa dia untuk berlaku
sungguh-sungguh. Sewaktu orang lain berpura-pura seolah-olah
bersungguh-sungguh, laki-laki ini tidak bisa berbuat demikian dan dia sendirian
dengan jiwanya dan kenyataan terhadap apa yang terjadi ... Kesungguhan telah
ada dalam kebenaran tuhan. Kata-kata dari laki-laki ini adalah suara hatinya
langsung tanpa berpura-pura. Orang-orang harus mendengarkan apa yang
dikatakannya daripada mendengarkan yang lain. Yang lain adalah bagaikan angin
lalu.[10]
Ambisi? Apa yang dilakukan oleh seluruh
orang Arab pada laki-laki ini. Dengan mahkota kerajaan Heraclius, Persia dan
semua mahkota di dunia Apa yang bisa mereka lakukan padanya? Itu bukanlah
tentang surga di atas dan neraka di bawah. Menjadi kepala suku di Makkah atau
Arab, dan mempunyai sebidang tanah- akankah itu menjadi keselamatan bagi
seseorang? Saya pikir tidak. Kita akan meninggalkan semuanya. Semua kekayaan
dan keberuntungan, semua akan kita tinggalkan juga."[11]
Kesetiaan dan Kebaikan Hati
Seorang laki-laki yang jujur dan setia.
Jujur dalam perbuatan, perkataan dan pemikirannya. Mereka mencatat bahwa beliau
selalu bersungguh-sungguh terhadap segala sesuatu. Seorang laki-laki yang
pendiam. Diam apabila tidak ada yang harus dikatakan, tetapi selalu bijak dan
tulus apabila berbicara. Selalu menerangi setiap persoalan. Ini adalah bagian
dari apa yang disebut perkataan yang bernilai.[12]
Ini adalah tentang kebaikan hati yang
tiada batasnya beliau tidak pernah lupa pada istri pertamanya
Khadijah. Lama setelah Khadijah meninggal, Aisyah merupakan istri muda beliau
yang tersayang, wanita yang berbeda dengan wanita-wanita lain karena budi
pekertinya yang luhur. Pada suatu hari, Aisyah yang pandai ini mengajukan
pertanyaan pada beliau, "Sekarang, apakah saya lebih baik daripada
Khadijah? Dia adalah janda, tua dan sudah tidak begitu cantik. Kamu lebih
mencintaiku dibandingkan Khadijah, bukan?"--"Tidak, demi
Allah!", jawab Rasulullah. "Demi Allah, tidak! Dia mempercayaiku
sewaktu orang-orang di dunia ini menjauhiku, hanya dialah teman baikku!"[13]
Tidaklah mudah menolak godaan syetan
untuk mengalahkan ego dari istrinya yang masih muda, cantik dan pandai, Aisyah
binti Abu Bakar Shiddiq. Mengapa tidak membiarkannya mendengar sanjungan yang
menyenangkan dirinya. Bahkan Khadijah-pun sudah tidak ada lagi sehingga tidak
mungkin sakit hati. Akan tetapi Rasulullah tidak mau berbohong. Perlakuan
seperti itu menunjukkan kepada kita bahwa beliau adalah orang yang mulia, yang
tetap tercatat sejak 40 abad yang lalu.
Keindahan
Akhlaq
Ia tidak suka dipuji, baik pujian pada
tempatnya, apalagi bukan pada tempatnya. Dua orang penyanyi mendendangkan lagu
menyebut-nyebut syuhada perang badar. Ketika mereka bersyair, “Ada Nabi di sisi
kami mengetahui yang terjadi esok”, Nabi menegur mereka: “Yang demikian jangan
diucapkan.”
Keramahan dan kasih sayangnya mencakup
segala orang. “Kasihanilah petinggi satu kaum yang jatuh hina,” demikian
sabdanya. Ketika seseorang begitu takut dan gemetar menghadapnya, ia
menenangkan orang itu sambil mengingat jasa ibunya: “Aku tidak lain adalah anak
seorang wanita suku Quraisy yang memakan dendeng.”
Sebagai penghormatan kepada orang lain,
ia mengulurkan tangan terlebih dahulu untuk bersalaman. Ia menoleh dengan
seluruh badannya, jika dipanggil orang. Ia menunjuk dengan seluruh jarinya, dan
tidak terlihat meluruskan kaki sambil duduk di tengah sahabatnya. Ia memanggil
mereka dengan panggilan mesra atau panggilan penghormatan, yakni dengan kunyah
(nama panggilan yang didahului oleh “Abu” atau “Ummu”).
Kemurahan dan kerendahan hati Nabi saw
sangat menonjol. Tidak pernah ada orang yang datang kepadanya meminta
pertolongan pulang dengan tangan kosong. Jika ia sedang tidak punya sesuatu
untuk diberikan, ia berjanji akan memberikannya ketika ia sudah punya sesuatu
yang dibutuhkan, dan pasti ditepatinya janjinya itu.
Daftar Pustaka
Abduh, Muhammad, 1995, Risalah Tauhid, alih Bahasa Firdaus AN, Bulan Bintang, Jakarta.
Arnold,
Thomas W, tt, The Preaching of Islam, (terj. Nawawi Rambe)
Jakarta: Widjaya.
Carlyle, Thomas, Heroes and Heroes Whorshipers,
Kuliah Umum Pada tanggal 8 Mei 1840.
Hamka,
1997, Sejarah
Ummat Islam, Pustaka
Nasional PTE LTD, Singapura,.
_______, tt, Pelajaran
Agama Islam, Bulan
Bintang, Jakarta.
[1] Hamka, 1997, Sejarah Ummat Islam, Pustaka Nasional PTE LTD,
Singapura, hal.134.
[2] Hamka, 1997, ibid, hal.137.
[3] Thomas Arnold, tt, The Preaching of Islam,
(terj. Nawawi Rambe) Jakarta: Widjaya.hal.29.
[4] Hamka, 1986, Pelajaran Agama Islam, Bulan Bintang, Jakarta,
hal.189.
[5] Muhammad Abduh, 1995, Risalah
Tauhid, alih Bahasa Firdaus AN, Bulan Bintang, Jakarta, hal.113.
[6] Muhammad Abduh, ibid,
hal.113.
[7] Hamka, op.cit,
hal.115.
[8] Hamka,1997, ibid, hal.135.
[9] Thomas Carlyle, Heroes and
Heroes Whorshipers, Kuliah Umum Pada tanggal 8 Mei 1840, hal.59.
[10] Thomas Carlyle, ibid,
hal.71.
[11] Thomas Carlyle, ibid,
hal.61.
[12] Thomas Carlyle, ibid,
hal.69.
[13] Thomas Carlyle, ibid, hal.76.
Sunday, March 9, 2025
Padahal sudah Aku Discount...
Di desanya, memasuki bulan Ramadhan, orang-orang biasanya suka
bertanya kepada Nashrudin tentang hitungan waktu berpuasa dan shalat Iedul
Fithri. Belajar dari pengalaman, agar tidak kehilangan hitungan, ia kemudian
mempersiapkan sebuah pot bunga baru, lalu disimpannya dalam kamarnya.
“Jika aku memasukkan 1 batu setiap hari, aku
tidak perlu mengingat sudah berapa hari kami berpuasa.”, katanya dalam hati.
Maka setiap sore sepulang dari pekerjaannya
ia memasukkan sebuah batu ke dalam pot bunganya tersebut.
Tanpa disadarinya, anak perempuan kecilnya
memperhatikan perbuatannya. Anak itu berfikir, “Kasihan Ayah, mungkin ia beliau
sangat letih. Sehingga hanya mampu memasukkan satu batu saja sehari. Sebaikanya
aku membantunya.”
Singkat cerita, menjelang akhir Ramadhan,
orang-orang pun berdatangan ke rumah Nashrudin dan bertanya tentang hitungan
puasa mereka.
“Sebentar ya, aku lihat dulu hitungannya.” Nashrudin
lalu masuk kekamar dan menghitung batu di dalam pot bunga. Betapa terkejutnya
ia menemukan batu yang terkumpul berjumlah 130 buah. Ia pun panik.
“Waduh! Jika kuberitahu bahwa mereka sudah
berpuasa selama 130 hari pasti mereka marah. Sebaiknya aku beritahu setengahnya
saja.”, pikirnya.
Lalu ia keluar menemui orang-orang dan
berkata, “Alhamdulillah kawan-kawan, kita semua sudah berpuasa selama 65 hari.”
Mendengar jawaban Nashrudin orang-orang pun
marah. “Wah, hitungan kamu ngawur nashrudin! Masa’ kita puasa sampai 65 hari?”.
Sergah mereka beramai-ramai.
Nashrudin lalu menjawab mereka, “Lho kalian
ini bagaimana, padahal itu sudah saya discount. Memangnya kalian mau
berpuasa sampai 130 hari?”.
Friday, September 27, 2024
Mengapa Islam Turun di Jazirah Arab?
oleh Wahyu Bhekti Prasojo
Agama, Peradaban dan Politik
Sejak ribuan tahun, bangsa-bangsa membangun peradaban dengan segala aspeknya, mulai ilmu pengetahuan, teknologi, pertanian, perdagangan, militer dan lain
sebagainya
dengan
bersumber
dari agama.[1] Meskipun
agama
yang menjadi sumber peradaban itu berbeda-beda.
Pada lingkungan masyarakat yang menyandarkan
peradabannya kepada sumber
agama seperti itulah, para Rasul yang membawa agama-agama dilahirkan. Di Mesir, Nabi Musa
dilahirkan dan dibesarkan dalam asuhan Fir’aun. Setelah menghadapi tentangan
bangsa Mesir terhadap dakwahnya, beliau lalu hijrah ke Palestina.
Di Palestina, Nabi Isa dilahirkan. Murid-muridnya
kemudian menyebarkan ajarannya sehingga mereka mengalami banyak penganiayaan.
Namun kemudian agama
Kristen menyebar
luas di tangan bangsa Romawi, sehingga sebagian
besar
wilayah kekuasaannya menganutnya.
Di wilayah Timur Tengah daerah daerah seperti Suriah, Libanon dan Palestina juga menganut Kristen. Dari Mesir, Kristen lalu menyebar ke Sudan dan Ethiopia
di arah selatan. Sementara itu, di Persia, ada agama
Majusi juga mendapat pengikut yang luas hingga Timur Jauh dan India.
Selama berabad-abad Barat
dan Timur saling menghormati keyakinan agama
masing-masing. Peradaban Asyiria dan Mesir Kuno yang membentang sepanjang Funisia
telah menghalangi perbenturan di antara peradaban-peradaban
yang tumbuh di kedua sisinya. Sampai ketika Mesir dikuasai Romawi, terbukalah penghalang itu karena sifat
Romawi yang ekspansif.
Dengan dikuasainya Mesir, mereka langsung berbatasan dengan
Persia di Timur.[2]
Secara geopolitis kondisi ini
menempatkan Jazirah Arab di tengah kekuatan-
kekuatan politik besar dunia yang merupakan
pesaing bagi hegemoni Islam di masa
datang. Pada awal abad ke enam itu, kedua kekuatan itu telah mulai berbenturan, melalui konflik-konflik di antara beberapa negara kecil di wilayah Jazirah Arab yang menjadi vasal kedua negara besar itu.[3]
Dalam pertarungan yang panjang, Persia nampak unggul pada awalnya. Motifnya politik dan ekonomi. Orang-orang Persia tidak berminat mengajarkan agamanya kepada orang-orang Romawi. Mereka tetap pada keyakinan mereka masing-masing, begitu pula ketika pada akhirnya Romawi memenangi persaingan
itu. Namun demikian
persaingan yang panjang itu telah membawa
kedua negara kepada keruntuhan masing-masing.
Romawi
kemudian kalah bersaing dengan Bizantium
yang sama-sama Kristen. Sedangkan Persia mengalami kemunduran karena sebab-sebab internal sampai kemudian -nantinya- ditaklukkan Islam.
Lalu-lintas Perdagangan
Secara geografis letak semenanjung
Arab strategis.[4]
Ia berada diantara benua Asia dan Afrika, seolah-olah berada
di pusat dunia. Munawar Kholil menyebutnya seperti Hati
Bumi (dunia).[5] Ia diapit oleh wilayah-wilayah berpenduduk ramai di utara, barat dan timur. Sedangkan di selatan adalah laut. Situasi ini sekaligus menempatkan Jazirah Arab pada jalur perdagangan antar bangsa. Mereka yang datang dari barat (afrika terutama
bagian utara), barat laut dan utara (eropa) lewat darat (jalur sutra atau silk road) bertemu dengan yang dari timur
(india dan tiongkok) dan dari selatan (asia tenggara) melalui jalur pelayaran
(sea road)[6] di jazirah
arab yaitu di pelabuhan-pelabuhan Yaman. Jalur perdagangan laut ini telah dilalui pedagang
internasional selama berabad-abad, dalam
berbagai periode.[7] Mekkah, yang dilewati jalur
ini
juga tumbuh
menjadi kota perdagangan internasional. Para pedagang dan pemodalnya telah menjadi
kaya raya melebihi harapan mereka sendiri.[8] Jalur ini melewati pasar-pasar antara lain;
Fumatul Jandal di ujung
utara Hijaz dekat perbatasan Syiria, Mushshaqar di Bahrain, Suhar di Oman, Dabba salah satu pelabuhan Oman, Maharah di
antara Aden dan Oman, Aden, San’a, Rabyah di Hadramaut, Ukaz di ujung
Nejd dekat Thaif, Dzul Majaz dekat Thaif, Mina,
Nazat dekat Khaybar, Hijr di Yamamah dan Bashrah di Syiria.[9]
Pada awalnya, orang-orang Arab hanya memanfaatkan jalur ini untuk kepentingan
ekonomi semata. Baru kemudian setelah Muhammad memulai misi kenabiannya, berita
tumbuh dan berkembangnya
Islam yang terjadi di sana dapat dengan cepat tersebar dan
diketahui orang banyak.[10]
Bahasa, Budaya dan Karakter Bangsa Arab
kir bangsa Arab ketika itu.[13] Ramadhan Al Buthi menjelaskan
hal
ini membuat pola fikir bangsa Arab pada umumnya ummy, maksudnya bersih dari ideology-ideologi.[14] Kondisi
masyarakat yang seperti ini lebih cocok untuk menyemaikan suatu ajaran baru karena hati dan jiwa yang masih bersih
(kosong) cenderung lebih mudah menerima suatu pengetahuan ketimbang
hati dan jiwa yang sudah terisi pengetahuan sebelumnya.
Juga karena
kondisi
jazirah yang
kering dan
berbukit-bukit
seolah menjadi
benteng alam yang melindungi penduduknya dari kemungkinan
ekspansi bangsa-bangsa lain. Kondisi
alam yang kering dan keras melahirkan jiwa-jiwa bebas dan pemberani.[15] Karakter ini bersama karakter-karakter yang disebutkan Syaikh An Nadawi sebelumnya
terbukti sangat dibutuhkan bagi perjuangan menyebarkan Islam di kemudian hari.
Karakter dan budaya ini mempengaruhi pembentukan bahasa yang digunakan masyarakat. Bahasa Arab adalah bahasa yang tumbuh dan berkembang mengikuti sifat dan karakter bangsa Arab yang terbuka. Ia tidak banyak mengandung kiasan-kiasan. Idiom-idiomnya menjelaskan maksud dan arti kata sebagaimana adanya, tidak ada sayap-
sayap. Bahasa Arab juga adalah bahasa yang sangat detail membedakan
suatu hakikat dengan hakikat yang lainnya. Karakter
bahasa seperti ini juga sangat baik untuk
menjelaskan maksud dari pernyataan-pernyataan. Karakter bahasa semacam inilah yang
sesuai untuk menjelaskan hakikat, maksud dan tujuan-tujuan Islam dengan benar dan
jelas.
Tradisi Monotheisme
Sejak beratus-ratus tahun yang lalu,
Jazirah Arab adalah salah satu tempat diturunkannya para
Nabi untuk mengajarkan kepada manusia
tentang keEsaan Tuhan (tauhid). Nabi Hud
diutus
kepada kaum ‘Aad,
di suatu wilayah bernama ‘Ahqaf, yang terletak antara Yaman dan Oman.[16]
Nabi Saleh dikirim kepada kaum Tsamud yang mendiami sebuah wilayah antara Hijaz dan Syam yang disebut Hijr. Lokasi tempat tinggal Kaum Tsamud dapat diketahui dari hadits
Nabi Muhammad SAW ketika Perang Tabuk tahun 630 M. Tabuk saat ini provinsi di utara Arab Saudi. Tabuk berbatasan dengan Provinsi
Madinah di selatan. Dalam Perang Tabuk, pasukan Rasulullah melintasi Al-Hijr sekitar 400 kilometer dari Madinah dan 500 kilometer dari Petra di Yordania.[17] Al Hijr disebut juga oleh orang-orang Arab dengan Madain Saleh (Kota Nabi Saleh).[18]
Nabi Hud berdakwah sampai akhir hayatnya dan dimakamkan di Hadramaut.
Sedangkan
Nabi Saleh pasca kaumnya diazab, hijrah ke Ramallah Palestina bersama 120
pengikutnya. Sebagian riwayat menyebutkan beliau hijrah ke Mekkah sampai wafatnya
dan
di makamkan di sana.[19]
Kemudian Nabi Ibrahim mengajarkan tauhid dan membangun peradaban di Mekkah. Sepeninggal beliau, Nabi
Ismail
melanjutkan dakwahnya sampai ajarannya
dianut penduduk Jazirah Arab dan sekitanya. Kebanyakan orang Arab pada masa-masa
menjelang turunnya Islam mengklaim bahwa mereka mengikuti millah
(agama) Nabi
Ibrahim. Mereka menjalankan
beberapa ritual peninggalan
Nabi Ibrahim seperti Haji dan Qurban.
Di Mekkah
pula, untuk keperluan peribadatan monotheistik itu, Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail membangun Ka’bah. Al Qur’an menceritakan tentang hal itu.
وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ
الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ
أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): "Ya Tuhan kami terimalah daripada
kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Al Baqarah127)
At Thabary
menjelaskan
bahwa Ibrahim
membangun pondasi Ka’bah yang sebelumnya dibangun oleh Nabi Adam.[20]
إِنَّ أَوَّلَ
بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِلْعَالَمِينَ
Sesungguhnya rumah yang
mula-mula dibangun untuk
(tempat beribadah) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk
bagi semua manusia.(Ali Imran 96)
Dzahir ayat
ini menjelaskan bahwa Ka’bah adalah bangunan pertama yang khusus dibangun untuk menyembah Allah. Jadi Ka’bah adalah symbol Tauhid yang akan
memudahkan manusia mengingat kembali agama yang telah diajarkanNya melalui para nabi yang
diutusNya. Sangat
lazim jika tempat dimana bermulanya risalah tauhid
diajarkan, juga menjadi tempat penutup
dan penyempurna risalah tauhid itu.
Daftar Pustaka
Akbar, Ali Arkeologi Al Quran, Lembaga Kajian dan Peminatan Sejarah, Depok, 2020.
Armstrong, Karen, Muhammad, Prophet of Our Time, terjemahan, Bandung, Mizan, 2013.
Fauzia, Ika Yunia &
Abdul Kadir Riyadi, Prinsip Dasar Ekonomi Islam, Perspektif Maqashid
Syari’ah, Jakarta, Kencana Prenada Media, 2014
Haekal, Muhammad Husain, Sejarah Hidup Muhammad, terjemahan,
Pustaka
Akhlaq,
Indonesia, 2015.
Kholil, Munawar, Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad saw, Jakarta,
Gema
Insani Press,2001.
al Mubarakfury, Shafiyurrahman, Ar
Rahiq Al Maktum,
terjemahan, Jakarta, Robbani Press, 2002.
Al Nadawy, Abu Hasan Ali Sirah Nabawiyah, Jeddah, Darusy Syuruq, 1979.
Sou’yb, Yousuf Orientalisme dalam Islam, Jakarta, Bulan Bintang, 1985.
Al Thabary, Abu Ja’far, Jami’ul Bayan fii Ta’wil Al Qur’an, Muasasah Ar Risalah, 2000.
Van Leur, J.C., Perdagangan dan Masyarakat Indonesia, terjemahan, Yogyakarta, Penerbit Ombak, 2015.
[1] Muhammad Husain Haekal, Sejarah Hidup Muhammad,
terjemahan, Pustaka Akhlaq, Indonesia, 2015, hlm.56.
[2] Haekal, ibid,hlm.58.
[3] Haikal, ibid, hlm.62
[4] Shafiyurrahman Al Mubarakfury, Ar
Rahiq Al Maktum,
terjemahan, Jakarta, Robbani Press, 2002, hlm.1.
[5] Munawar Kholil,
Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad saw,
Jakarta,
Gema
Insani
Press,2001, Jilid 1,
hlm.13.
[6] Yousuf Sou’yb, Orientalisme dalam Islam,
Jakarta, Bulan Bintang, 1985,
hlm.56.
[7] J.C. Van Leur, Perdagangan dan Masyarakat Indonesia, terjemahan, Yogyakarta, Penerbit
Ombak, 2015, hlm.5.
[8] Karen Amstrong, Muhammad, Prophet of Our Time, terjemahan, Bandung, Mizan, 2013, hlm. 42.
[9] Ika Yunia Fauzia & Abdul Kadir Riyadi, Prinsip Dasar
Ekonomi Islam, Perspektif Maqashid Syari’ah, Jakarta, Kencana Prenada
Media, 2014, hlm. 198-199.
[10] Haikal, op.cit, hlm.66.
[11] Abu
Hasan Ali An Nadawy, Sirah Nabawiyah, Jeddah, Darusy Syuruq, 1979, hlm.36
[12] Al Mubarakfury, op.cit, hlm. 45.
[13] Al Mubarakfury, ibid, hlm. 45.
[14] Ramadhan Al Buthy, op.cit, hlm.6
[15] Al Mubarakfury, loc.cit, hlm.1.
[16] Munawar Kholil, op.cit, hlm 20
[17] Ali Akbar, Arkeologi Al Quran,
Lembaga Kajian dan Peminatan Sejarah, Depok, 2020,
hlm.137.
[18] Ali Akbar, ibid,hlm.138.
[19] Munawar Kholil, op.cit, hlm 21.
[20] Abu
Ja’far, Jami’ul Bayan fii Ta’wil Al Qur’an,
Muasasah Ar Risalah, 2000, Juz 3,
hlm.57.
.jpg)
